Bakteri Penyebab Racun Pada Makanan



buletinkapass.com-Keracunan makanan atau foodborne disease (penyakit bawaan makanan), terutama yang disebabkan oleh bakteri patogen masih menjadi masalah yang serius di berbagai negara termasuk Indonesia yang umumnya menimbulkan kejadian luar biasa (KLB). Penyebab utama keracunan makanan adalah bakteri patogen. Makanan yang terkontaminasi oleh bakteri itu rasa dan aromanya tidak berubah sehingga tidak bisa dilihat oleh mata telanjang. Selain itu kurangnya pengetahuan tentang pencegahan keracunan makanan dan faktor penanganan serta penyimpanan makanan yang tidak benar juga mempengaruhi timbulnya keracunan makanan.

Sebelum menjadi penyebab karacunan, bakteri harus menempuh dua tahap yaitu kontaminasi dan berkembang biak. Jika makanan yang terkontaminasi bakteri dengan jumlah bakteri sedikit maka pada umumnya yang memakan makanan tersebut masih belum menderita sakit, namun seseorang akan merasa sakit jika makanan yang dimakan terkontaminasi bakteri dalam jumlah banyak dan telah melampaui daya tahan tubuh.

Untuk berkembang biak bakteri patogen membutuhkan lingkungan yang basah, hangat, dan netral, lingkungan yang asam atau basa. Bakteri akan terhambat proses perkembang biakannya jika makanan tersebut dalam keadaan kering yaitu mengandung kurang dari 15% air dan makanan beku. Keadaan yang sangat mendukung untuk perkembang biakan bakteri juga salah satunya pada daging mentah yang dibiarkan di udara terbuka pada suhu biasa. Berikut beberapa bakteri yang dapat menimbulkan racun pada makanan.

Salmonella
Berasal dari alat pencernaan manusia namun dalam jumlah yang normal. Bakteri ini terdapat pada daging mentah, telur mentah, dan seafood mentah. Bakteri ini akan mati bila terkena panas yang tinggi. Oleh karena itu dengan memasak makanan dengan baik akan terhindar dari bakteri ini.
Keracunan salmonella menunjukkan tanda-tanda pusing, sakit perut atau diare dan demam. Tanda-tanda ini timbul sekitar 12-36 jam setelah makan. Gejala berlangsung lebih dari 7 hari.

Escherichia Coli
Bakteri ini terdapat pada usus kebanyakan hewan berdarah panas. E. coli dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui konsumsi makanan yang tercemarmisalnya daging mentah, daging yang dimasak setengah matang, susu mentah, serta air yang tercemar. Gejala yang terjadi adalah kram perut, diare berdarah pada beberapa kasus, demam, mual, dan muntah.

Clostridium Perfringens
Jenis bakteri ini terdapat di tanah, debu, dan alat pencernaan manusia. Lalat banyak membawa jenis bakteri ini. Makanan atau alat masak yang akan digunakan jika dihinggapi oleh lalat yang membawa spora Clostridium Perfringens maka akan menyebabkan keracunan, oleh karena itu perlu diperhatikan kebersihan makanan dan alat-alat yang digunakan. Seseorang akan mengalami keracunan setelah 8 – 24 jam setelah makan dan akan menderita pusing serta nyeri perut, diare, mual, dan jarang disertai muntah.

Stophylococcus Aureus
Bakteri ini menyebabkan keracunan melalui intoksikasi dengan memproduksi toksik dimana bila makanan ditelan maka yang akan menyebabkan keracunan adalah toksik tersebut, bukan bakterinya. Setengah dari jumlah penduduk dunia membawa jenis bakteri ini dalam hidung, tenggorokan, rambut, dan kulit. Toksin yang dihasilkan bakteri ini bersifat tahan panas sehingga tidak mudah rusak pada suhu memasak normal. Bakteri dapat mati, tetapi toksin akan tetap tertinggal. Toksin dapat rusak secara bertahap saat pendidihan minimal selama 30 menitenis makanan yang digemari oleh bakteri ini adalah daging yang telah dimasak, makanan yang mengandung krim, telur, dan saus yang mengandung susu dan telur. Sebagai contoh, irisan daging terkena bersin dari seseorang, dari bersin itu Stophylococcus Aureus masuk pada daging dan berkembang selama setengah hari pada suhu udara. Tanda-tanda keracunan timbul sekitar 2 – 6 jam setelah makan dengan gejala mual, muntah-muntah, dan sakit perut yang hebat.

Clostridium Butolinum
Bakteri ini juga meracuni melalui intoksikasi, Toksin yang dihasilkan dinamakan botulinum, bersifat meracuni saraf (neurotoksik) yang dapat menyebabkan paralisis. Bakteri ini terdapat di tanah dan air, tidak berbahaya kecuali bila berada pada lingkungan yang tidak ada oksigen seperti produk makanan dalam kaleng yang berkadar asam rendah, ikan asap, kentang matang yang kurang baik penyimpanannya, pie beku, telur ikan fermentasi, seafood, dan madu. Bila makanan kaleng berubah jadi gembung atau minuman botol yang tutupnya telah terangkat keluar maka menandakan sudah rusak, sebaiknya jangan dikonsumsi. Gejala keracunan timbul sekitar 12 – 36 jam sesudah makan dengan gejala muntah-muntah, pandangan kabur, susah menelan, dan susah bernapas.
Berikut cara pencegahan agar terhindar dari keracunan makanan:
  1. Sesuaikan suhu pendingin selama penyimpanan makanan
  2. Makanan yang sudah dimasak sebaiknya jangan dihidangkan dalam waktu yang panjang.
  3. Perhatikan kebersihan pemasak, bahan makanan/masakan, serta tempat penyimpanan bahan makanan dan alat memasak (alat masak dicuci sebelum dan sesudah digunakan).
  4. Pemasak harus bebas dari penyakit, cuci tangan sebelum memasak, sesudah dari kamar mandi, sehabis memegang bahan makanan yang berasal dari hewan, keringkan tangan setelah dicuci dan tutup mulut sewaktu bersin atau batuk.
  5. Bersihkan bahan makanan sebelum dimasak, bersihkan kaleng makanan sebelum dibuka, jangan memasak daging setengah matang yang kemudian dipanaskan lagi, jangan menaruh makanan di sembarang tempat, cegah jangan sampai lalat menghinggapi makanan atau alat memasak. Bersihkan atau cuci jika terlanjur dihinggapi.
  6. Memasak pangan sampai matang sempurna agar sebagian besar bakteri dapat terbunuh. Proses pemanasan harus dilakukan sampai suhu di bagian pusat pangan mencapai suhu aman (> 700 C) selama minimal 20 menit.
  7. Menyimpan produk pangan olahan beku, seperti nugget, es krim, ayam goreng tepung beku, dll dalam freezer.
  8. Bersihkan bekas-bekas daging pada rak atau lemari es, gunakan peralatan yang berbeda untuk keperluan memasak yang berbeda misalnya menggunakan alat yang berbeda untuk memproses daging mentah dan daging yang telah dimasak.


Sumber: Badan POM RI

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama