Jurus Jitu Agar Selesaikan Covid


buletinkapass.com-Virus Corona sudah bersemayam di semak-semak kehidupan umat manusia sejak ratusan tahun lalu.

Virus ini memiliki banyak strain atau varian yang beragam, ada yang bersemayam di jasad hewan, ada pula yang bersemayam di tubuh manusia. Dalam tubuh kita sudah ada beberapa jenis Coronavirus, termasuk Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Anda bisa mempelajarinya di buku virology atau menanyakannya kepada virolog.

COVID-19 disebabkan oleh SARS-COV2 yang termasuk dalam keluarga besar corona virus yang sama dengan penyebab SARS pada tahun 2003, hanya berbeda jenis virusnya. Gejalanya mirip dengan SARS, namun angka kematian SARS lebih tinggi dibandingkan COVID-19, walaupun jumlah kasus COVID-19 jauh lebih banyak dibandingkan SARS. COVID-19 ini hadir dengan citraan/ cangkang baru dan virus ini masih labil, sehingga kemungkinan untuk bermutasi gen menjadi banyak jenis atau bentuk sangat dimungkinkan.

Covid-19 sama seperti virus-virus lain yang membutuhkan inang, dalam kasus ini tubuh hewan atau manusia adalah media untuk membantunya menyebar. Karena karakteristik inang di setiap negara berbeda, maka virus yang menyebar di suatu negara juga memiliki karakteristik yang berbeda. Karakteristik virus selalu menyesuaikan diri dengan perbedaan iklim dan budaya. Karakter virus tidak bisa digeneralisir atau disamakan dengan negara-negara lain yang berbeda iklim dan budaya makan masyarakatnya.

Virus sekali lepas tidak bisa dihentikan, belum ada ilmu kedokteran yang mampu menghentikan atau menonaktifkan virus. Virus itu tidak dapat dibunuh, karena virus merupakan partikel yang unik, ia hanya bisa aktif atau pasif. Untuk aktif, virus membutuhkan inang, dan untuk mengkopi dirinya—bukan berkembang biak—ia membutuhkan metabolisme bakteri, itu rusanya sampai ke DNA, RNA, bagaimana dia memanipulasi dari inangnya. Dalam ilmu medis, virus hanya bisa dilawan dengan imunitas tubuh.

Kebetulan saya meriset "lenga kelapa perawan", tradisi medis dari Mataram. Ramuan ini bisa digunakan untuk meningkatkan imunitas tubuh, menghancurkan citra/ cangkang virus dan mempasifkan virus. Ramuan ini sudah pernah saya pakai untuk treatment HIV dan sebagainya. Anda bisa mempelajarinya sendiri. Cara pembuatannya sudah saya publikasikan di YouTube GENKOBI, “LENGA KELAPAPERAWAN”. Saya tidak bermaksud menjual produk, masyarakat bisa membuatnya sendiri.

Kembali ke soal virus COVID19, virus ini tidak berbahaya di Indonesia, sekali lagi di Indonesia! Landasannya tadi, perbedaan iklim dan budaya makan inang mempengaruhi karakteristik virus. Saya ambil contoh, wabah salmonella di Eropa itu sangat mematikan, tetapi di Indonesia tidak berpengaruh signifikan, atau virus dengue yang menyebabkan DBD, di Barat itu sangat berbahaya, tetapi di Indonesia banyak yang sembuh, anda bisa cari drh. Moh Indro Cahyono, seorang virolog yang masih murni dan tidak dimunculkan di negeri ini. Kasus ini sedikit banyak ada kaitannya dengan flu burung. Anda bisa cari informasi ke Prof. Siti Fadilah Supari, yang melawan WHO saat flu burung.

Virus bukan mahluk hidup yang bisa “kelayapan”,  protokoler penanganan pandemi karena virus dan karena bakteri/ kuman harus dibedakan. PSBB bagi saya tidak tepat, karena virus tidak bisa dihilangkan dari inang. Jadi, orang yang telah sembuh dari paparan dan keluar dari isolasi masih bisa memaparkan pada orang yang belum pernah terinfeksi yang imunnya sedang turun. Seharusnya pola hidup sehat dan imunitas tubuh masyarakat yang dibangun, bukan mencekoki masyarakat dengan ketakutan!

Dampak pandemi bukan hanya pada kesehatan, jika berkepanjangan semua lini dan aspek sosial hancur termasuk ekonomi.

Banyak kemungkinan yang semestinya bisa dilakukan, salah satunya menggali kearifan lokal (local wisdom) dalam menangani pagebluk. Nuswantara berada pada lempeng bumi EUROSIA dan banyak gunung berapi, sering menghadapi bencana alam dan pagebluk. So, kalau sekedar COVID19, Indonesia pasti mampu mengantisipasi dan menanganinya. Saya tidak bermaksud jumawa, tapi bumi Nuswantara memiliki peradaban budaya yang tinggi.

Bisa juga menggunakan donor plasma darah, jika farmasi tidak mau legowo pada kearifan lokal. Donor plasma darah sudah dilakukan terlebih dahulu, sebelum ada perusahaan serum dan vaksin. Donor plasma bisa digunakan dalam pandemi virus jenis apapun. Jelas kita tidak perlu membeli serum atau vaksin.

Masih banyak persoalan yang akan banyak menguras energi pasca Corona. Rakyat harus mampu mandiri dan survival dalam keadaan ekonomi yang amblek nantinya, termasuk dalam kesehatan.

ELEX /Magelang/2020

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama