Nopember
Hai Nopember ...
Begitu banyak kisah kulontarkan pergi, meninggalkan jejak sakit hati yang menggilas waktu, dan tak pernah bisa henti. Menikung tiap ingatan tentang lupa, merajam bahagia menjadi derita.
Hai Nopember ...
Hari ini kita bertemu, aku tak ingin membuat cerita pedih ditubuhmu lagi. Jadi, izinkanlah aku kali ini memandangmu dengan rasa bahagia dan suka cita, tanpa duka dan nestapa.
Hai Nopember ...
Sediakah engkau menemani tanpa caci, tanpa maki, tanpa gelisah dan tanpa sedan. Jauhkan isak tangis, berikan aku serangkai cinta dan rindu yang 'kan abadi mengisi jiwa.
Hai Nopember ...
Jika kau setuju, genggamlah jemariku. Kita ukir sejarah bahwa hujan yang jatuh bukan tentang tangis kepedihan. Namun rasa syukur 'tak berkesudahan.
Seribu sungai, 051120
Cerita Kita
Ketika sosokmu mulai merasuk dalam pikiran, waktu serasa berhenti dengan sendirinya. Duniaku hanya berisi bayang, dan senyummu itu.
Lalu ketika debarmu jadi getaran yang sama di dadaku, kita berupaya bertahan untuk tak benar-benar jatuh dalam gelombang cinta.
Langitku menjadi semakin biru kala itu, angin kian sepoi menyejukkan raga, dan cahaya surya menjadi lebih hangat memeluk jiwa.
Lalu masa sekejap berulah, ketika kasih mulai kerap terucap di bibir kita, aku melihat binar berbeda darimu, untuk sebaris kisah di masa lalu. Dan aku menyadari ini waktuku untuk tersadar, kemudian aku berkata padamu, "Aku takut, izinkan aku berlalu."
Kau tak menghalangiku pergi, seperti ketika aku tak melarang dirimu untuk masuk tanpa permisi. Bedanya hanya engkau datang hanya untuk menyapa, sementara aku pergi tuk menghapus bayangmu yang merekat di atma.
Seribu sungai, 031120
Serupa Layang-Layang
Pada suatu masa ketika aku berteduh di bawah pelangi. Ia mencipta banyak warna di atas kepala. Kucoba pungut dan menyimpannya dalam genggam hangat jemari. Lalu kuanyam jadi simpul indah tuk menjaga hati.
Pada suatu waktu, ketika aku bertemu dengannya. Seseorang yang mengetuk pintu dengan senyum manis dan buku tebal dalam dekap, tingkahnya menyebalkan dan membuatku tak nyaman.
Lalu entah kenapa, keesokan harinya, aku membiarkan ia menyusupkan bait rindu dalam canda. Lalu simpul pengikat hatiku terlepas seketika.
Aku berusaha bertahan tuk tetap berdiri tegak menantang sebaris gigi putihnya yang kian membayang, lalu buat aku malayang. Hingga tiba masa aku terombang ambing bagaikan layang-layang.
Seribu sungai, 02 Nopember 2020
Bionarasi
LL.Rose Antemas lahir 43 tahun yang lalu di Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan. Berprofeai sebagai bidan dan masih berstatus ASN di salah satu Instansi pemerintah. Ibu dari satu anak yang memulai menulis dari rasa sukanya terhadap puisi dan dari sana terus belajar memberanikan diri menulis cerpen. Baginya menulis adalah curahan rasa dan sebagai terapi jiwa.Ig: @hennyrosman


Posting Komentar