Keistimewaan Ijazah TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

TGKHM. Zainuddin (kiri)
Pemberian ijazah ini jelas tak lazim oleh karena biasanya ijazah ditulis, Si Fulan lulus dalam ujian dan menyelesaikan pelajarannya yang oleh karena itu diberikan ijazah Jayyid atau istimewa dan sebagainya. Namun, dalam ijazah Zainuddin tertulis, “Diberikan gelar yang melekat pada pemilik ijazah ini: “Al-Akh Al-Fadhil Al-Mahir Al-Kamil Al-Syaikh Muhammad Zainuddin Abdul Madjid al-Anfananiy” (Saudara yang mulia, sang genius sempurna, guru terhormat Zainuddin Abdul Madjid). Tak pelak, kejeniusan Zainuddin ini oleh para gurunya digelari dengan ‘Sibawaihi fi zamanihi’ (yang tak tertandingi). Nilai ijazahnya sempurna: 10 untuk semua mata pelajaran. Pun ijazahnya ditandatangani 8 guru besar pada Madrasah ash-Shaulatiyah bertanda tangan dalam ijazah, “Syahadah ma’a ad-darajah as-Syaraf al-ula” atau lebih tinggi dari predikat summa cumlaude. Mudir ash-Shaulatiyah, Maulanas Syaikh Salim Rahmatullah dan Syaikh Muhammad Said, yang merupakan keponakan pendiri Madrasah ash-Shaulatiyah mengungkapkan kekagumannya: “Cukup satu saja murid Madrasah ash-Shaulatiyah asalkan seperti Zainuddin yang semua jawabannya menggunakan syair termasuk ilmu falak yang sulit sekalipun”. Sayyid Muhammad ‘Alawi ‘Abbas Al-Maliki Al-Makki, seorang ulama terkemuka kota suci Mekah pernah mengatakan bahwa tak ada seorang pun ahli ilmu di tanah suci Mekah, baik thullab maupun ulama, yang tidak mengenal kehebatan dan ketinggian ilmu Syaikh Zainuddin. Syaikh Zainuddin adalah ulama besar bukan hanya milik umat Islam Indonesia, tetapi juga milik umat Islam sedunia. Selama di negeri sumur kearifan, Mekah, setidaknya Muhammad sempat belajar pada tiga orang guru asal Lombok dan 28 guru dari Arab dan Palembang. Dari guru-guru ini 11 orang di antaranya bermazhab Syafi’i, sedangkan 6 orang yang lain bermazhab Hanafi, dan 11 orang lagi bermazhab Maliki. Mereka kesemuanya adalah penganut faham Ahlusunnah wal Jama’ah. Sebenarnya, Zainuddin masih berhasrat bercengkerama untuk menimba kearifan dari para masyayikh (para ulama) di Mekah, tapi panggilan untuk kembali ke negerinya: Indonesia, tak dapat ia tampik. Terbayang di ingatannya belasan tahun lampau kala pertamakali meninggalkan kampung halamannya: Lombok, yang diliputi kabut gelap kejahilan karena ditimpa penjajahan Belanda. Tahun 1934 adalah tahun harus sejenak berpisah dengan para gurunya yang mulia di Tanah Haram Mekah: suatu keputusan yang tak mudah karena tak kurang dari 12 musim haji ia nyaris tak pernah jauh dari pusaran keberkahan itu. “Anakku… Pulanglah… Negerimu membutuhkanmu,” ujar Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath, Sang Guru yang amat ia kagumi, menjawab dilemmanya dan pikirannya yang galau. ‘Sabda’ yang tak bisa ia elakkan. Sesampainya di kampung halamannya, Bermi Pancor Lombok Timur, ulama muda ini langsung saja dipercayai masyarakat sekampung untuk menjadi imam dan khatib—dua kedudukan terhormat dalam pandangan masyarakat kampungnya pada masa itu. Dalam waktu yang relatif singkat, ia pun telah pula dianggap sebagai seorang ulama muda. Ia pun segera pula dikenal dengan panggilan “Tuan Guru Bajang”, demikian masyarakat menyematkan tanda penghormatan atas kealiman ilmu agamanya. Maka begitulah, tidak lama kemudian ia pun telah bisa memberanikan diri untuk mendirikan Pesantren al-Mujahiddin—sekolah agama tradisional dengan memakai sistem halaqah—murid-murid tanpa kelas duduk mengelilingi sang guru. Dari kawah candradimuka al-Mujahidin, jelajah dakwah sosial TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dimulai. Pilihan nama ‘al-Mujahidin’ jelas bukan sembarang pilih karena di dalamnya Maulanasyaikh, tanda kehormatan dari jama’ahnya, menitipkan semangat perjuangan-revolusi serta kesadaran untuk menyudahi praktik penjajahan Belanda. Saban hari, ia tak pernah lelah menyusuri kampung demi kampung untuk menyiramkan api perjuangan bagi anak negeri yang nyaris tenggelam dalam keputusasaan oleh karena begitu lamanya mereka berada dalam sekapan penjajahan. Membangun kesadaran kultural yang demikian tidak muda dilakukan oleh Sang Guru Muda tersebut karena sempat tersiar desas-desus yang boleh jadi angin dan asapnya ditiup oleh kaki tangan Belanda untuk menggerogoti jalan perjuangan yang sedang ia retas. Sejenak ia dikucilkan oleh umatnya, tapi tak melangkah mundur jelas bukan pilihannya. Kecintaannya terhadap jama’ahnya yang sempat ‘tersesat’ dan Indonesia telah mengalahkan kekecewaan, bahkan kemarahannya. “Mendidik-mengarahkan umat adalah fardhu ‘ayn. Saya berdosa sekiranya meninggalkan tugas ini,” elaknya sewaktu diadili oleh pemuka masyarakat kala itu. Badai pun berlalu. Desakan dari masyarakat untuk membangun lembaga pendidikan formal tak dapat ia bendung. Tanggal 22 Agustus 1937 sejarah itu mulai menutur riwayat: Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) namanya. Tak berhenti sampai di situ, pada tanggal 21 April 1943, lembaga pendidikan khusus perempuan ia dirikan: Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI). Pendirian lembaga pendidikan formal yang kala itu hanya dinikmati segelintir orang, jelas tindakan radikal bahkan kelewat berani, tapi bahwa membuka akses pendidikan bagi perempuan yang masih terkurung dalam kegelapan ilmu pengetahuan, jelas praktik yang sangat revolutif. Tapi Zainuddin tak punya pilihan selain melembagakan ijtihadnya demi melapangkan jalan transformasi kesadaran berbangsa serta alih nilai religiusitas-keberagamaan yang sekaligus menjadi ‘ruang inkubasi’ pengentalan cita rasa kebangsaan yang sewaktu-waktu akan diledakkan.
1 2

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama