
buletinkapass.com. Di awal Oktober, ketika mengikuti salah satu diskusi rangkaian Octofest 2017 yang bertempat di Bale ITE Mataram, saya mendengar bahwa kumpulan puisi milik Kiki masuk sebagai nominasi dalam ajang penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Batin saya hangat oleh euforia. Terlebih lagi yang menjadi bahan diskusi malam itu adalah Di Ampenan, Apa lagi yang Kau Cari? –buku yang membawa Kiki menjadi nominator di ajang tersebut.
Setelah 2009, sejak Dongeng Anjing Api karya Gustu Sinduputra memenangkan kategori puisi di ajang yang sama, kita tidak lagi mengirimkan wakil. Saya pikir, karena saya baru tiga tahun berdomisili di Mataram, saat itu kita sedang terjebak dalam kebiasaan buruk para amatiran yakni ejakulasi dini. Perasaan puas yang terlampau cepat atas sebuah pencapaian literer membuat kita jadi menurunkan standar dalam berkarya, entah itu pada kualitas maupun produktivitasnya. Real Madrid saja tidak puas dengan gelar juara Liga Champions Tahun 2015/2016, mereka mengulanginya satu tahun kemudian dan mencetak sejarah. Seperti itu analoginya.
Namun kemudian kalau mengingat-ingat lagi bahwa kita hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan satu juta lebih manusia yang berpotensi jadi penulis, agaknya ekspektasi itu memang berlebihan. Kita tidak pernah tahu berapa persen dari angka itu yang setiap tahun akan memilih tabah di komunitas sastra. Tidak juga dapat dibayangkan dari persentase itu, berapa orang yang memang benar-benar terasah nyali dan kemampuannya. Sehingga kalau dipikir-pikir lagi, mengharapkan NTB atau khususnya Lombok untuk selalu muncul di ajang penghargaan pada dasarnya adalah bagian dari kepicikan itu sendiri.
Setiap daerah di Indonesia mempunyai geliat sastranya masing-masing. Pada kesibukan-kesibukan itulah setiap komunitas memunculkan figur-figur yang dominan. Katakanlah sebagai contoh, –para kompetitor Kiki- Surabaya punya Dadang Ari Murtono, Padang punya Heru Joni Putra, Blitar punya W. Haryanto, dan Yogyakarta punya Hasta Indriyana. Bukankah orang-orang ini adalah segolongan kaum yang keren di jagat sastra? Kurang jeli apa Richard Oh dan Takashi Ichiki dengan bakat-bakat ini?
Jika kita percaya bahwa kedua inisiator penghargaan ini adalah orang-orang yang benar menyukai Sastra Indonesia, seharusnya kita paham bahwa kompetisi di ajang ini memang berat. Geger Riyanto beserta sembilan juri lainnya saya yakin berdebat panjang perihal juara di hati masing-masing. Terlepas kemudian dari faktor "invisible hands" pada diri Richard Oh atau para sponsor lainnya yang dapat berpengaruh pada hasil penjurian, saya menguatkan diri untuk percaya bahwa beberapa penyair kurus di dalamnya memang sedang bertarung di Kelas Berat.
Saya tidak meragukan kualitas kepenyairan Heru Joni Putra, yang oleh Esha Tegar Putra beberapa hari lalu disebut-sebut sebagai penyair yang mencoba melakukan pembacaan ulang atas model penulisan puisi liris Minang. Tidak pula ada keraguan di diri saya perihal pengaruh Mas Hasta Indriyana yang mengakar di Jogja. Keduanya seperti Prabowo-Hatta Rajasa yang terlalu keren untuk sekadar menjadi Capres-Cawapres. Beliau-beliau pantas jadi juara sungguhan, sungguh!
Namun sastra memanglah tidak eksak. Label juara tidaklah mengacu pada jumlah jawaban benar atau salah. Pada penghargaan semacam ini, bahkan mungkin di level yang paling masyhur seperti nobel, juri prinsipnya hanya memilih suara terbanyak dari nilai yang dikomparasi dengan cita rasa estetis juri sendiri. Jadilah para nominator adalah juara dalam artian yang sebenarnya, baik secara estetika maupun ekonomi. Popularitas yang naik mendorong nilai tawar turut naik, entah itu pada prestise pengarang maupun karyanya.
Ketika pertama kali diperkenalkan di tahun 2009, saya sudah menganggap Kiki sebagai pribadi yang memandang sastra sebagai sebuah dunia dengan jejaring luas. Saya yang saat itu mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di Lombok Timur merasa bahwa beberapa ide Kiki tentang penguatan penulisan sastra memang ada benarnya. Saya bercerita kepadanya bahwa di mata kuliah yang saya ampu, saya mewajibkan para mahasiswa untuk mengumpulkan karya khususnya puisi sebagai salah satu komponen nilai akhir. Dengan populasi mahasiswa mencapai dua ratusan orang, dengan asumsi bahwa masing-masing mahasiswa mengumpulkan minimal dua saja puisi, maka jumlah puisi yang terkumpul dapat mencapai empat ratus buah. Jumlah ini belum termasuk mereka yang merasa mampu mengumpulkan empat atau lima puisi. Kalau menjadi korpus penelitian, ini adalah angka yang luar biasa.
Menurut Kiki, andai saja saya jeli maka dari empat ratus lebih puisi mahasiswa pertahun itu ia meyakini akan ada beberapa diantaranya yang berkualitas bagus. Ia tampaknya setuju dengan metode yang saya terapkan dan karenanya meminta ‘lebih’. Jeleknya dari hal ini adalah bahwa saya tidak punya daya setangguh dan naluri setajam dirinya. Mengamati dan memindai lima belas puisi saja adalah hal yang melelahkan, apalagi hingga empat ratus. Lagipula yang terbersit di benak saya saat itu terkait penugasan puisi ialah lebih dalam rangka mengatasi masalah logis yang saya temukan di sebagian besar mahasiswa, yaitu rendahnya apresiasi terhadap puisi. Dengan meminta mereka menulis puisi saya berharap bahwa bentuk apresiasi yang diberikan tidak dalam pembacaan atau analisis semata, tetapi berkelanjutan hingga tahap penulisan.
Dari contoh ini saja, Kiki menurut saya sangat peduli akan pentingnya kegiatan pembinaan menulis. Suatu tuntutan yang pada diri saya di satu sisi sangat masuk akal, namun di sisi lain membutuhkan komitmen dan konsistensi jangka panjang. Dalam konteks inilah kemudian saya mulai mengenal keterlibatan Kiki di komunitas utamanya yang berada di Mataram. Tanggung jawab sosial ini yang sepertinya mendorongnya untuk sering berkunjung ke Lombok Timur. Tidak heran jika kemudian dalam banyak segi Sanggar Narariawani saat itu seolah mendapatkan ‘les privat’ darinya baik menyangkut penulisan kreatif, pengembangan komunitas, maupun keberanian untuk berkompetisi di media lokal dan nasional.
Lewat Kiki pula saya dijerumuskan untuk menulis puisi, laku yang sejatinya tidak pernah saya genapi meskipun mengambil kuliah di jurusan sastra. Puisi bagi saya sebelum mengajar dan bertemu dengan Kiki ialah sebuah genre, suatu bagian dari sastra yang memampatkan dirinya demi disebut estetis. Selama lima tahun di Jogja, puisi lebih merupakan deretan buku wajib yang tertata rapi di rak buku. Ketidakacuhan ini yang mungkin menyebabkan saya harus dua kali memperbaiki nilai C yang saya peroleh dari mata kuliah Prof. Rachmat Djoko Pradopo.
Semacam ironi yang ketika itu dilontarkan kepada saya ialah bahwa tidak elok rasanya jika seorang pengajar sastra tidak mampu menulis karya sastra. Sinisme dari ucapan ini terletak pada muatan keraguan akan kualitas kognitif dan afektif pada diri saya. Jadilah harga diri literer saya memberontak dan memaksa saya untuk menjawab tantangan tersebut. Hasilnya, tidak usah lah menanyakan seberapa bagus puisi-puisi saya.
Hal berikutnya yang masih teringat dari kebiasaan Kiki ialah perihal pendokumentasian. Saran darinya untuk menulis puisi itu sejatinya demi dokumentasi juga. Puisi-puisi mahasiswa yang saya jilid juga adalah bentuk dokumentasi. Antologi-antologi puisi yang diterbitkan atas inisiatifnya juga merupakan bagian dari dokumentasi. Termasuk, bantuan-bantuan yang ia berikan kepada banyak penulis muda tentang lika-liku pengiriman karya di media cetak ternyata mengandung motif dokumentasi pula.
Ia bagi saya menjadi sosok yang penting sejak itu. Karyanya beberapa kali menjadi bahan diskusi di kelas. Seringnya, karya “anak didiknya” juga saya turutkan demi hipotesis bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pada diri Fatih Kudus Jaelani, Rifat Khan, serta Fendi lah saya dapati dugaan-dugaan itu -bahwa meskipun memilih model pengucapan yang berbeda, toh karya dari yang lebih muda-muda ini dibaca dan didiskusikan pula dengan Kiki.
Di Akarpohon, komunitas yang didirikannya sejak 2009, Kiki menurut saya ialah mediator yang menghubungkan antara pelaku seni di Mataram dengan kalangan pemuda/mahasiswa yang masih bergelut dengan urusan akademis. Penekanan ini perlu karena poin lanjutan yang patut dilihat dari sosok Kiki ialah kepeduliannya akan regenerasi. Di 2009, kita mungkin tidak mengenal Bayu Pratama, Ilda Karwayu, Iin Farliani, atau Maywin Asmara. Mereka bisa saja masih puber dengan seragam SMP atau SMA-nya. Sekarang, mereka adalah kompetitor –seperti ujar Esha Tegar Putra- di media-media cetak baik lokal maupun nasional. Di 2013 Irma Agryanti bagi saya adalah PNS yang nyambi jadi penyair, jadi selain wajahnya yang cantik tidak ada lagi sisi rayuan semu yang dapat saya utarakan padanya. Namun kini, saya terpesona padanya luar dalam.
Jadi apa yang istimewa dari anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa Tahun 2017 Kategori Puisi yang dimenangkan oleh Kiki Sulistyo? Menjawab ini kita perlu meniliknya dari beberapa pertimbangan. Yang pertama, tanpa pretensi membesar-besarkan ajangnya, Kusala Sastra Khatulistiwa memang merupakan anugerah yang bergengsi bagi para penulis di Indonesia. Hingga usianya yang ke-17 ajang ini telah melambungkan nama-nama seperti Gustu Sinduputra, Gunawan Maryanto, maupun F. Aziz Manna. Kekuatan publikasi yang dimiliki oleh gabungan Gramedia, Ford Foundation, Djarum Foundation, serta Montblanc merupakan senjata yang ampuh mendongkrak gengsi di ajang ini. Kedua, Kusala Sastra Khatulistiwa benar-benar membenturkan para penulis yang secara kualitas telah mapan di Indonesia. Untuk tahun ini saja, Kiki harus berhadapan dengan Dadang Ari Murtono, Heru Joni Putra, W. Haryanto, Nermi Silaban, Isbedi Setiawan Z, Toni Lesmana, Deddy Arsyadi, Iyut Fitrah, serta Hasta Indriyana. Nama-nama yang tidak asing, bukan? Ketiga, kemenangan Kiki merupakan imbalan atas kerja kerasnya selama ini. Dengan tidak menganggap ajang ini sebagai puncak karir, Kiki telah menapaki lagi satu tangga dalam proses kepengarangannya. Dahaga sebagai pribadi sekaligus sebagai representasi kepenyairan dari Lombok nan jauh agaknya terbayar dengan capaian ini. Saya yakin bukan hanya Kiki yang puas dengan raihan segepok uang berikut bolpoin Montblanc yang prestisius itu. Kawan-kawannya disini pun turut merasa bangga. Di Ampenan, Apalagi Yang Kau Cari?, buku yang secara teknik penulisan menurut Kiki jauh di bawah Penangkar Bekisar nyatanya di mata para juri mampu menjadi yang terpopuler.
Saya disini tidak hendak melihat anugerah yang diraih Kiki dari perspektif estetika literer. Para juri di ajang ini jauh lebih kompeten ketimbang saya. Yang dapat saya lakukan senyampang ini ialah menyampaikan sisi lain yang menurut saya turut menopang keberhasilan Kiki. Keuletan, komitmen dalam pengembangan komunitas, serta kepeduliannya akan penulis-penulis muda saya rasa merupakan beberapa dari sekian banyak hal yang mendukung pencapaian ini. Yang jelas, Di Ampenan, Apalagi Yang Kau Cari? janganlah menjadi klimaks bagi kepenyairan Kiki. Kita para pendukungnya akan berdosa jika setelah ini menganggap bahwa dahaga kita terpuaskan.
Terakhir, apa atau siapa setelah Kiki? Secara tidak langsung, keberhasilan Kiki di ajang Kusala Sastra Khatulistiwa telah membuka jalan yang lebar bagi para penulis lainnya untuk unjuk diri dan menawarkan kualitas penulisan yang tidak berbeda jauh. Kebahagiaan Kiki saat ini sejatinya derita bagi kita karena jadinya banyak mata yang mulai melek pada penulis-penulis NTB. Kalau secara kualitas saja sudah berbeda jauh, dunia mungkin akan menuduh bahwa kerja keras Kiki selama ini berbanding terbalik dengan capaian estetis para penulis yang telah mati-matian disokongnya. Maka mari bekerja sembari berdoa bahwa suatu saat nanti kita akan melewati pencapaian Kiki hari ini.
Itsna Hadi Saptiawan
Posting Komentar