Hari ini aku bangun di antara kapas. Bukan. Barangkali lebih tepat di dalam kapas. Kapas yang lembut dan dingin, semacam arum-manis keabu-abuan. Aku bangun tanpa piyama, telanjang sama sekali dan masih berbaring. Aku hendak bangun, tapi karena ini adalah kapas, tentu tidak ada pijakan. Aku terperosok, seperti tenggelam saja. Tubuhku terpelanting sampai tak sengaja dalam posisi terbaring lagi. Dan aku tiba-tiba berhenti. Sepertinya aku tidak boleh berada pada posisi lain. Baiklah, aku putuskan begini saja, lagi pula kapas ini nyaman dan lebih lembut dari spray hotel-hotel berbintang. Astaga, sudah jam berapa sekarang? Aku harus berada di kantor pukul tujuh jika tidak ingin bos memarahiku lagi. Aku tidak ingin ulangi keterlambatanku lagi (seperti yang selalu aku inginkan setiap hari walaupun tidak pernah berhasil). Setiap pagi bos memarahiku, seharusnya dia memecatku seperti yang dikatakan beberapa rekan kantor. Namun bos tidak akan pernah bisa memecatku, sebab aku adalah anak klien terbesar di perusahaan itu. Ayah seharusnya tidak mempekerjakanku di sini. Dia bisnismen yang sukses. Dengan alasan agar aku merasakan benar-benar bekerja dan dapat mandirilah ayah mengasingkanku bekerja di perusahaan itu.
Sepertinya sudah subuh, karena aku merasa lapar dan kedinginan. Di sini tidak ada apa-apa. Hanya kapas. Sebab sangat lapar, aku mengepal kapas itu sebesar genggamanku, kemudian memakannya. Rasanya sejuk dan lembut. Baru tiga kepalan saja aku sudah kenyang dibuatnya. Ah, aku baru ingat. Semalam aku menginap di hotel dengan Amira. Di mana dia sekarang? Bagaimana bisa aku di sini? Apakah Amira mengasingkanku? Ah, konyol sekali dia. Mana mungkin hanya gara-gara kejadian semalam dia berbuat sejauh ini? Padahal aku hanya belum mau menikah, mana mungkin aku mengiyakan rayuannya. Dan di mana gawaiku?
“Amira, berhentilah bercanda. Aku harus segera bekerja. Ini sudah jam berapa?!”
Aku memanggil-manggilnya. Tapi tidak ada jawaban. Amira memang sering begini. Dia bisa melakukan hal tak terduga jika kehendaknya tidak aku turuti. Seperti satu minggu lalu, dia mengunciku di sebuah hutan selama tiga hari hanya karena aku tiba-tiba membatalkan makan malam dengannya. Tapi waktu itu tidak separah ini, dia masih membiarkan aku berpakaian dan meninggalkan gawai agar aku bisa memelas kepadanya lewat telpon.
Kali ini aku benar-benar hanya dengan kapas-kapas ini. Sebenarnya aku hendak menghentikan hubunganku dengannya. Tapi tidak akan bisa, sebab Amira adalah anak bosku. Dia bisa menjadi alatku untuk menambah pembangkangan kepada ayahnya. Amira sangat mencintaiku. Dia tidak akan makan beberapa hari jika kami sedang tidak baik-baik saja, itulah sebabnya bos juga tidak bisa memaksanya berhenti mencintaiku.
Ah, ini adalah puncak kekonyolan Amira. Terlahir sebagai indigo dan berteman dengan makhluk supranatural membuatnya bisa melakukan hal-hal di luar nalar. Sekarang aku tidak tahu sampai kapan dia akan menghukumku seperti ini. Di sini waktu sepertinya tidak berjalan. Hanya ada warna abu seperti pagi yang sangat mendung. Sesekali suara angin-gemuruh terdengar entah dari mana. Suara-suara itu seperti menyatu dengan kapas ini. Walaupun aku sudah terbiasa dengan situasi ganjil semacam ini, dan mengetahui bahwa Amira pasti akan datang, kali ini aku merasa khawatir. Jika Amira mengurungku satu hari saja, aku bisa membeku dan kelaparan di sini. Tidak ada makanan dan yang paling parah aku tidak bisa menunggu sambil bermain game online.
“Sudahlah, Amira. Aku harus bekerja!” Aku mulai memanggilnya dengan nada kasar. Aku yakin Amira mendengarkan entah dari mana. Dia pasti memiliki semacam CCTV gaib dari kawan-kawan halusnya.
***
Rasanya sudah sangat lama aku di sini. Dan suasana tidak pernah berubah. Aku bahkan tidak tahu siang dan malam, hari dan tanggal. Keadaanku cukup mengenaskan. Bibirku terasa kering. Tulang-tulang rusukku menonjol dari dada sampai perut. Jika ada cerminpun, aku tidak mau melihat bayanganku. Aku sudah bisa menebak seperti apa tubuhku sekarang.
Amira tak juga datang. Aku mengingat ayah. Dia pasti sangat khawatir. Sejak kecil ayah sangat menjagaku. Sampai SMA aku masih diantar olehnya ke sekolah mengenakan mobil mewah kesayangan ibu. Bahkan semasa berkuliah dulu, aku tidak boleh pulang lewat jam sembilan malam. Aku sangat dimanja olehnya. Ibu meninggal ketika melahirkan aku. Barangkali itu yang membuat ayah sangat menjagaku, aku adalah satu-satunya yang ayah punya. Tidak mungkin ayah tidak melaporkan hal ini kepada polisi. Atau barangkali Amira sudah ditangkap dan tetap tidak mau memberitahukan di mana aku sekarang. Atau barangkali Amira telah dieksekusi, barangkali dia mengaku telah membakarku dan membuang abuku di lautan. Ah, jika memang begitu berarti aku akan di sini sampai aku mati.
Sesekali aku juga merasa sakau. Iya, aku pemakai putaw. Hanya Amira yang mengetahui hal ini. Berada di dunia kerja dan tidak pernah merasakan dunia luar sebelumnya membuat aku tertarik melakukan banyak hal baru dan tabu. Aku hanya berpikir bahwa aku harus membalaskan kekangan masa muda dulu. Hal yang paling sering aku teriakkan kepada Amira selama di sini adalah bahwa aku butuh menyuntikkan putaw untuk menghilangkan hawa dingin.
Benar. Sepertinya Amira sudah dieksekusi mati atas tuntutan ayah terhadap hilangnya aku. Aku hanya menyambung tenaga dengan memakan kepalan kapas abu ini. Tiga kepal saja sudah membuatku kenyang, tetapi kenyang itu seperti kekenyangan karena telah meminum banyak air dan hanya membuat kembung.
Ah, sepertinya aku harus berdiri agar aku terperosok seperti pada awalnya. Barangkali di bawah sana aku akan menemukan semacam gerbang. Ah, jangankan gerbang, lorong selokanpun akan aku lewati jika itu adalah cara untuk keluar. Aku berdiri, aku terperosok. Tubuhku terpental-pental. Jika tidak sengaja posisiku berbaring lagi, aku akan mengulangi posisi berdiri. Begitu seterusnya. Hingga sudah cukup lama, aku berbaring lagi. Kapas abu ini seperti tidak berujung. Jangan-jangan Amira mengurungku di alam semesta yang berbeda dengan alam semesta tempat bumi berada. Jangan-jangan ini adalah alam semesta makhluk astral, di mana teman-teman Amira berumah. Jangan-jangan mereka mengawasi dan bahkan tidur denganku.
***
Aku sudah memasrahkan keadaan. Aku pasti akan mati di sini. Tapi, dari ujung yang bukan ujung, seorang perempuan dengan gaun putih mendekatiku. Aku sangat berbahagia walaupun belum tahu apa yang akan dia lakukan kepadaku. Perempuan itu sudah berada di hadapanku.
“Selamat datang”, katanya, “Maaf, baru sekarang ibu menyusulmu.”
Ah, benar. Perempuan ini mirip sekali dengan wajah dalam foto berbingkai emas di ruang keluarga kami.
“Ibu. Benar, ini ibu. Sebenarnya aku kenapa?”
“Kau tidak ingat sama sekali? Amira membunuhmu malam itu.”
“Aku sangat mabuk.”
“Tapi tidak ada yang dapat memindahkanmu dari sini. Amira mengunci jiwamu di sini. Dan hanya dia yang tahu.”
Sekarang aku paham, Fernando Corby Corbato pastilah terinspirasi dari orang-orang indigo ketika hendak menciptakan teknologi password.
“Apa yang dilakukan ayah. Mengapa dia tidak meminta bantuan ahli supranatural untuk melihat kuncinya pada Amira?”
“Sayang sekali, nak. Amira membakar kamarmu di hotel itu dengan dia sendiri juga di sana.”
Lagi-lagi aku benar. Amira sangat konyol dan sangat mencintaiku. Abuku dan abunya menyatu. Tapi kenapa dia tidak menyatu di sini sekarang. Bersamaku.
Eyok El-Abrorii. Lahir di Sakra Barat, Lombok Timur. Tulisan-tulisannya termuat di beberapa media cetak dan elektronik dan antologi bersama. Penulis novel Prolog Patah Hati (Bandung, 2018) dan antologi cerpen Cerita-Cerita Banal (Majalengka, 2020). Penggagas Komunitas tulissenja.
Serasa membaca Horison
BalasHapusAh, dan barangkali
BalasHapusTerimakasih sudah membaca, Tuan-Tuan.
BalasHapustuan eyok memang keren
HapusAsyik
BalasHapusPosting Komentar