Sajak-Sajak Nurdin Hidayat


Racau Pak Tua

Pak tua itu tadi bercerita tentang anaknya
yang duduk di sisi hutan memegangi takdir
di ujung tanduk, tetapi sapinya tak mau duduk
Sesekali ia meracau tentang pujangga yang kerasukan
dewa Neptunus di tepi laut. Sesekali ia meracau
tentang ikan-ikan di lautan yang memilih migrasi
menjadi TKI di kios-kios luar negeri
supaya pulang nanti sudah dipuji

Pak tua itu tadi bercerita tentang rumahnya
tentang pembantunya yang baik hati
menyedekahkan seluruh harta benda tuannya
termasuk hati yang dibungkus rapi
kepada pedagang nasi uduk langganannya
supaya mendapat tiket surga jalur VIP

Kurasa sekarang pak tua sudah meracau
cukup panjang. Sampai kepalaku terasa gatal
jadi kuputuskan melahap semua ucapannya dalam
sekali suap. Lalu menenangkan kepala dengan tidur
di rembulan kata-kata

Lampung, 2019
Dua Langkah


Dua langkah ke depan
kita temukan simpangan
:titik temu
antara yang datang
dan yang pergi

tapal batas suka cita
menatap jelas derita

dua langkah ke depan
kita tanam lentera
temu dan pisah
supaya semua mengunyah pasrah

dua langkah ke depan
tempat kita berjabat tangan
mengubur harapan
sebagai kenang
sebelum hilang

Jakarta, 2020


 Engkau

Di lembaran terakhir
sebatang pensil
hatinya di kikis
runcing untuk menulis
tentang bait yang lupa dibingkis

kelopak bungapun berjatuhan
menjelma senyummu yang rupawan

adalah lesung pipit itu
menjadi pusaran
tempatku tenggelam

sabit merah yang terbit di bibirmu
menjadikan mereka malam
sedang hanya engkau cahayaku

adalah pagi yang berbinar di matamu
tempat kutemukan taman bunga itu
berseberangan dengan nyataku
sebagai seorang perindu
yang telah di sapu tanpa temu

Lampung, 2019



Nurdin Hidayat, pemuda kelahiran Lampung, 12 Juni 2000. Saat ini tengah menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Bergiat di komunitas sastra COMPETER. Beberapa buku karyanya yang telah terbit ialah “Setitik Cahaya di Samudra Kehidupan” (tahun 2018) dan “Cangkan Peradaban” (tahun 2019) serta beberapa puisi karyanya turut dimuat pada beberapa buku antologi puisi nasional. Penulis dapat dihubungi melalaui Instagram

5 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama