This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Resensi Film Lord Of The Ring



Sebuah Pengantar
Saya tergolong orang yang sangat menyukai film ber genre horor, film perang ataupun film action.
Sebuah film yang pada awalnya di putar trailernya pada saat itu di sebuah televisi suwasta dengan bahasa “pertama kali di layar kaca” membuat saya sangat penasaran untuk menonton film tersebut. Entah pada tanggal berapa iklan itu di mulai, yang jelas saya sudah melihat iklan tentang film ini sebanyak 3 (tiga) kali. Rasa penasaran yang begitu hebat menyerang saya, tepat pada waktu (tentang tanggal, bulan dan tahun saya agak lupa) yang telah di janjikan oleh televisi suwasta tersebut. Sayapun merelakan menunggu sejak pukul 19:00 wita karena takut kalau-kalau nanti adik terkecil saya akan menonton sinetron di televisi suwasta lainnya. Karena memang demikianlah adanya, dalam keluarga besar dengan satu Tele Visi (TV). Mungkin lebih tepatnya prinsip yang ada dalam keluarga seperti saya ”siapa cepat, dia dapat”.
Setelah menunggu sekian lama, ahirnya saya pun menonton film tersebut dimulai sejak pukul 22:00 wita hingga  kurang lebih pukul 24:00.

*************************************************
Awalnya saya berfikir, jika setelah film yang berjudul ”The Fellowship of the Ring” selesai. Maka, kisah/ cerita dalam film itupun selesai.
Entah, ini bulan ke berapa di tahun yang mana. Tiba-tiba suatu malam iklan tentang film tersebut kembali muncul, akan tetapi dengan judul yang berbeda yaitu “The Two Towers” kemudian di susul dengan film “The Returens of The King”.
Pada awalnya saya hanya tertarik biasa saja, tak ada hal istimewa yang menarik saya dalam film ini sehingga saya tidak mengingat benar kapan saya mulai menyaksikannya pada TV suwasta tersebut.
Tepat pada beberapa bulan yang lalu (yang kemudian sekali lagi saya tidak mengingatnya) secara tidak sengaja saya mengganti canel TV ke sebuah stasiun televisi yang bernama FOXMovie.
Karena nama yang menarik, saya pun mendiamkan semua film berlalu begitu saja. Dari pagi hingga malam menjelang, secara tak sengaja saya kemudian menonton sebuah film berjudul ”An Unexpected Journey”.
Setelah menyimak beberapa lama, ternyata film tersebut menceritakan tentang seorang tokoh bernama ”Bilbo Begin” sosok hobit penemu cincin. Tepat setelah sang penyihir Gandalf memaharinya, barulah saya sadar bahwa film ini masih satu kisah dengan ”The Lord Of the Ring”. Sayapun memutuskan untuk menontonnya.

*************************************************

Februari 2014 saya mendapat kabar dari seorang teman Fhotografer, bahwa ada film bagus berjudul ”Lord of the ring” karena memang pada awalnya saya menulis pada dinding Face Book (FB) bahwa saya sangat ingin menonton kembali film terrsebut. Beberapa minggu setelahnya, datanglah teman FG tersebut dan bercerita tentang film ”lord of the ring”. Menghargai teman tersebut, saya berpura-pura begok dan tidak pernah menonton sambil berkata ”ada failnya”? Iapun bercerita tentang dimana mendapatkan fail film tersebut.
Setelah 3 (tiga) bulan saya sangat ingin menontonnya, ahirnya sayapun mendapatkan fail film tersebut yang dibagi menjadi 5 (lima) bagian: 1) The Fellowship of the Ring. 2)  The Two Towers. 3) Returens of The King. 4) An Unexpected Journey. Dan 5) Desolation of Smaug.
Dari sinilah tulisan ini berawal, rasa penasaran yang luar biasa dan sangat tinggi mendorong saya untuk menonton film ini sebanyak 3 (tiga) kali berulang. Mengorbankan seluruh pekerjaan, waktu dan banyak lagi hanya untuk mengobati rasa penasaran.
Dalam tulisan ini, saya akan membahas alur cerita tentang 5 (lima) judul film tersebut. Tentang kekurangan dan kelibihannya.
Karena memang, selaku sebuah hasil karya seni yang bernilai tinggi dan memiliki pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan yang diterapkan dalam masyarakat. Maka bagi penulis, film ini sangat pantas untuk di bicarakan.

Sebuah pendahuluan
Selayaknya sebuah karya seni, tentunya dalam film ”Lord Of The Ring” tentunya juga sarat dengan makna dan memiliki muatan pembelajaran untuk kehidupan.
Karena memang pada umumnya sebuah karya seni dilahirkan berdasarkan atas pemikiran bahwa karya yang mereka lahirkan berdasarkan  pemahaman seorang penulis/ pembuat terhadap kehidupan dan gejolak hidup yang berlangsung di sekitarnya.
Dalam tulisan ini, penulis tidak ingin berbanyak teori tentang apa yang di maksud dengan analisis, apa yang dimaksud dengan apresiasi. Karena penulis, tidak ingin menggurui pembaca.
Pada prinsipnya bagi penulis, bahwa pembaca bukanlah orang awam yang ”tidak” memiliki pengetahuan tentang itu semua
Seperti sebuah perjalan semua film, mulai dari pengalaman menonton sinetron ”cinta fitri” dari episode 1 hingga 5, kemudian beberapa film yang sambung menyambung dan pada ahirnya tidak nyambung dan membosankan.
Maka demikian pula yang terjadi pada film ”Lord Of The Ring”, namun saya tidak mengatakan jika film ini tidak menarik. Justru saking menariknyalah, maka tulisan ini ada. Akan tetapi dari setiap hasil karya manusia, tentu selalu ada kekurangan dan kelebihan yang terjadi. Maka mari kita bahas satu demi satu dari sekian judul film ini yang kemudian membuat saya mengambil keputusan untuk membuat tulisan ini.


*************************************************
1)         The Fellowship of the Ring
2)         The Two Towers
3)         Returens of The King
4)         An Unexpected Journey
5)         Desolation of Smaug



Pembahasan
1)       The Fellowship of the Ring.
//dunia telah berubah, aku merasakannya di air, aku merasakannya di bumi, aku menciumnya di udara. Banyak sudah yang hilang, kini orang-orang sudah tidak mengingatnya//
//dan sembilan cincin diberikan kepada manusia, karena memiliki nafsu untuk untuk menguasai//
//tujuh cincin diberikan kepada Dwarf, para pengerajin//
//tiga diberikan kepada bangsa Elf//
Beginilah dialog awal pembukaan dari film ini yang diucapkan oleh seorang peri (Elf), sebuah dialog sederhana namun tajam. Menusuk kiri dan kanan

*************************************************
Kisah ini berlanjut kepada bagaimana seorang hobit bernama Bilbo Gegin menemukan cincin di sebuah tempat yang tidak jelas. Setelah cincin tersebut terjadi dari tangan mahluk aneh bernama Golum, namun ada yang aneh dari semua itu—akan dibahas di bagian berikutnya

2)       The Two Towers
Adalah kisah lanjutan dimana Bilbo memberikan semua warisannya kepada anak angkatnya Frudo yang kemudian di kejar oleh pengendara hitam karena membawa “suatu yang berharga”.
Sang penyihir Gandalf memberikan perintah agar membawa pergi jauh cincin tersebut dari kampung halaman frudo karena merasa sudah tidak aman, ia pun memberi perintah agar tidak berjalan pada malam hari

3)       Returens of The King
Adalah kisah dimana garis keturunan terahir dari raja Isildul pemilik kerajaan Gondor mengakui dirinya sebagai gaaris keturunan resmi setelah berpetualang panjang, hal itu diterimanya setelah mendapatkan masukan dari sang penyihir Gandalf dan juga para peri termasuk kekasihnya

4)       An Unexpected Journey
Dalam film ini, diceritakan bagaimana Bilbo begin mendapatkan kesempatan untuk berpetualang dan menuliskan kisahnya dalam buku agar bangsa mereka (Hobit) lebih di hargai

5)       Desolation of Smaug
Pada bagian ini diceritakan bagaimana bangsa dwarf berhasil mengalahkan sosok naga yang telah menguasai kerajaan bawah gunung selama 60 tahun. Menurut sebuah ramalan, jika burung-burung telah kembali maka itulah pertanda jika masa dwarf kembali berjawa dengan mengalahkan naga yang di sebut Smaug

Permasalahan:
Jika pembaca yang sudah menonton film ini, kemungkinan akan menemukan permasalah sama dengan penulis. Atau bahkan sudut pandang yang berbeda dan menemukan masalah yang berbeda pula.
Untuk membicarakan hal ini saya akan memulainya dari film yang berjudul “An Unexpected Journey”. Alasan memilih judul ini sangat sederhana, karena setelah menonton lord of the ring dari 1) The Fellowship of the Ring. 2)  The Two Towers. Hingga Returens of The King saya belum mampu menemukan permasalahan yang ada.
Dalam film tersebut di ceritakan bagaimana Bilbo Begin mendapatkan pedang yang dibuat oleh peri tertinggi, pedang tersebut akan menyala biru ketika didekatnya ada Orc atau bangsa mahluk aneh budak Sauron si raja sihir jahat.
Pada waktu Bilbo Begins bertarug dengan sengit melawan Orc di dalam sebuah gua, ia tergelincir bersama Orc tersebut ke jurang yang cukup dalam. Setelah sampai di dasar jurang Bilbo pingsan di tempat yang berbeda dan tidak terlalu jauh dengan Orc tersebut, disanalah Bilbo bertemu dengan mahluk lain penghuni gua yang bernama yang selalu mengucapkan kata “GOLUM”, ia melihat bagaimana Orc itu dibunuh oleh Golum dengan memukulnya menggunakan batu.
Karena Golum asik dengan makanannya, ia tidak menyadari jika sebuah cincin terjatuh dari celananya. Sesuatu itu ia sebut sebagai ”yang berharga”. Melihat Golum sedang asik dengan makanannya, Bilbo pun mendekat setelah merasa aman, kemudian mengambil cincin tersebut. Sesekali matanya metap liar untuk memastikan keadaan telah aman. Dan disinilah tempat keanehan pertama yang terjadi. Dalam film “The Fellowship of the Ring” di ceritakan bagaimana Golum menemukan cincin sakti yang kemudian karena cincin.
Dan dari sinipula Bilbo mendapatkan cicin tersebut di tempat entah berantah yang penuh dengan tulang, sementara dalam film “An Unexpected Journey” Bilbo mendapatkan cincin tersebut ketika terjadi dari pinggang Golum saat memukul Orc. Itu artinya bahwa: jika film “The Fellowship of the Ring” dengan film “An Unexpected Journey” ketidak nyambungan cerita. Tidak hanya masalah tempat menemukan cincin, akan tetapi juga masalah baju yang digunakan Bilbo pada saat film dengan dua judul ini berbeda.

*************************************************

Disinilah muasal semua rasa penasaranku melonjak—melesat lebih cepat dengan peluru, tak berbendung. Sulam-menyulam bersama waktu, tapi sungguh aku tak berhenti begitu saja.
Berkali-kali film aku aku putar, maka berkali-kali pula kutemukan masalah demi masalah yang timbul dalam film ini. Semakin sering aku menontonnya, semakin banyak pertanyaan-pertanyaan menjagal kepalaku.
Dari ke 5 (lima) judul film Lord Of The Ring, dimulai dari “The Fellowship of the Ring” “The Two Towers” “Returens of The King” “An Unexpected Journey” hingga “Desolation of Smaug” muncullah beberapa pertanyaan yang ditimbulkan oleh rasa penasaran yang bercampur kekecewaan saya menontonnya. Pertanyaan itu dimulai dari: 1) bagaimanakah kisah persekutuan antara tokoh Elf dengan manusia? 2) bagaimanakah awal mula pertemuan garis keturunan putra Gondor dengan Tokoh Elf yang menjadi istrinya? 3) bagaimanakah awal mula kisah kerajaan Dol Gundur? 4) bagaimanakah awal mula terbentuknya dua tower, dan tower apa sajakah yang dua itu? 5) bagaimanakah awal mula tersihirnya raja rohan yang dihianati oleh bangsanya sendiri sehingga menjadi kaki tangan Saruman si penyihir putih jahat? 6) bagaimanakah awal mula pecahnya peperangan setelah pembagian cincin? 7) bagaimanakah kisah keluarga Frudo sebelum di ambil hak asuhnya oleh pamannya sendiri Bilbo Begins? Dan puluhan pertanyaan lainnya.
Menonton film ini seperti membawaku ke dua sisi paling dekat denganku adalah rumahku (oraganisasi) rumah di sekitarku (organisasi yang berkembang di sekitar). Dengan pemilik yang “besar” dan ide-ide “besar”nya.
Mereka yang sering membangun renana untuk memperkuat tiang padahal mereka tidak mengerti bagaimana membuat tiang, mereka yang sering membangun renana memperkokoh tembok padahal tidak mengerti ilmu konstruksi, mereka yang membuat saya sedikit kecewa karena memiliki ide yang kadang tidak nyambung dengan pekerjaan. Sama halnya seperti dalam lima film tersebut dengan tingkat animasi luar biasa namun pada ahirnya “tidak nyambung”.
Entah, bagaimana kukatakan kekecewaan yang demikian dalam ini. Setelah rindu sekian bulan namun tidak juga terobati—seperti sebuah harapanku tentang rumah-rumah yang banyak berjejar di sekelilingku dengan ide-ide ”besar” konsep ”besar” namun tidak juga ada satupun yang ”berjalan”.
Mungkin demikianlah resiko dari sebuah pelarian atas nama OMSET sebab sang sutra dara merasa film ini sangat laku, maka demikian pula dengan rumah-rumah yang tumbuh di sekitarku. Atas nama pelarian dari proyek pemerintah mereka lebih memilih untuk bergerak mesti tanpa kaki, mesti tanpa tubuh.
Entah, kapan sang pemilik rumah sadar jika ingin bangunan kokoh maka perlu sang ahli—menjadikan rumah berdiri wajar tanpa harus mencuri-curi kesempatan.

yogismemeth

Sajak-sajak Alina Sukesi



BUNGA WIKU

Puja bunga wiku
Semoga pipih daunmu
Menjelma sajadah lurik
Mengantar mantra-mantra sufi

Batangmu meninggi ke langit
Sebagai strata bagi para trubadur Rumi
Menghimpun remah mimpi di rahim kasih

Lekuk-lekuk di tepi daun
Menjadi lika-liku hidup
Dipenuhi hijau warna cinta
Berkilau di hilir malam
Mengiringi gending dalu
Megar mekar wiku
Merekahkan doa-doa putih



Madiun,11 juni 2020


JATROPHA

Dedaunmu bergoyang
Mendengar kabar dari burung-burung
Tentang nasibku
Di bawah akarmu bergantung

Dedaunmu bergoyang
Mengisyaratkan jawaban
Semua itu hanya siulan angin
Memainkan nada-nada sumbang
Dunia terasa sempit
Oleh pemikiran yang sempit

Jadi
Terus saja kau berjalan
Sealur gurat di garis tangan


Madiun,11 Juni 2020

Apologi Kaum Jomblo

ilustrasi:google

buletinkapass.com-Tulisan ini tak bermaksud memprovokasi anda yang sedang menjalani hubungan dengan pasangan tak halal anda (Pacar) untuk saling meninggalkan satu sama lain, atau membuat anda yang sedang mengejar calon pasangan tak halal (Pacar) anda membatalkan niat “suci” anda untuk menyatukan apa yang anda anggap “Cinta” itu. Dan tulisan ini juga tidak bermaksud membela anda yang sedang mengalami kesuraman dalam kisah percintaan, yang jarang menerima sms dan telpon basa-basi, yang malam minggunya selalu mencari taktik untuk berkamuflase yaitu anda yang tidak punya Pacar (JOMBLO).
Fenomena hari ini, pemberian gelar Jomblo seolah menimbulkan ketakutan tersendiri bagi banyak orang, bahkan ketika seseorang dipanggil Jomblo seolah dia adalah orang yang paling tak beruntung dalam hal asmara di dunia ini, bahkan muncul kutipan-kutipan yang cenderung memojokkan para Jomblo diantaranya : “Truk aja Gandengan Masak kamu enggak” , “Jomblo itu sosok manusia mandiri, kemana mana selalu sendiri”, nah yang terparah “pacaran itu baik, jomblo itu baik. Lebih baik mati maksudnya”. Sindiran-sindiran di atas tersiar melalui berbagai media massa, di iklan televisi, film, sinetron, radio, sosial media yang bentuknya beragam dan jelas tujuan utama tidak lain adalah menyindir mereka yang sedang mengalami Jomblo.
Sebenarnya di sini kami ingin menunjukkan sesuatu dan ini bukan hanya sebuah apologi dari orang yang sedang men-Jomblo tetapi memandang lebih luas tentang Jomblo. Ledakan penduduk berarti bumi semakin sempit, eksploitasi alam makin besar dan konflik horisontal makin tinggi. Bagaimana konteks bangsa kita hari ini ? , sebagian besar penduduk indonesia terkonstruk oleh hasil komodifikasi[1] sedemikian rupa dalam bentuk sinetron tv, film, iklan, selogan-selogan di sosial media dll yang memuat pesan bahwa jomblo itu menyedihkan, tidak keren, kuno dan sebagainya. Tujuan komodifikasi itu semata adalah untuk keuntungan mereka, karena Indonesia itu adalah pasar empuk bagi mereka. Siapa mereka? merekalah para Kapitalisme. Lhoo... kok dikaitkan sama Kapitalisme, Jomblo ya jomblo saja!!! Aduhh...!
Tetapi kita mungkin harus sedikit membuka mata baik yang berstatus Jomblo ataupun tidak, dan merenung bahwasannya jomblo itu merupakan salah satu tragedi yang seolah menjadi momok yang menyebabkan rasa takut hampir pada setiap orang, karena dimana mana melalui media tersebar stigma[2] seperti itu dan menjadi konstruk sehingga tak jarang para jomblo menjadi cemooh mereka yang memiliki pasangan tak halal (Pacar).
Sedikit ilustrasi, jika orang sudah mulai takut disebut Jomblo maka orang-orang akan berlomba mencari pasangan dikarena sebutan Jomblo seolah menjadi sangsi sosial, faktanya itu berhasil dilakukan lihatlah anak-anak SMP maupun SMA bahkan mereka yang dibangku perkuliahan sangat takut bergelar Jomblo bahkan yang terparah sampai pada anak yang duduk di bangku SD. Maka semakin maraklah hubungan terbangun baik yang sah maupun tidak (Pacaran), jika kemudian hubungan tersebut terbangun dan tidak terkontrol maka beberapa implikasi[3] negatif ditimbulkan di antaranya yaitu : Maraknya pernikahan dini, free sex, kekerasan dalam pacaran, hamil di luar nikah, angka putus sekolah meningkat, angka aborsi dan yang terparah yaitu stok Perawan/Perjaka menipis, maka kasianlah mereka yang untuk sementara men-Jomblo tidak menemukan lagi kejutan hebat (Perawan/Perjaka).
Selanjutnya, jika tidak men-Jomblo maka memiliki hubungan (sah/tidak) dan jika memiliki hubungan maka punya anak. Maka jumlah penduduk di Indonesia kian besar dan pasar mereka juga akan semakin besar. Jadi olok-olokan mengenai Jomblo bermula dari para Kapitalisme (lewat media massa) kemudian menjadi viral di masyarakat dan danpaknya sudah jelas di atas, lebih jauh lagi semua itu menghambat kinerja pemerintah dalam melakukan pembangunan sumberdaya manusia dan berpengaruh pada pengelolaan sumberdaya alam yang tidak bisa dikelola oleh pribumi sendiri dan keuntungan berganda yang didapatkan para Kapitalisme.
Maka, apa yang mesti kita lakukan?, semua saya kembalikan kepada pembaca sekalian. Dan keputusan terbaik itu sesungguhnya datang dari pertimbangan nalar yang sehat serta fikiran yang jujur dan jernih bahkan dalam hal percintaan sekalipun, ada kutipan sederhana yang mungkin bisa jadi self control buat anda “Follow your love but always take your brain with you[4]. 
Buat anda yang sedang menjalani hubungan, maka pertahankanlah hubungan anda dengan memegang teguh Rasionalitas, sekalipun mas Tedjo bilang “Jangan kau bilang dirimu mencinta jika belum menertawakan nalar sehatmu”. Buat anda yang sedang men-Jomblo maka tetaplah dengan ke-Jomblo-an anda karena Jomblo tak seburuk yang dibilang orang-orang, hanya saja mereka belum sadar betapa Jomblo itu juga memiliki sisi positif. Dan buat anda yang sedang ragu memilih men-Jomblo atau tidak maka segera putuskan tindakan dengan menggunakan akal sehat anda. Bukan hanya anda tetapi juga saya J
Pada akhirnya ini menjadi sebuah pemantiq di tengah sepinya pergulatan pemikiran dan minimnya budaya menulis. Jika anda tak setuju dengan apa yang tertuang dalam tulisan ini maka lakukanlah hal yang sama dan bantahlah bukan sekedar cingcong dibelakang atau yang terparah merobeknya. Dan jika anda setuju maka sampaikanlah kepada orang lain dengan bijak dan dengan pandangan anda masing masing. Semoga Bermanfaat.



 Azhari Wathani



Covid-19 itu flue biasa, yang Bombastis Cuma Media


buletinkapass.com-Catatan Seorang Tim Ahli Percepatan Penanganan dan Dampak Covid-19 tentang Covid-19 sering dibully karena menyatakan bahwa covid-19 itu seperti flue biasa, yang memang bombastis efek Media sehingga memunculkan kekawatiran yang sangat besar ditengah-tenggah masyarakat.

Saya sebagai salah satu Tim Ahli Percepatan Penanganan Covid-19 dan dampak Psikologis paca Covid-19 di Lombok Barat telah bertemu dengan berbagi orang baik masyarakat pada umumnya, PDP, ODP dan bahwakan yang positif dan sudah sembuh dari covid-19.
Ada beberapa catatan menarik dari apa yang saya peroleh ketika berinteraksi dengan mereka. Nanti mungkin catatan saya ini bisa dikoreksi oleh para dokter dan ahli lainnya, namun apa yang saya sampaikan ini empiris dan ilmiah.
  1. Masyarakat sendiri bingung, sisi lain pasar selalu dibuat di NTB ini sejak awal sampai kini, tetapi anehnya tidak ada satupun cluster pasar. Yang lebih banyak justru cluster Gowa yang disebut-sebut memberikan konstribusi besar pada naiknya covid-19.
  2. Kemudian saya temui beberapa cluster Gowa yang asalnya dinyatakan positif dan di karantina lalu pulang untuk menjaga etika saya cari no HP dan tidak tatap muka langsung tetapi melalui meria VC WA. Para cluster ini selama karantina, diminta olah raga, makanan cukup dan diberikan vitamin. Setelah itu walau ada beberapa yang memang harus dirawat tidak sampai ada yang masuk ICU atau perawatan sampai di infus segala bahkan tidak ada yang namanya diberikan nafas tambahan dari alat ventilator, wa syukurilah beliau-beliau sehat bugar kembali.
  3. Masih ingat dengan cluster 1 dan 2? Yang beliau adalah tokoh agama dan punya lembaga pesantren. Isu pertama kali yang muncul dan informasi yang saya terima pesantren ditutup karena ada yang terpapar bahkan 1 desa dan kecamatan terpaksa di tutup di Lombok Timur. Tetapi kemudian beliau di nyatakan sehat dan santri-santri tidak ada yang terpapar bahkan anak-anaknya juga tidak ada, anehnya sang tukang urut Alhamdulillah negatif.
  4. Secara riel saya tau ada beberapa pejabat Lombok Barat yang ikut Rapit Tes, pada rapit tes pertama dengan produk dari negara tertentu dinyarakan reaktif covid-19, tetapi kemudian dilakukan tes ulang dengan produk rapit tes lainnya dan swap toh hasilnya negatif dan beliau-beliau sehat bugar.
  5. Pada beberapa kesempatan pejabat negara ini yaitu Presiden, keluar dalam acara bersama banyak orang juga pakai masker tidak seperti layaknya pakai masker, diletakkan di dagunya termasuk Gubernur NTB, pakai masker tetapi juga tidak dipakai sebagainya layaknya pakai masker! Artinya apa? Beliau-beliau ini tentu tau resiko covid-19, kalau memang berbahaya. Kenapa demikian adanya pakai masker?
  6. Saya pun tanya kepada beberapa keluarga yang meninggal karena covid-19. Dari 3 yang saya tanyakan, 1 usia dibawah 40 tahun yang meninggal. 2 diatas 50 tahun. Keluarga mengatakan bahwa yang meninggal itu memang positif covid-19 tetapi punya penyakit lainnya seperti Diabetes Melitus dan 2 nya mengemukakan bahwa punya riwayat penyakit paru-paru (tidak menyebut spesifik penyakit paru-paru apa)
  7. Sekarang ada salah satu mantan mahasiswa saya yang ayahnya dikatakan positit covid-19. Saat kontrol ke dokter pada mulanya adalah karena memang kontrol rutin karena punya penyakit paru-paru, usianya sekitar 60an ke atas. Setelah sampai di klinik langsung di nyatakan positif covid dan harus dirawat di RS, anehnya yang diminta merawat adalah anak nya sendiri, sudah dilalukan rapit tes, tetapi yang merawat tidak positif covid-19? Aneh kan padahal merawat selama bebepa hari. Dan saat di rumah sakit, hanya diberikan antibiotik, vitamin dan perawatan penyakit parunya. Alhamdulillah sampai sekarang beliau sehat. Semoga tetap sehat.
  8. Saya prihatin dengan para tenaga kesehatan yang terpapar covid-19, mereka saat ini sangat dibutuhkan oleh kita semua dalam menangani Covid-19 ini. Namun saya juya merasa aneh, beberapa yang terpapar justru bukan dari perawat dan dokter yang langsung merawat pasien covid-19 bahkan ada dokter spesialis kandungan dan juga dokter spesialis anastesi?! Bisa jadi memang penularannya dari pasien tanpa gejala. Tetapi pasien tanpa gejala itu kemana? Apa yang bersangkutan masuk ICU atau sehat? Ini yang perlu di identifikasi secara khusus.
  9. Tentang banyaknya kasus positif Covid-19 di NTB yang berdampak pada anak, saya memang bukan ahli penyakit anak tetapi membaca beberapa artikel terbaru bahwa rapit tes ini erat kaitannya dengan imun seseorang apalagi anak. Penyakit anak itu lebih sering adalah ISPA seperti batuk, pilek dan demam. Nah ketika di rapit tes pada saat mereka sakit, apalagi menggunakan rapit tes produk negara tertentu bisa jadi langsung positit. Lha wong pejabat yang sehat bugar di tes dengan rapit tes produk negara itu aja bisa positif apalagi anak-anak? Apalagi jika anak-anak itu saat diperiksa dalam kondisi kurang fit karena batuk, pilek dan demam.
  10. Maka seperti kata Dr. Jack direktur RSU Kota Mataram dalam Lombok Post hari ini 2 Juni 2020 mengemukakan akan melakukan swap ulang pada anak yang dinyatakan positif covid-19, saya lebih percaya beliau selain direktur juga dokter yang tentu hal impiris dan pengalaman sebagai direktur RS rujukan covid-19 sudah tau bagaimana sebenarnya covid-19 ini.
BACA JUGA "JURUS JITU BEBAS COVID"

Dengan beberapa fakta di atas, maka saya mengemukakan;
  1. Covid-19 ini memang ada, ya harus kita akui ini memang ada, tetapi lebih masih pemberitaan negatif yang menakutkan dari pada yang menggembirakan padahal sugesti terbesar pada semua penyakit adalah motivasi dan keberanian melawan penyakit itu sendiri. Saya pernah punya pasien stadium IV kangker, dokter sudah mengatakan bahwa tak akan bertahan beberapa bulan lagi. Lalu kita ngobrol-ngobrol, beliau punya motivasi yang luar biasa, beliau semangat juangnya hidup nya mengalahkan obat dan kemotherapy yang harus ia jalani. Ia tetap bekerja seolah-olah vonis dokter itu tak ada artinya dan justru ia yang memberikan semangat juang kepada keluarganya. Akhirnya semua keluarga bangkit dan anak-anak serta istrinya juga bersemangat, ibadah rajin, kerja luar biasa, bahagia diciptakan. Ajal memang tak bisa dihindari, vonis dokter hanya beberapa bulan ternyata beliau bisa bertahan 10 tahun hingga 2 anaknya wisuda S1 dan bekerja.
  2. Media tak pernah mengekposes dengan transparan bahkan tenaga kesehatan yang merawat covid-19 saya tanya tidak ada yang secara transparan mengatakan bagaimana sebenarnya saat dirawat apakah benar yang di ICU dan palai ventilator itu murni covid atau punya penyakit pendamping lainnya? Saya sendiri tim ahli tidak punya akses untuk melihat ke dalam RS dengan alasan protokol covid-19 sehingga saya tidak bisa menerangkan kebenaran tentang biaya sampai ratusan juta untuk 1 pasien covid 19?
  3. Covid-19 ini memang ada, tetapi karena informasi dan kebijakan pemerintah yang berulang kali berubah-ubah menyebabkan saya bertanya-tanya kenapa? Ada apa? Satu kebijakan belum tuntas, dibuat kebijakan baru? Belum lagi diberlakukan sudah ada wacana lainnya? Tentu pemerintah ini bukan *pemerintah yang isinya adalah orang-orang yang berilmu* mereka tentu punya SDM lengkap yang mengkaji setiap kebijakan yang ada. Hal ini tentu menyebabkan semakin rendahnya kepercayaan masyarakat bahwa covid-19 itu menakutkan dan berbahaya.
  4. Dana pemerintah ini sudah hampir habis untuk melawan covid-19, kalau hanya dalam tataran ketidakjelasan siapa yang kita lawan saat ini, covid-19 ini bagaimana dan apa sesungguhnya. Maka negara kita tidak akan sampai di penghujung tahun 2020 sudah kolep pendanaannya bahkan pemda sudah kehabisan dana untuk menangani covid-19 ini.

Maka yang ingin saya sampaikan di akhir tulisan ini adalah;
  1. Kita harus percaya kalau ada covid-19, karena memang ada uji klinis dan ada bukti korban covid-19 bahkan ada yang meninggal. Tetapi jangan sampai semua energi masyakat hanyut dalam ketakutan dengan covid yang saat ini sudah menjalan ketakutan dan paranoid pada anak-anak. Hal ini justru mengkhawatirkan karena belum ada obat dan vaksinya maka cara kita melawan Covid-19 adalah dengan semangat, dengan bekerja, dengan tetap beraktifitas dan dengan bahagia karena hanya itu yang bisa menumbuhkan kekebalan fisik dan psikologis untuk melawan covid-19.
  2. Bukan berarti dengan melawan Covid-19 kita melupakan protokol pencegahan Covid-19? Tetap harus dijaga kebersihan tangan dan sebagainya.
  3. Saya khawatir kenapa anak-anak banyak yang positif Covid-19? Bukan hanya tumbuh mereka saat ini yang rentan karena kurang gerak, tetapi psikologis mereka terganggu karena pola hidupnya berubah dari bahagia disekolah dan bermain dengan temannya tiba-tiba 3 bulan harus berdiam diri dirumah dan tiap hari mendapatkan informasi negatif corona dan ditambah tekanan pembelajaran online yang orangtua tak semua sanggup menjadi guru bagi anak-anaknya.
  4. Saya khawatir semakin naiknya grafik covid-19 ini bukan murni karena terpapar covid, bisa jadi masyarakat yang telah lelah fisik, psikologis, religius dan ekonomi sakit lantas berobat dan di rapit tes dengan produk negara tertentu, karena imunitasnya menurun maka berdampak pada hasil rapit tes menjadi positif. Maka yang dibutuhkan masyarakat sekarang adalah ibadah, akses ekonomi dan hidup normal sebagaimana biasanya tetapi tetap menjalankan protokol. Bagaimana tidak stress jika 3 bulan ini masyarakat harus dirumahkan, tidak ada penghasilan, tidak ada relaksasi rohani dengan ibadah di tempat-tempat ibadah maka serangannya kemudian adalah daya tahan tubuh yang menurun. Perbolehkan masyarakat beraktifitas, bekerja dan beribadah tetapi tetap mematuhi protokol covid-19 sampai benar-benar covid-19 ada obat atau vaksinnya.
  5. Kondisi yang hampir sama dialami oleh anak-anak, lonjakan terpapar covid-19 pada usia anak, tidak mutlak variabel covid-19, saya punya asumsi bahwa mereka juga stress, mereka capek kemudian daya tahan tubuh menurun, musim batuk pilek menyerang dan mereka sakit batuk pilek dan demam setelah itu di periksakan ke dokter dan dianjurkan rapit tes akhirnya dinyatakan positif sebelum swap dilakukan. Hal ini tak lain karena mereka kehilangan kebahagiaan, kehilangan masa gembira bermain bersama teman-temannya dan justru terbabani di rumah mengerjakan tugas sambil mendengarkan, melihat berita covid-19 yang menyeramkan ditambah beberapa kasus KDRT meningkat. Maka tak ada jalan lain selain memberikan mereka kehidupan kembali dengan bersekolah, dengan bermain tetapi tetap dalam pengawasan dan protokol covid-19.

Saya yakin, bahwa kita semua bisa mengatasi covid-19 ini tanpa harus sterss karena banyak faktor yang tak jelas tentang covid-19 ini.
Bekerjalah, beribadahlah, beraktifitas wahai bapak dan ibu semuanya, agar engkau plong jiwa raga dan ekonomi terpenuhi karena itu penangkal utama covid-19 sebelum ada vaksin dan obatnya.
Wahai pemangku kebijakan pendidikan, buat aturan, regulasi atau protokol tentang masuk sekolah kembali karena itu adalah cara ampuh mengurangi stress dan dampak Psikologis anak-anak. Tengoklah, di ujung desa sana anak-anak yang bahagia tak ada kabar mereka postif covid-19?! Karena mereka bahagia.
Bagi yang di kota dan rumah-rumah ukuran seadanya, anak harus dirumah adalah ibarat penjara bagi mereka. Maka saya harapkan ada kajian khusus bagaimana anak-anak masih bisa berinteraksi dengan temannya disekolah dengan protokol khusus agar kejadian positif covid-19 ke anak-anak tak semakin meningkat.




Dr. MA. Muazar Habibi, S.Psi.,M.Psych.,M.Pd

Koordinator Tim Ahli Percepatan Penanganan dan Dampak Covid-19 Kabupaten Lombok Barat


Sajak-sajak Sulaiman Fauzi



Di Suspension Bridge


/Teteh, telah kucetak undangan
Dengan sabar dan berkeringat.
Untuk pernikahan kita,
Dan cerita
Kayu dan tali
Melangsungkan ritual selfie-selfie
Yang segar dari hulu ke hilir.

/Teteh, sebenarnya aku takut.
Jika salah melangkah
Atau mencetak
Nama-nama doa.
Semua begitu saru, yang kulihat
Gunung, bukit, dan lembah
Kabut terus bergelayut
Di jembatan keperawanan kita.

/Teteh, tolong kuatkan
Ikatan ini jadi napas kita,
Agar jika aku gentar
Kamu bisa tahan dan
Kembali kita
Pulang bersama.



Sukabumi-Cianjur.2019


Kusisipkan Wedelia di Rambutmu
: Ucy

Hari ini memang terik
Sampai rambutmu jadi eksentrik.
Tapi aku suka, bagaimana pun juga.

Aku rasa gerah di rambutmu
Seperti pertemuan kita
Saat ini yang sensasional
Buktinya langit begitu biru
Dan mentari sangat spiritual

Matamu juga cerlang
Begitu luas, seperti bentang telaga di hadapan.

Di sana ada wedelia
Sedang berenang di lautan cahaya
Dan sebentar lagi ia ingin menepi
Karena sama rambutmu
Ia menjadi begitu kuning.

Hari ini memang terik
Dan aku tergoda memetik
Bunga Wedelia untuk
Kusisipkan pada rambutmu.


Cianjur.2020


Lentera, Serangga dan Mata

//Lentera menutup mata
Matahari menggigil dalam gelap
Dunia mencari-mencari-
Orang-orang yang sepi
---deep-frezie
Perlahan bunuh diri

//Lentera menutup mata
Serangga ketakutan, gemetar
Di antara gedung-gedung
Mendung, tertutup bulan
Terbang menuju lentera yang kesepian
Dekat, sesenyap sayap
Perlahan, abukan getar

//Dunia telah menutup mata
Membiarkan lentara membakar serangga
-serangga, di mataku menampar
Cahaya berpendar menampar
Perih air mataku-
Bergemuruh seperti hujan
Jatuh, berenti aku
Memujamu.

Cianjur. 2019

Jurus Jitu Agar Selesaikan Covid


buletinkapass.com-Virus Corona sudah bersemayam di semak-semak kehidupan umat manusia sejak ratusan tahun lalu.

Virus ini memiliki banyak strain atau varian yang beragam, ada yang bersemayam di jasad hewan, ada pula yang bersemayam di tubuh manusia. Dalam tubuh kita sudah ada beberapa jenis Coronavirus, termasuk Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Anda bisa mempelajarinya di buku virology atau menanyakannya kepada virolog.

COVID-19 disebabkan oleh SARS-COV2 yang termasuk dalam keluarga besar corona virus yang sama dengan penyebab SARS pada tahun 2003, hanya berbeda jenis virusnya. Gejalanya mirip dengan SARS, namun angka kematian SARS lebih tinggi dibandingkan COVID-19, walaupun jumlah kasus COVID-19 jauh lebih banyak dibandingkan SARS. COVID-19 ini hadir dengan citraan/ cangkang baru dan virus ini masih labil, sehingga kemungkinan untuk bermutasi gen menjadi banyak jenis atau bentuk sangat dimungkinkan.

Covid-19 sama seperti virus-virus lain yang membutuhkan inang, dalam kasus ini tubuh hewan atau manusia adalah media untuk membantunya menyebar. Karena karakteristik inang di setiap negara berbeda, maka virus yang menyebar di suatu negara juga memiliki karakteristik yang berbeda. Karakteristik virus selalu menyesuaikan diri dengan perbedaan iklim dan budaya. Karakter virus tidak bisa digeneralisir atau disamakan dengan negara-negara lain yang berbeda iklim dan budaya makan masyarakatnya.

Virus sekali lepas tidak bisa dihentikan, belum ada ilmu kedokteran yang mampu menghentikan atau menonaktifkan virus. Virus itu tidak dapat dibunuh, karena virus merupakan partikel yang unik, ia hanya bisa aktif atau pasif. Untuk aktif, virus membutuhkan inang, dan untuk mengkopi dirinya—bukan berkembang biak—ia membutuhkan metabolisme bakteri, itu rusanya sampai ke DNA, RNA, bagaimana dia memanipulasi dari inangnya. Dalam ilmu medis, virus hanya bisa dilawan dengan imunitas tubuh.

Kebetulan saya meriset "lenga kelapa perawan", tradisi medis dari Mataram. Ramuan ini bisa digunakan untuk meningkatkan imunitas tubuh, menghancurkan citra/ cangkang virus dan mempasifkan virus. Ramuan ini sudah pernah saya pakai untuk treatment HIV dan sebagainya. Anda bisa mempelajarinya sendiri. Cara pembuatannya sudah saya publikasikan di YouTube GENKOBI, “LENGA KELAPAPERAWAN”. Saya tidak bermaksud menjual produk, masyarakat bisa membuatnya sendiri.

Kembali ke soal virus COVID19, virus ini tidak berbahaya di Indonesia, sekali lagi di Indonesia! Landasannya tadi, perbedaan iklim dan budaya makan inang mempengaruhi karakteristik virus. Saya ambil contoh, wabah salmonella di Eropa itu sangat mematikan, tetapi di Indonesia tidak berpengaruh signifikan, atau virus dengue yang menyebabkan DBD, di Barat itu sangat berbahaya, tetapi di Indonesia banyak yang sembuh, anda bisa cari drh. Moh Indro Cahyono, seorang virolog yang masih murni dan tidak dimunculkan di negeri ini. Kasus ini sedikit banyak ada kaitannya dengan flu burung. Anda bisa cari informasi ke Prof. Siti Fadilah Supari, yang melawan WHO saat flu burung.

Virus bukan mahluk hidup yang bisa “kelayapan”,  protokoler penanganan pandemi karena virus dan karena bakteri/ kuman harus dibedakan. PSBB bagi saya tidak tepat, karena virus tidak bisa dihilangkan dari inang. Jadi, orang yang telah sembuh dari paparan dan keluar dari isolasi masih bisa memaparkan pada orang yang belum pernah terinfeksi yang imunnya sedang turun. Seharusnya pola hidup sehat dan imunitas tubuh masyarakat yang dibangun, bukan mencekoki masyarakat dengan ketakutan!

Dampak pandemi bukan hanya pada kesehatan, jika berkepanjangan semua lini dan aspek sosial hancur termasuk ekonomi.

Banyak kemungkinan yang semestinya bisa dilakukan, salah satunya menggali kearifan lokal (local wisdom) dalam menangani pagebluk. Nuswantara berada pada lempeng bumi EUROSIA dan banyak gunung berapi, sering menghadapi bencana alam dan pagebluk. So, kalau sekedar COVID19, Indonesia pasti mampu mengantisipasi dan menanganinya. Saya tidak bermaksud jumawa, tapi bumi Nuswantara memiliki peradaban budaya yang tinggi.

Bisa juga menggunakan donor plasma darah, jika farmasi tidak mau legowo pada kearifan lokal. Donor plasma darah sudah dilakukan terlebih dahulu, sebelum ada perusahaan serum dan vaksin. Donor plasma bisa digunakan dalam pandemi virus jenis apapun. Jelas kita tidak perlu membeli serum atau vaksin.

Masih banyak persoalan yang akan banyak menguras energi pasca Corona. Rakyat harus mampu mandiri dan survival dalam keadaan ekonomi yang amblek nantinya, termasuk dalam kesehatan.

ELEX /Magelang/2020

Sajak-sajak Wahyu Hidayat


Anak Menangis

di pinggang jalan itu
anak kecil menangis
cuma karena tak punya
sepiring nasi
dan segelas es tawar.
baginya itu lebih dari cukup
jikalau ada dan tersedia
ketimbang perutnya tak henti
merutuk, tak lupa
membunyikan nada luka
yang begitu perih

anak kecil masih menangis
sakitnya yang masih kelimis
nempel di dada
ingin sekali disembuhkan
oleh tangan bunda dan
peluk-kecup ayah
tapi itu muskil dan sekadar
bayangan abu
mungkin warna semu
dan cuma sekelebat mimpi
di kala lapar, bukan
seperti mereka yang bisa
sampai kekenyangan, lalu
tidur di sekotak kasur—
berikutnya bermimpi

(mereka jadi anak yang
lapar seperti aku,
lalu ia makan
dan aku kenyang
aku senyum dan menari
di sepanjang jalan
sebab perut sudah terisi
dan aku pun lupa
akan kesusahpayahan.
terima kasih mimpi
aku telah lupa sebentar
dari lapar ini!)

dan kini
anak kecil itu masih
menangisi sebuah mimpi
yang tak jadi

2020

Melihat Sawah

aku melihat sawah
ada ayah, ada ibu
tengah merawat jantung
negeri dan perutku.
aku melihat sawah
ia tak lantas beringas
meski berkali-kali
ditampar hujan
dibajak dan dilukai oleh
cangkul dan traktor
o, betapa tabah dada sawah
ia seperti ayah
menafkahi tiap orang
yang ia sayangi.
aku melihat sawah
ada punggung paling keling
lantaran ditembak matahari
dan sebab tamparan angin.
aku melihat sawah
sawah melihat aku
dan kita saling jatuh cinta

2020


Sajak-sajak Lilis Karlina


Debu

Mungkin aku hanya sebatang kayu, yang hanya kau bakar jadi abu, diterpa angin jatuh dan menebal pada jalan yang tak pernah dirindukan itu

Untuk sekian kalinya aku yang kini jadi abu, merasa hilang setelah beberapa saat berada di awang-awang, sekarang aku mulai mengeras di jalan itu, hujan memaksaku untuk kikis, dengan rintiknya yang beringas, aku dijadikanya abu lagi tercampur dengan air asin, mengalir ke selokan-selokan tak bertuan

Madiun, 05/04/2020

Pada pundakku

Kau letakkan batu yang teramat berat di pundakku, menyuruhku berjalan di atas api yang kau nyalakan sendiri, menusuk kedua bola mataku dengan jarum yang akan kau buat untuk menjahit baju bayiku

Aku terpaksa meneteh pada susu sapi dan telingaku kini penuh dengan ari-ari. Membuatku buta,bisu dan tuli

Kau menjadikanku seorang diri, mendaki bukit-bukit yang tak ditumbuhi bunga melati, kadang kau kuanggap seorang peri, yang kupanggil dengan mantra penuh iri

Kau membuatku harus melompati sungai-sungai dengan kakiku yang belum mampu berdiri sendiri

Jika aku lapar aku makan buah rinduku, jika aku haus aku minum air mataku, aku mulai mengenal namamu saat orang-orang memanggil-manggil nama ibu: seru mereka padaku

Madiun, 06/04/2020