Identitas buku
Judul : Arak Sopok Cerite
Tebal : 148 halaman
Penerbit : PT Nyala Masa Depan Indonesia, Surakarta
Tahun terbit : 2025
Penulis : Baiq Hikmah Widiawati, M.Pd
Berawal dari pertemuan yang direncanakan di sekolah SMPN 1 Sukamulia, tempat beliau mengabdikan diri sebagai seorang yang diberikan amanah memimpin dalam sekolah tersebut, baiq Hikmah Widiawati akrab di panggil mbak Wik. Banyak bercerita tentang kegiatan literasi yang menyedihkan di sekolah maupun lingkungan masyarakat.
Literasi tentu tidak terbatas pada membaca saja, akan tetapi lebih menekankan pada pengenalan huruf atau kemampuan membaca dasar, umum dikenal bahwa Literasi adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, dan memahami informasi dengan baik. Literasi juga bisa diartikan sebagai pengetahuan dan keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu, serta kemampuan untuk mengolah informasi dan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Kembali kepada fokus pembicaraan tentang buku berjudul “arak sopok cerite”, buku yang menyajikan sekumpulan naskah berbahasa campuran antara sasak dan Indonesia. Saat di temui di ruangannya, mbak Wik banyak bercerita tentang kemirisannya melihat generasi zaman sekarang yang hampir tidak mengenal bahasa “ibu” (sasak) mereka, ini juga pernah disampaikan oleh seorang professor saat pertemuan saya di tempat ini, katanya.
Professor itu menjelaskan bahwa hampir 300 kosa kata hilang dari penutur aslinya. Sungguh angka yang sangat pantastis dan sangat miris, yang artinya bahwa sebentar lagi orang sasak tidak akan mengenal bahasanya sendiri (menjadi asing) di daerah sendiri.
Terlepas dari itu semua, lahirnya buku arak sopok cerite ini menimbulkan sejumlah pertanyaan mendasar dimulai dari pemilihan cover yang terkesan tergesa-gesa, di anggap tergesa-gesa karena ada 4 gambar objek memecah perhatian saya yaitu gambar perisean, gambar gendang belek dan gambar seorang perempuan menggunakan baju lambung tradisi sasak. Dan gambar kartun yang menggunakan pakaian adat. Pertanyaan tersebut adalah apa hubungan semua gambar itu dengan isi buku? Yang merupakan sekumpalan naskah drama?, jika hajatannya adalah supaya orang yang membaca buku itu langsung tercetus dalam otaknya adalah buku berisi adat budaya sasak, maka sesungguhnya akan menjadi asumsi yang sangat keliru, karena dalam buku ini, tidak berisi tentang adat budaya sebagaimana asumsi awal yaitu “khas sasak”, akan tetapi berisi tentang cerita-cerita modifikasi yang barangkali terinspirasi dari cerita aslinya. Semilsa saja naskah berjudul Mandalika. Jika membaca dan mendengar kisah aslinya, maka begitu membaca buku ini, semua itu tidak ditemukan. Karena barangkali, anggapan penulis ingin membawa cerita mandalika lebih terbuka dan baru, sehingga dapat di serap oleh seluruh kalangan, atau barangkali ada hal lain yang di inginkannya.
Mengapa saya anggap itu sebagai prasangka yang keliru? Karena pada awalnya saya berfikir juga demikian, bahwa buku ini akan membahas tentang budaya sasak yang melekat pada prisean, gendang beleq dan lambung sasak entah gambar ke empat ini berarti apa selain animasi menggunakan pakaian adat
Awal praduga saya melihat gambar kartun ini, saya sangka akan berisi naskah-naskah drama untuk anak-anak (SD/SMP) atau mungkin drama remaja (SMA). Saya bongkar satu-satu dari versi offline (cetak) dengan membuka versi e-booknya untuk memastikan dan alat bantu menemukan prasangka ini, namun kenyataannya. Prasangka adalah prasangka terlepas dari itu semua, beberapa orang yang mengapresiasi karya ini mementaskannya untuk versi anak SMA.
Sungguh sebuah buku yang menarik sebenarnya karena telah “ke luar” dari pakem aslinya namun tetap mempertahankan aroma adat budaya.
Buku yang berisi 13 kumpulan naskah ini sangat menggelitik saya karena dibuka dengan prakata yang menyayat perasaan dan jiwa. Namun meskipun demikian, sungguh menjadi pertanyaan yang sangat menggelitik saya jika Professor Drs. Mahyuni,MA, PhD mengajukan data tentang 300 kosa kata yang hilang akan tetapi tidak dijelaskan secara rinci angka 300 itu hilang setiap tahun, setiap generasi, atau setiap musim? Ini tentu menjadi data yang hambar karena kekurangan penjelasan tersebut. Karena data, tidak boleh disajikan secara sepotong-potong
Data, menurut Suharsimi Arikunto, adalah “serangkaian fakta dan angka yang bisa digunakan untuk menyusun informasi. Sumber data, menurut Suharsimi Arikunto, adalah subjek dari mana data bisa diperoleh. Data bisa berupa data primer (dikumpulkan langsung oleh peneliti) atau data sekunder (dikumpulkan dari sumber yang sudah ada) “.
Jika data yang disajikan kurang, maka hal itu bisa menyebabkan beberapa masalah, seperti informasi yang tidak lengkap, potensi bias, dan kesulitan dalam menarik kesimpulan yang valid. Untuk mengatasinya, beberapa langkah yang bisa dilakukan meliputi: memperluas sumber data, melakukan validasi data, dan menyampaikan batasan data dengan jelas. (sumber: Magister Ilmu Data: Menjelaskan cara menangani data yang hilang, termasuk imputasi dan penghapusan data. Dataversity: Menjelaskan dampak kualitas data yang buruk dan cara memperbaikinya, termasuk dampak informasi pribadi yang tidak akurat. Quora: Menjelaskan dampak kesimpulan yang diambil dari data yang tidak akurat).
Sebagai seorang yang mengambil bidang pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, tentu penyajian data dalam pembukaan buku ini sangat menarik dan butuh tindakan kongkret dalam menyikapinya. Namun, sebagai seorang pembaca yang belajar baik, saya tidak ingin terjebak membahas lebih panjang soal data kehilangan kosakata tersebut, namun akan lebih focus pada isi buku.
Ada beberapa judul naskah yang tertera dalam daftar isi yaitu: 1. Arak Sopok Cerite, yang kemudian digunakan sebagai judul utama dalam buku ini, selanjutnya. 2, Aiq Meneng Tunjung Tilah, Empak Bau, 3. Sasak Mirah Tegeng Galing, 4. Susah Maik Tebareng Bareng, 5. Gare-Gare Batu Akik, 6. Putri Mandalika, 7. Febiola From New York, 8. Story Kid Zaman Naw, 9. Teater Komedi Rudat, 10, Desa Pengadangan, 11. Putri Bulan dan Putri Bintang, 12. Bunga Rumput Liar dan 13. Bantel Tolang Daraq Isin.
Dalam resensi ini, penulis akan membahas satu-satu yang kemungkinan secara acak, karena saat buku ini ada di tangan. Saya sangat ingin menulis namun kondisi tubuh sedang tidak stabil, batuk, flu dan sakit pinggang menjadi musuh yang begitu menyeramkan dalam satu waktu bersamaan. Ditambah lagi dengan program literasi dan upaya revisi buku yang saya susun pada tahun 2021 dengan target harus segera rilis dalam bentuk master karena butuh riset guna mengumpulkan data sehingga dinyatakan siap terbit.
Di balik semua itu, apapun rutinitas yang membuat saya pura-pura terlihat sibuk itu, saya berupaya menyelesaikan tulisan membahas tentang buku ini. Lalu apa yang menarik saya seingga menjadikan buku ini prioritas? Jawabannya sudah sangat jelas, sebagaimana saya menyajikan tulisan Mahyuni yang menyebut data kehilangan kosakata serta kepedulian terhadap lestarinya budaya sasak, maka perasaan saya menjadi sangat terganggu jika tidak menyelesaikan tulisan tentang buku ini.
Arak sopok cerite
Dua orang penari membuka pentas menyajikan tarian sasak dengan lemah gemulai, semacam tarian selamat datang kepada penonton. Menjelang akhir tarian masuklah Terong Pesot dan Terong Kembung mereka ikut meniru-niru gerakan penari. (Tarian selesai penari keluar pentas, meninggalkan mereka berdua di atas pentas tersebut).
ADEGAN I
SETTING: Sebuah alun-alun desa antah berantah.
(TK=Terong Kembung, TP=Terong Pesot)
Sebuah cerita yang ditulis dengan gaya pertunjukan campuran antara wayang dengan rudat menggunakan dua bahasasa campuran Indonesia dan sasak, ini berlaku untuk seluruh naskah, sehingga saya tidak akan menulis hal yang sama agar tidak bertele-tele dalam mengupas 12 naskah lainnya (alasan penulis bisa dicerna dalam prakata di bab awal tulisan ini)
Pemilihan tokohpun sepertinya di sengaja oleh penulis untuk menguatkan aroma tradisi sasak yang suka aneh-aneh menyebut nama seseorang atau memberikan gelar kepada seorang.
Dalam tradisi sasak, itu dijadikan sebagai sapaan kepada orang-orang tertentu sebagai bahan “candaan” dan atau panggilan untuk “keintiman” hubungan seseorang. Meskipun sebutan-sebutan semacam itu bisa jadi dalam teori bully merupakan verba dari keadaan seseorang secara fisik, namun karena ini sudah mengakar dan menjadi kebiasaan, maka saya menganggap bahwa tradisi sasak yang ini harus di hilangkan karena merupakan bagian dari bully secara persona
Hallodokter, kumparan, Wikipedia mejadi sebagian yang menerangkan bahwa bully dapat dibagi menjadi klasifikasi
Bullying, atau perundungan, memiliki berbagai jenis dan bentuk, mulai dari tindakan fisik hingga interaksi online. Berikut beberapa jenis bullying dan contohnya:
Bullying Fisik:
Contoh: Memukul, menendang, mendorong, menjambak rambut, menampar, atau menghancurkan barang milik orang lain.
Bullying Verbal:
Contoh: Menghina, mengejek, mengancam, menyebarkan gosip, atau menggunakan kata-kata kasar dan menyakitkan.
3. Bullying Sosial:
Contoh: Mengucilkan, mengabaikan, menyebarkan rumor jahat, atau memanipulasi persahabatan untuk mengisolasi korban.
4. Cyberbullying:
Contoh: Mengirim pesan yang menghina atau mengancam melalui media sosial, aplikasi chatting, atau email, atau menyebarkan foto atau video yang memalukan.
5. Bullying Emosional/Psikologis:
Contoh: Meremehkan, mempermalukan di depan orang banyak, menyebarkan kebohongan, atau menggunakan bahasa tubuh yang mengancam.
6. Perundungan Seksual:
Contoh: Pelecehan seksual, komentar bernada seksual, atau tindakan yang tidak pantas yang melibatkan sentuhan fisik.
Namun bagaimanapun teori tentang bully ini, bahwa pada kenyataannya tidak sedikit orang justru sangat menikmati untuk di bully misalkan saja kita sebuh satu dari sekian banyak pemain lenong “yati pesek” (yati: nama) (pesek: keadaan hidungnya) dan beliau tetap bahagian, justru bully yang melekat pada dirinya itu menjadikan yati memiliki branding personal “pesek”.
Aiq Meneng Tunjung Tilah, Empak Bau,
Membaca pembukaan pada tulisan ini membuat saya teringat akan rumitnya perempuan utnuk di fahami, kadang yang kita anggap berantakan, bagia dia sangat rapi dan rapi bagi kaum satu ini bisa bermakna berantakan, duh pengalaman hidup saya banget ini.
Saya sering berdebat tentang selembar kertas yang di anggap sampah padahal itu adalah pesanan pelanggan, secara kebetulan teriup angin atau ada kucing/ tikus lewat membuatnya tergeser dan berserakan.
Membaca cerita ini benar-benar membuat saya tertawa mengingat istri saya. Aneh, malah jadi terkesan curhat, bukan curhat sakit dalam kebiasaan menulis yang disuguhkan ini kerasa banget dengan kehidupan sehari-hari. Yah, barangkali cerita ini tersusun atas dasar curhat orang ke mbak wik atau hasil observasi, terlalu banyak kemungkinannya.
Febiola From New York
Membaca naskah ini mengingatkan saya pada satu judul naskah remana yang dulu sering digunakan pada pertunjukan drama untuk festival teater modern yang sering dilaksanakan di mataram oleh organisasi kampus bernama teater putih, naskah itu berjudul “Mentang-mentang dari New York”.
Namun saya tidak akan berupaya untuk mencari pembenaran atas asumsi ataupun teori tersebut, sebagaimana saya ucapkan di awal bahwa tulisan lebih kepada bagaimana pemilihan tokoh, gaya (bahasa) dan lain sebagainya. Tentu saja selain soal sastra.
Dalam tulisan-tulisan lain seperti: Sasak Mirah Tegeng Galing, Susah Maik Tebareng Bareng, Gare-Gare Batu Akik, Putri Mandalika, Story Kid Zaman Naw, Teater Komedi Rudat, Desa Pengadangan, Putri Bulan dan Putri Bintang, Bunga Rumput Liar dan Bantel Tolang Daraq Isin.
Hampir tidak memiliki perbedaan yang signifikan, menggunakan penggunaan bahasa ibu (sasak) dan bahasa persatuan (Indonesia).
Jika kita kembali kepada rujukan awalan yang dituliskan oleh penulis tentang hilangnya 300 kosa kata itu, maka saya sebagai penulis yang berupaya mengupas sekumpulan naskah ini menemukan 2 hal setelah selesai membacanya yaitu: 1. Kesengajaan penulis menggabungkan 2 jenis bahasa yang berbeda untuk membuat efek lucu, atau 2. Keterbatasan penulis dalam hal kosakata itu sendiri.
Tidak bisa dipungkiri bahwa kosakata bahasa sasak yang dimiliki penulis ulasan buku inipun sangat terbatas, karena memang tidak pernah ada pembelajaran bahasa daerah selama mengikuti sekolah. Meskipun dulu Lalu Malik Hidayat pernah mengajarkan bahasa sansekerta sasak sewaktu saya kuliah di universitas hamzanwadi selong, namun bagi saya itu sangat kurang karena hanya ditempuh satu semester dengan kredit SKS 2 yang membuatnya menjadi sangat mustahil akli untuk menghafal kosakata. Ditambah lagi dengan kemirisan bahwa bangsa sasak tidak memiliki kamus bahasa, membuat bahasa menjadi asing di daerahnya sendiri.
yogismemeth

Posting Komentar