Beberapa hari terakhir kita disibukkan dengan sebuah berita yang cukup menghebohkan media sosial. Dimana ada seorang anak Gadis Lombok mencoba mengekspresikan sikap latah medsosnya dengan membuat tiktok sholat yang dicampur baurkan dengan joged ala DJ.
Sontak jagad media sosial ramai, hampir semua beranda terisi hujatan dan cacian pada anak gadis ini. Saya pun awalnya tidak tertarik untuk berkomentar, dikarenakan keinginan untuk komentar sudah sangat terwakili, malah kelebihan terwakili oleh bahasa para netizen yang menyerang dengan tragis.
Tidak berselang lama, pihak keamanan langsung sigap melihat perkembangan dunia maya. Aparat kepolisian mendatangi rumah sang gadis untuk klarifikasi terkait motif bermain tiktok secara tidak wajar. Terkesan sangat menghina ajaran inti ummat islam, kendatipun sang gadis merupakan muslimah dan terlahir dari pasangan suami istri muslim.
Terlepas dari proses hukum yang sedang berjalan. Sebagai seorang hamba biasa, hal menarik dari kasus diatas adalah simbolisasi Ajaran Agama, Sikap reaktif dan eksistensi diri. Ketiga hal diatas menjadi sorotan dari tulisan ini.
Pertama, Simbolisasi Agama. Secara tidak sadar kita telah terbentuk untuk mengucapkan dan membenarkan bahwa sholat itu merupakan simbol Agama Islam? Maka setiap bicara atau mau menghujat seseorang yang kita anggap melecehkan, maka kita akan langsung mengatakan bahwa sholat itu simbol agama. Padahal kalaupun kita ingin berfikir ulang, akankah sholat hanya sebuah simbol dari sikap keberagaman kita? Sedangkan sholat merupakan sebuah perintah, sebuah media interaksi tak terdefinisi antara sang Pencipta dan hambanya. Kita juga mengetahui sholat merupakan saat dimana terjadi dialog immaterial mahluk termulia dengan Sang Pencipta jagad Raya ini.
Disaat sholat begitu urgent bagi seorang hamba, akankah dia hanya cukup dikatakan sebagai simbol Agama? Disaat sebuah ibadah bernilai tinggi dibentuk oleh pikiran kita hanya sebagai simbol, maka secara tidak sadar generasi setelah kita akan sulit menangkap maksud dari ibadah sholat ini terkecuali hanya ritual simbolis ketaatan seorang hamba. Sehingga setiap yang taat dan patuh pada ajaran agama disimbolkan dengan rajinnya sholat, sehingga akan mengarah pada sholat bukan pada tataran penghambaan tapi tidak lebih hanya sebuah rutinitas dan standar menilai saja.
Parahnya, ketika sholat hanya sebagai rutinitas simbolis dan standar penilaian patuh dan tidak patuhnya seseorang, maka yang terbentuk adalah ruang kritik. Jika dalam standar keilmuan, sebuah rutinitas simbolis tidak mampu menjadi ruang kritik, maka akan menjadi ruang candaan yang terjadi secara natural dan alami.
Nah disinilah ruang evaluasi besar besaran yang harus dilakukan oleh para pendakwah nilai Islam. Para pendakwah disini meliputi: guru Ngaji, guru Agama Sekolah, para ustadz, tuan Guru dan yang terketuk batinnya melihat sikap dari anak gadis tersebut.
Sikap gadis tersebut telah menggambarkan bahwa kita selama ini mengajarkan sholat hanya secara simbolis, kita mengajarkan sholat hanya sebagai alat menilai orang lain. Kita telah mengajarkan sholat pada generasi bawah kita hanya sebagai sebuah perintah yang akan berujung pada hukuman pedih bagi yang tidak melaksanakannya.
Kita lupa bahwa sholat merupakan media suci seorang hamba berdialog dengan sang Khalik. Kita juga lupa bahwa sholat merupakan media suci penghambaan kita dalam mencari solusi setiap diri dalam menyelesaikan sekian juta masalah pribadi, mulai dari mencari ketenangan jiwa, ruang berkeluh kesah, ruang yang begitu mudah untuk kembalinya para muda mudi yang bermasalah. Sehingga sholat tidak menjadi media kaku dan terbatas, apalagi sholat hanya alat menilai yang berakhir pada keberanian kita untuk menghujat yang menurut kita pelaku maksiat.
Sakralitas sholat sudah saatnya dikembalikan pada marwah sakralitas zaman Nabi, dimana sakralitas sholat zaman Nabi terlihat sebagai Media melepaskan rindu dan syukur tak terhingga dengan sekian juta nikmat Tuhan yang telah dirasakan oleh Nabi dan Para sahabat. Sehingga sholat terasa sejuk, semua merindukan datangnya waktu sholat. Sholat tidak jadi momok menakutkan, sholat tidak jadi cara kita menilai orang lain, tapi sholat betul-betul menjadi jalan meminta ampunan karena sadar akan kotornya diri setelah aktivitas sehari-hari.
Kedua, Sikap Reaktif. Sikap reaktif ini merupakan sikap sigap melihat setiap fenomena yang terjadi. Cara gadis tersebut yang begitu cepat mengalihkan posisi takbir menjadi posisi joget merupakan contoh sikap reaktif pada pesan kondisi disekitarnya. Dan disinilah asal muasal muncul keritikan dari para netizen dan dari sinilah akan muncul ketukan bathin penuh kesedihan kaum muslim yang merasa media sakral dan suci itu telah diinjak injak oleh anak ingusan.
Fokus pada kritikan netizen atau sikap reaktif kelompok muslim dengan kondisi di atas, membuka kembali ingatan kita tentang cara berislam kita. Dimana sering sekali kita berbicara tentang agama, berbicara tentang kepedulian terhadap kaum miskin maupun anak yatim, akan tetapi dalam waktu begitu cepat kita jadikan momen penuh ibadah tadi menjadi kotor dengan noda berbentuk diselipkan kepentingan pribadi atau kepentingan politik kelompok tertentu.
Tidak jarang suatu kelompok organisasi maupun Partai, dalam banner besarnya mengatakan akan mengadakan zikir bersama, sholawat bersama atau tabligh akbar. Tetapi, saat acara tersebut sudah berlangsung, disanalah kita sering menyelipkan dengan kepentingan pribadi, kepentingan politik ataupun kepentingan membangun semangat kelompok kita sendiri dengan cara menjadikan forum tersebut media menjatuhkan kelompok organisasi diluar kita.
Kalau kita tanya balik, apakah cara kita selama ini yang buat acara tabligh akbar terselip kepentingan politik tertentu berbeda dengan cara anak gadis yang sholat kemudian dalam waktu seketika berubah menjadi joged? Berbedakah dengan kita yang mengawali acara dengan mulut suci penuh dzikir dalam waktu singkat berubah menjadi media menghujat, mengumpat para pejabat yang bukan rekan sejawat kita sendiri? Berbedakah dengan kita yang susah-susah kumpulkan jama'ah atas nama ibadah akan tetapi mengubah seketika dengan ghibah pemerintah dan yang pro pemerintah? Atau bedakan dengan kita yang selama ini Berbahasa mengumpulkan ulama,karena cinta ulama, eeh pada endingnya ulama hanya media untuk mempertahankan kekuasaan?
Ketiga: eksistensi diri. Rasa ingin berbeda dengan yang lain, Rasa ingin diketahui orang lain. Rasa ingin dikenal banyak orang. Hasrat berbeda, ingin terkenal dengan yang lain inilah menjadi tonggak dasar keinginan keinginan yang begitu banyak, sehingga mengarah pada perbuatan diluar kendali. Sehingga secara tidak sadar juga menjadikan hal terdekat/rutinitas menjadi bahan candaan agar orang lain cepat memberikan respon balik dari apa yang pernah kita kerjakan.
Point sholat sebagai rutinitas terdekat dan respon cepat bisa menjadi kunci penutup dari tulisan ini, mau tidak mau harus kita akui, perbuatan tiktok sholat ini sangat sadar dan dengan sengaja dilakukan karena dua hal tadi, yakni harapan ada respon balik dari setiap yang melihat, sehingga untuk mendapatkan respon balik inilah maka sang gadis harus menjadikan rutinitas terdekat seperti sholat dengan cara yang tidak lazim dilakukan biasanya.
Hal diatas mengingatkan pada kita bahwa generasi baru telah muncul, generasi yang butuh eksis, generasi yang memiliki kreativitas, generasi yang peka akan perkembangan teknologi. Maka sudah saatnya para pendidik, para muballigh dan penanggung jawab generasi harus peka akan hal ini, sudah saatnya dakwah yang kita sampaikan memasuki ruang jiwa terdalam objek kita, jangan hanya sekedar sebagai pemompa kebencian dan alat ukur keimanan orang diluar kita. Tapi sudah saatnya setial ajaran Islam diajarkan tidak hanya bentuk luarnya saja, melainkan harus juga dijelaskan makna makna tersurat dari setiap ajaran baginda Nabi Muhammad SAW.
Sehingga ajaran Islam tidak sekedar cuapan manis penjual obat yang ingin jualannya dikerumuni banyak pembeli tapi tidak menjadi solusi kasus kesehatan. Kita juga berharap ajaran Islam tidak sekedar jadi kecap manis diatas warung makan yang disuguhkan demi memberikan kenyamanan pelanggan sehingga keuntungan berlipat-lipat. Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya, wallahu a' lam.
||AhmadPathoni