This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Tumpahan Bulan
Kepergian yang Tak Terungkapkan
Kepergian yang Tak Terungkapkan
Hati ini masih menunggu,
Namun waktu tak memberi ruang.
Kau pergi tanpa kata,
Seperti hujan yang berhenti tanpa alasan.
Aku tetap berdiri di tempat yang sama,
Menatap jejakmu yang hilang.
Dapatkah kita kembali, meski hanya dalam bayangan?
Pagi Tanpa Kamu
Pagi ini datang tanpa senyumanmu,
Langit tak lagi biru,
Semua terasa hampa.
Tak ada lagi suara tawa,
Hanya sunyi yang menemani langkahku.
Akankah aku terbiasa,
Hidup dalam dunia tanpa kamu?
Rindu yang Menghantui
Rindu ini datang tanpa izin,
Setiap detik mengiris hati.
Dulu kita berbagi mimpi,
Kini aku terjaga dalam sepi.
Kenangan kita tak pernah pergi,
Menghantui langkahku tanpa henti.
Cinta yang Terlambat
Aku menunggu dalam diam,
Hanya berharap waktu kembali.
Cinta yang terlambat,
Tak mampu aku selamatkan.
Kau sudah pergi,
Meninggalkan luka yang tak bisa terobati.
Bayanganmu
Bayanganmu tetap ada di setiap sudut,
Di ruang yang pernah kita isi bersama.
Aku berusaha melupakan,
Namun kau selalu kembali.
Seperti angin yang tak terlihat,
Tapi selalu terasa di setiap nafas.
Mungkin ini cara cinta meninggalkan jejaknya.
Sajak-sajak Syalmiah
Dengan penuh kebanggaan dan rasa terharu, saya ingin membagikan puisi yang baru saja dikirimkan oleh Syalmiah. Sebuah karya yang mampu menyentuh hati, penuh dengan emosi dan makna yang dalam. Setiap kata di dalamnya mengalir dengan keindahan yang luar biasa, membawa kita ke dalam dunia imajinasi dan perasaan yang mungkin sulit diungkapkan dengan cara lain.
Mari kita bersama-sama menikmati karya ini dan merenungkan pesan-pesan yang disampaikan melalui bait-bait indah yang terangkai. Selamat membaca!
Jejak Bercerita
januari
yang dingin
aku
rangkai asa dari kata dan rasa
anak
dari seorang ibu
namanya
berpilin di langit doa-doaku, Manting
di
hidupku, angka 13 adalah teman
bukan
pertanda atau simbol semata
tapi,
langkah urai tiap detik dalam detak waktu
bahwa
keberanian tak mengenal kebetulan
kini,
kususur hari dalam bingkai masa
untuk
asa tak pernah karam
seperti
perahu kecil gigih mendayung
pada
cahaya di lingkar pagi
langkahku
hari ini
adalah
jejak bercerita
Kodam 2, 28 Januari 2025
Seberkas Cahaya
di
sudut kecil
cahaya
itu nyala makin besar
jadi
buku dengan berlembar-lembar halaman
pintu
ke dunia luas tiada batas
anak-anak
datang bawa mimpi mereka
katanya
esok ia akan terbang menggapai bintang
ada
juga yang datang dengan mimpi sederhana
sekadar
melihat huruf-huruf menari di celah buku
rumah
itu tempat mereka lepas lelah
sambil
nikmati gurauan angin
membaca
angan, membaca Indonesia
bahkan
membaca Tuhan
jiwa-jiwa
kanak berselimut rindu
ingin
jadi pucuk-pucuk bunga yang mekar di hati
ingin
jadi cahaya yang terangi nurani
ingin
jadi lembaran kertas di buku semesta
rumah
itu kini pelabuhan ilmu
maka,
jika kau datang, bawalah rindu
sebab
di sini, setiap sudut menyimpan waktu
hidupkan
jiwa raih mimpi-mimpi besar
Kodam 2, 16 Januari 2025
Ibu, Rumah yang Tak Pernah Pergi
ada teduh tak pernah luruh
di balik senyummu yang sabar dan utuh
seperti rumah menunggu pulang
kau selalu di sana, di tiap sudut harap yang
tenang
waktu mungkin bisa menggerus usia
tinggalkan jejak di kulit dan mata
tapi, cintamu abadi
seperti pintu yang terbuka setiap kali
ibu, kau adalah rumah yang tak pernah pergi
tempat kami temukan diri
dalam pelukmu, hilang segala resah
dalam dekapmu, luruh segala lelah
meski langkah jauh menjelajah
kau tetap jadi arah
sebab di hatimu yang lapang
ada tempat yang selalu menunggu
Kodam 2, 13 November 2024
Senandung Losari di Malam Minggu
malam minggu tiba, kotaku bercahaya
senandung Losari, diseling angin laut
bercerita
anak-anak berlari sepanjang anjungan
cari bola lampu yang memancar terang
di pinggir jalan, pedagang sibuk tawarkan
dagang
“pisang epe', pallubasa, sarabba bambang
Daeng!”
wangi rempah menggoda lidah dan hati
menarik langkah, mana tahan?
kallolo na ana' dara tudang ri wiring tasik
berbagi kisah di antara debur ombak
resah gundah menguar seiring malam
kota ini tak pernah penat
dari ujung Losari hingga Kubah 99
senyum Makassar, dalam riuh yang tenang
malam minggu di sini selalu berbeda
berbalut tradisi dan cinta yang nyata
Kodam 2, 11 Januari 2025
Keterangan:
Pisang epe' = pisang yang dipipihkan lalu
dibakar di atas bara
Pallubasa = masakan daging berkuah yang diberi
kelapa sangrai
Sarabba bambang = sejenis wedang jahe panas
kallolo na ana' dara
Jejak Terserak
tahun berlalu
seperti angin tinggalkan harum
sebagian cerita tertinggal, sebagian lagi
hilang
terserak di sepanjang waktu
ada tawa pecah di senja merah
ada air mata titik di gelap malam
jejak-jejak kecil goreskan warna-warni kenang
endap di bilik hati
kadang, ingin kupungut serpihan waktu
rangkai lagi jadi mimpi-mimpi indah
meski sebagian mimpi itu hilang ditelan masa
sisakan rindu-rindu yang hangat
2024, seperti daun-daun waktu yang gugur
daun itu ada yang singgah di ranting
lalu terempas ke tepi jalan
atau luncur ke bawah jembatan asa
kini, kutata langkah baru
dari ribuan kisah tersisa
bawa jejak terserak sebagai bekal
tulis cerita di tahun baru
Kodam 2, 10 Januari 2025
======================================================
Bionarasi
Syalmiah, seorang guru di SMP Negeri 34
Makassar. Dalam keseharian, ia gemar menulis puisi dan cerita pendek,
menjadikan kata-kata sebagai media untuk menyuarakan kebaikan. Sejumlah bukunya
dalam bentuk antologi nubar telah diterbitkan. Cita-citanya memberikan
kontribusi bagi generasi masa depan. Saat ini, ia menimba ilmu di Asqa
Imagination School (AIS). Ia dapat ditemui di Ig: Syalmiah_74
Sajak Sakura Ratna
Riset Berdarah
Dinginnya kutub utara
Cerita misterius manusia planet
Ilmuwan berjuang bersama
Demi misi pengetahuan.
Keberutalan mahluk aneh
Mengintai nyawa mereka
Hancur berkeping-keping
Tanpa kepercayaan
Saling menyalahkan.
Hancur masa-masa indah
Waktu adalah penantian
Kematian menanti
Satu persatu hilang.
Darah tercecer tak berarti
Di telan ganasnya manusia
jadi-jadian
Pupus harapan
Mati membeku tak bernyawa.
Bandung, 06 Januari 2025
****************************
Terinspirasi oleh film THE THING (1982), tentang kelompok riset yang terdiri 12 orang bertugas di daerah kutub. Dan ada kekacauan karena munculnya mahkluk planet, muncul setelah terkubur selama 100 tahun.
Sajak Muhammad Asqalani eNeSTe
Gerimis Gendut
gerimis turun sendirian, padahal gerimis lain turun beramai-ramai, bersamaan. gerimis itu gendut, gerimis lain kurus dan semampai.
gerimis gendut ingat pesan permaisuri langit, bahwa selama hidup, segalanya berubah.
gerimis gendut tersenyum, tertawa sendirian, seolah semua ikut senang. semua gerimis kurus dan semampai, mengatainya gila bukan kepalang.
30 hari gerimis gendut turun naik langit. satu hari di bumi, 700 ratus tahun di langit, 1 detik ukuran angkasa.
gerimis gendut jadi kurus. gerimis gendut jadi semampai. gerimis gendut lebih kurus. gerimis gendut lebih semampai.
gerimis-gerimis lain ingin turun bersamaan, menjadi ekor gerimis gendut, turun dengan sorak-sorai norak, penuh elu-eluan kurang kerjaan.
gerimis gendut tersenyum. dibagikannya coklat kesedihan, jika dimakan jadi bahagia tak kesudahan.
Kubang Raya, 1 Desember 2021 -
TBM Cahaya Rumah, 24 Desember 2024
=======================================================================
Muhammad Asqalani eNeSTe. Menulis sejak 2006. Redaktur puisi Ranah Riau. Pemilik TBM Cahaya Rumah. Pendiri Community Pena Terbang (COMPETER). Mentor Menulis Puisi di Asqa Imagination School (AIS). IG: @muhammadasqalanie
SAJAK-SAJAK RIAMI
(ilustrasi: google)
Cahaya Jiwa
Bahagia adalah, mampu menempa baja kepedihan
dengan api keberanian
Lalu ditempa dengan palu kesungguhan
Membentuk luk luk keris kasih sayang
Yang dengan lembut membunuh ego di malam buta
Sesungguhnya orang yang mengasihimu adalah cahaya bara dalam tempa
Orang orang yang membencimu
Adalah penakluk kesombongan
Makhluk tetap makhluk
Dia tetap Dia
Yang berada menguasai seluruh ketinggian langit
Seluruh kedalaman bumi
Yang menguasai segumpal hati
Yang bisa meluas seluas samudera
Menaklukkan badai tiada terkira
Kau kira siapa penggenggam petir paling dahsyat
Selain maha makrifat, dalam maha Cinta
Menjaga hati itu berat sebanding menjaga pusaka
Bila kelak berhasil kau temukan cahaya di dalam jiwa
Bukit Nuris, 20 Januari 2022
Gelembung Udara
Kadang aku berkhayal
Engkau menjadi gelembung udara
Yang lembut
Beraroma wangi
Seperti relaksasi menghirupmu
Kuhidu wangimu tiap aku tersedu
Lalu kau menjadi gelembung di gelombang ombak pantai
Kutiup di hamparan pasir
Lalu kembali bersama ombak menerpa pipi juga tanganku
Pertama kali mungkin aku kaget, atau euforia
Lama-lama menjadi biasa
Engkau pergi, lalu hadir tiap senja di pantai biru segara rasaku
Ya kita biasa, bertemu, bermain meneriakkan perpisahan
Lalu pertemuan berikutnya kau pecah bersama tawaku
Bukit Nuris, 2022
Biodata
Riami
Mengajar di SMPN 2 Pakisaji. Tinggal di Malang. Bergiat di Kepul (Kelas Puisi Alit), di COMPETER, Asqa Imagination Shool (AIS), di KPB (Kelas Puisi Bekasi), di Kelas Menulis Daring Elipsis. Menulis beberapa buku antara lain "Sajak Biru." Menulis di Kompasiana. Com.
SAJAK-SAJAK WINARNI LESTARI
LADANG GARAM
telah sampai pada ketukan
pintumu, dua pemuda rupawan
dengan sayap-sayap yang disembunyikan.
"salaman" ucap mereka -pada tatapan
asingmu- seolah saudara laki-laki
yang lama telah kembali.
lalu kau suguhkan daging asap
juga secangkir mata air
telah sampai mereka sebagai utusan
dan Tuhan lebih tahu
di bumi mana satu biji akan
ditumbuhkan dan merindang.
namun engkau punya mata
yang pernah tenggelam dalam
api sekian lama, paham
apa yang disembunyikan
dibalik helai sayapnya.
sebuah pematik yang akan
membakar kepala-kepala kaummu
yang telah keras membatu
hingga melampaui titik didih
lebur menjadi kristal-kristal putih
untuk kau tabur di ladang garam.
Kudus2021
GAGAL PANEN
semalam para pengeratmenggigit dan mencakari sabun mandi-membersihkan mulutdan tangan-tangan kotor mereka-setelah habis menggasak keringatpara petani yang lelah diperahsepanjang musim yang berat.namun pagi inimereka datang ke acara pesta rakyatdengan tampilan rapi dan wangi.seakan tak peduli telahmengencingi doa dan sambatyang ditelan mentah-mentahdalam perut yang tabah.
Karawang2022
KEONG MAS
tambun hidupmu tak luputdari memanggul perutmelata di selarimbun padi dan rumput.tertetas dengan stigma sebagaiperetas harapan yang tersemaijauh sebelum tertuai.masa keemasanmu telah terkuburlumpur serupa keangkuhan terceburtungku kemasan lalu lebur.namun hidup sudahlah cukupjika telah mewirid butir-butirmerah muda diantara batangpadi di sepanjang pematangsebagai bulir-bulir takbir.lalu kau rela terenggut mautterjepit antara paruh-paruh itikatau tercekik musim paceklik.
Tuban2015
WIWIT
di antara bulir-bulir
mengangguk-angguk diterpa semilir.
sebuah lengan legam nan kekar
tak lelah menanti kabar
kapan menuai.
berpincuk kulub urap
duduk berjajar di pematang
serta dendang harap
semoga tak ada rasa gamang
atas butir-butir peluh
yang terjatuh tanpa keluh.
Tuban2020
Keterangan: Wiwit adalah tradisi masyarakat Jawa Timur saat sebagian bunga pagi mulai menjadi buah, dengan membawa nasi pincuk sederhana dan mengundang petani di sekitar sawahnya untuk berdoa di pematang, sebagai wujud syukur dan harapan agar tidak ada aral sampai panen tiba.
BIODATA PENULIS
SAJAK-SAJAK RESTU ISWARA
Doa Kita
Biarkanlah doa-doa kita
Yang melipat rindu
Menjadi satu tarikan napas
Biarkan ia merajai setiap detak jantungku dan napasmu
Sebab dalam doaku
Degup jantungmu ialah degup jantungku
Hembus napasmu ialah hembus napasku
Bogor, Desember 2019
Sepasang Mata
Akan kukatakan bahwa : aku mencintaimu
Kala puisi tak dapat lagi mengeja tubuhmu
Yang hangus terbakar api kenangan
Hingga yang tersisa hanya sepang matamu
Yang sudah menjadi sepasang mata ingatanku.
Desember 2019.
Restu Iswara. Ia lahir di Bogor pada 14 Mei 2001. Sekarang ia menjalani aktivitas sebagai mahasiswa dan juga belajar puisi di COMPETER. Terkadang juga ia mengamalkan ilmunya di sekolah-sekolah. Dia juga merupakan kader PAC. IPNU Kecamatan Caringin, Bogor. IG : restu.iswara14














