This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

SAJAK-SAJAK RIAMI


(ilustrasi: google)


Cahaya Jiwa


Bahagia adalah, mampu menempa baja kepedihan

dengan api keberanian

Lalu ditempa dengan palu kesungguhan

Membentuk luk luk keris kasih sayang

Yang dengan lembut membunuh ego di malam buta


Sesungguhnya orang yang mengasihimu adalah cahaya bara dalam tempa

Orang orang yang membencimu

Adalah penakluk kesombongan


Makhluk tetap makhluk

Dia tetap Dia 

Yang berada menguasai seluruh ketinggian langit

Seluruh kedalaman bumi

Yang menguasai segumpal hati

Yang bisa meluas seluas samudera

Menaklukkan badai tiada terkira


Kau kira siapa penggenggam petir paling dahsyat

Selain maha makrifat, dalam maha Cinta


Menjaga hati itu berat sebanding menjaga pusaka

Bila kelak berhasil kau temukan cahaya di dalam jiwa


Bukit Nuris, 20 Januari 2022


Gelembung Udara


Kadang aku berkhayal

Engkau menjadi gelembung udara

Yang lembut


Beraroma wangi 

Seperti relaksasi menghirupmu

Kuhidu wangimu tiap aku tersedu


Lalu kau menjadi gelembung di gelombang ombak pantai 

Kutiup di hamparan pasir

Lalu kembali bersama ombak menerpa pipi juga tanganku


Pertama kali mungkin aku kaget, atau euforia

Lama-lama menjadi biasa 

Engkau pergi, lalu hadir tiap senja di pantai biru segara rasaku


Ya kita biasa, bertemu, bermain meneriakkan perpisahan 

Lalu pertemuan berikutnya kau pecah bersama tawaku


Bukit Nuris, 2022







Biodata


Riami

Mengajar di SMPN 2 Pakisaji. Tinggal di Malang. Bergiat di Kepul (Kelas Puisi Alit), di COMPETER, Asqa Imagination Shool (AIS), di KPB (Kelas Puisi Bekasi), di Kelas Menulis Daring Elipsis. Menulis beberapa buku antara lain "Sajak Biru." Menulis di Kompasiana. Com.



DARAH DI KEPALA SANTRI

 


(ilustrasi: google)


Tempat saya mengajar mulai tahun 1992, sekaligus diamanahkan sebagai wakil kepala madrasah bidang kurikulum, sampai sekitar tahun 1996, di Madrasah Tsanawiyah NW Pancor Lombok Timur. Madrasah ini dibangun sejak tahun 1940an oleh Al Magfurullah Maulanasyaikh TGKHM Zainuddin Abdul Majid, satu-satunya Pahlawan Nasional dari Lombok. 


Masyarakat menyebutnya madrasah Mamiq Haji Marjan,, karena Bapak Beliau yang punya wakaf, H Umar Pancor. Sekaligus juga, Mamiq Haji Marjan Umar puluhan tahun menjadi kepala madrasah. 


Ketika Mamiq Haji Marjan Umar diangkat  sebagai kepala Madrasah Mu'allimin Aliyah NW Pancor, beliau diganti oleh H. Mahyuddin. 


H. Mahyuddin seorang pemimpin yang tegas dan disiplin. Sehingga cukup ditakuti para santri. 


Di belakang Madrasah ada Ustadz yang tinggal sekaligus istri beliau berjualan, Ustadz Basyaruddin, Ustadz yang mengajar Nahwu shoref, kadang-kadang tempat jualan beliau dipakai sembunyi sambil belanja bagi santri yang kadang-kadang suka bolos, lalu diam-diam pulang. 


Suatu ketika ada tiga santri sedang asyik makan jajan pada saat teman-temannya belajar. Pak Kepala, Ustadz H mahyuddin kebetulan sedang kontrol ke sana. 


" Nah ini, Anak-anak nakal yang suka bolos belajar!!! "

Tidak ada jalan untuk lari. Kebetulan satu diantara ketiga santri sedang makan klepon, jajan khas Lombok yang di dalamnya dikasih gula merah. 


Tanpa fikir panjang klepon dimasukkan ke songkoknya dan songkok dipakai kembali, supaya tidak diketahui sedang makan. 


"Sedang apa kalian!!!? "

" Nggak ada Ustadz, mau ke kamar kecil saja"

"Bohong, kalian tadi saya lihat makan. Berani kalian bohongi saya, ya!!! "

"Tidak Ustadz, kami tidak bohong"

Plaakkk!!! Songkok anak itu dipukul. Tiba-tiba meneteslah seperti darah, dari kepala anak yang dipukul. 


Wajah Ustadz Mahyuddin pucat, mengira darah menetes karena pukulannya. 


" Ya Allah, makanya saya bilang kalian jangan nakal. Saya sayang kalian makanya cerewet. Jangan kasih tahu orang tuanya. Ini pakai berobat. Kamu Gunawan ajak dia berobat, kamu aja yang ngajak temanmu membolos". 


Uang itu segera diambil oleh si Gunawan, dua temannya termasuk yang dikira kepalanya luka dan mengeluarkan darah, jalan kaki ke Selong. 


Mereka pergi sambil cekikikan, ketawa, karena jajan di kepalanya yang mengeluarkan gula merahnya, dikira darah oleh pak kepala Madrasah. 


Sampai dagang bakso, mereka beli bakso dengan uang yang dikasih kepala Madrasah. 


Sekarang si Gunawan, yang suka mengajak teman-temannya membolos ketika Tasanwiyah, sedang menempuh Program Doktor di Universitas Negeri Yogyakarta. Mengambil konsentrasi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan. 


Demikianlah kita sebagai guru di sekolah dasar dan menengah tidak pernah tahu, mana anak-anak didik kita yang akan sukses di perguruan tinggi. Kadang-kadang anak-anak yang kita anggap paling nakal, mereka yang akan menjadi kebanggan sekolah.

Fauzan Fuad

SAJAK-SAJAK WINARNI LESTARI

 LADANG GARAM


telah sampai pada ketukan

pintumu, dua pemuda rupawan

dengan sayap-sayap yang disembunyikan.

"salaman" ucap mereka -pada tatapan 

asingmu- seolah saudara laki-laki 

yang lama telah kembali.

lalu kau suguhkan daging asap

juga secangkir mata air

telah sampai mereka sebagai utusan

dan Tuhan lebih tahu 

di bumi mana satu biji akan 

ditumbuhkan dan merindang.

namun engkau punya mata

yang pernah tenggelam dalam 

api sekian lama, paham 

apa yang disembunyikan

dibalik helai sayapnya.

sebuah pematik yang akan 

membakar kepala-kepala kaummu 

yang telah keras membatu

hingga melampaui titik didih

lebur menjadi kristal-kristal putih

untuk kau tabur di ladang garam.


Kudus2021



GAGAL PANEN


semalam para pengerat menggigit dan mencakari sabun mandi -membersihkan mulut dan tangan-tangan kotor mereka- setelah habis menggasak keringat para petani yang lelah diperah sepanjang musim yang berat. namun pagi ini mereka datang ke acara pesta rakyat dengan tampilan rapi dan wangi. seakan tak peduli telah mengencingi doa dan sambat yang ditelan mentah-mentah dalam perut yang tabah.


Karawang2022

KEONG MAS


tambun hidupmu tak luput dari memanggul perut melata di sela rimbun padi dan rumput. tertetas dengan stigma sebagai peretas harapan yang tersemai jauh sebelum tertuai. masa keemasanmu telah terkubur lumpur serupa keangkuhan tercebur tungku kemasan lalu lebur. namun hidup sudahlah cukup jika telah mewirid butir-butir merah muda diantara batang padi di sepanjang pematang sebagai bulir-bulir takbir. lalu kau rela terenggut maut terjepit antara paruh-paruh itik atau tercekik musim paceklik.


Tuban2015

WIWIT


di antara bulir-bulir

mengangguk-angguk diterpa semilir.

sebuah lengan legam nan kekar

tak lelah menanti kabar

kapan menuai.


berpincuk kulub urap

duduk berjajar di pematang

serta dendang harap

semoga tak ada rasa gamang

atas butir-butir peluh

yang terjatuh tanpa keluh.


Tuban2020


Keterangan: Wiwit adalah tradisi masyarakat Jawa Timur saat sebagian bunga pagi mulai menjadi buah, dengan membawa nasi pincuk sederhana dan mengundang petani di sekitar sawahnya untuk berdoa di pematang, sebagai wujud syukur dan harapan agar tidak ada aral sampai panen tiba.




BIODATA PENULIS


Nama lengkap penulis adalah WINARNI DWI LESTARI.  Lahir di Tuban, kini tinggal di Karawang – Jawa Barat.  Saat ini menekuni usaha property.  Studi terakhir adalah Sarjana STT Telkom.  Puisinya pernah dimuat di media cetak maupun online. Pecinta puisi dan masih terus belajar menulis puisi.

AMIRA DAN CINTA YANG KONYOL

 

(ilustrasi: google)


Hari ini aku bangun di antara kapas. Bukan. Barangkali lebih tepat di dalam kapas. Kapas yang lembut dan dingin, semacam arum-manis keabu-abuan. Aku bangun tanpa piyama, telanjang sama sekali dan masih berbaring. Aku hendak bangun, tapi karena ini adalah kapas, tentu tidak ada pijakan. Aku terperosok, seperti tenggelam saja. Tubuhku terpelanting sampai tak sengaja dalam posisi terbaring lagi. Dan aku tiba-tiba berhenti. Sepertinya aku tidak boleh berada pada posisi lain. Baiklah, aku putuskan begini saja, lagi pula kapas ini nyaman dan lebih lembut dari spray hotel-hotel berbintang. Astaga, sudah jam berapa sekarang? Aku harus berada di kantor pukul tujuh jika tidak ingin bos memarahiku lagi. Aku tidak ingin ulangi keterlambatanku lagi (seperti yang selalu aku inginkan setiap hari walaupun tidak pernah berhasil). Setiap pagi bos memarahiku, seharusnya dia memecatku seperti yang dikatakan beberapa rekan kantor. Namun bos tidak akan pernah bisa memecatku, sebab aku adalah anak klien terbesar di perusahaan itu. Ayah seharusnya tidak mempekerjakanku di sini. Dia bisnismen yang sukses. Dengan alasan agar aku merasakan benar-benar bekerja dan dapat mandirilah ayah mengasingkanku bekerja di perusahaan itu.

Sepertinya sudah subuh, karena aku merasa lapar dan kedinginan. Di sini tidak ada apa-apa. Hanya kapas. Sebab sangat lapar, aku mengepal kapas itu sebesar genggamanku, kemudian memakannya. Rasanya sejuk dan lembut. Baru tiga kepalan saja aku sudah kenyang dibuatnya. Ah, aku baru ingat. Semalam aku menginap di hotel dengan Amira. Di mana dia sekarang? Bagaimana bisa aku di sini? Apakah Amira mengasingkanku? Ah, konyol sekali dia. Mana mungkin hanya gara-gara kejadian semalam dia berbuat sejauh ini? Padahal aku hanya belum mau menikah, mana mungkin aku mengiyakan rayuannya. Dan di mana gawaiku?

“Amira, berhentilah bercanda. Aku harus segera bekerja. Ini sudah jam berapa?!”

Aku memanggil-manggilnya. Tapi tidak ada jawaban. Amira memang sering begini. Dia bisa melakukan hal tak terduga jika kehendaknya tidak aku turuti. Seperti satu minggu lalu, dia mengunciku di sebuah hutan selama tiga hari hanya karena aku tiba-tiba membatalkan makan malam dengannya. Tapi waktu itu tidak separah ini, dia masih membiarkan aku berpakaian dan meninggalkan gawai agar aku bisa memelas kepadanya lewat telpon.

Kali ini aku benar-benar hanya dengan kapas-kapas ini. Sebenarnya aku hendak menghentikan hubunganku dengannya. Tapi tidak akan bisa, sebab Amira adalah anak bosku. Dia bisa menjadi alatku untuk menambah pembangkangan kepada ayahnya. Amira sangat mencintaiku. Dia tidak akan makan beberapa hari jika kami sedang tidak baik-baik saja, itulah sebabnya bos juga tidak bisa memaksanya berhenti mencintaiku.

Ah, ini adalah puncak kekonyolan Amira. Terlahir sebagai indigo dan berteman dengan makhluk supranatural membuatnya bisa melakukan hal-hal di luar nalar. Sekarang aku tidak tahu sampai kapan dia akan menghukumku seperti ini. Di sini waktu sepertinya tidak berjalan. Hanya ada warna abu seperti pagi yang sangat mendung. Sesekali suara angin-gemuruh terdengar entah dari mana. Suara-suara itu seperti menyatu dengan kapas ini. Walaupun aku sudah terbiasa dengan situasi ganjil semacam ini, dan mengetahui bahwa Amira pasti akan datang, kali ini aku merasa khawatir. Jika Amira mengurungku satu hari saja, aku bisa membeku dan kelaparan di sini. Tidak ada makanan dan yang paling parah aku tidak bisa menunggu sambil bermain game online.

“Sudahlah, Amira. Aku harus bekerja!” Aku mulai memanggilnya dengan nada kasar. Aku yakin Amira mendengarkan entah dari mana. Dia pasti memiliki semacam CCTV gaib dari kawan-kawan halusnya.

***

Rasanya sudah sangat lama aku di sini. Dan suasana tidak pernah berubah. Aku bahkan tidak tahu siang dan malam, hari dan tanggal. Keadaanku cukup mengenaskan. Bibirku terasa kering. Tulang-tulang rusukku menonjol dari dada sampai perut. Jika ada cerminpun, aku tidak mau melihat bayanganku. Aku sudah bisa menebak seperti apa tubuhku sekarang.

Amira tak juga datang. Aku mengingat ayah. Dia pasti sangat khawatir. Sejak kecil ayah sangat menjagaku. Sampai SMA aku masih diantar olehnya ke sekolah mengenakan mobil mewah kesayangan ibu. Bahkan semasa berkuliah dulu, aku tidak boleh pulang lewat jam sembilan malam. Aku sangat dimanja olehnya. Ibu meninggal ketika melahirkan aku. Barangkali itu yang membuat ayah sangat menjagaku, aku adalah satu-satunya yang ayah punya. Tidak mungkin ayah tidak melaporkan hal ini kepada polisi. Atau barangkali Amira sudah ditangkap dan tetap tidak mau memberitahukan di mana aku sekarang. Atau barangkali Amira telah dieksekusi, barangkali dia mengaku telah membakarku dan membuang abuku di lautan. Ah, jika memang begitu berarti aku akan di sini sampai aku mati.

Sesekali aku juga merasa sakau. Iya, aku pemakai putaw. Hanya Amira yang mengetahui hal ini. Berada di dunia kerja dan tidak pernah merasakan dunia luar sebelumnya membuat aku tertarik melakukan banyak hal baru dan tabu. Aku hanya berpikir bahwa aku harus membalaskan kekangan masa muda dulu. Hal yang paling sering aku teriakkan kepada Amira selama di sini adalah bahwa aku butuh menyuntikkan putaw untuk menghilangkan hawa dingin.

Benar. Sepertinya Amira sudah dieksekusi mati atas tuntutan ayah terhadap hilangnya aku. Aku hanya menyambung tenaga dengan memakan kepalan kapas abu ini. Tiga kepal saja sudah membuatku kenyang, tetapi kenyang itu seperti kekenyangan karena telah meminum banyak air dan hanya membuat kembung.

Ah, sepertinya aku harus berdiri agar aku terperosok seperti pada awalnya. Barangkali di bawah sana aku akan menemukan semacam gerbang. Ah, jangankan gerbang, lorong selokanpun akan aku lewati jika itu adalah cara untuk keluar. Aku berdiri, aku terperosok. Tubuhku terpental-pental. Jika tidak sengaja posisiku berbaring lagi, aku akan mengulangi posisi berdiri. Begitu seterusnya. Hingga sudah cukup lama, aku berbaring lagi. Kapas abu ini seperti tidak berujung. Jangan-jangan Amira mengurungku di alam semesta yang berbeda dengan alam semesta tempat bumi berada. Jangan-jangan ini adalah alam semesta makhluk astral, di mana teman-teman Amira berumah. Jangan-jangan mereka mengawasi dan bahkan tidur denganku.

***

Aku sudah memasrahkan keadaan. Aku pasti akan mati di sini. Tapi, dari ujung yang bukan ujung, seorang perempuan dengan gaun putih mendekatiku. Aku sangat berbahagia walaupun belum tahu apa yang akan dia lakukan kepadaku. Perempuan itu sudah berada di hadapanku.

“Selamat datang”, katanya, “Maaf, baru sekarang ibu menyusulmu.”

Ah, benar. Perempuan ini mirip sekali dengan wajah dalam foto berbingkai emas di ruang keluarga kami.

“Ibu. Benar, ini ibu. Sebenarnya aku kenapa?”

“Kau tidak ingat sama sekali? Amira membunuhmu malam itu.”

“Aku sangat mabuk.”

“Tapi tidak ada yang dapat memindahkanmu dari sini. Amira mengunci jiwamu di sini. Dan hanya dia yang tahu.”

Sekarang aku paham, Fernando Corby Corbato pastilah terinspirasi dari orang-orang indigo ketika hendak menciptakan teknologi password.

“Apa yang dilakukan ayah. Mengapa dia tidak meminta bantuan ahli supranatural untuk melihat kuncinya pada Amira?”

“Sayang sekali, nak. Amira membakar kamarmu di hotel itu dengan dia sendiri juga di sana.”

Lagi-lagi aku benar. Amira sangat konyol dan sangat mencintaiku. Abuku dan abunya menyatu. Tapi kenapa dia tidak menyatu di sini sekarang. Bersamaku.







Eyok El-Abrorii. Lahir di Sakra Barat, Lombok Timur. Tulisan-tulisannya termuat di beberapa media cetak dan elektronik dan antologi bersama. Penulis novel Prolog Patah Hati (Bandung, 2018) dan antologi cerpen Cerita-Cerita Banal (Majalengka, 2020). Penggagas Komunitas tulissenja.

MENJADI GURU YANG BAIK

 



Ketika mengajar matematika di salah satu SMA di Lombok Timur, ada salah seorang murid saya yang cukup nyeleneh. Setiap saya memberikan ulangan harian, dia mengumpulkan jawaban berupa puisi, bahkan pernah hanya angka-angka yang ditata seperti bait-bait puisi. Saya pura-pura bersikap biasa dengan apa yang dilakukannya, sehingga teman-temannya tidak tahu apa yang dia lakukan. Teman-temannya hanya tahu, dia ikut mengumpulkan jawaban, bahkan kadang-kadang paling dulu. 


Sang murid ini selalu duduknya paling belakang, dia perempuan, biasanya perempuan duduk di depan atau paling tidak di tengah. Dia biasa duduk paling belakang, sendirian. Tidak punya teman duduk. Mungkin teman-temannya tidak mau duduk dengan dia, karena penampilannya yang tidak rapi, rambut agak pirang karena jarang dishampo, dia tidak pakai jilbab seperti teman-temannya. Baju sering lecek, tidak diseterika. 


Suatu saat ketika saya memberikan latihan, murid sedang fokus mengerjakan latihan, saya mendekatinya, dan duduk di dekatnya. Saya tanya, "buku catatanmu mana? ". Dia berikan buku catatan nya, " Ini, pak guru".

BACA ARTIKEL LAINNYA DISINI

Saya buka buku catatannya, kosong tidak ada catatan apa-apa. " Kamu tidak pernah mencatat yang Bapak tulis? ". Dia menggeleng, " Maaf Pak guru, saya tidak faham, makanya saya tidak catat". 


Saya buatkan ringkasan rumus-rumus penting, dan contoh-contoh soal, serta jawabannya. Tiba-tiba dengan suara agak bergetar menahan haru, dia mengatakan, " Terimakasih pak guru, tumben ada yang memperhatikan saya", dengan air mata masih mengambang, dia mulai kerjakan sebisanya soal-soal latihan yang ada. 


Saya merasa sang Murid sedang ada masalah, kurang mendapatkan perhatian, mungkin di rumah, juga di sekolah. Sehingga kalimat pertama yang keluar adalah terimakasih tumben ada yang memperhatikan saya. Saya berinisiatif mencari tahu keadaannya di rumah dari teman sekampung. Ternyata orang tuanya sudah bercerai, bapak dan ibunya masing-masing sudah menikah lagi. Dia tinggal sama neneknya yang sangat tidak mampu. Tidak terurus, untunglah dia tetap sekolah. 


Saya datangi orang tuanya, minta supaya memperhatikan anaknya, baik kasih sayang maupun biaya hidupnya, karena mereka sebenarnya cukup mampu. 


Sejak itu Sang Murid kelihatan ceria, dia mulai rajin mengerjakan soal-soal latihan, pada setiap jawaban soal yang dia kumpulkan saya berikan kata-kata motivasi. 

BACA ARTIKEL LAINNYA DISINI

Sekitar lima tahun setelah itu, ketika sedang mengajak anak-anak saya ke toko buku di mall mataram, tiba-tiba ada yang berlari mengejar saya. 

"Pak guru, pak guru.. ", setelah dekat dia bilang.

" Inges tiang nengka ndi. (Cantik saya sekarang, ya)". 

Lho, saya bingung. " Siapa, ya". 

"Masak tidak ingat, pak. Kan saya dulu murid bapak yang tidak pernah nyatat, duduk paling belakang, kotor lenge tak terurus", Saya ingat. 

" Oohh, di mana kamu sekarang. Kamu rapi, cantik dan ceria. Kamu kuliah ya?"

"Alhamdulillah, pak Guru. Berkat perhatian pak Guru saya jadi semangat. Tiang baru wisuda, pak Guru".

" Alhamdulillah, wisuda di mana? " Tanya saya, ikut bahagia. 

"Tiang ngambil teknik sipil di Unram. Dakak tiang bodo inik tiang lulus becat, pak. (meskipun saya bodoh, saya bisa lulus cepat, pak) ".

" Alhamdulillah, luar biasa. Kamu tidak bodoh, kamu pintar, kamu pintar, nak".

"Pak guru yang selalu ngasih tiang semangat belajar, kalau tidak, mungkin tiang sudah jadi gelandangan. Tiang beruntung ketemu guru yang baik". 

" Kamu keliru anakku, bapak beruntung bertemu kamu, sehingga bapak bisa belajar menjadi guru yang baik". 


Menjadi guru memang pekerjaan berat. Mungkin banyak calon-calon orang besar, calon pemimpin yang kita hancurkan masa depannya, karena kita anggap nakal, kita anggap bodoh, tanpa mendalami masalah yang sebenarnya dialami murid-murid kita.

GEMPA BERKEKUATAN 6.7 SR GUNCANG MADURA

 


buletinkapass.com-Gempa dengan kekuatan 6,7 SR mengguncang Madura pukul 16, sore tadi dirasakan sekitar pukul 14.05 WIB. Gempa terasa selama 30 detik. 14/01/22

Hingga tulisan ini diturunkan, belum ada laporan jumlah korban dan bangunan rusak akibat gempa tersebut.

Berdasarkan info yang dirilis oleh BMKG, gempa berkekuatan 6.7 sr tersebut memiliki ke dalaman 10 kilo meter

MENGENAL SOSOK GURU

 


buletinkapass.com-Perjalanan nasib mengantarkan saya menjadi guru di banyak madrasah dan sekolah. Tahun 1991 saya mengajar di madrasah tsanawiyah di Pegayaman Bali, kemudian menjadi guru honorer di madrasah Aliyah di Seririt Bali. 


Setamat dari Universitas Udayana Bali, dengan prodi pendidikan matematika, tahun 1992 saya mengajar dan menjadi wakamad kurikulum di Madrasah Tsanawiyah NW Pancor, disamping mengajar matematika dan filsafat ilmu di STKIP Hamzanwadi Selong. Kemudian dalam rentang 1993 sampai 1997,,saya mengajar di Madrasah Aliyah Muallimat NW Pancor, MAK NW Pancor, juga SMANW Pancor. Seorang teman mengatakan saya bolak balik jual jam.. Hehe, maksudnya jam mengajar, karena saya mengajar dari jam setengah delapan pagi sampai jam sembilan malam. Saat itu perkuliahan di STKIP Hamzanwadi Selong dilaksanakan sore sampai malam. 


Tahun 1998 saya mengajar matematika di SMAN I Sikur, masyarakat sekitar menyebutnya sekolah kebon, mungkin karena letaknya agak di pelosok, antara Paok Motong dan Kotaraja. Sekitar tahun 2001 saya pindah ke SMAN I Masbagik, mengajar matematika dan seni teater. ( dua mata pelajaran yang nggak nyambung, yaa.. Hehe). 


Tahun 2010 setamat program Doktor di Universitas Negeri Yogyakarta saya pindah menjadi dosen negeri ditugaskan di STKIP HAMZANWADI Selong. Hanya berubah status dari dosen swasta menjadi dosen negeri, karena saya mengajar di STKIP Hamzanwadi dari tahun 1992. Alhamdulillah pernah juga membantu mengajar di pascasarjana Unram dari tahun 2010 sampai 2015. Mengajar Statistik Penelitian, Penelitian Pendidikan dan Filsafat Ilmu. Juga, mengajar di Program Doktor, kerjasama UIN Mataram dan UNJ. 


Sekian tahun mengajar, saya sampai pada kesimpulan, tugas guru hanya dua. Pertama, menjadikan muridnya menjadi manusia yang baik, dari perspektif agama maupun kebaikan universal. Kedua, bagaimana menemukan bakat masing-masing muridnya dan mengembangkannya semaksimal mungkin. Guru yang baik tahu bagaimana mengeluarkan bakat terbaik dari dalam diri siswanya. Good teachers know how to bring out the best in students, ungkap Charles Kuralt, kolumnis asal Amerika. Guru yang baik tahu bagaimana cara mengeluarkan sisi terbaik dari siswanya. 


Masing-masing manusia sudah ada cetakan uniknya dari Allah, guru yang baik membuatnya menjadi produk terbaik sesuai cetakan tersebut. 


Guru yang bijaksana, kata Khalil Gibran, bukan guru yang menawarimu masuk ke rumah kebijaksanaannya, melainkan membawamu ke ambang fikiranmu sendiri. "The teacher who is indeed wise does not bid you to enter the house oh his wisdom but rather leads you to the threshold of your Mind". Ya, guru yang baik membuat kita betul-betul menjadi diri sendiri, sesuai bakat dan jenis kecerdasan yang diamanahkan Allah kepada masing-masing kita.


||fauzan fuad

MENGENALI PERAN YANG DITAKDIRKAN ALLAH PADA KITA

 



Salah satu tokoh yang berpengaruh dalam perkembangan teater realisme adalah Konstantin Stanislavski. Stanislavski dilahirkan dengan nama Konstantin Sergeievich Alexeyev di Moskwa, sekitar tahun 1860an. 


Salah satu tulisannya,  The Method  menjelaskan bahwa akting harus mampu membuat  penonton merasakan bahwa apa yang dilakukan aktor adalah akting yang sebenarnya.


Stanislavski menjelaskan bahwa seorang aktor harus memiliki keyakinan untuk memastikan ( to justify ) dan membuat penonton percaya ( make Believe ). Sebagai apapun dalam sebuah drama, sebuah lakon, seorang aktor harus siap.


Aktor yang baik tidak mengejar peran, tapi mengejar kekuatannya sendiri sebagai aktor. Misalnya ada aktor yang sangat baik ketika memerankan tokoh seorang raja. Tapi selalu gagal jika memerankan seorang pembantu, staf, pesuruh atau hamba sahaya. Berarti aktor ini mengejar peran.

BACA ARTIKEL LAIN DISINI

Seharusnya peran apapun yang diberikan, sebagai aktor yang baik dia harus siap. Dalam istilah Stanislavski peran apapun yang diberikan dia mampu menubuhkan tokoh yang diperankan. Aktor harus bisa menubuhkan tokoh, walaupum bertolak dari tubuh aktor itu sendiri. 


Menubuhkan tokoh secara fisik menjelaskan dan memberikan ilustrasi dan juga menyampaikan perasaan atau batiniah tokoh naskah yang dimainkan.


Aktor menggunakan ingatan emosinya dengan mengingat kejadian-kejadian dan pengalaman-pengalaman yang terjadi pada diri aktor dan sekitarnya. Hal ini adalah sensitivitasnya sebagai seniman. Sensitivitas akan pengalaman batin yang diperolehnya dari dirinya sendiri dan orang lain.


Di samping itu juga peran apapun yang diberikan dia mampu mendandani tokoh yang diperankan. Mendandani tokoh merupakan langkah memberikan detail-detail makna pada tokoh. Dan Detail-detail inilah yang akan membuat aktor tidak mencintai diri sendiri lagi namun ia akan mencintai tokoh yang akan dimainkan.


Seorang aktor harus cermat dan detail dalam memberikan sisi kemanusiaan dalam diri tokoh. Aktor dalam mendandani tokoh-tokoh yang kita dirikan dari pengamatan-pengamatan yang klise dan umum.


Tentu tahap ini memerlukan pengamatan yang tajam, khusus, dan detail dari kategori-kategori umum. Aktor harus bisa menjelaskan asal-usul tokoh dan hal-hal yang mengungkapkan identitas tokoh. 


Eh, koq sangat jauh mengupas stanislavski padahal tulisan ini bermaksud mengatakan jangan mengejar peran melainkan kejarlah kemampuan menjadi seorang aktor yang baik, sehingga siap sebagai aktor dengan peran apapun, sebagaimana pandangan Stanislavski. 


Nah jika diterapkan dalam kehidupan, simpulan sederhananya adalah tingkatkan terus kualitas diri, lahir dan batin, sehingga kita selalu siap ditakdirkan Allah menjadi apapun. 


Siap memimpin dan siap dipimpin. Selalu memberikan kualitas pada peran yang ditakdirkan Allah.


Fauzan Fuaf

HIZIB NWDI KEMBALI DI GEMAKAN

 

(foto: memeth)


buletinkapass.com-Sejumlah puluhan orang pengurus anak cabang (Ancab) Nahdlatul Wathan (NW) Sekarteja. Rabu 5/01/22


Dalam sambutannya, Pengurus Cabang (PC) NWDI Sekong Akbar Maazi menyampaikan bahwa "ini adalah acara sapari ke 9 dari kegiatan hiziban ini hingga menjelang nispu syak'ban".

"kita juga akan mengadakan kurikulum pendidikan khusus untuk warga NW, jadi siapapun yang ingin velajar ahlissunah wal amah secara luas diperbolehkan belajar dan alhamdulillah masjid Pancor Sanggeng sebagai lokasi start awal kegiatan ini" ujar Akbar

BACA ARTIKEL LAINNYA DISINI


Selanjutnya, dalam sabutan penasehat NWDI Cabang Selong Dr. Fauzan Fuad menyampaikan bahwa "perlu diadakan pembiasaan kepada anak-anak  untuk melakukan kebiasaan seperti ini. karena anak-anak sampai usia Sekolah Dasar dalam usia emas atau golden age, dimana mereka saat itu sangat pandai untuk meniru kebiasaan-kebiasaan dari masyarakat yang ada di sekitarnya. Jika kebiasaan baik yang kita tanamkan maka akan terus menjadi investasi kebaikan bagi akhlak dan karakter mereka. Tapi jika kebiasaan buruk yang ditanamkan ke mereka maka kebiasaan jelek lah yang menjadi tabungan alam bawah sadar mereka. Karena itu, mari kita ajak kembali anak-anak kita berhizib. Biarkan mereka menyimpan tabungan hafalan doa, asmak dan aurat para wali itu sebagai tabungan alam bawah sadarnya."

Dalam ceramah penutupannya, Fauzan menyampaikan "banyaknya manfaat sholawat nahdlatain apabila dibaca sesuai dengan kaifiatnya. pembacaan sholawat ini tentu diajarkan oleh maulansyikh kepada murid-muridnya dimasa awal-awal" ucapnya.


||red


SAJAK-SAJAK RESTU ISWARA

 

(ilustrasi:google)

Doa Kita


Biarkanlah doa-doa kita

Yang melipat rindu

Menjadi satu tarikan napas

Biarkan ia merajai setiap detak jantungku dan napasmu

Sebab dalam doaku

Degup jantungmu ialah degup jantungku

Hembus napasmu ialah hembus napasku


Bogor, Desember 2019


BACA ARTIKEL LAIN DISINI

Sepasang Mata


Akan kukatakan bahwa : aku mencintaimu

Kala puisi tak dapat lagi mengeja tubuhmu

Yang hangus terbakar api kenangan

Hingga yang tersisa hanya sepang matamu

Yang sudah menjadi sepasang mata ingatanku.


Desember 2019.



Restu Iswara. Ia lahir di Bogor pada 14 Mei 2001. Sekarang ia menjalani aktivitas sebagai mahasiswa dan juga belajar puisi di COMPETER. Terkadang juga ia mengamalkan ilmunya di sekolah-sekolah. Dia juga merupakan kader PAC. IPNU Kecamatan Caringin, Bogor. IG : restu.iswara14