ilustrasi:google
buletinkapass.com-Tulisan ini tak bermaksud memprovokasi
anda yang sedang menjalani hubungan dengan pasangan tak halal anda (Pacar)
untuk saling meninggalkan satu sama lain, atau membuat anda yang sedang
mengejar calon pasangan tak halal (Pacar) anda membatalkan niat “suci” anda
untuk menyatukan apa yang anda anggap “Cinta” itu. Dan tulisan ini juga tidak
bermaksud membela anda yang sedang mengalami kesuraman dalam kisah percintaan,
yang jarang menerima sms dan telpon basa-basi, yang malam minggunya selalu
mencari taktik untuk berkamuflase yaitu anda yang tidak punya Pacar (JOMBLO).
Fenomena hari ini, pemberian gelar Jomblo
seolah menimbulkan ketakutan tersendiri bagi banyak orang, bahkan ketika
seseorang dipanggil Jomblo seolah dia adalah orang yang paling tak beruntung
dalam hal asmara di dunia ini, bahkan muncul kutipan-kutipan yang cenderung
memojokkan para Jomblo diantaranya : “Truk aja Gandengan Masak kamu enggak” ,
“Jomblo itu sosok manusia mandiri, kemana mana selalu sendiri”, nah yang
terparah “pacaran itu baik, jomblo itu baik. Lebih baik mati maksudnya”. Sindiran-sindiran
di atas tersiar melalui berbagai media massa, di iklan televisi, film,
sinetron, radio, sosial media yang bentuknya beragam dan jelas tujuan utama
tidak lain adalah menyindir mereka yang sedang mengalami Jomblo.
Sebenarnya di sini kami ingin menunjukkan
sesuatu dan ini bukan hanya sebuah apologi dari orang yang sedang men-Jomblo
tetapi memandang lebih luas tentang Jomblo. Ledakan penduduk berarti bumi
semakin sempit, eksploitasi alam makin besar dan konflik horisontal makin
tinggi. Bagaimana konteks bangsa kita hari ini ? , sebagian besar penduduk indonesia
terkonstruk oleh hasil komodifikasi[1]
sedemikian rupa dalam bentuk sinetron tv, film, iklan, selogan-selogan di
sosial media dll yang memuat pesan bahwa jomblo itu menyedihkan, tidak keren,
kuno dan sebagainya. Tujuan komodifikasi itu semata adalah untuk keuntungan
mereka, karena Indonesia itu adalah pasar empuk bagi mereka. Siapa mereka?
merekalah para Kapitalisme. Lhoo... kok dikaitkan sama Kapitalisme, Jomblo ya
jomblo saja!!! Aduhh...!
Tetapi kita mungkin harus sedikit
membuka mata baik yang berstatus Jomblo ataupun tidak, dan merenung bahwasannya
jomblo itu merupakan salah satu tragedi yang seolah menjadi momok yang
menyebabkan rasa takut hampir pada setiap orang, karena dimana mana melalui
media tersebar stigma[2] seperti
itu dan menjadi konstruk sehingga tak jarang para jomblo menjadi cemooh mereka
yang memiliki pasangan tak halal (Pacar).
Sedikit ilustrasi, jika orang sudah
mulai takut disebut Jomblo maka orang-orang akan berlomba mencari pasangan dikarena
sebutan Jomblo seolah menjadi sangsi sosial, faktanya itu berhasil dilakukan
lihatlah anak-anak SMP maupun SMA bahkan mereka yang dibangku perkuliahan
sangat takut bergelar Jomblo bahkan yang terparah sampai pada anak yang duduk
di bangku SD. Maka semakin maraklah hubungan terbangun baik yang sah maupun
tidak (Pacaran), jika kemudian hubungan tersebut terbangun dan tidak terkontrol
maka beberapa implikasi[3]
negatif ditimbulkan di antaranya yaitu : Maraknya pernikahan dini, free sex,
kekerasan dalam pacaran, hamil di luar nikah, angka putus sekolah meningkat,
angka aborsi dan yang terparah yaitu stok Perawan/Perjaka menipis, maka
kasianlah mereka yang untuk sementara men-Jomblo tidak menemukan lagi kejutan
hebat (Perawan/Perjaka).
Selanjutnya, jika tidak men-Jomblo maka
memiliki hubungan (sah/tidak) dan jika memiliki hubungan maka punya anak. Maka
jumlah penduduk di Indonesia kian besar dan pasar mereka juga akan semakin
besar. Jadi olok-olokan mengenai Jomblo bermula dari para Kapitalisme (lewat
media massa) kemudian menjadi viral di masyarakat dan danpaknya sudah jelas di
atas, lebih jauh lagi semua itu menghambat kinerja pemerintah dalam melakukan
pembangunan sumberdaya manusia dan berpengaruh pada pengelolaan sumberdaya alam
yang tidak bisa dikelola oleh pribumi sendiri dan keuntungan berganda yang
didapatkan para Kapitalisme.
Maka, apa yang mesti kita lakukan?, semua
saya kembalikan kepada pembaca sekalian. Dan keputusan terbaik itu sesungguhnya
datang dari pertimbangan nalar yang sehat serta fikiran yang jujur dan jernih
bahkan dalam hal percintaan sekalipun, ada kutipan sederhana yang mungkin bisa
jadi self control buat anda “Follow your love but always take your brain
with you”[4].
Buat anda yang sedang menjalani
hubungan, maka pertahankanlah hubungan anda dengan memegang teguh Rasionalitas,
sekalipun mas Tedjo bilang “Jangan kau bilang dirimu mencinta jika belum
menertawakan nalar sehatmu”. Buat anda yang sedang men-Jomblo maka tetaplah
dengan ke-Jomblo-an anda karena Jomblo tak seburuk yang dibilang orang-orang,
hanya saja mereka belum sadar betapa Jomblo itu juga memiliki sisi positif. Dan
buat anda yang sedang ragu memilih men-Jomblo atau tidak maka segera putuskan
tindakan dengan menggunakan akal sehat anda. Bukan hanya anda tetapi juga saya J
Pada akhirnya ini menjadi sebuah
pemantiq di tengah sepinya pergulatan pemikiran dan minimnya budaya menulis.
Jika anda tak setuju dengan apa yang tertuang dalam tulisan ini maka lakukanlah
hal yang sama dan bantahlah bukan sekedar cingcong dibelakang atau yang
terparah merobeknya. Dan jika anda setuju maka sampaikanlah kepada orang lain dengan
bijak dan dengan pandangan anda masing masing. Semoga Bermanfaat.

Posting Komentar