This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Waspada Musim Hujan, DBD Melonjak Pesat

 

(foto: Ami)

Buletinkapass.com-Kasus Demam Berdarah (DBD) di Terara sejak awal musim penghujan bulan lalu mengalami peningkatan yang cukup lumayan drastis.

"Saya anggap Terara ini luar biasa kasusnya. Kenapa saya bilang begitu, karena klinik-klinik yang ada di sekitar Terara ini sangat aktif melaporkan kasus-kasus DBD. Lebih baik kita ditau ada kasus daripada kasus kita diamkan". Ucap pak Sofyan selaku penanggung jawab program DBD saat dikonfirmasi di Puskesmas Terara. (28/12/2021)

BACA ARTIKEL LAINNYA DISINI

"Kita di Terara temuannya yang cepat, makanya kasusnya kelihatan banyak. Gak kayak Puskesmas lain, mungkin pelacakannya kurang jadi temuannya juga sedikit". terang sofyan


"Suradadi ada 3 orang, Sukadana 2 orang, Terara 1 orang dan Kalianyar 1 orang, total 7 kasus bulan Desember ini. Total  1 tahun ini 63 kasus, bulan November kemarin ada 50 lebih ditambah dengan yang 7 kasus bulan ini". Tegasnya


"Lebih baik saya bongkar kasus dan kasus itu kita lacak daripada kasus kita diamkan. Biarkan saja kita dibilang banyak kasus DBD tapi benar-benar kita lacak".


"Penanggulangannya juga sudah kami terapkan dengan cara mengunjungi pasien sekalian PSM (pemberantasan sarang nyamuk), setelah itu baru kita kerja sama dengan pemerintah desa untuk melakukan fogging (pengasapan) di daerah itu. Biasanya kalau sudah melakukan fogging di daerah itu, tidak ada lagi kasus yang serupa".


"Hari ini pasien DBD sudah tidak ada lagi, kemarin terakhir pulang tanggal 24 Desember. Kita tekankan juga pakai ambulan keliling. Kita kasi penyuluhan jangan sampai ada genangan air, bekas-bekas mangkok atau plastik minum itu di balik, bila perlu diisi ke dalam karung". imbuh Sofyan


||Ami

SAJAK-SAJAK DIRSHYANTARA


(ilustrasi: google)



Ibu, Istirahatlah 


Ibu

Sedari Maghrib kulihat engkau sibuk memintal air mata 

Dalam selaput dendam doa tanpa ujung

Demi menjumput hayat anakmu yang berserak


Lihat... 

Tangan keriputmu sudah bergetar

Dayamu rapuh digerogoti kisah

Bahkan sekadar memungut ego kau biar 

Tapi mengapa kau terus mengusap rambutku saat di pangkuanmu


Sudah, Ibu

Ini menjelang pagi, istirahatlah 

Biar aku saja yang menggengam sisa pendar 


Sebelum malam berpamit sesal

Izinkan aku mengekal namamu dalam sujudku yang dangkal


Mojokerto, 4 Desember 2021


BACA JUGA KARYA LAINNYA DI SINI

Puing Harap


Nak, kau di mana?

Tubuh mungilmu tak terlihat

Hanya abu putih yang terus bercanda dengan getir

Puingpuing balai mengejek harap


Nak, kau tenang kan? 

Peluk erat ibumu dulu

Pangkuannya akan tetap hangat sampai alam menghidu binasa

Biar aku yang menghajar gigil malam ini, sendiri

Tanpa baju ganti dan selimut hangat yang biasa kita nikmati sambil bercerita jelang lelap


Jangan, nak, jangan!

Jangan salahkan Semeru

Dia hanya  meludah

Meludahi ego dan kesombongan kita

Lupa siapa Sang Kuasa 

Lupa hidup untuk apa


Nak, kau di mana? 

Di sini aku menghambur-hamburkan doa

Bila jasad kita terbeda kisah 

Setidaknya luapan ikhlas menimbun atma


Nak...

Aku di mana?


Mojokerto, 10 Desember 2021


Dirshyantara, adalah seorang kuli bangunan yang tak suka basa-basi. Sebagai orang yang lahir di Magelang, kecil di Sidoarjo, dan sekarang tunggal di Mojokerto, jiwa idealis dalam berbagai hal merupakan tempaan dari 3 daerah itu. Pekerjaan sehari-hari yang keras memang membentuk jiwa seperti besi tapi hatinya selembut onde-onde lengkap dengan wijennya. Selain puisi lelaki ini juga suka membuat cerpen dan novel, namun karyanya masih hanya dibuat buku antologi. Hobi nanggung lainnya adalah dance, akting, dan stand up komedi yang semua belum menghasilkam apa-apa. Bila berkenan mampir saja di akun IG @dirshyantara, di


sana banyak postingan tidak berguna.

SAJAK-SAJAK NURUL FAIZAH

 

(ilustrasi: google)


Guratan Dinding Tua


Pada guratan dinding tua

Terselip wajah separuh bayang

Bersemayam di pigura ukiran bunga

Aku meratap jam dinding

Berdenting setiap napasmu

Pada kalender berpendar angka-angka

Yang dulu memerah mengecup hari bahagia

Kelambu merekah selimut sayu

Mendayu mengundang gelak tawa


Gresik, 20 April 2021


BACA JUGA untuk melihat artikel lainnya


Lanskap Resah


Angin mendesah mengecup dahan patah

Mencari jejak kunang-kunang tadi malam

Seketika hirap ditelan gelap

Barangkali bersembunyi di sela-sela batu kali meringis geli


Apa kabar kerikil tajam tertancap di uratmu

Lorong waktu mengusir pilu

Aku masih mengeja risau terbata-bata

Meski wajahmu berpendar mengusik pepohonan tumbang


Pada sampan terbentang kaki dasar kali

Bertemu rubi berbentuk hati meski remuk seribu kali

Kau susun kepingan menjelma bait-bait langka

Banyak kata diseka hingga lupa berkata-kata


Bagaimana kau babat hutan menjelma belukar tanda tanya

Sedang kita menunggu masa

Tak lagi mendamba di sela-sela lanskap resah


Gresik, 03 Mei 2021



Perempuan bernama lengkap Nurul Nasuchatul Faizah ini lahir di Gresik pada tanggal 4 Mei 2001. Nurul, begitu panggilannya sehari-hari. Mempunyai hobi membaca dan menulis sejak duduk di bangku SMA. Dia menghabiskan separuh waktunya untuk membantu anak-anak yang kesulitan dalam memahami pelajaran di sekolah.

Dia bergabung dengan sebuah komunitas kepenulisan COMPETER di bawah asuhan mentor Muhammad Asqalani Eneste. Beberapa karyanya Pernah terlibat dalam buku Antologi Puisi yang berjudul “Isyarat Merah” (2018), “Ziarah Bilik Kelabu” (2019), “Senandung Mimpi di Kala Fajar” (2021), “Ramadan” (2021), dan beberapa Antologi lainnya hasil lomba cipta puisi online.

CARA MENULIS PUISI BAGI PEMULA


(ilustrasi: google)

buletinkapass.com-Mungkin banyak yang akan bertanya tentang, bagaimana cara menulis puisi bagi seorang pemula. Hal ini sangat sering dialami oleh seorang yang menyukai puisi tetapi tidak tau bagaimana membuat sebuah tulisan bernama puisi.

Ada 2 (dua) utama sebagai dasar utama dalam menulis sebuah  puisi bagi pemula, diskusi ini dilakukan kecil-kecilan bersama suhu Kiki Sulistio sebagai seorang penulis puisi dan cerpen.

Dalam diskusi tersebut (jum'at/ 10/12/2021) Kiki menyampaikan bahwa, dua dasar utama yang harus diketahui oleh seorang penulis pemula yaitu sintaksis dan semantik

Sintaksis sendiri merupakan prinsip dan peraturan untuk membuat kalimat dalam bahasa alami. Sintaksis juga digunakan untuk merujuk struktur kalimat dalam bahasa apapun dengan fungsi sebagai semacam “kotak kotak” atau “tempat-tempat” kosong dan keterangan. Kotak-kotak kosong tersebut di dalamnya diisi oleh kategori-kategori tertentu seperti nomina, verba, dan adjektiva.

Sementara Linguistik atau ilmu bahasa sendiri merupakan ilmu yang mempelajari bahasa itu sendiri dengan fungsi untuk menyampaikan informasi. Esensi utama dari bahasa adalah untuk komunikasi secara mudah untuk menyampaikan feeling, moods, dan sikap.


||red

SAJAK-SAJAK SRI RAMADHANI


 (ilustrasi: google)


SAHABAT


Sahabat.

Bersama kita menjalani perjalanan ini. Bergandengan tangan, tertawa, berjalan dan belajar bersama.

Kini

Terpisahkan oleh jarak dan kehidupan kita masing-masing. 

Kelak kisah itu, akan menjadi dongeng untuk kurcaci kecilku suatu hari nanti.


Medan, 6 Desember 2021


TERPURUK



Malam gelap berselimut dingin. Hembusan angin menusuk jiwa ragaku hingga ke tulang-tulang. Rindu membeku mengingatkan kepedihan yang sangat mendalam.


Hmm, apakah yang sedang kau rasakan?

Adakah tangisanku menggetarkan hatimu?


Lukaku sangat dalam, sayang.

Tak ada yang mampu membalutnya. Semangat terasa hilang. Kaki tak berpijak bagai melayang.

Denyut nadi seakan berhenti.

Tak tahu ke mana harus membawa diri.


Medan, 4 Desember 2021


Sri Ramadhani. Menyukai puisi sejak SMK. Tinggal di Medan.

SAJAK-SAJAK ROSE ANTEMAS

 

(google: ilustrasi)

Nopember


Hai Nopember ...

Begitu banyak kisah kulontarkan pergi, meninggalkan jejak sakit hati yang menggilas waktu, dan tak pernah bisa henti. Menikung tiap ingatan tentang lupa, merajam bahagia menjadi derita. 


Hai Nopember ...

Hari ini kita bertemu,  aku tak ingin membuat cerita pedih ditubuhmu lagi. Jadi, izinkanlah aku kali ini memandangmu dengan rasa bahagia dan suka cita, tanpa duka dan nestapa. 


Hai Nopember ...

Sediakah engkau menemani tanpa caci,  tanpa maki, tanpa gelisah dan tanpa sedan. Jauhkan isak tangis, berikan aku serangkai cinta dan rindu yang 'kan abadi mengisi jiwa. 


Hai Nopember ...

Jika kau setuju, genggamlah jemariku. Kita ukir sejarah bahwa hujan yang jatuh bukan tentang tangis kepedihan. Namun rasa syukur 'tak berkesudahan.



Seribu sungai,  051120


Cerita Kita


Ketika sosokmu mulai merasuk dalam pikiran, waktu serasa berhenti dengan sendirinya. Duniaku hanya berisi bayang, dan senyummu itu. 


Lalu ketika debarmu jadi getaran yang sama di dadaku, kita berupaya bertahan untuk tak benar-benar jatuh dalam gelombang cinta.


Langitku menjadi semakin biru kala itu, angin kian sepoi menyejukkan raga, dan cahaya surya menjadi lebih hangat memeluk jiwa. 


Lalu masa sekejap berulah, ketika kasih mulai kerap terucap di bibir kita,  aku melihat binar berbeda darimu, untuk sebaris kisah di masa lalu. Dan aku menyadari ini waktuku untuk tersadar, kemudian aku berkata padamu, "Aku takut, izinkan aku berlalu."


Kau tak menghalangiku pergi,  seperti ketika aku tak melarang dirimu untuk masuk tanpa permisi.  Bedanya hanya engkau datang hanya untuk menyapa,  sementara aku pergi tuk menghapus bayangmu yang merekat di atma.


Seribu sungai,  031120


Serupa Layang-Layang


Pada suatu masa ketika aku berteduh di bawah pelangi. Ia mencipta banyak warna di atas kepala. Kucoba pungut dan menyimpannya dalam genggam hangat jemari. Lalu kuanyam jadi simpul indah tuk menjaga hati. 


Pada suatu waktu, ketika aku bertemu dengannya. Seseorang yang mengetuk pintu dengan senyum manis dan buku tebal dalam dekap, tingkahnya menyebalkan dan membuatku tak nyaman. 


Lalu entah kenapa, keesokan harinya, aku membiarkan ia menyusupkan bait rindu dalam canda. Lalu simpul pengikat hatiku terlepas seketika. 


Aku berusaha bertahan tuk tetap berdiri tegak menantang sebaris gigi putihnya yang kian membayang, lalu buat aku malayang. Hingga tiba masa aku terombang ambing bagaikan layang-layang. 


Seribu sungai, 02 Nopember 2020




Bionarasi


LL.Rose Antemas lahir 43 tahun yang lalu di Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan. Berprofeai sebagai bidan dan masih berstatus ASN di salah satu Instansi pemerintah. Ibu dari satu anak yang memulai menulis dari rasa sukanya terhadap puisi dan dari sana terus belajar memberanikan diri menulis cerpen. Baginya menulis adalah curahan rasa dan sebagai terapi jiwa.Ig: @hennyrosman


 

SAJAK TF. WIJAYANTI

 

(ilustrasi: google)


Istana Malaikat


Tiga dasawarsa lebih aku bertakhta di sini

Singgasana bingkai emas pada tembok yang kokoh 

Dinding istana mungil nan elok berhias canda tawa penghuninya

Dinding hijau menyejukkan 

Sesejuk jiwa tuannya.


Kala fajar menampakkan rupa

Kokok Jago di kandang belakang menyambut bagai nyanyian

Diiringi kicau Pipit bertengger di dahan pohon rindang menaungi istana

Sinar Surya menerobos tirai bambu menyiramkan kehangatan


Di Istana ini

Segala cinta tercurah

Menumbuhkan insan berbudi

Segala asa tercipta 

Dari jiwa-jiwa penuh prakarsa

Sinar kebahagiaan terpancar

Menyinari para musafir yang menyinggahi


Semua terlukis pada diriku

Potret usang para malaikat dalam istana mungil di surga dunia


Martapura, 20 November 2021




Titis Fitri Wijayanti. Nama pena: TF. Wijayanti Kelahiran Mojokerto, 29 September 1977. Tempat tinggal Martapura, Kalimantan Selatan. Pendidikan terakhir Magister Kesehatan Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi  Universitas Airlangga, Surabaya. Seorang tenaga kesehatan, penggemar sastra dan puisi. Saat ini sedang menyiapkan buku puisi dan cerpen pertama.  IG:@titis_fitri_wijayanti

SAJAK-SAJAK NI WAYAN KRISTINA

 

(Ilustrasi: Google)


Sebuah Ikatan


Kau sengaja memelihara rambutku

untuk menghitung jengkal pengalaman

dan jejak kehidupan


kau gelantungkan wangi bunga

pada ujung helai

cempaka berjejer

kuhidu semerbak rambut berombak

yang tak sekali pun kau jambak


kau sisir tiap helai

dengan napas kasih

kau tak ikat erat

agar aku bebas

memilih helai mana

aku hempas


ketika mulai memutih

kau dan aku sadar

bahwa kita tak akan

lepas ikatan


Mumbi, 11 November 2021


Kantong Kotor


Kala subuh tiba, kau bersiaga dengan sepatu hitam kinclong, kemeja putih bersih dan dasi biru metalik nyentrik. Mata-mata pengamen jalanan tak berkedip. Tangan-tangan papa tengadah minta belas kasih. Kau hanya acuh. 

Kau anggap orang-orang berkeliaran itu batu kerikil. Setibanya di gedung mewah, kau menuju "ruang surga" katamu. Kau seruput kopi, sebuah linting kau sedot penuh nikmat. Kemeja putih bersihmu tak nampak ternoda. Namun kantong-kantongmu simpan banyak dosa.


Kelandis, 13 November 2021



Ni Wayan Kristina lahir di Pupuan tahun 1991. Mengajar merupakan salah satu hobi dari perempuan yang memiliki nama pena Rambut Kristinta ini. Meskipun tidak lulusan sastra, keinginan dan ketertarikannya di dunia literasi begitu dalam khususnya puisi. Ia mulai belajar menulis puisi di Asqa Imagination School (AIS) dan Kelas Puisi Alit (KEPUL). Ia termasuk peserta yang lolos Karantina II Anugerah COMPETER 2022, sebuah ajang sastra yang pemenangnya akan diumumkan per 1 Januari 2022 mendatang. Tunak di Community Pena Terbang (COMPETER) - Indonesia. IG: @pucekristina

SAJAK-SAJAK SAFARIDA

 

Dewa Dunia


Ayah, 

Entah bagaimana cara mengurai kisah tentangmu. 

Seperti mereka bersanding kalimat mulia. 

Dengan brownis cerry merah, penuh gairah. 

Kumasuki mesin waktu, 

mengulang kembali masa kecil dulu. 

Kukais-kais memori tentangmu. 


Entah di mana kau letak kenang. 

Tak kutemukan selain garang. 

Tak pernah kau beri obat luka. 

Pada hati yang telah kau cabik-cabik. 

Di mana penawar dahaga? 

Jika alfatihah tak pernah kau eja. 


Ayah, 

Aku melompat dari mesin waktu. 

Membuka gerbang pintu ajaib. 

Mengulang-ulang kisah di dulang. 

Kapan terakhir kali aku duduk di pangkuanmu? 

Atau sekedar peluk rangkulmu

Sapu tangan penghapus air mata pun tak pernah kau hadiahkan. 


Di masa purna baktimu, 

jarak kau ciptakan, 

menjauh dari baktiku. 

Sepenggal rindu kau telan. 

Memeluk dunia kau anggap dewa. 


Tualang, 13 November 2021




Dilahap Mikrotia

Perempuan itu menabur kisah pada ruang sempit berdinding koran digital. 

Di bawah tanda cinta ia susun suku aksara. 

Galah-galah semesta menopang lara. 


Tentang Diaz yang tak sempurna dilahap mikrotia. 

Wajah mungil yang dirakit derita sejak mendengar azan dari ayahnya. 

Remah-remah takdir yang temaram. 


Kini, perempuan itu mengutip kembali derai air mata. 

Menggumpal sebongkah sumpah, 

menjahit lubang telinga dengan benang kalimat sampah. 

Harapan masih bertumpu pada liang meski sebesar biji kacang. 

 

Ia, tak lagi menghujat Tuhan di malam durkasa. 

Tak lagi bertanya kenapa dia? 

Kebal mengasah penuh sabar.

Menyusun langkah pasti, ikhlas pada takdir Ilahi. 


Tualang, 08-13 November 2021


NB: 

Mikrotia adalah kelainan bawaan lahir yang menyebabkan bayi terlahir dengan bentuk daun telinga yang tidak normal. Sebagian besar penderita mikrotia akan mengalami gangguan pendengaran.




Ulin


Adakah yang bahagia ketika langit berduka? 

Jejak tangisnya jatuh jauh ke dasar bumi. 

Apakah dia bumi, tempat bernaung organisme? 

Menampung rintik-rintik, setitik demi setitik hingga berputik. 


Siapakah dia yang menyambut bahagia? 

Curahan rezeki pengantar berkah. 

Apakah ia ulin dengan urat perkasa? 

Menampung curah, jangan tumpah. 

 

Mereka siklus, berputar terus. 

Kecuali tangan-tangan manusia rakus. 

Babat ulin hingga tandus. 


Tualang, 13 November 2021




Safarida, lahir 10 Oktober 1988 di Rasausati (sekarang Okura) salah satu desa kecil di Pekanbaru. Seorang guru sekolah dasar di lingkungan pemerintahan  Kabupaten  Siak. Mewujudkan cita-citanya menjadi manusia yang bermanfaat dengan mendirikan TBM Misbah. Menulis puisi adalah kegemarannya sejak duduk di bangku SMA. Buku puisi tunggalnya berjudul “Layar Jingga” terbit pada tahun 2020.  Pernah terlibat dalam buku Antologi Puisi Kemanusian yang berjudul “Ketika Corona Menyapa” (2020) dan buku kumpulan puisi yang mengisahkan tentang hujan dengan judul buku “Si Kelabu Penuh Rasa” (2021). Sekarang sedang belajar puisi di Asqa Imagination School (AIS). Ia termasuk peserta yang lolos Karantina II Anugerah COMPETER 2022, sebuah ajang sastra yang pemenangnya akan diumumkan per 1 Januari 2022 mendatang. Tunak di Community Pena Terbang (COMPETER) - Indonesia. Sabar, syukur, dan ikhlas adalah motto hidupnya. Kenalan lebih lanjut dengannya di FB: Safarida Dapin dan IG: @safaridadapin



SAJAK-SAJAK RAKKA JOYN

 

(ilustrasi: google)



Sketsa Taman Vondelpark


Di balik pundak lebar Joost van den Vondel

Dengarkan gemerisik di semak-semak lavender.

Pasangan berambut pirang jatuh cinta di antara kayu oak yang dipangkas

             , bercumbu, tak mengadu.

Sedang tiga kaki pohon magnolia yang mengakar.

Diganggu oleh anak laki-laki dan pelajaran naik sepeda pertamanya

Sebuah maple miring, pohon terompet, dan daun daun kering Ivy

Jadi saksi tongkat tua

             , yang berjalan dengan pemiliknya di jalan 

             , yang setia.


Taman Vondelpark, 13 November 2021



Potret Kolonialisme


di _Paleis_ _Soestdijk_.

sesepuh memahat kesombongan sekeras nefrit

congkak mengimlakan darah ibuku.

cangkang abalon berbaris di leher puteri-puteri _van Oranje_.

mencekik negeri tenggara.

tak rafi.

pasti mati hati.


Amsterdam, 9 November 2021

Rakka Joyn lahir dan besar di Kediri 34 tahun yang lalu. Pria yang memiliki hobi menyelam dan travelling ini bekerja sebagai tenaga kesehatan di kota Utrecht, Belanda. Meski tinggal di jantung kota Amsterdam, namun tidak menyurutkan niatnya untuk menyelami dunia literasi Indonesia khususnya menulis puisi. Ia belajar puisi di Asqa Imagination School (AIS). Ia termasuk peserta yang lolos Karantina II Anugerah COMPETER 2022, sebuah ajang sastra yang pemenangnya akan diumumkan per 1 Januari 2022 mendatang. Tunak di Community Pena Terbang (COMPETER) - Indonesia. IG: @rakka_joyn


Membangun Bangsa dalam Masa Pandemi dengan Gotong-Royong

 


buletinkapass.com-SELONG (18 Oktober): sebagaimana dilansir oleh portal resmi nasdem, dalam ceramahnya, Anggota Komisi X DPR RI, M Syamsul Luthfi menegaskan perlu untuk saling bergotong-royong dan bersama-sama dengan pemerintah untuk membangun bangsa Indonesia.


“Kita membutuhkan persatuan, kebersamaan, dan menyinergikan dengan pemerintah apa yang dilaksanakan untuk program kerakyatan,” ucap Luthfi saat Rapat Kerja Daerah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) Kabupaten Lombok Timur, di Pancor, Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (17/10).


"perlunya membantu pemerintah daerah untuk menangani pandemi Covid-19 dengan melaksanakan vaksinasi di NTB, khususnya Lombok Timur". (lanjutnya)


”Perlu terus diadakan vaksinasi di setiap kabupaten dan desa agar tercapai 70% bahkan 100%. Pada masa pandemi ini semua harus terlibat dalam mempercepat dan mendukung upaya pemerintah memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” tegas Luthfi


Luthfi juga mengatakan bahwa dirinya banyak berdiskusi dengan pemerintah daerah untuk mendukung kemajuan NTB di masa-masa mendatang.


Rapat Kerja Daerah NWDI Kabupaten Lombok Timur juga dihadiri Wakil Gubernur NTB yang juga Ketua DPW Partai NasDem NTB, Sitti Rohmi Djalilah, Wakil Bupati Lombok Timur yang juga Ketua DPD Partai NasDem Lombok Timur, Rumaksi, serta seluruh pengurus cabang dan anak cabang NWDI Lombok Timur

CERPEN NURAISAH MAULIDA ADNANI

(ilustrasi: google)


ROH BURUNG


Aku yakin sudah membuka mata, namun aku tak bisa melihat apa-apa. Gelap di sekelilingku. Jalan yang aku lewati seperti tak ada ujungnya. Bahkan aku tidak merasakan benda di sekitarku. 

“Halo?” tanyaku entah pada siapa. Aku berharap ada yang menjawab, setidaknya aku tak sendiri. Udara terasa dingin. Mungkin aku sedang berada di dalam lemari es? Tapi siapa yang membawaku ke sini? Aku berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum aku terbangun, namun aku gagal. “Halo?” Aku was-was, tak ingin berjalan lebih jauh lagi. “Halo?” tanyaku lagi dengan suara lebih keras. 

“Berisik!” 

Aku langsung menoleh ke belakang. Kulihat sepasang mata merah menatap tajam ke arahku. Aku tak bisa melihat badannya. Makhluk bermata merah itu semakin dekat ke arahku, jantungku pun berdegup kencang. Karena tak tahan oleh tatapannya, aku langsung kembali membelakanginya, lekas menutup mata. 

“Kanapa kamu ada di sini?” tanyanya. Suaranya serak namun terdengar jelas, perasaanku antara takut sekaligus kagum. Belum pernah aku mendengar suara seperti itu. Sekali saja mendengar, sepertinya kita akan langsung tunduk pada apa yang dikatakannya.

“A-aku tidak tahu,” jawabku perlahan kembali membuka mata.

“Oh, ya. Memang ini tugasku. Wajar jika kamu tidak tahu. Sudah lama aku tidak kedatangan tamu.” Dia berjalan di hadapanku. Pupil matanya hitam berbentuk layang-layang. Aku menunduk, tak sanggup menatap matanya terlalu lama. “Rohmu akan tenang jika kamu menjawab pertanyaanku.”

“Aku? Roh?” tanyaku tak percaya. 

“Iya, kebanyakan yang datang ke sini tidak menyadari hal itu.”

“Apa bukti bahwa aku memang sudah mati?” tanyaku lagi. Aku ingat seharian kemarin keadaanku sehat-sehat saja. Aku memakan biji-bijian yang dihamburkan pengunjung taman.    

“Kamu tak bisa kembali ke duniamu sebelumnya. Kecuali jika kamu memang diberi kesempatan oleh Tuhan.”

“Apa ini dunia baru?” 

“Bukan, lebih tepatnya ini adalah proses untuk menjalani kehidupan selanjutnya.”

“Untuk apa aku ke kehidupan selanjutnya jika aku memang sudah mati?”

“Hm, entahlah. Aku tak pernah memikirkan hal itu. Kamu tahu, akhir-akhir ini jarang ada roh yang menemuiku, kebanyakan  mereka terjebak di dunia sebelumnya. Oke, waktu untuk bertanya sudah habis. Tahap selanjutnya, kamu harus menjawab pertanyaanku.” Aku diam sejenak, menunggu suara mata merah menggema di tempat hampa ini. “Siapa Tuhanmu?”

“Tentu Yang Mulia Goura Victoria,” jawabku pasti. 

Tiba-tiba sekitarku yang tadinya gelap berubah warna menjadi biru langit. Kulihat si mata merah lenyap seperti debu yang berhamburan. 

Aku mulai merasakan suasana kesejukan di pagi hari, saat yang paling pas untuk bernyanyi. Kulihat seekor burung merpati keabu-abuan terbang, cara terbangnya mengagumkan seperti sedang menari di langit. 

“Pasti kamu sudah bertemu dengan Merpati Hitam,” ucapnya sambil mendarat di hadapanku. Jantungku berirama seperti pompa. Dia begitu dekat sehingga aku menjadi kaku, tak bisa bergerak sedikit pun. “Aku Merpati Kelabu. Kamu siapa?” tanyanya.

“Aku Merpati Cokelat.”

“Apa kamu ingat bagaimana kamu mati?” 

“Ti- tak, aku tak ingat.”

“Apa kamu ingat bagaimana kamu hidup?”

Tentu aku ingat. Keluargaku, teman-temanku. “Y-ya, aku ingat,” aku tak bisa menahan ketakutanku, kakiku bergetar seolah sedang kedinginan. Aku ingin makhluk yang terus menanyaiku ini mundur beberapa langkah saja, agar aku bisa bernapas lega. 

Merpati Kelabu membalik arah, berjalan menjauh dariku.

“Siapa Nabimu?”  tanyanya sambil mendekat ke arahku. Matanya berbinar seperti hendak mengeluarkan cahaya. Lagi-lagi, dia membuatku gugup.

Nabi? Aku belum pernah bertemu dengannya. Burung-burung tua sering bercerita tentang Brachiosaurus sebagai teladan kehidupan. 

“Brachiosaurus,” jawabku.

Burung di hadapanku seolah menjadi debu yang dihempas angin. Ya, setidaknya dia sudah pergi, dengan begitu aku akan merasa lega. Aku mulai menebak selanjutnya aku akan bertemu dengan siapa dan  akan ditanya apa.

Sekarang aku yakin aku memang sudah mati. Dari tadi hanya ada aku dan  si penanya yang cerewet dan sok tahu. Jika instingku benar, memang tak ada celah untuk keluar dari sini. 

Sekelilingku berwarna putih, ada beberapa anak tangga yang terhubung ke lantai atas. Kursi emas dengan kemilau berlian di tengah. Tidak ada yang mendudukinya. Aku mulai menaiki anak tangga. Sejujurnya aku sedikit ragu untuk mendekat kursi itu, namun aku yakin ada makhluk lain di balik kursi.

Sepasang mata hitam menoleh ke arahku. Tatapannya yang menyejukkan membuatku tenang. Aku yakin dia adalah Merpati Putih. Aku tak bisa melihat tubuhnya, mungkin karena menyatu dengan warna putih di sekeliling. Dia melihat ke belakang pintu, terdapat sebuah terowongan. Dari jauh, terowongan itu seperti tak berujung.

Sekali lagi Merpati Putih menatapku. Kemudian melihat ke terowongan itu. Kurasa, aku harus berjalan ke dalam terowongan.***


Tulungagung, Agustus 2020 







Biodata

Nuraisah Maulida Adnani lahir di Tulungagung, Jawa Timur, 27 Januari 2001. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Mataram. Saat ini bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.