CERPEN BULAN NURGUNA


 

SUPERMARKET

Segala tindak pencurian akan kami proses secara hukum.

 

Begitu kata-kata yang tertulis  di sudut rak pada deretan panci-panci besar. Pernyataan itu seperti mengancam sekaligus menantang. Mengancam, karena tiba-tiba aku merasa seperti seorang pencuri, tertuduh yang dipaksa mengaku. Menantang, karena seperti hendak berkata, “Ayo siapa saja, masukkan ke dalam pakaian kalian, sembunyikan panci-panci ini, bawa lari kalau kalian bisa!” Ah, kata-kata yang tak mengenal sopan santun.

Aku memang tidak sedang membutuhkan panci atau alat-alat dapur lainnya. Aku hanya merasa sayang sudah pergi jauh-jauh ke super market hanya untuk menuju rak barang yang aku butuhkan lalu pergi tanpa melihat-lihat. Lagipula, melihat-lihat barang yang lain, juga memeriksa harganya, adalah semacam pengetahuan yang bisa kupakai di masa yang akan datang. Misalnya saja bila aku tiba-tiba membutuhkan panci, aku bisa menjadikan super market ini sebagai salah satu referensi untuk membeli, atau mengeliminasinya dari deretan tempatku memutuskan membeli.

Melihat-lihat barang baru yang tertata rapi adalah juga caraku melepaskan stres dan penat. Di super market selalu ada barang-barang yang lucu. Seperti hari ini, aku melihat gantungan kunci babi berwarna pink lengkap dengan gentanya, bed cover hello kitty berwarna kuning, cangkir bergambar dinosaurus, dan lain-lain. Tapi tentu saja, aku tak pernah tergoda membeli barang-barang yang tidak aku rencanakan dari rumah.

Mengenai perilaku orang-orang yang membeli barang-barang secara impulsif, aku sungguh heran. Sering kudengar cerita teman-temanku bahwa mereka berniat ke super market untuk membeli minyak dan beras, malah pulang dengan turut serta membeli ikat rambut, sendok, dan kaca mata. Ada juga yang pergi hendak membeli gula, pulangnya malah tidak membawa gula, melainkan seabrek barang yang tak dibutuhkannya dan belakangan disesalinya. Bila belanja saja sudah disorientasi, bagaimana dengan kegiatan-kegiatan yang membutuhkan keseriusan lebih? 

Tapi, tunggu dulu, sepertinya mereka juga menceritakannya dengan bangga. “Duuh, padahal ke mal cuma mau beli skin care, tapi entah kenapa kakiku malah belok ke toko tas itu,” kata seorang teman yang kemudian menyebutkan merk ternama. “Sudah konspirasi juga deh kayaknya sama tanganku, malah asal comot aja, ngambilnya sampai tiga.”

Mungkin karena teringat pada temanku itu, akhirnya aku mampir ke deretan rak skin care. Banyak temanku yang bilang bahwa produk ini-itu bagus, tapi beberapa hari kemudian bilang kalau mereka tidak cocok dengan produk itu. Terus menerus seperti itu. Mereka seringkali mengganti produk tanpa menghabiskan yang mereka beli sebelumnya. Lalu pada akhirnya kembali lagi ke produk yang awalnya mereka beli tetapi dengan kemasan baru, juga dengan varian dan teknologi yang menurut pengiklannya juga baru.

Ketika aku mengambil salah satu serum wajah, tiba-tiba ada seorang satpam wanita  berjalan ke arahku, tetapi berhenti sekitar tiga meter dari tempatku. Dia berambut bop pendek dengan riasan natural. Satpam yang berwajah masam itu menyilangkan tangannya ke depan dengan posisi tegap, kakinya dilebarkan sedikit, segaris dengan kedua bahunya. Dia melihat lurus ke arahku.

Aku agak tergagap, merasa seperti maling yang tertangkap basah, tapi cepat-cepat aku kembali pada situasi, juga pada kelas ekonomi dan strata sosial. Wajahku yang awalnya netral, berubah penuh kesadaran defensif. Kunaikkan alisku sedikit dan kudongakkan kepala, aku melihat serum itu dengan bola mata yang agak turun. Setelah pura-pura terlihat seperti membaca keterangan di produk itu, aku meletakkannya kembali. Oh ya, buat apa sih aku sampai pura-pura? 

Sebetulnya di sini ada seorang satpam wanita yang aku kenal. Pernah sekali aku bertemu dengannya ketika belanja. Dia temanku SMA. Tapi hari ini, aku tidak melihatnya. 

“Berliana!” Dia menyapaku dengan gembira waktu itu.

Sepersekian detik aku tak sadar kalau itu Nita, atlet karate andalan sekolah kami.  Aku rupanya sedang terlempar dalam warna-warni deretan tumblr. “Eh, Nita. Halo say,” kataku dengan agak tergagap. “Kerja di sini?”

“Iya, Ber. Wah, borong ya?”katanya sambil melihat keranjang belanjaanku yang hampir penuh. Memang waktu itu aku sedang belanja perabotan dapur untuk keperluan restoran pizzaku yang ketiga.

Waktu itu dia banyak bertanya tentang usahaku yang ia dengar dari teman-teman kami. Karena tidak enak hanya dia yang aktif bertanya tentang ekonomiku, aku pun bertanya padanya perihal gaji. “Sebetulnya aku kerja tidak langsung di bawah super market. Ada perusahaan lain yang merekrut kami. Walaupun tidak ada tambahan dan bonus, tapi Alhamdulillah, gaji kami sesuai UMR.” 

Wah, perusahaan yang produknya adalah para tenaga kerja. 

Tiba-tiba aku teringat pada pembantuku di rumah. Gajinya setengah dari UMR , tapi dia bekerja hanya seperempat dari waktu bekerja temanku itu. Tidak jarang, aku juga memberi pembantuku itu sedikit lauk, beras, minyak, pakaian bekas yang masih sangat bagus karena hanya sekali dua kali kupakai, atau tambahan uang ketika hatiku sedang ingin memberi.

Sayang sekali hari ini temanku itu sedang tidak ada. Kalau dia ada, aku bisa sedikit membalas satpam berwajah masam itu dengan cara ngobrol-ngobrol akrab dengan temanku itu. Mungkin karena hari ini aku belum menaruh satu pun barang ke dalam troli, satpam itu menjadi angkuh.

Untunglah tak ada karyawan super market yang mengikuti ketika aku sampai pada rak tepung, minyak, dan gula. Ada harga promo untuk gula yang merknya juga merupakan merk dari supermarket ini. Tetapi karena harga promo, ada syaratnya; tidak boleh membeli lebih dari dua bungkus. Memang lebih murah dari harga di agen, tapi untuk apa membeli hanya dua biji? Aku tidak memakai untuk di rumahku saja kan?

Di seberang gula, ada berbagai jenis kopi. Aku memang tidak suka kopi, tapi pacarku tentu akan senang bila dibelikan. Kebetulan kulihat ada harga promo untuk merk kopi yang biasanya mahal. Kuambil satu dan kutaruh di dalam troli.

Sebetulnya hari ini aku ke super market hanya untuk membeli buah-buahan dan minuman, karena itulah aku mengambil buah-buahan dan minuman terakhir saja, sebab aku malas membawa barang sambil berkeliling.

Di tempat buah-buahan aku melihat harga buah naga tertera 29,999 rupiah. Percaya diri sekali mereka membohongi konsumen. Memangnya mereka punya kembalian satu rupiah? Oh ya, lupa, mereka akan membersihkan kebohongan dengan moral berupa pertanyaan yang lebih merupakan pernyataan yang memaksa kita untuk menyedekahkan kembalian itu. 

Aku mengambil satu kantong plastik dan mulai memilih buah yang kuinginkan. Kebetulan ada diskon untuk anggur merah, jarang-jarang buah ini banyak diskonnya, jadi kuambil saja. 

Terakhir, aku menuju deretan minuman. Rupanya rak minuman dipindahkan letaknya, jadi aku sempat kebingungan. Aku harus melewati banyak produk di dalam kebingungan itu sebelum sampai pada rak yang aku maksud. Ada sepuluh jenis yang aku pilih, kebanyakan kesukaan pacarku. Kalau sudah kubelikan, ia pasti tidak uring-uringan ketika besok kami jalan-jalan ke pantai. Kebetulan tempat yang akan kami tuju lumayan jauh.

Sesampainya di kasir, wanita manis berkerudung yang ada di balik komputer itu menanyakan apakah aku memiliki kartu kredit atau debit dari sebuah bank yang pemiliknya adalah orang yang sama dengan yang memiliki super market ini. Kujawab: tidak. Lalu ia mulai menghitung belanjaanku. Ada layar di depanku yang memuat jenis, kuantitas, dan harga barang beserta diskonnya. Dalam adegan ini, aku selalu memperhatikan layar dengan seksama, karena memang sering terjadi kekeliruan.

Benar saja, mulai dari barang pertama saja sudah keliru. “Mbak, sepertinya harganya bukan segitu deh.”

“Oh, yang Mbak lihat itu harga kemarin. Sedangkan yang hari ini harganya kembali normal.”

“Tapi kok belum dicopot, Mbak?”

“Maaf ya Mbak, teman saya lupa mencopotnya.”

“Kalau begitu saya tidak jadi beli,” Ia memisahkan buah itu dari belanjaanku. 

Lalu ia mulai men-scan harga kopi dan sebelum pindah ke harga minuman, ia memintaku untuk memperlihatkan KTP.*** 


Gang Metro-Gunung Sari, 1-3 November 2020



Biodata

Bulan Nurguna, lahir di Mataram, Lombok, 4 Juni 1990. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Cerpen-cerpennya terbit di pelbagai media, baik cetak maupun digital. Kini ikut bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat. 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama