(ilustrasi: google)
Cahaya Jiwa
Bahagia adalah, mampu menempa baja kepedihan
dengan api keberanian
Lalu ditempa dengan palu kesungguhan
Membentuk luk luk keris kasih sayang
Yang dengan lembut membunuh ego di malam buta
Sesungguhnya orang yang mengasihimu adalah cahaya bara dalam tempa
Orang orang yang membencimu
Adalah penakluk kesombongan
Makhluk tetap makhluk
Dia tetap Dia
Yang berada menguasai seluruh ketinggian langit
Seluruh kedalaman bumi
Yang menguasai segumpal hati
Yang bisa meluas seluas samudera
Menaklukkan badai tiada terkira
Kau kira siapa penggenggam petir paling dahsyat
Selain maha makrifat, dalam maha Cinta
Menjaga hati itu berat sebanding menjaga pusaka
Bila kelak berhasil kau temukan cahaya di dalam jiwa
Bukit Nuris, 20 Januari 2022
Gelembung Udara
Kadang aku berkhayal
Engkau menjadi gelembung udara
Yang lembut
Beraroma wangi
Seperti relaksasi menghirupmu
Kuhidu wangimu tiap aku tersedu
Lalu kau menjadi gelembung di gelombang ombak pantai
Kutiup di hamparan pasir
Lalu kembali bersama ombak menerpa pipi juga tanganku
Pertama kali mungkin aku kaget, atau euforia
Lama-lama menjadi biasa
Engkau pergi, lalu hadir tiap senja di pantai biru segara rasaku
Ya kita biasa, bertemu, bermain meneriakkan perpisahan
Lalu pertemuan berikutnya kau pecah bersama tawaku
Bukit Nuris, 2022
Biodata
Riami
Mengajar di SMPN 2 Pakisaji. Tinggal di Malang. Bergiat di Kepul (Kelas Puisi Alit), di COMPETER, Asqa Imagination Shool (AIS), di KPB (Kelas Puisi Bekasi), di Kelas Menulis Daring Elipsis. Menulis beberapa buku antara lain "Sajak Biru." Menulis di Kompasiana. Com.
Puisi yang apik Mba Riami
BalasHapusSiip keren banget Bu. Slmt
BalasHapusIya sangat bagus diksinya dan kusahnya. Ikut menikmati indahnya puisi
BalasHapusMantap mbak Riami
BalasHapusPosting Komentar