MENGENALI PERAN YANG DITAKDIRKAN ALLAH PADA KITA

 



Salah satu tokoh yang berpengaruh dalam perkembangan teater realisme adalah Konstantin Stanislavski. Stanislavski dilahirkan dengan nama Konstantin Sergeievich Alexeyev di Moskwa, sekitar tahun 1860an. 


Salah satu tulisannya,  The Method  menjelaskan bahwa akting harus mampu membuat  penonton merasakan bahwa apa yang dilakukan aktor adalah akting yang sebenarnya.


Stanislavski menjelaskan bahwa seorang aktor harus memiliki keyakinan untuk memastikan ( to justify ) dan membuat penonton percaya ( make Believe ). Sebagai apapun dalam sebuah drama, sebuah lakon, seorang aktor harus siap.


Aktor yang baik tidak mengejar peran, tapi mengejar kekuatannya sendiri sebagai aktor. Misalnya ada aktor yang sangat baik ketika memerankan tokoh seorang raja. Tapi selalu gagal jika memerankan seorang pembantu, staf, pesuruh atau hamba sahaya. Berarti aktor ini mengejar peran.

BACA ARTIKEL LAIN DISINI

Seharusnya peran apapun yang diberikan, sebagai aktor yang baik dia harus siap. Dalam istilah Stanislavski peran apapun yang diberikan dia mampu menubuhkan tokoh yang diperankan. Aktor harus bisa menubuhkan tokoh, walaupum bertolak dari tubuh aktor itu sendiri. 


Menubuhkan tokoh secara fisik menjelaskan dan memberikan ilustrasi dan juga menyampaikan perasaan atau batiniah tokoh naskah yang dimainkan.


Aktor menggunakan ingatan emosinya dengan mengingat kejadian-kejadian dan pengalaman-pengalaman yang terjadi pada diri aktor dan sekitarnya. Hal ini adalah sensitivitasnya sebagai seniman. Sensitivitas akan pengalaman batin yang diperolehnya dari dirinya sendiri dan orang lain.


Di samping itu juga peran apapun yang diberikan dia mampu mendandani tokoh yang diperankan. Mendandani tokoh merupakan langkah memberikan detail-detail makna pada tokoh. Dan Detail-detail inilah yang akan membuat aktor tidak mencintai diri sendiri lagi namun ia akan mencintai tokoh yang akan dimainkan.


Seorang aktor harus cermat dan detail dalam memberikan sisi kemanusiaan dalam diri tokoh. Aktor dalam mendandani tokoh-tokoh yang kita dirikan dari pengamatan-pengamatan yang klise dan umum.


Tentu tahap ini memerlukan pengamatan yang tajam, khusus, dan detail dari kategori-kategori umum. Aktor harus bisa menjelaskan asal-usul tokoh dan hal-hal yang mengungkapkan identitas tokoh. 


Eh, koq sangat jauh mengupas stanislavski padahal tulisan ini bermaksud mengatakan jangan mengejar peran melainkan kejarlah kemampuan menjadi seorang aktor yang baik, sehingga siap sebagai aktor dengan peran apapun, sebagaimana pandangan Stanislavski. 


Nah jika diterapkan dalam kehidupan, simpulan sederhananya adalah tingkatkan terus kualitas diri, lahir dan batin, sehingga kita selalu siap ditakdirkan Allah menjadi apapun. 


Siap memimpin dan siap dipimpin. Selalu memberikan kualitas pada peran yang ditakdirkan Allah.


Fauzan Fuaf

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama