This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

SAJAK TF. WIJAYANTI

 

(ilustrasi: google)


Istana Malaikat


Tiga dasawarsa lebih aku bertakhta di sini

Singgasana bingkai emas pada tembok yang kokoh 

Dinding istana mungil nan elok berhias canda tawa penghuninya

Dinding hijau menyejukkan 

Sesejuk jiwa tuannya.


Kala fajar menampakkan rupa

Kokok Jago di kandang belakang menyambut bagai nyanyian

Diiringi kicau Pipit bertengger di dahan pohon rindang menaungi istana

Sinar Surya menerobos tirai bambu menyiramkan kehangatan


Di Istana ini

Segala cinta tercurah

Menumbuhkan insan berbudi

Segala asa tercipta 

Dari jiwa-jiwa penuh prakarsa

Sinar kebahagiaan terpancar

Menyinari para musafir yang menyinggahi


Semua terlukis pada diriku

Potret usang para malaikat dalam istana mungil di surga dunia


Martapura, 20 November 2021




Titis Fitri Wijayanti. Nama pena: TF. Wijayanti Kelahiran Mojokerto, 29 September 1977. Tempat tinggal Martapura, Kalimantan Selatan. Pendidikan terakhir Magister Kesehatan Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi  Universitas Airlangga, Surabaya. Seorang tenaga kesehatan, penggemar sastra dan puisi. Saat ini sedang menyiapkan buku puisi dan cerpen pertama.  IG:@titis_fitri_wijayanti

SAJAK-SAJAK NI WAYAN KRISTINA

 

(Ilustrasi: Google)


Sebuah Ikatan


Kau sengaja memelihara rambutku

untuk menghitung jengkal pengalaman

dan jejak kehidupan


kau gelantungkan wangi bunga

pada ujung helai

cempaka berjejer

kuhidu semerbak rambut berombak

yang tak sekali pun kau jambak


kau sisir tiap helai

dengan napas kasih

kau tak ikat erat

agar aku bebas

memilih helai mana

aku hempas


ketika mulai memutih

kau dan aku sadar

bahwa kita tak akan

lepas ikatan


Mumbi, 11 November 2021


Kantong Kotor


Kala subuh tiba, kau bersiaga dengan sepatu hitam kinclong, kemeja putih bersih dan dasi biru metalik nyentrik. Mata-mata pengamen jalanan tak berkedip. Tangan-tangan papa tengadah minta belas kasih. Kau hanya acuh. 

Kau anggap orang-orang berkeliaran itu batu kerikil. Setibanya di gedung mewah, kau menuju "ruang surga" katamu. Kau seruput kopi, sebuah linting kau sedot penuh nikmat. Kemeja putih bersihmu tak nampak ternoda. Namun kantong-kantongmu simpan banyak dosa.


Kelandis, 13 November 2021



Ni Wayan Kristina lahir di Pupuan tahun 1991. Mengajar merupakan salah satu hobi dari perempuan yang memiliki nama pena Rambut Kristinta ini. Meskipun tidak lulusan sastra, keinginan dan ketertarikannya di dunia literasi begitu dalam khususnya puisi. Ia mulai belajar menulis puisi di Asqa Imagination School (AIS) dan Kelas Puisi Alit (KEPUL). Ia termasuk peserta yang lolos Karantina II Anugerah COMPETER 2022, sebuah ajang sastra yang pemenangnya akan diumumkan per 1 Januari 2022 mendatang. Tunak di Community Pena Terbang (COMPETER) - Indonesia. IG: @pucekristina

SAJAK-SAJAK SAFARIDA

 

Dewa Dunia


Ayah, 

Entah bagaimana cara mengurai kisah tentangmu. 

Seperti mereka bersanding kalimat mulia. 

Dengan brownis cerry merah, penuh gairah. 

Kumasuki mesin waktu, 

mengulang kembali masa kecil dulu. 

Kukais-kais memori tentangmu. 


Entah di mana kau letak kenang. 

Tak kutemukan selain garang. 

Tak pernah kau beri obat luka. 

Pada hati yang telah kau cabik-cabik. 

Di mana penawar dahaga? 

Jika alfatihah tak pernah kau eja. 


Ayah, 

Aku melompat dari mesin waktu. 

Membuka gerbang pintu ajaib. 

Mengulang-ulang kisah di dulang. 

Kapan terakhir kali aku duduk di pangkuanmu? 

Atau sekedar peluk rangkulmu

Sapu tangan penghapus air mata pun tak pernah kau hadiahkan. 


Di masa purna baktimu, 

jarak kau ciptakan, 

menjauh dari baktiku. 

Sepenggal rindu kau telan. 

Memeluk dunia kau anggap dewa. 


Tualang, 13 November 2021




Dilahap Mikrotia

Perempuan itu menabur kisah pada ruang sempit berdinding koran digital. 

Di bawah tanda cinta ia susun suku aksara. 

Galah-galah semesta menopang lara. 


Tentang Diaz yang tak sempurna dilahap mikrotia. 

Wajah mungil yang dirakit derita sejak mendengar azan dari ayahnya. 

Remah-remah takdir yang temaram. 


Kini, perempuan itu mengutip kembali derai air mata. 

Menggumpal sebongkah sumpah, 

menjahit lubang telinga dengan benang kalimat sampah. 

Harapan masih bertumpu pada liang meski sebesar biji kacang. 

 

Ia, tak lagi menghujat Tuhan di malam durkasa. 

Tak lagi bertanya kenapa dia? 

Kebal mengasah penuh sabar.

Menyusun langkah pasti, ikhlas pada takdir Ilahi. 


Tualang, 08-13 November 2021


NB: 

Mikrotia adalah kelainan bawaan lahir yang menyebabkan bayi terlahir dengan bentuk daun telinga yang tidak normal. Sebagian besar penderita mikrotia akan mengalami gangguan pendengaran.




Ulin


Adakah yang bahagia ketika langit berduka? 

Jejak tangisnya jatuh jauh ke dasar bumi. 

Apakah dia bumi, tempat bernaung organisme? 

Menampung rintik-rintik, setitik demi setitik hingga berputik. 


Siapakah dia yang menyambut bahagia? 

Curahan rezeki pengantar berkah. 

Apakah ia ulin dengan urat perkasa? 

Menampung curah, jangan tumpah. 

 

Mereka siklus, berputar terus. 

Kecuali tangan-tangan manusia rakus. 

Babat ulin hingga tandus. 


Tualang, 13 November 2021




Safarida, lahir 10 Oktober 1988 di Rasausati (sekarang Okura) salah satu desa kecil di Pekanbaru. Seorang guru sekolah dasar di lingkungan pemerintahan  Kabupaten  Siak. Mewujudkan cita-citanya menjadi manusia yang bermanfaat dengan mendirikan TBM Misbah. Menulis puisi adalah kegemarannya sejak duduk di bangku SMA. Buku puisi tunggalnya berjudul “Layar Jingga” terbit pada tahun 2020.  Pernah terlibat dalam buku Antologi Puisi Kemanusian yang berjudul “Ketika Corona Menyapa” (2020) dan buku kumpulan puisi yang mengisahkan tentang hujan dengan judul buku “Si Kelabu Penuh Rasa” (2021). Sekarang sedang belajar puisi di Asqa Imagination School (AIS). Ia termasuk peserta yang lolos Karantina II Anugerah COMPETER 2022, sebuah ajang sastra yang pemenangnya akan diumumkan per 1 Januari 2022 mendatang. Tunak di Community Pena Terbang (COMPETER) - Indonesia. Sabar, syukur, dan ikhlas adalah motto hidupnya. Kenalan lebih lanjut dengannya di FB: Safarida Dapin dan IG: @safaridadapin



SAJAK-SAJAK RAKKA JOYN

 

(ilustrasi: google)



Sketsa Taman Vondelpark


Di balik pundak lebar Joost van den Vondel

Dengarkan gemerisik di semak-semak lavender.

Pasangan berambut pirang jatuh cinta di antara kayu oak yang dipangkas

             , bercumbu, tak mengadu.

Sedang tiga kaki pohon magnolia yang mengakar.

Diganggu oleh anak laki-laki dan pelajaran naik sepeda pertamanya

Sebuah maple miring, pohon terompet, dan daun daun kering Ivy

Jadi saksi tongkat tua

             , yang berjalan dengan pemiliknya di jalan 

             , yang setia.


Taman Vondelpark, 13 November 2021



Potret Kolonialisme


di _Paleis_ _Soestdijk_.

sesepuh memahat kesombongan sekeras nefrit

congkak mengimlakan darah ibuku.

cangkang abalon berbaris di leher puteri-puteri _van Oranje_.

mencekik negeri tenggara.

tak rafi.

pasti mati hati.


Amsterdam, 9 November 2021

Rakka Joyn lahir dan besar di Kediri 34 tahun yang lalu. Pria yang memiliki hobi menyelam dan travelling ini bekerja sebagai tenaga kesehatan di kota Utrecht, Belanda. Meski tinggal di jantung kota Amsterdam, namun tidak menyurutkan niatnya untuk menyelami dunia literasi Indonesia khususnya menulis puisi. Ia belajar puisi di Asqa Imagination School (AIS). Ia termasuk peserta yang lolos Karantina II Anugerah COMPETER 2022, sebuah ajang sastra yang pemenangnya akan diumumkan per 1 Januari 2022 mendatang. Tunak di Community Pena Terbang (COMPETER) - Indonesia. IG: @rakka_joyn