SAJAK-SAJAK SAFARIDA

 

Dewa Dunia


Ayah, 

Entah bagaimana cara mengurai kisah tentangmu. 

Seperti mereka bersanding kalimat mulia. 

Dengan brownis cerry merah, penuh gairah. 

Kumasuki mesin waktu, 

mengulang kembali masa kecil dulu. 

Kukais-kais memori tentangmu. 


Entah di mana kau letak kenang. 

Tak kutemukan selain garang. 

Tak pernah kau beri obat luka. 

Pada hati yang telah kau cabik-cabik. 

Di mana penawar dahaga? 

Jika alfatihah tak pernah kau eja. 


Ayah, 

Aku melompat dari mesin waktu. 

Membuka gerbang pintu ajaib. 

Mengulang-ulang kisah di dulang. 

Kapan terakhir kali aku duduk di pangkuanmu? 

Atau sekedar peluk rangkulmu

Sapu tangan penghapus air mata pun tak pernah kau hadiahkan. 


Di masa purna baktimu, 

jarak kau ciptakan, 

menjauh dari baktiku. 

Sepenggal rindu kau telan. 

Memeluk dunia kau anggap dewa. 


Tualang, 13 November 2021




Dilahap Mikrotia

Perempuan itu menabur kisah pada ruang sempit berdinding koran digital. 

Di bawah tanda cinta ia susun suku aksara. 

Galah-galah semesta menopang lara. 


Tentang Diaz yang tak sempurna dilahap mikrotia. 

Wajah mungil yang dirakit derita sejak mendengar azan dari ayahnya. 

Remah-remah takdir yang temaram. 


Kini, perempuan itu mengutip kembali derai air mata. 

Menggumpal sebongkah sumpah, 

menjahit lubang telinga dengan benang kalimat sampah. 

Harapan masih bertumpu pada liang meski sebesar biji kacang. 

 

Ia, tak lagi menghujat Tuhan di malam durkasa. 

Tak lagi bertanya kenapa dia? 

Kebal mengasah penuh sabar.

Menyusun langkah pasti, ikhlas pada takdir Ilahi. 


Tualang, 08-13 November 2021


NB: 

Mikrotia adalah kelainan bawaan lahir yang menyebabkan bayi terlahir dengan bentuk daun telinga yang tidak normal. Sebagian besar penderita mikrotia akan mengalami gangguan pendengaran.




Ulin


Adakah yang bahagia ketika langit berduka? 

Jejak tangisnya jatuh jauh ke dasar bumi. 

Apakah dia bumi, tempat bernaung organisme? 

Menampung rintik-rintik, setitik demi setitik hingga berputik. 


Siapakah dia yang menyambut bahagia? 

Curahan rezeki pengantar berkah. 

Apakah ia ulin dengan urat perkasa? 

Menampung curah, jangan tumpah. 

 

Mereka siklus, berputar terus. 

Kecuali tangan-tangan manusia rakus. 

Babat ulin hingga tandus. 


Tualang, 13 November 2021




Safarida, lahir 10 Oktober 1988 di Rasausati (sekarang Okura) salah satu desa kecil di Pekanbaru. Seorang guru sekolah dasar di lingkungan pemerintahan  Kabupaten  Siak. Mewujudkan cita-citanya menjadi manusia yang bermanfaat dengan mendirikan TBM Misbah. Menulis puisi adalah kegemarannya sejak duduk di bangku SMA. Buku puisi tunggalnya berjudul “Layar Jingga” terbit pada tahun 2020.  Pernah terlibat dalam buku Antologi Puisi Kemanusian yang berjudul “Ketika Corona Menyapa” (2020) dan buku kumpulan puisi yang mengisahkan tentang hujan dengan judul buku “Si Kelabu Penuh Rasa” (2021). Sekarang sedang belajar puisi di Asqa Imagination School (AIS). Ia termasuk peserta yang lolos Karantina II Anugerah COMPETER 2022, sebuah ajang sastra yang pemenangnya akan diumumkan per 1 Januari 2022 mendatang. Tunak di Community Pena Terbang (COMPETER) - Indonesia. Sabar, syukur, dan ikhlas adalah motto hidupnya. Kenalan lebih lanjut dengannya di FB: Safarida Dapin dan IG: @safaridadapin



2 Komentar

  1. Selamat kak, 😍 puisinya melow semua ya kali ini 😥

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasi Kak. Memang berderai-derai itu.. 😭😭😭

      Hapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama