This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali Terbaik Ketiga Sedunia



buletinkapass.com-Wajah baru bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai paska-renovasi tak hanya mengesankan para turis, tapi juga dunia internaisonal. Belum lama ini bandara ini diganjar penghargaan prestisius tingkat dunia dengan meraih gelar "The 3rd World Best Airport 2016" di ajang Airport Service Quality (ASQ) Awards 2016, kategori bandara dengan 15-25 juta penumpang per tahun.

ASQ, satu-satunya program benchmarking global yang mengukur tingkat kepuasan penumpang di bandara ini dilakukan oleh ACI, organisasi kebandarudaraan terkemuka di dunia yang berbasis di Montreal, Kanada.
 ACI memiliki 573 anggota yang mengoperasikan 1.751 bandara di 174 negara dan teritori. Jumlah bandara ini merepresentasikan 95 persen trafik bandara di seluruh dunia.

Penyerahan penghargaan ini dilakukan Director General ACI, Angela Gittens, kepada Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero), Danang S. Baskoro, dalam perhelatan "27th Airport Council International Africa/ World: Annual General Assembly Conference & Exhibition" di Port Louis, Mauritius, pertengahan bulan ini.
"Pengakuan ini bukti kerja keras yang selama ini kami lakukan. Kami fokus untuk selalu meningkatkan pelayanan kepada penguna jasa dan menciptakan budaya pelayanan secara terus menerus sebagai keunggulan kompetitif perusahaan," ujar Danang di Jakarta.

Sementara itu Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar diganjar "The Most Improved Airport in Asia-Pacific 2016" di ajang yang sama


tempo.co

TGKH. Muhammad Zainuddin Abd Madjid: Bintang dari Negeri 1000 Menara Masjid [1]

bagian 1

Shalih ibn ‘Ali al-Hâmid dalam bukunya Rihlah “Jâwâ al-Jamîlah wa Qishshah Dukhûl al-Islâm ilâ Syarq Âsiyâ” (Perjalanan [ke] Nusantara yang Elok dan Cerita Masuknya Islam ke Timur Asia) yang di itulis pada tahun 1936 M, pelancong dari Yaman,  sebagaimana yang dinukil oleh Ahmad Ginanjar Sya’ban meriwayatkan informasi yang kaya, penting, dan langka akan deskripsi Nusantara pada masa penjajahan Belanda ditinjau dari sudut pandang seorang pelancong asing.
Al-Hâmid berada di Nusantara selama kurang lebih setengah tahun, menjelajahi beberapa pulau (Jawa, Bali, dan Lombok) dan menghabiskan masa-masa yang sangat mengesankan. Al-Hâmid menuliskan gambaran Pulau Jawa, Bali, dan Lombok dengan sangat detail: topografi, penduduk, adat istiadat, struktur pemerintahan dan masyarakat (Belanda totok, indo-peranakan, pendatang Cina dan Arab, dan lain-lain), lembaga pendidikan, dan juga diaspora Arab-Yaman (al-Hadhârimah) serta kiprah mereka di Nusantara.
Lombok adalah salah satu daerah yang diziarahi oleh al-Hâmid dalam rihlahnya. Ia mewartakan Lombok pada tahun 1930-an dengan ungkapan, “Tempat ini adalah gambaran Firdaus yang diberikan Allah di atas muka bumi. Firdaus yang ‘tak ada mata pun dapat melihat, telinga dapat mendengar, dan bayang pikiran dapat melintas di hati manusia’. Allah memberikan karunia kepada para penduduk negeri ini dengan alam beserta pemadangan dan kesuburannya yang tiada tara”.
Dari serpihan taman firdaus inilah salah seorang putra terbaik negeri seribu masjid dilahirkan. Muhammad Syaggaf, demikian nama pemberian orang tuanya: TGH. Abdul Madjid dan Hj. Halimatussa’diyah, yang merupakan guru ngaji kampung saat itu, tokoh agama yang cukup terpandang di Bermi Pancor. Konon jelang kelahirannya, seorang alim dari Maghribi, Syaikh Ahmad Rifa’i, pernah membisiki Guru Mukminah, panggilan ta’dhim dari jama’ah untuk TGH. Abdul Madjid, bahwa anak yang akan lahir dari rahim isterinya akan menjadi ulama besar di masanya.
Doa dan pengharapan dari al-arif billah tersebut dimaknai Guru Mukminah dengan memberikan didikan yang layak bagi sang biji mata sekalipun tak mudah mendapatkan pendidikan pada masa itu di tengah himpitan kolonialisme Belanda yang pilih kasih dalam mewadahi keinginan pribumi untuk mendapatkan akses layanan pendidikan. Saggaf adalah segelintir pribumi Sasak yang mendapatkan hak istimewa tersebut. Tak hanya sekolah formal bentukan Belanda ia sasar, pun saban hari kyai-kyai kampung yang ahli agama ia datangi demi menggali dan menimba pengetahuan: fiqih, nahwu-syaraf, balaghah, dan sebagainya.
Dahaganya akan pengetahuan menemukan aliran yang tepat ketika tahun 1923 ditemani ibundanya tercinta dan beberapa keluarga besarnya merenda perjalanan menuju sumber utama cahaya pengetahuan: Mekah. Di negeri tempat berseminya Cahaya kenabian Sang Muhammad napas intelektual Saggaf bermula. Lebih kurang 12 tahun lamanya Saggaf, yang kelak berganti nama menjadi Muhammad Zainuddin, menempa diri memupuk pemahaman agama. Pintu-pintu pemilik ilmu ia kunjungi demi memenuhi rongganya yang haus pengetahuan, namun pelataran Madrasah ash-Shaulatiyah yang didirikan oleh Syaikh Rahmatullah al-Masysyath, imigran eks pemberontak kolonialisme Inggris dari India, adalah ladang ilmu yang dirasanya dapat memenuhi pengharapannya akan ilmu-ilmu agama.
Prestasi akademiknya sangat membanggakan. Zainuddin selalu selalu menjadi yang terbaik. Karena kecerdasan yang luar biasa, ia berhasil menyelesaikan masa belajarnya dalam kurun waktu 6 tahun dari waktu normal belajar 9 tahun. Dari kelas II, langsung ke IV. Tahun berikutnya ke kelas VI, dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya secara berturut-turut naik kelas VII, VIII, dan IX. Studi di Madrasah ash-Shaulatiyah ia tunaikan pada tahun 1351 H/1933 M, dengan predikat istimewa (mumtaz). Ijazahnya ditulis tangan langsung oleh seorang ahli khath terkenal di Mekah saat itu, yaitu Syaikh Dawud ar-Rumani atas usul dari Mudir Madrasah ash-Shaulatiyah dan selanjutnya ijazah tersebut diserahterimakan pada tanggal 22 Dzulhijjah 1353 H.

baca bagian ke dua disini

Keistimewaan Ijazah TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

TGKHM. Zainuddin (kiri)
Pemberian ijazah ini jelas tak lazim oleh karena biasanya ijazah ditulis, Si Fulan lulus dalam ujian dan menyelesaikan pelajarannya yang oleh karena itu diberikan ijazah Jayyid atau istimewa dan sebagainya. Namun, dalam ijazah Zainuddin tertulis, “Diberikan gelar yang melekat pada pemilik ijazah ini: “Al-Akh Al-Fadhil Al-Mahir Al-Kamil Al-Syaikh Muhammad Zainuddin Abdul Madjid al-Anfananiy” (Saudara yang mulia, sang genius sempurna, guru terhormat Zainuddin Abdul Madjid). Tak pelak, kejeniusan Zainuddin ini oleh para gurunya digelari dengan ‘Sibawaihi fi zamanihi’ (yang tak tertandingi). Nilai ijazahnya sempurna: 10 untuk semua mata pelajaran. Pun ijazahnya ditandatangani 8 guru besar pada Madrasah ash-Shaulatiyah bertanda tangan dalam ijazah, “Syahadah ma’a ad-darajah as-Syaraf al-ula” atau lebih tinggi dari predikat summa cumlaude. Mudir ash-Shaulatiyah, Maulanas Syaikh Salim Rahmatullah dan Syaikh Muhammad Said, yang merupakan keponakan pendiri Madrasah ash-Shaulatiyah mengungkapkan kekagumannya: “Cukup satu saja murid Madrasah ash-Shaulatiyah asalkan seperti Zainuddin yang semua jawabannya menggunakan syair termasuk ilmu falak yang sulit sekalipun”. Sayyid Muhammad ‘Alawi ‘Abbas Al-Maliki Al-Makki, seorang ulama terkemuka kota suci Mekah pernah mengatakan bahwa tak ada seorang pun ahli ilmu di tanah suci Mekah, baik thullab maupun ulama, yang tidak mengenal kehebatan dan ketinggian ilmu Syaikh Zainuddin. Syaikh Zainuddin adalah ulama besar bukan hanya milik umat Islam Indonesia, tetapi juga milik umat Islam sedunia. Selama di negeri sumur kearifan, Mekah, setidaknya Muhammad sempat belajar pada tiga orang guru asal Lombok dan 28 guru dari Arab dan Palembang. Dari guru-guru ini 11 orang di antaranya bermazhab Syafi’i, sedangkan 6 orang yang lain bermazhab Hanafi, dan 11 orang lagi bermazhab Maliki. Mereka kesemuanya adalah penganut faham Ahlusunnah wal Jama’ah. Sebenarnya, Zainuddin masih berhasrat bercengkerama untuk menimba kearifan dari para masyayikh (para ulama) di Mekah, tapi panggilan untuk kembali ke negerinya: Indonesia, tak dapat ia tampik. Terbayang di ingatannya belasan tahun lampau kala pertamakali meninggalkan kampung halamannya: Lombok, yang diliputi kabut gelap kejahilan karena ditimpa penjajahan Belanda. Tahun 1934 adalah tahun harus sejenak berpisah dengan para gurunya yang mulia di Tanah Haram Mekah: suatu keputusan yang tak mudah karena tak kurang dari 12 musim haji ia nyaris tak pernah jauh dari pusaran keberkahan itu. “Anakku… Pulanglah… Negerimu membutuhkanmu,” ujar Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath, Sang Guru yang amat ia kagumi, menjawab dilemmanya dan pikirannya yang galau. ‘Sabda’ yang tak bisa ia elakkan. Sesampainya di kampung halamannya, Bermi Pancor Lombok Timur, ulama muda ini langsung saja dipercayai masyarakat sekampung untuk menjadi imam dan khatib—dua kedudukan terhormat dalam pandangan masyarakat kampungnya pada masa itu. Dalam waktu yang relatif singkat, ia pun telah pula dianggap sebagai seorang ulama muda. Ia pun segera pula dikenal dengan panggilan “Tuan Guru Bajang”, demikian masyarakat menyematkan tanda penghormatan atas kealiman ilmu agamanya. Maka begitulah, tidak lama kemudian ia pun telah bisa memberanikan diri untuk mendirikan Pesantren al-Mujahiddin—sekolah agama tradisional dengan memakai sistem halaqah—murid-murid tanpa kelas duduk mengelilingi sang guru. Dari kawah candradimuka al-Mujahidin, jelajah dakwah sosial TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dimulai. Pilihan nama ‘al-Mujahidin’ jelas bukan sembarang pilih karena di dalamnya Maulanasyaikh, tanda kehormatan dari jama’ahnya, menitipkan semangat perjuangan-revolusi serta kesadaran untuk menyudahi praktik penjajahan Belanda. Saban hari, ia tak pernah lelah menyusuri kampung demi kampung untuk menyiramkan api perjuangan bagi anak negeri yang nyaris tenggelam dalam keputusasaan oleh karena begitu lamanya mereka berada dalam sekapan penjajahan. Membangun kesadaran kultural yang demikian tidak muda dilakukan oleh Sang Guru Muda tersebut karena sempat tersiar desas-desus yang boleh jadi angin dan asapnya ditiup oleh kaki tangan Belanda untuk menggerogoti jalan perjuangan yang sedang ia retas. Sejenak ia dikucilkan oleh umatnya, tapi tak melangkah mundur jelas bukan pilihannya. Kecintaannya terhadap jama’ahnya yang sempat ‘tersesat’ dan Indonesia telah mengalahkan kekecewaan, bahkan kemarahannya. “Mendidik-mengarahkan umat adalah fardhu ‘ayn. Saya berdosa sekiranya meninggalkan tugas ini,” elaknya sewaktu diadili oleh pemuka masyarakat kala itu. Badai pun berlalu. Desakan dari masyarakat untuk membangun lembaga pendidikan formal tak dapat ia bendung. Tanggal 22 Agustus 1937 sejarah itu mulai menutur riwayat: Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) namanya. Tak berhenti sampai di situ, pada tanggal 21 April 1943, lembaga pendidikan khusus perempuan ia dirikan: Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI). Pendirian lembaga pendidikan formal yang kala itu hanya dinikmati segelintir orang, jelas tindakan radikal bahkan kelewat berani, tapi bahwa membuka akses pendidikan bagi perempuan yang masih terkurung dalam kegelapan ilmu pengetahuan, jelas praktik yang sangat revolutif. Tapi Zainuddin tak punya pilihan selain melembagakan ijtihadnya demi melapangkan jalan transformasi kesadaran berbangsa serta alih nilai religiusitas-keberagamaan yang sekaligus menjadi ‘ruang inkubasi’ pengentalan cita rasa kebangsaan yang sewaktu-waktu akan diledakkan.
1 2

Berwisata ke Lungkak

Lungkak
buletinkapass.com-Satu lagi destinasi wisata bahari yang mulai terasa atmosfer pengunjung dan keberadaannya di wilayah selatan Lombok Timur, adalah Pesisir pantai Lungkak, Desa Ketapang Raya, Kec. Kruak, Lotim.

Fasilitas berupa spot selfie, spot fotografi, hutan mangrove (bakau), kuliner hingga fun sea dengan perahu tradisionalnya. Lokasi ini terletak di sebelah barat pantai Tanjung Luar. Dari tempat ini, pengunjung dapat juga menyebrang ke beberapa gili yang bertebaran, pulau pasir hingga ke pantai Pink. Recomended !

Daftar Makanan yang Bikin Tidur Jadi Lebih Nyenyak

buletinkapass.com-Tidur nyenyak di malam hari, dapat menjadi obat bagi tubuh untuk kembali segar beraktivitas esok harinya. Bukan hanya kuantitas waktu tidur, tetapi kualitas tidur juga wajib diperhatikan.
Beberapa orang tak bisa tidur dengan nyenyak karena beragam alasan. Stres karena pekerjaan, masalah asmara hingga pilihan makanan dapat mengganggu kualitas tidur. Ada banyak rekomendasi makanan dari Boldksy, Minggu (29/10) agar tidur menjadi lebih nyenyak.

Sereal
Sereal adalah snack yang sempurna disantap sebelum tidur. Sereal dikombinasikan dengan susu skim adalah sumber kalsium dan karbohidrat yang baik. Nutrisi ini bisa membuat tidur yang nyenyak tanpa membebani perut sepanjang malam.
Kacang Almond
kacang almond

Almond mengandung nutrisi yang tepat untuk meningkatkan kualitas tidur. Mengandung triptofan dan magnesium yang membantu secara alami mengurangi fungsi saraf dan otot agar rileks istirahat. Almond baik untuk jantung.

Bayam
Bayam adalah pendukung tidur yang sangat baik. Mengandung folat, magnesium dan vitamin seperti B6 dan C, bayam merupakan sumber alami asam amino yang disebut glutamin agar tidur lebih nyenyak.

Biji-bijian Utuh 
Biji-bijian atau kacang-kacangan meningkatkan kualitas tidur berkat hormon relaksasi seperti serotonin. Magnesium juga ditemukan dalam seluruh biji-bijian yang membantu otot lebih rileks

Pisang
Sebagai sumber nutrisi pisang mengandung potasium dan magnesium. Pisang kaya triptofan yang berperan penting dalam mengatur hormon tidur seperti serotonin dan melatonin.

Madu
Madu menenangkan tubuh dengan merangsang pelepasan melatonin dan membatasi pelepasan hormon orexin. Hanya butuh satu sendok madu untuk membuat tidur lebih lelap.

Gandum
Gandum dikenal sebagai makanan sarapan, bagus pula sebagai camilan di waktu malam. Gandum mengandung karbohidrat kompleks yang merangsang serotonin dan melatonin.

Ubi
Ubi jalar bisa membuat seseorang mendapatkan kualitas tidur yang prima. Ubi kaya potassium yang sangat baik dalam relaksasi otot.
Susu
Kalsium banyak ditemukan pada produk susu yang membantu otak merangsang hormon melatonin sebelum tidur. Kelebihan sekresi melatonin secara alami akan membantu pikiran lebih rileks.

Cokelat
Cokelat hitam mengandung serotonin yang dapat membuat tubuh rileks dan membuat tidur jadi lebih baik. 

jawapos

Syndrome Putri Tidur

Baru-baru ini masyarakat dikejutkan dengan seorang remaja asal Banjarmasin bernama Siti Raisa Miranda (13) yang tidur selama lebih dari dua minggu.
Siswi kelas 1 SMP yang akrab disapa Icha itu diduga terkena Kleine-Levin syndrome atau syndrome putri tidur penyakit syaraf yang langka di mana penderita tidak bisa mengontrol rasa kantuk.
"Sampai saat ini tidak ada yang tahu penyebab penyakit ini," kata praktisi kedokteran dr. Andreas Prasadja kepada ANTARA News, Sabtu.
"Penyakit ini diawali dengan gejala hypersomnia atau kantuk berlebihan bahkan jika terjadi serangan episode bisa enam hari, beberapa minggu, bahkan satu bulan, terus hilang kemudian tidak tahu kapan bisa muncul kembali," sambung dia.
Uniknya, menurut Andreas, penderita sindrom Putri Tidur tidak mengalami gangguan pada organ vitalnya. "Tekanan darah, fungsi jantung semua normal," ujar dia.
Sindrom ini biasa muncul pada usia remaja dan jarang sekali ditemukan.
"Bisa bangun tapi tidak terjaga, kesadarannya tidak penuh. Disuruh makan, mandi, bisa saja, tapi kemudian tidur lagi," kata Andreas.
Hingga kini belum ada pengobatan untuk sindrom sejenis ini.
"Hanya pengobatan simptomatik untuk mengurangi rasa kantuknya dan memuaskan selera makan karena ada gangguan perilaku juga, saat terjaga selera makan tinggi sekali," ujar Andreas.
Untuk kasus Icha, Andreas menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan yang komprehensif dari seluruh tim dokter, mulai dari dokter saraf hingga psikiatri karena banyak penyakit lain yang juga ditandai dengan hypersomnia, bukan hanya sindrom Putri Tidur.

AntaraNews

Dosen IAIH NW Pancor Menjadi Nominator Short Course Metodologi Penelitian Luar Negeri

(foto: dony)

buletinkapass.com-Dony Handriawan, yang akrab dipanggil Dony. Dosen prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) NW Pancor, berhasil menjadi nominator penerima bantuan grand penelitian rieset Interntional dalam program Short Course Metodologi Penelitian Luar Negeri (SCMPLN) ke Belanda, yang diselenggarakan oleh Subdit Bidang Penelitian dan Pengabdian Kementerian Agama (KEMENAG) RI tahun 2017 ini. 
Dosen yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Bahasa ini berhasil mempertahankan proposal riset-nya yang mengangkat tema tentang 'perspektif fungsional pembelajaran bahasa Arab di Lombok. 

Proposal yang semula bertemakan bahasa Arab; “Manzhurun Wazhifiyun Fi Tathwiri Asalibi Ta’lim al-Lughah al-Arabiyyah Li Tadriibi Mursyidy as-Siyahah Bijazirati Lumbuk” digubah menjadi sebuah artikel untuk diterbitkan pada Jurnal International dengan judul “New Perspective of Learning Arabic in Lombok as world Halal Tourism Destination”. Artikel ini selanjutnya akan dipresentasikan di Leiden University Belanda pada bulan November mendatang bersama 11 Nominator lainnya yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi Islam Terkemuka di seluruh Indonesia, seperti; UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Hal ini tentu merupakan kebanggaan bagi kampus IAH NW Pancor yang secara rutin sejak tahun 2013 berhasil mendelegasikan dosen-dosennya untuk bersaing dalam event-event International yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia. Pada program yang berbeda Tahun 2017 ini 4 (Empat) orang dosen IAIH NW Pancor berhasil meraih beasiswa S3 dalam dan luar negeri pada program 5000 Doktor Kementrian Agama Republik Indonesia. Mereka adalah Ahmad Muzayyin yang akan menempuh Studi S3 di UIN Raden Patah Pelembang, Suaidi lulus pada Program S3 Bahasa Arab di UIN Maulana Malik Ibrahim, Fathurrozak di UIN Ar-Raniry Aceh dan Dony Handriawan yang akan menempuh program Doktoral-nya di Canal University Mesir.
Selamat kepada Civitas Academika IAIH NW Pancor yang berhasil menjadi Awwardee dalam berbagai event International ini.

||red

Update Android Smartphone Nokia Lebih Cepat
















buletinkapass.com-Meski menjadi pendatang baru di pasar smartphone Android, namun Nokia memberikan janji istimewa bagi pembeli smartphone-nya. Nokia bakal memberikan update sistem operasi lebih cepat dibanding vendor lain.
Diketahui, Nokia baru saja merilis pembaruan software untuk flagship nokia 8. Kini, pengguna Nokia 8 sudah bisa menjajal sistem operasi terbaru, Android Oreo meski masih dalam versi beta. Kebijakan ini juga berlaku bagi smartphone non-flagship, seperto Nokia 3, Nokia 5, dan Nokia 6.
Hal tersebut diumbar Chief Product Officer HMD Global, Juho Sarvikas, melalui kicauan di akun Twitter personalnya (@sarvikas). Dengan ini, Nokia 8 menjadi smartphone non-Nexus dan non-Pixel pertama yang bisa menjajal Android Oreo.
Selama ini, smartphone Android yang selalu lebih dulu mendapatkan update OS adalah Nexus dan Pixel yang notabene adalah bikinan Google. Smartphone Android yang masuk dalam program Android One juga dikatakan bakal mencicipi software terbaru lebih cepat.
Belum jelas kapan Nokia merilis versi final Android Oreo untuk produk-produknya. Meski masih dalam versi beta, setidaknya Nokia menunjukkan komitmennya untuk menjadi yang tercepat meluncurkan update sistem operasi.
Nilai tambah
Hal ini bisa menjadi salah satu nilai tambah Nokia dibandingkan vendor-vendor smartphone lainnya. Saat ini diketahui Samsung, LG, HTC, Motorola, dkk, masih berupaya untuk memberikan Android Oreo ke para pengguna, sebagaimana dihimpun KompasTekno, Jumat (27/10/2017), dari BGR.
Tiap-tiap vendor smartphone sedang berupaya membuat versi Oreo yang bisa berjalan mulus di masing-masing handset buatannya, setelah OS terbaru itu dirilis Google.
Sony Xperia XZ Premium digadang-gadang bakal jadi smartphoneselanjutnya yang mendapati Android Oreo. Sementara Samsung dikatakan mulai menyebar Android Oreo untuk beberapa smartphone pada awal 2018 mendatang.
Android Oreo pertama kali diperkenalkan pada ajang Google I/O, di Mountain View, California, AS, pada Mei lalu. Peluncuran resminya pada Agustus 2017 atau sekitar dua bulan lalu.
Beberapa fitur unggulan Android Oreo mencakup background limituntuk menghemat baterai dan data, notification channel dan dots untuk mempermudah akses ke hal-hal penting, picture in picture untuk menunjang produktivitas dengan dua aplikasi pada satu waktu, serta keamanan yang diklaim lebih mumpuni.
Optimasi sistem operasi pada Android Oreo digadang-gadang bisa menghasilkan performa dua kali lebih cepat dari versi sebelumnya. Bagi pecinta emoji, ada lebih dari 60 emoji baru yang tersedia.

KOMPAS.com


IAIH NW Pancor gelar orasi di hari sumpah pemuda


Orasi terbuka yang dilaksanakan di depan kampus IAIH NW Pancor tersebut dimulai sejak pukul 8:00 hingga selesai tersebut diikuti oleh sejumlah mahasiswa mahasiswi dan seluruh pengurus BEM. (28/102017)

Presiden Mahasiswa (Presma) IAIH NW Pancor Yasin dalam orasinya menyampaikan bahwa "generasi muda harus bangkit dan memiliki kesadaran total atas fungsinya sebegai generasi muda yang akan membawa perubahan terhadap kehidupan masyarakat dan generasi muda selanjutnya"

"panitia pelaksa acara melaksanakan beberapa kegiatan yang dilaksanakan sebelum menjelang tanggal 28 oktober 2017 ini yaitu lomba orasi se kampus IAIH, Lomba menulis karya ilmiah se lombok timur dan lomba photo" (Yasin#

Kiki Sulistyo ‘Pantas’ dengan Kusala Sastra Khatulistiwa?


buletinkapass.com. Di awal Oktober, ketika mengikuti salah satu diskusi rangkaian Octofest 2017 yang bertempat di Bale ITE Mataram, saya mendengar bahwa kumpulan puisi milik Kiki masuk sebagai nominasi dalam ajang penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Batin saya hangat oleh euforia. Terlebih lagi yang menjadi bahan diskusi malam itu adalah Di Ampenan, Apa lagi yang Kau Cari? –buku yang membawa Kiki menjadi nominator di ajang tersebut.

Setelah 2009, sejak Dongeng Anjing Api karya Gustu Sinduputra memenangkan kategori puisi di ajang yang sama, kita tidak lagi mengirimkan wakil. Saya pikir, karena saya baru tiga tahun berdomisili di Mataram, saat itu kita sedang terjebak dalam kebiasaan buruk para amatiran yakni ejakulasi dini. Perasaan puas yang terlampau cepat atas sebuah pencapaian literer membuat kita jadi menurunkan standar dalam berkarya, entah itu pada kualitas maupun produktivitasnya. Real Madrid saja tidak puas dengan gelar juara Liga Champions Tahun 2015/2016, mereka mengulanginya satu tahun kemudian dan mencetak sejarah. Seperti itu analoginya.



Namun kemudian kalau mengingat-ingat lagi bahwa kita hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan satu juta lebih manusia yang berpotensi jadi penulis, agaknya ekspektasi itu memang berlebihan. Kita tidak pernah tahu berapa persen dari angka itu yang setiap tahun akan memilih tabah di komunitas sastra. Tidak juga dapat dibayangkan dari persentase itu, berapa orang yang memang benar-benar terasah nyali dan kemampuannya. Sehingga kalau dipikir-pikir lagi, mengharapkan NTB atau khususnya Lombok untuk selalu muncul di ajang penghargaan pada dasarnya adalah bagian dari kepicikan itu sendiri.

Setiap daerah di Indonesia mempunyai geliat sastranya masing-masing. Pada kesibukan-kesibukan itulah setiap komunitas memunculkan figur-figur yang dominan. Katakanlah sebagai contoh, –para kompetitor Kiki- Surabaya punya Dadang Ari Murtono, Padang punya Heru Joni Putra, Blitar punya W. Haryanto, dan Yogyakarta punya Hasta Indriyana. Bukankah orang-orang ini adalah segolongan kaum yang keren di jagat sastra? Kurang jeli apa Richard Oh dan Takashi Ichiki dengan bakat-bakat ini?

Jika kita percaya bahwa kedua inisiator penghargaan ini adalah orang-orang yang benar menyukai Sastra Indonesia, seharusnya kita paham bahwa kompetisi di ajang ini memang berat. Geger Riyanto beserta sembilan juri lainnya saya yakin berdebat panjang perihal juara di hati masing-masing. Terlepas kemudian dari faktor "invisible hands" pada diri Richard Oh atau para sponsor lainnya yang dapat berpengaruh pada hasil penjurian, saya menguatkan diri untuk percaya bahwa beberapa penyair kurus di dalamnya memang sedang bertarung di Kelas Berat.

Saya tidak meragukan kualitas kepenyairan Heru Joni Putra, yang oleh Esha Tegar Putra beberapa hari lalu disebut-sebut sebagai penyair yang mencoba melakukan pembacaan ulang atas model penulisan puisi liris Minang. Tidak pula ada keraguan di diri saya perihal pengaruh Mas Hasta Indriyana yang mengakar di Jogja. Keduanya seperti Prabowo-Hatta Rajasa yang terlalu keren untuk sekadar menjadi Capres-Cawapres. Beliau-beliau pantas jadi juara sungguhan, sungguh!

Namun sastra memanglah tidak eksak. Label juara tidaklah mengacu pada jumlah jawaban benar atau salah. Pada penghargaan semacam ini, bahkan mungkin di level yang paling masyhur seperti nobel, juri prinsipnya hanya memilih suara terbanyak dari nilai yang dikomparasi dengan cita rasa estetis juri sendiri. Jadilah para nominator adalah juara dalam artian yang sebenarnya, baik secara estetika maupun ekonomi. Popularitas yang naik mendorong nilai tawar turut naik, entah itu pada prestise pengarang maupun karyanya.

Ketika pertama kali diperkenalkan di tahun 2009, saya sudah menganggap Kiki sebagai pribadi yang memandang sastra sebagai sebuah dunia dengan jejaring luas. Saya yang saat itu mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di Lombok Timur merasa bahwa beberapa ide Kiki tentang penguatan penulisan sastra memang ada benarnya. Saya bercerita kepadanya bahwa di mata kuliah yang saya ampu, saya mewajibkan para mahasiswa untuk mengumpulkan karya khususnya puisi sebagai salah satu komponen nilai akhir. Dengan populasi mahasiswa mencapai dua ratusan orang, dengan asumsi bahwa masing-masing mahasiswa mengumpulkan minimal dua saja puisi, maka jumlah puisi yang terkumpul dapat mencapai empat ratus buah. Jumlah ini belum termasuk mereka yang merasa mampu mengumpulkan empat atau lima puisi. Kalau menjadi korpus penelitian, ini adalah angka yang luar biasa.

Menurut Kiki, andai saja saya jeli maka dari empat ratus lebih puisi mahasiswa pertahun itu ia meyakini akan ada beberapa diantaranya yang berkualitas bagus. Ia tampaknya setuju dengan metode yang saya terapkan dan karenanya meminta ‘lebih’. Jeleknya dari hal ini adalah bahwa saya tidak punya daya setangguh dan naluri setajam dirinya. Mengamati dan memindai lima belas puisi saja adalah hal yang melelahkan, apalagi hingga empat ratus. Lagipula yang terbersit di benak saya saat itu terkait penugasan puisi ialah lebih dalam rangka mengatasi masalah logis yang saya temukan di sebagian besar mahasiswa, yaitu rendahnya apresiasi terhadap puisi. Dengan meminta mereka menulis puisi saya berharap bahwa bentuk apresiasi yang diberikan tidak dalam pembacaan atau analisis semata, tetapi berkelanjutan hingga tahap penulisan.

Dari contoh ini saja, Kiki menurut saya sangat peduli akan pentingnya kegiatan pembinaan menulis. Suatu tuntutan yang pada diri saya di satu sisi sangat masuk akal, namun di sisi lain membutuhkan komitmen dan konsistensi jangka panjang. Dalam konteks inilah kemudian saya mulai mengenal keterlibatan Kiki di komunitas utamanya yang berada di Mataram. Tanggung jawab sosial ini yang sepertinya mendorongnya untuk sering berkunjung ke Lombok Timur. Tidak heran jika kemudian dalam banyak segi Sanggar Narariawani saat itu seolah mendapatkan ‘les privat’ darinya baik menyangkut penulisan kreatif, pengembangan komunitas, maupun keberanian untuk berkompetisi di media lokal dan nasional.

Lewat Kiki pula saya dijerumuskan untuk menulis puisi, laku yang sejatinya tidak pernah saya genapi meskipun mengambil kuliah di jurusan sastra. Puisi bagi saya sebelum mengajar dan bertemu dengan Kiki ialah sebuah genre, suatu bagian dari sastra yang memampatkan dirinya demi disebut estetis. Selama lima tahun di Jogja, puisi lebih merupakan deretan buku wajib yang tertata rapi di rak buku. Ketidakacuhan ini yang mungkin menyebabkan saya harus dua kali memperbaiki nilai C yang saya peroleh dari mata kuliah Prof. Rachmat Djoko Pradopo.

Semacam ironi yang ketika itu dilontarkan kepada saya ialah bahwa tidak elok rasanya jika seorang pengajar sastra tidak mampu menulis karya sastra. Sinisme dari ucapan ini terletak pada muatan keraguan akan kualitas kognitif dan afektif pada diri saya. Jadilah harga diri literer saya memberontak dan memaksa saya untuk menjawab tantangan tersebut. Hasilnya, tidak usah lah menanyakan seberapa bagus puisi-puisi saya.

Hal berikutnya yang masih teringat dari kebiasaan Kiki ialah perihal pendokumentasian. Saran darinya untuk menulis puisi itu sejatinya demi dokumentasi juga. Puisi-puisi mahasiswa yang saya jilid juga adalah bentuk dokumentasi. Antologi-antologi puisi yang diterbitkan atas inisiatifnya juga merupakan bagian dari dokumentasi. Termasuk, bantuan-bantuan yang ia berikan kepada banyak penulis muda tentang lika-liku pengiriman karya di media cetak ternyata mengandung motif dokumentasi pula.

Ia bagi saya menjadi sosok yang penting sejak itu. Karyanya beberapa kali menjadi bahan diskusi di kelas. Seringnya, karya “anak didiknya” juga saya turutkan demi hipotesis bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pada diri Fatih Kudus Jaelani, Rifat Khan, serta Fendi lah saya dapati dugaan-dugaan itu -bahwa meskipun memilih model pengucapan yang berbeda, toh karya dari yang lebih muda-muda ini dibaca dan didiskusikan pula dengan Kiki.

Di Akarpohon, komunitas yang didirikannya sejak 2009, Kiki menurut saya ialah mediator yang menghubungkan antara pelaku seni di Mataram dengan kalangan pemuda/mahasiswa yang masih bergelut dengan urusan akademis. Penekanan ini perlu karena poin lanjutan yang patut dilihat dari sosok Kiki ialah kepeduliannya akan regenerasi. Di 2009, kita mungkin tidak mengenal Bayu Pratama, Ilda Karwayu, Iin Farliani, atau Maywin Asmara. Mereka bisa saja masih puber dengan seragam SMP atau SMA-nya. Sekarang, mereka adalah kompetitor –seperti ujar Esha Tegar Putra- di media-media cetak baik lokal maupun nasional. Di 2013 Irma Agryanti bagi saya adalah PNS yang nyambi jadi penyair, jadi selain wajahnya yang cantik tidak ada lagi sisi rayuan semu yang dapat saya utarakan padanya. Namun kini, saya terpesona padanya luar dalam.

Jadi apa yang istimewa dari anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa Tahun 2017 Kategori Puisi yang dimenangkan oleh Kiki Sulistyo? Menjawab ini kita perlu meniliknya dari beberapa pertimbangan. Yang pertama, tanpa pretensi membesar-besarkan ajangnya, Kusala Sastra Khatulistiwa memang merupakan anugerah yang bergengsi bagi para penulis di Indonesia. Hingga usianya yang ke-17 ajang ini telah melambungkan nama-nama seperti Gustu Sinduputra, Gunawan Maryanto, maupun F. Aziz Manna. Kekuatan publikasi yang dimiliki oleh gabungan Gramedia, Ford Foundation, Djarum Foundation, serta Montblanc merupakan senjata yang ampuh mendongkrak gengsi di ajang ini. Kedua, Kusala Sastra Khatulistiwa benar-benar membenturkan para penulis yang secara kualitas telah mapan di Indonesia. Untuk tahun ini saja, Kiki harus berhadapan dengan Dadang Ari Murtono, Heru Joni Putra, W. Haryanto, Nermi Silaban, Isbedi Setiawan Z, Toni Lesmana, Deddy Arsyadi, Iyut Fitrah, serta Hasta Indriyana. Nama-nama yang tidak asing, bukan? Ketiga, kemenangan Kiki merupakan imbalan atas kerja kerasnya selama ini. Dengan tidak menganggap ajang ini sebagai puncak karir, Kiki telah menapaki lagi satu tangga dalam proses kepengarangannya. Dahaga sebagai pribadi sekaligus sebagai representasi kepenyairan dari Lombok nan jauh agaknya terbayar dengan capaian ini. Saya yakin bukan hanya Kiki yang puas dengan raihan segepok uang berikut bolpoin Montblanc yang prestisius itu. Kawan-kawannya disini pun turut merasa bangga. Di Ampenan, Apalagi Yang Kau Cari?, buku yang secara teknik penulisan menurut Kiki jauh di bawah Penangkar Bekisar nyatanya di mata para juri mampu menjadi yang terpopuler.

Saya disini tidak hendak melihat anugerah yang diraih Kiki dari perspektif estetika literer. Para juri di ajang ini jauh lebih kompeten ketimbang saya. Yang dapat saya lakukan senyampang ini ialah menyampaikan sisi lain yang menurut saya turut menopang keberhasilan Kiki. Keuletan, komitmen dalam pengembangan komunitas, serta kepeduliannya akan penulis-penulis muda saya rasa merupakan beberapa dari sekian banyak hal yang mendukung pencapaian ini. Yang jelas, Di Ampenan, Apalagi Yang Kau Cari? janganlah menjadi klimaks bagi kepenyairan Kiki. Kita para pendukungnya akan berdosa jika setelah ini menganggap bahwa dahaga kita terpuaskan.

Terakhir, apa atau siapa setelah Kiki? Secara tidak langsung, keberhasilan Kiki di ajang Kusala Sastra Khatulistiwa telah membuka jalan yang lebar bagi para penulis lainnya untuk unjuk diri dan menawarkan kualitas penulisan yang tidak berbeda jauh. Kebahagiaan Kiki saat ini sejatinya derita bagi kita karena jadinya banyak mata yang mulai melek pada penulis-penulis NTB. Kalau secara kualitas saja sudah berbeda jauh, dunia mungkin akan menuduh bahwa kerja keras Kiki selama ini berbanding terbalik dengan capaian estetis para penulis yang telah mati-matian disokongnya. Maka mari bekerja sembari berdoa bahwa suatu saat nanti kita akan melewati pencapaian Kiki hari ini.

Itsna Hadi Saptiawan

IAIH NW Pancor gelar persiapan wisuda


30 orang dosen dan Tata Usaha (TU) IAIH NW Pancor mengadakan rapat dalam rangka persiapan wisuda ke . Pancor 25/10/17

Kegiatan yang dilaksanakan di gedung birrul wa lidain lantai 2 dimulai sejak pukul 16:00 wita tersebut dalam rangka persiapan pelaksanaan wisuda IAIH NW Pancor.

Dalam pidatonya, Mastur, M.Pd selaku ketua panitia wisuda ke 19 menyampaikan bahwa "pelaksanaan wisuda tersebut akan dilaksanakan wisuda akan mengikuti agenda kegiatan yang akan disesuaikan dengan agenda dari rektor IAIH NW Pancor. Dalam kegiatan ini kita akan berusaha mendatangkan beberapa tamu diantaranya: kopertais, kemenag, mentri pendidikan tinggi dan tamu lainnya"

"sedangkan untuk ujian skripsi akan berahir hingga tanggal 10 November 2017" (Mastur)

Sementara itu Zulkarnain selaku operator kampus yang ditugaskan di kopertais wilayah IV Surabaya menyampaikan terkait dengan pengadaan yudisium bahwa "yudisium kita akan mengikuti agenda yang akan daksanaka nanti pada tanggal 15 November 2017"

ys.m

Wisata Lombok Yang Kian Mendunia

Praya-Lombok Tengah
Meski terbilang masih baru di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), namun obyek wisata yang berada di Desa Setanggor Kecamatan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah ini seketika melejit dan menjadi primadona para penikmat wisata alam.
Dengan balutan konsep wisata religi yang memanfaatkan potensi alam pedesaan, menjadi daya tarik tersendiri untuk memikat para wisatawan nusantara maupun mancanegara dengan sajian paket wisata yang cukup komplit.
OBYEK WISATA RELIGI YANG DIRINTIS SEJAK SEPTEMBER 2016 INI, TIDAK DIBANGUN DENGAN LANDMARK MEWAH LAYAKNYA KAWASAN PARIWISATA YANG MENYEDIAKAN HOTEL-HOTEL PENCAKAR LANGIT.
“Paket wisata yang kami tawarkan hanya keindahan panorama alam pedesaan serta budaya dan kuliner tradisional masyarakat Sasak di pulau Lombok,” jelas penggagas Wisata Religi Desa Setanggor, Ida Wahyuni Sahabuddin, Rabu (23/8/2017).
Wisata Desa Setanggor ini, menurut Mbak Ida – sapaan akrab Ida Wahyuni Sahabuddin- terinspirasi dari banyaknya potensi yang bisa dikembangkan oleh masyarakat setempat, sehingga mampu mendatangkan pendapatan bagi masyarakat yang mayoritas berpenghasilan sebagai penun dan petani ini.
Setidaknya ada 14 spot atau area wisata yang disajikan untuk para wisatawan yang berkunjung ke Desa Setanggor ini. Semuanya bisa dinikmati di perkampungan dan berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar. Bahkan, kata Mbak Ida, bagi wisatawan yang ingin ikut ke pasar bersama ibu-ibu rumah tangga untuk belanja keperluan sehari-hari juga diperbolehkan.
“Nuansa perkampungan inilah yang justeru banyak disukai para wisatawan asing,” kata Mbak Ida.
Para wisatawan yang ingin menginap di tempat iini, katanya, akan menempati rumah-rumah penduduk yang telah ditentukan oleh pengelola. Demikian pula dengan wisatawan Muslim akan diajak mengaji membaca Alqur’an di tengah hamparan persawahan warga.
“Apalagi oleh turis asal Timur Tengah dan Malaysia, paling menyukai mengaji di tengah persawahan itu pada malam hari. Mereka bisa menikmati keindahan alam sambil membaca kitab-kita suci Alqur’an,” jelas Mbak Ida.
Lokasi Desa Setanggor yang hanya berjarak sekira 5 kilometer dari Bandara Internasional Lombok, membuat obyek wisata ini mudah dicari para wisatawan dengan memilih aneka paket wisata yang telah disediakan.
Apa saja keunggulan yang ditawarkan Desa Setanggor kepada para wisatawan?, Mbak Ida menjelaskan, mulai dari wisata budaya, pendidikan, agrobisnis, kuliner, sanggar seni yang menampilkan musik tradisional Lombok seperti gamelan dan sebagainya, serta panorama alam persawahan di tengah perkampungan yang memberikan kesan obyek wisata ini memang memesona dan layak untuk dinikmati.
Sampai saat ini, imbuh Mbak Ida, turis mancanegara yang banyak mengincar obyek wisata Desa Setanggor banyak berdatangan dari negara Prancis, Belanda, China, Malaysia dan dari Timur Tengah.


pesonalombok

Hari kedua kunjungan kerja Presiden Joko Widodo di Lombok

buletinkapass.com-Hari kedua kunjungan kerja Presiden Joko Widodo di Lombok, Nusa Tenggara Barat, dimulai dengan mengunjungi Pantai Mandalika. Di sana Jokowi akan mengecek Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Pantauan di salah satu hotel di Kota Mataram tempat rombongan Presiden menginap, Jumat (20/10), Jokowi keluar hotel sekitar pukul 08.10 WITA atau 07.10 WIB.
Saat turun lift, Jokowi langsung disambut oleh Gubernur NTB TGH Zainul Majdi dan Erica Majdi beserta kedua putrinya, Azzadina Johara Majdi dan Khadija Hibbaty Majdi. Jokowi lalu sempat 
foto bareng jokowi
Jokowi dan keluarga Gubernur NTB. (Foto: Yudhistira Amran/kumparan)
Selain itu, Jokowi juga sempat menggendong putri pertama Gubernur yang bernama Azzadina. Yang menarik, saat digendong, putri Gubernur itu sempat sedikit menolak namun akhirnya bersedia digendong oleh Jokowi.

Turut hadir dalam kunjungan kerja ini, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Haji Zainul Majdi. Lalu ada juga Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono, Danpaspampres Mayjen TNI (Mar) Suhartono, dan Sekretaris Militer Presiden Marsda TNI Trisno Hendradi.


kumparan.com

Nokia 9 Dilengkapi Kamera Ganda


Nokia 9 diyakini akan menjadi smartphone premium terbaru dari HMD. Perusahaan asal Finlandia tersebut dilaporkan sedang menyiapkan Nokia 9 dan berencana merilisnya pada awal tahun depan.
Dilansir Phone Arena, Selasa (24/10/2017), seiring dengan rencana kehadiran Nokia 9, rumor mengenai smartphone semakin banyak muncul di internet. Selain sejumlah spesifikasi, gambar diduga Nokia 9 juga turut menghiasi ranah maya.
Kali ini kembali muncul laporan baru mengenai Nokia 9 berupa gambar casing belakangnya. Berdasarkan gambar tersbeut, Nokia 9 memiliki dua kamera belakang dan sensor pemindai sidik jari. Fitur keamanan tersebut terletak di bawah kamera utama.
Sejauh ini belum ada informasi mengenai material yang digunakan untuk membalut Nokia 9. Namun, gambar yang beredar menunjukkan casing belakang yang glossy.
Adapun HMD sampai saat ini belum memberikan konfirmasi terkait rumor Nokia 9 yang banyak beredar di internet. Smartphone tersebut dilaporkan memiliki layar AMOLED 5,5 inci dengan resolusi Quad HD, OS Android 8.0 Oreo, dan USB Type-C.
Menurut laporan sebelumnya, smartphone flagship terbaru HMD ini akan dijual seharga 750 Euro atau setara Rp 11,7 juta (asumsi kurs Rp 15.681 per 1 Euro).

liputan6