Resensi Film Lord Of The Ring



Sebuah Pengantar
Saya tergolong orang yang sangat menyukai film ber genre horor, film perang ataupun film action.
Sebuah film yang pada awalnya di putar trailernya pada saat itu di sebuah televisi suwasta dengan bahasa “pertama kali di layar kaca” membuat saya sangat penasaran untuk menonton film tersebut. Entah pada tanggal berapa iklan itu di mulai, yang jelas saya sudah melihat iklan tentang film ini sebanyak 3 (tiga) kali. Rasa penasaran yang begitu hebat menyerang saya, tepat pada waktu (tentang tanggal, bulan dan tahun saya agak lupa) yang telah di janjikan oleh televisi suwasta tersebut. Sayapun merelakan menunggu sejak pukul 19:00 wita karena takut kalau-kalau nanti adik terkecil saya akan menonton sinetron di televisi suwasta lainnya. Karena memang demikianlah adanya, dalam keluarga besar dengan satu Tele Visi (TV). Mungkin lebih tepatnya prinsip yang ada dalam keluarga seperti saya ”siapa cepat, dia dapat”.
Setelah menunggu sekian lama, ahirnya saya pun menonton film tersebut dimulai sejak pukul 22:00 wita hingga  kurang lebih pukul 24:00.

*************************************************
Awalnya saya berfikir, jika setelah film yang berjudul ”The Fellowship of the Ring” selesai. Maka, kisah/ cerita dalam film itupun selesai.
Entah, ini bulan ke berapa di tahun yang mana. Tiba-tiba suatu malam iklan tentang film tersebut kembali muncul, akan tetapi dengan judul yang berbeda yaitu “The Two Towers” kemudian di susul dengan film “The Returens of The King”.
Pada awalnya saya hanya tertarik biasa saja, tak ada hal istimewa yang menarik saya dalam film ini sehingga saya tidak mengingat benar kapan saya mulai menyaksikannya pada TV suwasta tersebut.
Tepat pada beberapa bulan yang lalu (yang kemudian sekali lagi saya tidak mengingatnya) secara tidak sengaja saya mengganti canel TV ke sebuah stasiun televisi yang bernama FOXMovie.
Karena nama yang menarik, saya pun mendiamkan semua film berlalu begitu saja. Dari pagi hingga malam menjelang, secara tak sengaja saya kemudian menonton sebuah film berjudul ”An Unexpected Journey”.
Setelah menyimak beberapa lama, ternyata film tersebut menceritakan tentang seorang tokoh bernama ”Bilbo Begin” sosok hobit penemu cincin. Tepat setelah sang penyihir Gandalf memaharinya, barulah saya sadar bahwa film ini masih satu kisah dengan ”The Lord Of the Ring”. Sayapun memutuskan untuk menontonnya.

*************************************************

Februari 2014 saya mendapat kabar dari seorang teman Fhotografer, bahwa ada film bagus berjudul ”Lord of the ring” karena memang pada awalnya saya menulis pada dinding Face Book (FB) bahwa saya sangat ingin menonton kembali film terrsebut. Beberapa minggu setelahnya, datanglah teman FG tersebut dan bercerita tentang film ”lord of the ring”. Menghargai teman tersebut, saya berpura-pura begok dan tidak pernah menonton sambil berkata ”ada failnya”? Iapun bercerita tentang dimana mendapatkan fail film tersebut.
Setelah 3 (tiga) bulan saya sangat ingin menontonnya, ahirnya sayapun mendapatkan fail film tersebut yang dibagi menjadi 5 (lima) bagian: 1) The Fellowship of the Ring. 2)  The Two Towers. 3) Returens of The King. 4) An Unexpected Journey. Dan 5) Desolation of Smaug.
Dari sinilah tulisan ini berawal, rasa penasaran yang luar biasa dan sangat tinggi mendorong saya untuk menonton film ini sebanyak 3 (tiga) kali berulang. Mengorbankan seluruh pekerjaan, waktu dan banyak lagi hanya untuk mengobati rasa penasaran.
Dalam tulisan ini, saya akan membahas alur cerita tentang 5 (lima) judul film tersebut. Tentang kekurangan dan kelibihannya.
Karena memang, selaku sebuah hasil karya seni yang bernilai tinggi dan memiliki pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan yang diterapkan dalam masyarakat. Maka bagi penulis, film ini sangat pantas untuk di bicarakan.

Sebuah pendahuluan
Selayaknya sebuah karya seni, tentunya dalam film ”Lord Of The Ring” tentunya juga sarat dengan makna dan memiliki muatan pembelajaran untuk kehidupan.
Karena memang pada umumnya sebuah karya seni dilahirkan berdasarkan atas pemikiran bahwa karya yang mereka lahirkan berdasarkan  pemahaman seorang penulis/ pembuat terhadap kehidupan dan gejolak hidup yang berlangsung di sekitarnya.
Dalam tulisan ini, penulis tidak ingin berbanyak teori tentang apa yang di maksud dengan analisis, apa yang dimaksud dengan apresiasi. Karena penulis, tidak ingin menggurui pembaca.
Pada prinsipnya bagi penulis, bahwa pembaca bukanlah orang awam yang ”tidak” memiliki pengetahuan tentang itu semua
Seperti sebuah perjalan semua film, mulai dari pengalaman menonton sinetron ”cinta fitri” dari episode 1 hingga 5, kemudian beberapa film yang sambung menyambung dan pada ahirnya tidak nyambung dan membosankan.
Maka demikian pula yang terjadi pada film ”Lord Of The Ring”, namun saya tidak mengatakan jika film ini tidak menarik. Justru saking menariknyalah, maka tulisan ini ada. Akan tetapi dari setiap hasil karya manusia, tentu selalu ada kekurangan dan kelebihan yang terjadi. Maka mari kita bahas satu demi satu dari sekian judul film ini yang kemudian membuat saya mengambil keputusan untuk membuat tulisan ini.


*************************************************
1)         The Fellowship of the Ring
2)         The Two Towers
3)         Returens of The King
4)         An Unexpected Journey
5)         Desolation of Smaug



Pembahasan
1)       The Fellowship of the Ring.
//dunia telah berubah, aku merasakannya di air, aku merasakannya di bumi, aku menciumnya di udara. Banyak sudah yang hilang, kini orang-orang sudah tidak mengingatnya//
//dan sembilan cincin diberikan kepada manusia, karena memiliki nafsu untuk untuk menguasai//
//tujuh cincin diberikan kepada Dwarf, para pengerajin//
//tiga diberikan kepada bangsa Elf//
Beginilah dialog awal pembukaan dari film ini yang diucapkan oleh seorang peri (Elf), sebuah dialog sederhana namun tajam. Menusuk kiri dan kanan

*************************************************
Kisah ini berlanjut kepada bagaimana seorang hobit bernama Bilbo Gegin menemukan cincin di sebuah tempat yang tidak jelas. Setelah cincin tersebut terjadi dari tangan mahluk aneh bernama Golum, namun ada yang aneh dari semua itu—akan dibahas di bagian berikutnya

2)       The Two Towers
Adalah kisah lanjutan dimana Bilbo memberikan semua warisannya kepada anak angkatnya Frudo yang kemudian di kejar oleh pengendara hitam karena membawa “suatu yang berharga”.
Sang penyihir Gandalf memberikan perintah agar membawa pergi jauh cincin tersebut dari kampung halaman frudo karena merasa sudah tidak aman, ia pun memberi perintah agar tidak berjalan pada malam hari

3)       Returens of The King
Adalah kisah dimana garis keturunan terahir dari raja Isildul pemilik kerajaan Gondor mengakui dirinya sebagai gaaris keturunan resmi setelah berpetualang panjang, hal itu diterimanya setelah mendapatkan masukan dari sang penyihir Gandalf dan juga para peri termasuk kekasihnya

4)       An Unexpected Journey
Dalam film ini, diceritakan bagaimana Bilbo begin mendapatkan kesempatan untuk berpetualang dan menuliskan kisahnya dalam buku agar bangsa mereka (Hobit) lebih di hargai

5)       Desolation of Smaug
Pada bagian ini diceritakan bagaimana bangsa dwarf berhasil mengalahkan sosok naga yang telah menguasai kerajaan bawah gunung selama 60 tahun. Menurut sebuah ramalan, jika burung-burung telah kembali maka itulah pertanda jika masa dwarf kembali berjawa dengan mengalahkan naga yang di sebut Smaug

Permasalahan:
Jika pembaca yang sudah menonton film ini, kemungkinan akan menemukan permasalah sama dengan penulis. Atau bahkan sudut pandang yang berbeda dan menemukan masalah yang berbeda pula.
Untuk membicarakan hal ini saya akan memulainya dari film yang berjudul “An Unexpected Journey”. Alasan memilih judul ini sangat sederhana, karena setelah menonton lord of the ring dari 1) The Fellowship of the Ring. 2)  The Two Towers. Hingga Returens of The King saya belum mampu menemukan permasalahan yang ada.
Dalam film tersebut di ceritakan bagaimana Bilbo Begin mendapatkan pedang yang dibuat oleh peri tertinggi, pedang tersebut akan menyala biru ketika didekatnya ada Orc atau bangsa mahluk aneh budak Sauron si raja sihir jahat.
Pada waktu Bilbo Begins bertarug dengan sengit melawan Orc di dalam sebuah gua, ia tergelincir bersama Orc tersebut ke jurang yang cukup dalam. Setelah sampai di dasar jurang Bilbo pingsan di tempat yang berbeda dan tidak terlalu jauh dengan Orc tersebut, disanalah Bilbo bertemu dengan mahluk lain penghuni gua yang bernama yang selalu mengucapkan kata “GOLUM”, ia melihat bagaimana Orc itu dibunuh oleh Golum dengan memukulnya menggunakan batu.
Karena Golum asik dengan makanannya, ia tidak menyadari jika sebuah cincin terjatuh dari celananya. Sesuatu itu ia sebut sebagai ”yang berharga”. Melihat Golum sedang asik dengan makanannya, Bilbo pun mendekat setelah merasa aman, kemudian mengambil cincin tersebut. Sesekali matanya metap liar untuk memastikan keadaan telah aman. Dan disinilah tempat keanehan pertama yang terjadi. Dalam film “The Fellowship of the Ring” di ceritakan bagaimana Golum menemukan cincin sakti yang kemudian karena cincin.
Dan dari sinipula Bilbo mendapatkan cicin tersebut di tempat entah berantah yang penuh dengan tulang, sementara dalam film “An Unexpected Journey” Bilbo mendapatkan cincin tersebut ketika terjadi dari pinggang Golum saat memukul Orc. Itu artinya bahwa: jika film “The Fellowship of the Ring” dengan film “An Unexpected Journey” ketidak nyambungan cerita. Tidak hanya masalah tempat menemukan cincin, akan tetapi juga masalah baju yang digunakan Bilbo pada saat film dengan dua judul ini berbeda.

*************************************************

Disinilah muasal semua rasa penasaranku melonjak—melesat lebih cepat dengan peluru, tak berbendung. Sulam-menyulam bersama waktu, tapi sungguh aku tak berhenti begitu saja.
Berkali-kali film aku aku putar, maka berkali-kali pula kutemukan masalah demi masalah yang timbul dalam film ini. Semakin sering aku menontonnya, semakin banyak pertanyaan-pertanyaan menjagal kepalaku.
Dari ke 5 (lima) judul film Lord Of The Ring, dimulai dari “The Fellowship of the Ring” “The Two Towers” “Returens of The King” “An Unexpected Journey” hingga “Desolation of Smaug” muncullah beberapa pertanyaan yang ditimbulkan oleh rasa penasaran yang bercampur kekecewaan saya menontonnya. Pertanyaan itu dimulai dari: 1) bagaimanakah kisah persekutuan antara tokoh Elf dengan manusia? 2) bagaimanakah awal mula pertemuan garis keturunan putra Gondor dengan Tokoh Elf yang menjadi istrinya? 3) bagaimanakah awal mula kisah kerajaan Dol Gundur? 4) bagaimanakah awal mula terbentuknya dua tower, dan tower apa sajakah yang dua itu? 5) bagaimanakah awal mula tersihirnya raja rohan yang dihianati oleh bangsanya sendiri sehingga menjadi kaki tangan Saruman si penyihir putih jahat? 6) bagaimanakah awal mula pecahnya peperangan setelah pembagian cincin? 7) bagaimanakah kisah keluarga Frudo sebelum di ambil hak asuhnya oleh pamannya sendiri Bilbo Begins? Dan puluhan pertanyaan lainnya.
Menonton film ini seperti membawaku ke dua sisi paling dekat denganku adalah rumahku (oraganisasi) rumah di sekitarku (organisasi yang berkembang di sekitar). Dengan pemilik yang “besar” dan ide-ide “besar”nya.
Mereka yang sering membangun renana untuk memperkuat tiang padahal mereka tidak mengerti bagaimana membuat tiang, mereka yang sering membangun renana memperkokoh tembok padahal tidak mengerti ilmu konstruksi, mereka yang membuat saya sedikit kecewa karena memiliki ide yang kadang tidak nyambung dengan pekerjaan. Sama halnya seperti dalam lima film tersebut dengan tingkat animasi luar biasa namun pada ahirnya “tidak nyambung”.
Entah, bagaimana kukatakan kekecewaan yang demikian dalam ini. Setelah rindu sekian bulan namun tidak juga terobati—seperti sebuah harapanku tentang rumah-rumah yang banyak berjejar di sekelilingku dengan ide-ide ”besar” konsep ”besar” namun tidak juga ada satupun yang ”berjalan”.
Mungkin demikianlah resiko dari sebuah pelarian atas nama OMSET sebab sang sutra dara merasa film ini sangat laku, maka demikian pula dengan rumah-rumah yang tumbuh di sekitarku. Atas nama pelarian dari proyek pemerintah mereka lebih memilih untuk bergerak mesti tanpa kaki, mesti tanpa tubuh.
Entah, kapan sang pemilik rumah sadar jika ingin bangunan kokoh maka perlu sang ahli—menjadikan rumah berdiri wajar tanpa harus mencuri-curi kesempatan.

yogismemeth

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama