CERPEN NURAISAH MAULIDA ADNANI

(ilustrasi: google)


ROH BURUNG


Aku yakin sudah membuka mata, namun aku tak bisa melihat apa-apa. Gelap di sekelilingku. Jalan yang aku lewati seperti tak ada ujungnya. Bahkan aku tidak merasakan benda di sekitarku. 

“Halo?” tanyaku entah pada siapa. Aku berharap ada yang menjawab, setidaknya aku tak sendiri. Udara terasa dingin. Mungkin aku sedang berada di dalam lemari es? Tapi siapa yang membawaku ke sini? Aku berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum aku terbangun, namun aku gagal. “Halo?” Aku was-was, tak ingin berjalan lebih jauh lagi. “Halo?” tanyaku lagi dengan suara lebih keras. 

“Berisik!” 

Aku langsung menoleh ke belakang. Kulihat sepasang mata merah menatap tajam ke arahku. Aku tak bisa melihat badannya. Makhluk bermata merah itu semakin dekat ke arahku, jantungku pun berdegup kencang. Karena tak tahan oleh tatapannya, aku langsung kembali membelakanginya, lekas menutup mata. 

“Kanapa kamu ada di sini?” tanyanya. Suaranya serak namun terdengar jelas, perasaanku antara takut sekaligus kagum. Belum pernah aku mendengar suara seperti itu. Sekali saja mendengar, sepertinya kita akan langsung tunduk pada apa yang dikatakannya.

“A-aku tidak tahu,” jawabku perlahan kembali membuka mata.

“Oh, ya. Memang ini tugasku. Wajar jika kamu tidak tahu. Sudah lama aku tidak kedatangan tamu.” Dia berjalan di hadapanku. Pupil matanya hitam berbentuk layang-layang. Aku menunduk, tak sanggup menatap matanya terlalu lama. “Rohmu akan tenang jika kamu menjawab pertanyaanku.”

“Aku? Roh?” tanyaku tak percaya. 

“Iya, kebanyakan yang datang ke sini tidak menyadari hal itu.”

“Apa bukti bahwa aku memang sudah mati?” tanyaku lagi. Aku ingat seharian kemarin keadaanku sehat-sehat saja. Aku memakan biji-bijian yang dihamburkan pengunjung taman.    

“Kamu tak bisa kembali ke duniamu sebelumnya. Kecuali jika kamu memang diberi kesempatan oleh Tuhan.”

“Apa ini dunia baru?” 

“Bukan, lebih tepatnya ini adalah proses untuk menjalani kehidupan selanjutnya.”

“Untuk apa aku ke kehidupan selanjutnya jika aku memang sudah mati?”

“Hm, entahlah. Aku tak pernah memikirkan hal itu. Kamu tahu, akhir-akhir ini jarang ada roh yang menemuiku, kebanyakan  mereka terjebak di dunia sebelumnya. Oke, waktu untuk bertanya sudah habis. Tahap selanjutnya, kamu harus menjawab pertanyaanku.” Aku diam sejenak, menunggu suara mata merah menggema di tempat hampa ini. “Siapa Tuhanmu?”

“Tentu Yang Mulia Goura Victoria,” jawabku pasti. 

Tiba-tiba sekitarku yang tadinya gelap berubah warna menjadi biru langit. Kulihat si mata merah lenyap seperti debu yang berhamburan. 

Aku mulai merasakan suasana kesejukan di pagi hari, saat yang paling pas untuk bernyanyi. Kulihat seekor burung merpati keabu-abuan terbang, cara terbangnya mengagumkan seperti sedang menari di langit. 

“Pasti kamu sudah bertemu dengan Merpati Hitam,” ucapnya sambil mendarat di hadapanku. Jantungku berirama seperti pompa. Dia begitu dekat sehingga aku menjadi kaku, tak bisa bergerak sedikit pun. “Aku Merpati Kelabu. Kamu siapa?” tanyanya.

“Aku Merpati Cokelat.”

“Apa kamu ingat bagaimana kamu mati?” 

“Ti- tak, aku tak ingat.”

“Apa kamu ingat bagaimana kamu hidup?”

Tentu aku ingat. Keluargaku, teman-temanku. “Y-ya, aku ingat,” aku tak bisa menahan ketakutanku, kakiku bergetar seolah sedang kedinginan. Aku ingin makhluk yang terus menanyaiku ini mundur beberapa langkah saja, agar aku bisa bernapas lega. 

Merpati Kelabu membalik arah, berjalan menjauh dariku.

“Siapa Nabimu?”  tanyanya sambil mendekat ke arahku. Matanya berbinar seperti hendak mengeluarkan cahaya. Lagi-lagi, dia membuatku gugup.

Nabi? Aku belum pernah bertemu dengannya. Burung-burung tua sering bercerita tentang Brachiosaurus sebagai teladan kehidupan. 

“Brachiosaurus,” jawabku.

Burung di hadapanku seolah menjadi debu yang dihempas angin. Ya, setidaknya dia sudah pergi, dengan begitu aku akan merasa lega. Aku mulai menebak selanjutnya aku akan bertemu dengan siapa dan  akan ditanya apa.

Sekarang aku yakin aku memang sudah mati. Dari tadi hanya ada aku dan  si penanya yang cerewet dan sok tahu. Jika instingku benar, memang tak ada celah untuk keluar dari sini. 

Sekelilingku berwarna putih, ada beberapa anak tangga yang terhubung ke lantai atas. Kursi emas dengan kemilau berlian di tengah. Tidak ada yang mendudukinya. Aku mulai menaiki anak tangga. Sejujurnya aku sedikit ragu untuk mendekat kursi itu, namun aku yakin ada makhluk lain di balik kursi.

Sepasang mata hitam menoleh ke arahku. Tatapannya yang menyejukkan membuatku tenang. Aku yakin dia adalah Merpati Putih. Aku tak bisa melihat tubuhnya, mungkin karena menyatu dengan warna putih di sekeliling. Dia melihat ke belakang pintu, terdapat sebuah terowongan. Dari jauh, terowongan itu seperti tak berujung.

Sekali lagi Merpati Putih menatapku. Kemudian melihat ke terowongan itu. Kurasa, aku harus berjalan ke dalam terowongan.***


Tulungagung, Agustus 2020 







Biodata

Nuraisah Maulida Adnani lahir di Tulungagung, Jawa Timur, 27 Januari 2001. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Mataram. Saat ini bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.


 




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama