DARAH DI KEPALA SANTRI

 


(ilustrasi: google)


Tempat saya mengajar mulai tahun 1992, sekaligus diamanahkan sebagai wakil kepala madrasah bidang kurikulum, sampai sekitar tahun 1996, di Madrasah Tsanawiyah NW Pancor Lombok Timur. Madrasah ini dibangun sejak tahun 1940an oleh Al Magfurullah Maulanasyaikh TGKHM Zainuddin Abdul Majid, satu-satunya Pahlawan Nasional dari Lombok. 


Masyarakat menyebutnya madrasah Mamiq Haji Marjan,, karena Bapak Beliau yang punya wakaf, H Umar Pancor. Sekaligus juga, Mamiq Haji Marjan Umar puluhan tahun menjadi kepala madrasah. 


Ketika Mamiq Haji Marjan Umar diangkat  sebagai kepala Madrasah Mu'allimin Aliyah NW Pancor, beliau diganti oleh H. Mahyuddin. 


H. Mahyuddin seorang pemimpin yang tegas dan disiplin. Sehingga cukup ditakuti para santri. 


Di belakang Madrasah ada Ustadz yang tinggal sekaligus istri beliau berjualan, Ustadz Basyaruddin, Ustadz yang mengajar Nahwu shoref, kadang-kadang tempat jualan beliau dipakai sembunyi sambil belanja bagi santri yang kadang-kadang suka bolos, lalu diam-diam pulang. 


Suatu ketika ada tiga santri sedang asyik makan jajan pada saat teman-temannya belajar. Pak Kepala, Ustadz H mahyuddin kebetulan sedang kontrol ke sana. 


" Nah ini, Anak-anak nakal yang suka bolos belajar!!! "

Tidak ada jalan untuk lari. Kebetulan satu diantara ketiga santri sedang makan klepon, jajan khas Lombok yang di dalamnya dikasih gula merah. 


Tanpa fikir panjang klepon dimasukkan ke songkoknya dan songkok dipakai kembali, supaya tidak diketahui sedang makan. 


"Sedang apa kalian!!!? "

" Nggak ada Ustadz, mau ke kamar kecil saja"

"Bohong, kalian tadi saya lihat makan. Berani kalian bohongi saya, ya!!! "

"Tidak Ustadz, kami tidak bohong"

Plaakkk!!! Songkok anak itu dipukul. Tiba-tiba meneteslah seperti darah, dari kepala anak yang dipukul. 


Wajah Ustadz Mahyuddin pucat, mengira darah menetes karena pukulannya. 


" Ya Allah, makanya saya bilang kalian jangan nakal. Saya sayang kalian makanya cerewet. Jangan kasih tahu orang tuanya. Ini pakai berobat. Kamu Gunawan ajak dia berobat, kamu aja yang ngajak temanmu membolos". 


Uang itu segera diambil oleh si Gunawan, dua temannya termasuk yang dikira kepalanya luka dan mengeluarkan darah, jalan kaki ke Selong. 


Mereka pergi sambil cekikikan, ketawa, karena jajan di kepalanya yang mengeluarkan gula merahnya, dikira darah oleh pak kepala Madrasah. 


Sampai dagang bakso, mereka beli bakso dengan uang yang dikasih kepala Madrasah. 


Sekarang si Gunawan, yang suka mengajak teman-temannya membolos ketika Tasanwiyah, sedang menempuh Program Doktor di Universitas Negeri Yogyakarta. Mengambil konsentrasi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan. 


Demikianlah kita sebagai guru di sekolah dasar dan menengah tidak pernah tahu, mana anak-anak didik kita yang akan sukses di perguruan tinggi. Kadang-kadang anak-anak yang kita anggap paling nakal, mereka yang akan menjadi kebanggan sekolah.

Fauzan Fuad

1 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama