This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Majanu bil Ilmi Gelar Latihan Mewarnai di Dinding



narasikatulistiwa. TK Majanubil Ilmi gelar latihan mewarnarnai. Sabtu, 07-02-2026 anak anak TK majanu bil ilmi Sukamaju-Desa Rempung, gelar acara mewarnai/ kantor TK, kantor MTs dan kelas nya.


Kegiatan ini serentak diikuti oleh seluruh anak-anak TK, menurut kepala sekolah Azizatun Nahdliyah, S. Sos dalam pidatonya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan awal pengenalan jenis warna premier dan sekunder berdasarkan tingkatan kelas. Program ini merupakan tidak lanjut dari agenda yang telah di canangkan oleh lembaga melalui tim medianya. Imbuh Azizah


Kedepannya akan banyak agenda yang akan diselesaikan oleh siswa siswa Majanubil Ilmi dari tingkat TK hingga Tsanawiyah. Termasuk program literasi. Tegasnya


||red


DARAH DI KEPALA SANTRI

 


(ilustrasi: google)


Tempat saya mengajar mulai tahun 1992, sekaligus diamanahkan sebagai wakil kepala madrasah bidang kurikulum, sampai sekitar tahun 1996, di Madrasah Tsanawiyah NW Pancor Lombok Timur. Madrasah ini dibangun sejak tahun 1940an oleh Al Magfurullah Maulanasyaikh TGKHM Zainuddin Abdul Majid, satu-satunya Pahlawan Nasional dari Lombok. 


Masyarakat menyebutnya madrasah Mamiq Haji Marjan,, karena Bapak Beliau yang punya wakaf, H Umar Pancor. Sekaligus juga, Mamiq Haji Marjan Umar puluhan tahun menjadi kepala madrasah. 


Ketika Mamiq Haji Marjan Umar diangkat  sebagai kepala Madrasah Mu'allimin Aliyah NW Pancor, beliau diganti oleh H. Mahyuddin. 


H. Mahyuddin seorang pemimpin yang tegas dan disiplin. Sehingga cukup ditakuti para santri. 


Di belakang Madrasah ada Ustadz yang tinggal sekaligus istri beliau berjualan, Ustadz Basyaruddin, Ustadz yang mengajar Nahwu shoref, kadang-kadang tempat jualan beliau dipakai sembunyi sambil belanja bagi santri yang kadang-kadang suka bolos, lalu diam-diam pulang. 


Suatu ketika ada tiga santri sedang asyik makan jajan pada saat teman-temannya belajar. Pak Kepala, Ustadz H mahyuddin kebetulan sedang kontrol ke sana. 


" Nah ini, Anak-anak nakal yang suka bolos belajar!!! "

Tidak ada jalan untuk lari. Kebetulan satu diantara ketiga santri sedang makan klepon, jajan khas Lombok yang di dalamnya dikasih gula merah. 


Tanpa fikir panjang klepon dimasukkan ke songkoknya dan songkok dipakai kembali, supaya tidak diketahui sedang makan. 


"Sedang apa kalian!!!? "

" Nggak ada Ustadz, mau ke kamar kecil saja"

"Bohong, kalian tadi saya lihat makan. Berani kalian bohongi saya, ya!!! "

"Tidak Ustadz, kami tidak bohong"

Plaakkk!!! Songkok anak itu dipukul. Tiba-tiba meneteslah seperti darah, dari kepala anak yang dipukul. 


Wajah Ustadz Mahyuddin pucat, mengira darah menetes karena pukulannya. 


" Ya Allah, makanya saya bilang kalian jangan nakal. Saya sayang kalian makanya cerewet. Jangan kasih tahu orang tuanya. Ini pakai berobat. Kamu Gunawan ajak dia berobat, kamu aja yang ngajak temanmu membolos". 


Uang itu segera diambil oleh si Gunawan, dua temannya termasuk yang dikira kepalanya luka dan mengeluarkan darah, jalan kaki ke Selong. 


Mereka pergi sambil cekikikan, ketawa, karena jajan di kepalanya yang mengeluarkan gula merahnya, dikira darah oleh pak kepala Madrasah. 


Sampai dagang bakso, mereka beli bakso dengan uang yang dikasih kepala Madrasah. 


Sekarang si Gunawan, yang suka mengajak teman-temannya membolos ketika Tasanwiyah, sedang menempuh Program Doktor di Universitas Negeri Yogyakarta. Mengambil konsentrasi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan. 


Demikianlah kita sebagai guru di sekolah dasar dan menengah tidak pernah tahu, mana anak-anak didik kita yang akan sukses di perguruan tinggi. Kadang-kadang anak-anak yang kita anggap paling nakal, mereka yang akan menjadi kebanggan sekolah.

Fauzan Fuad

MENGENAL SOSOK GURU

 


buletinkapass.com-Perjalanan nasib mengantarkan saya menjadi guru di banyak madrasah dan sekolah. Tahun 1991 saya mengajar di madrasah tsanawiyah di Pegayaman Bali, kemudian menjadi guru honorer di madrasah Aliyah di Seririt Bali. 


Setamat dari Universitas Udayana Bali, dengan prodi pendidikan matematika, tahun 1992 saya mengajar dan menjadi wakamad kurikulum di Madrasah Tsanawiyah NW Pancor, disamping mengajar matematika dan filsafat ilmu di STKIP Hamzanwadi Selong. Kemudian dalam rentang 1993 sampai 1997,,saya mengajar di Madrasah Aliyah Muallimat NW Pancor, MAK NW Pancor, juga SMANW Pancor. Seorang teman mengatakan saya bolak balik jual jam.. Hehe, maksudnya jam mengajar, karena saya mengajar dari jam setengah delapan pagi sampai jam sembilan malam. Saat itu perkuliahan di STKIP Hamzanwadi Selong dilaksanakan sore sampai malam. 


Tahun 1998 saya mengajar matematika di SMAN I Sikur, masyarakat sekitar menyebutnya sekolah kebon, mungkin karena letaknya agak di pelosok, antara Paok Motong dan Kotaraja. Sekitar tahun 2001 saya pindah ke SMAN I Masbagik, mengajar matematika dan seni teater. ( dua mata pelajaran yang nggak nyambung, yaa.. Hehe). 


Tahun 2010 setamat program Doktor di Universitas Negeri Yogyakarta saya pindah menjadi dosen negeri ditugaskan di STKIP HAMZANWADI Selong. Hanya berubah status dari dosen swasta menjadi dosen negeri, karena saya mengajar di STKIP Hamzanwadi dari tahun 1992. Alhamdulillah pernah juga membantu mengajar di pascasarjana Unram dari tahun 2010 sampai 2015. Mengajar Statistik Penelitian, Penelitian Pendidikan dan Filsafat Ilmu. Juga, mengajar di Program Doktor, kerjasama UIN Mataram dan UNJ. 


Sekian tahun mengajar, saya sampai pada kesimpulan, tugas guru hanya dua. Pertama, menjadikan muridnya menjadi manusia yang baik, dari perspektif agama maupun kebaikan universal. Kedua, bagaimana menemukan bakat masing-masing muridnya dan mengembangkannya semaksimal mungkin. Guru yang baik tahu bagaimana mengeluarkan bakat terbaik dari dalam diri siswanya. Good teachers know how to bring out the best in students, ungkap Charles Kuralt, kolumnis asal Amerika. Guru yang baik tahu bagaimana cara mengeluarkan sisi terbaik dari siswanya. 


Masing-masing manusia sudah ada cetakan uniknya dari Allah, guru yang baik membuatnya menjadi produk terbaik sesuai cetakan tersebut. 


Guru yang bijaksana, kata Khalil Gibran, bukan guru yang menawarimu masuk ke rumah kebijaksanaannya, melainkan membawamu ke ambang fikiranmu sendiri. "The teacher who is indeed wise does not bid you to enter the house oh his wisdom but rather leads you to the threshold of your Mind". Ya, guru yang baik membuat kita betul-betul menjadi diri sendiri, sesuai bakat dan jenis kecerdasan yang diamanahkan Allah kepada masing-masing kita.


||fauzan fuad

Kisah Sumur 7 Ajaib


buletinkapass.com-Sekitar seminggu yang lalu tepatnya 26 oktober 2019, saya mendapat kabar kalau di Desa Pancor tepatnya Bermi. Saya mendapatkan kabar kalau di tempat itu, ada sumur yang tidak pernah kering.

Awalnya saya merasa kurang tertarik dengan cerita ini, hingga suatu hari saya mendapatkan kabar jika tempat tersebut sering dikunjungi oleh banyak warga, mulai dari warga setempat hingga warga luar daerah.

Gedeng Desa (Rumah Desa), begitu nama tempat ini disebut oleh warga setempat.

Sebenarnya, saya agak penasaran dengan sumur ini. akan tetapi yang lebih membuat penasaran adalah tempat tersebut merupakan titik awal cikal bakal Nahdlatul Wathan (NW).

Sekitar satu meter dari lokasi sumur tersebut terdapat sebuah mushola yang disebut musholla al mujahidin

Ratnasih, menceritakan bahwa namanya di ganti dengan H. Nurhadi oleh TGKHM. Zainuddin Abdul Majid (maulanasyikh).

Hampir 15 menit saya menyaksikan H. Nurhadi (H. Rat) membantu menyelesaikan pekerjaan istrinya menggoreng tempe sembari ia menceritakan banyak hal, dimulai dari kisah tongkat maulanasyikh, cerita para jendral yang sering ke pancor.

"telu keli ku ngendeng izin lek maulanasyikh jeri guru. leguk kenok oku sik maulanasyikh "nderek kence umi mek" (tiga kali saya meminta izin untuk menjadi guru, tetapi maulanasyikh tidak mengizinkan saya. beliau berkata, tidak ada yang mendampingi ummi mu)

************************************

Biasanya sumur ini ramai saat hari jum'at pagi dan sore. Sudah banyak yang datang untuk datang ke sumur ini, sumur ini disebut dengan nama sumur 7 ajaib. ada tamubyang berasal dari Mataram, dari Gereneng tapi yang paling sering tamu dari perian, bahkan adapula tamu dari Malaysia. Di Indonesia. hanya 7 sumur seperti ini, dan inilah salah satu diantara yang tujuh itu". Saya disini baru 9 tahun, ucap H. Rat.

||red

TGKH. Muhammad Zainuddin Abd Madjid: Bintang dari Negeri 1000 Menara Masjid [1]

bagian 1

Shalih ibn ‘Ali al-Hâmid dalam bukunya Rihlah “Jâwâ al-Jamîlah wa Qishshah Dukhûl al-Islâm ilâ Syarq Âsiyâ” (Perjalanan [ke] Nusantara yang Elok dan Cerita Masuknya Islam ke Timur Asia) yang di itulis pada tahun 1936 M, pelancong dari Yaman,  sebagaimana yang dinukil oleh Ahmad Ginanjar Sya’ban meriwayatkan informasi yang kaya, penting, dan langka akan deskripsi Nusantara pada masa penjajahan Belanda ditinjau dari sudut pandang seorang pelancong asing.
Al-Hâmid berada di Nusantara selama kurang lebih setengah tahun, menjelajahi beberapa pulau (Jawa, Bali, dan Lombok) dan menghabiskan masa-masa yang sangat mengesankan. Al-Hâmid menuliskan gambaran Pulau Jawa, Bali, dan Lombok dengan sangat detail: topografi, penduduk, adat istiadat, struktur pemerintahan dan masyarakat (Belanda totok, indo-peranakan, pendatang Cina dan Arab, dan lain-lain), lembaga pendidikan, dan juga diaspora Arab-Yaman (al-Hadhârimah) serta kiprah mereka di Nusantara.
Lombok adalah salah satu daerah yang diziarahi oleh al-Hâmid dalam rihlahnya. Ia mewartakan Lombok pada tahun 1930-an dengan ungkapan, “Tempat ini adalah gambaran Firdaus yang diberikan Allah di atas muka bumi. Firdaus yang ‘tak ada mata pun dapat melihat, telinga dapat mendengar, dan bayang pikiran dapat melintas di hati manusia’. Allah memberikan karunia kepada para penduduk negeri ini dengan alam beserta pemadangan dan kesuburannya yang tiada tara”.
Dari serpihan taman firdaus inilah salah seorang putra terbaik negeri seribu masjid dilahirkan. Muhammad Syaggaf, demikian nama pemberian orang tuanya: TGH. Abdul Madjid dan Hj. Halimatussa’diyah, yang merupakan guru ngaji kampung saat itu, tokoh agama yang cukup terpandang di Bermi Pancor. Konon jelang kelahirannya, seorang alim dari Maghribi, Syaikh Ahmad Rifa’i, pernah membisiki Guru Mukminah, panggilan ta’dhim dari jama’ah untuk TGH. Abdul Madjid, bahwa anak yang akan lahir dari rahim isterinya akan menjadi ulama besar di masanya.
Doa dan pengharapan dari al-arif billah tersebut dimaknai Guru Mukminah dengan memberikan didikan yang layak bagi sang biji mata sekalipun tak mudah mendapatkan pendidikan pada masa itu di tengah himpitan kolonialisme Belanda yang pilih kasih dalam mewadahi keinginan pribumi untuk mendapatkan akses layanan pendidikan. Saggaf adalah segelintir pribumi Sasak yang mendapatkan hak istimewa tersebut. Tak hanya sekolah formal bentukan Belanda ia sasar, pun saban hari kyai-kyai kampung yang ahli agama ia datangi demi menggali dan menimba pengetahuan: fiqih, nahwu-syaraf, balaghah, dan sebagainya.
Dahaganya akan pengetahuan menemukan aliran yang tepat ketika tahun 1923 ditemani ibundanya tercinta dan beberapa keluarga besarnya merenda perjalanan menuju sumber utama cahaya pengetahuan: Mekah. Di negeri tempat berseminya Cahaya kenabian Sang Muhammad napas intelektual Saggaf bermula. Lebih kurang 12 tahun lamanya Saggaf, yang kelak berganti nama menjadi Muhammad Zainuddin, menempa diri memupuk pemahaman agama. Pintu-pintu pemilik ilmu ia kunjungi demi memenuhi rongganya yang haus pengetahuan, namun pelataran Madrasah ash-Shaulatiyah yang didirikan oleh Syaikh Rahmatullah al-Masysyath, imigran eks pemberontak kolonialisme Inggris dari India, adalah ladang ilmu yang dirasanya dapat memenuhi pengharapannya akan ilmu-ilmu agama.
Prestasi akademiknya sangat membanggakan. Zainuddin selalu selalu menjadi yang terbaik. Karena kecerdasan yang luar biasa, ia berhasil menyelesaikan masa belajarnya dalam kurun waktu 6 tahun dari waktu normal belajar 9 tahun. Dari kelas II, langsung ke IV. Tahun berikutnya ke kelas VI, dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya secara berturut-turut naik kelas VII, VIII, dan IX. Studi di Madrasah ash-Shaulatiyah ia tunaikan pada tahun 1351 H/1933 M, dengan predikat istimewa (mumtaz). Ijazahnya ditulis tangan langsung oleh seorang ahli khath terkenal di Mekah saat itu, yaitu Syaikh Dawud ar-Rumani atas usul dari Mudir Madrasah ash-Shaulatiyah dan selanjutnya ijazah tersebut diserahterimakan pada tanggal 22 Dzulhijjah 1353 H.

baca bagian ke dua disini

Keistimewaan Ijazah TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

TGKHM. Zainuddin (kiri)
Pemberian ijazah ini jelas tak lazim oleh karena biasanya ijazah ditulis, Si Fulan lulus dalam ujian dan menyelesaikan pelajarannya yang oleh karena itu diberikan ijazah Jayyid atau istimewa dan sebagainya. Namun, dalam ijazah Zainuddin tertulis, “Diberikan gelar yang melekat pada pemilik ijazah ini: “Al-Akh Al-Fadhil Al-Mahir Al-Kamil Al-Syaikh Muhammad Zainuddin Abdul Madjid al-Anfananiy” (Saudara yang mulia, sang genius sempurna, guru terhormat Zainuddin Abdul Madjid). Tak pelak, kejeniusan Zainuddin ini oleh para gurunya digelari dengan ‘Sibawaihi fi zamanihi’ (yang tak tertandingi). Nilai ijazahnya sempurna: 10 untuk semua mata pelajaran. Pun ijazahnya ditandatangani 8 guru besar pada Madrasah ash-Shaulatiyah bertanda tangan dalam ijazah, “Syahadah ma’a ad-darajah as-Syaraf al-ula” atau lebih tinggi dari predikat summa cumlaude. Mudir ash-Shaulatiyah, Maulanas Syaikh Salim Rahmatullah dan Syaikh Muhammad Said, yang merupakan keponakan pendiri Madrasah ash-Shaulatiyah mengungkapkan kekagumannya: “Cukup satu saja murid Madrasah ash-Shaulatiyah asalkan seperti Zainuddin yang semua jawabannya menggunakan syair termasuk ilmu falak yang sulit sekalipun”. Sayyid Muhammad ‘Alawi ‘Abbas Al-Maliki Al-Makki, seorang ulama terkemuka kota suci Mekah pernah mengatakan bahwa tak ada seorang pun ahli ilmu di tanah suci Mekah, baik thullab maupun ulama, yang tidak mengenal kehebatan dan ketinggian ilmu Syaikh Zainuddin. Syaikh Zainuddin adalah ulama besar bukan hanya milik umat Islam Indonesia, tetapi juga milik umat Islam sedunia. Selama di negeri sumur kearifan, Mekah, setidaknya Muhammad sempat belajar pada tiga orang guru asal Lombok dan 28 guru dari Arab dan Palembang. Dari guru-guru ini 11 orang di antaranya bermazhab Syafi’i, sedangkan 6 orang yang lain bermazhab Hanafi, dan 11 orang lagi bermazhab Maliki. Mereka kesemuanya adalah penganut faham Ahlusunnah wal Jama’ah. Sebenarnya, Zainuddin masih berhasrat bercengkerama untuk menimba kearifan dari para masyayikh (para ulama) di Mekah, tapi panggilan untuk kembali ke negerinya: Indonesia, tak dapat ia tampik. Terbayang di ingatannya belasan tahun lampau kala pertamakali meninggalkan kampung halamannya: Lombok, yang diliputi kabut gelap kejahilan karena ditimpa penjajahan Belanda. Tahun 1934 adalah tahun harus sejenak berpisah dengan para gurunya yang mulia di Tanah Haram Mekah: suatu keputusan yang tak mudah karena tak kurang dari 12 musim haji ia nyaris tak pernah jauh dari pusaran keberkahan itu. “Anakku… Pulanglah… Negerimu membutuhkanmu,” ujar Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath, Sang Guru yang amat ia kagumi, menjawab dilemmanya dan pikirannya yang galau. ‘Sabda’ yang tak bisa ia elakkan. Sesampainya di kampung halamannya, Bermi Pancor Lombok Timur, ulama muda ini langsung saja dipercayai masyarakat sekampung untuk menjadi imam dan khatib—dua kedudukan terhormat dalam pandangan masyarakat kampungnya pada masa itu. Dalam waktu yang relatif singkat, ia pun telah pula dianggap sebagai seorang ulama muda. Ia pun segera pula dikenal dengan panggilan “Tuan Guru Bajang”, demikian masyarakat menyematkan tanda penghormatan atas kealiman ilmu agamanya. Maka begitulah, tidak lama kemudian ia pun telah bisa memberanikan diri untuk mendirikan Pesantren al-Mujahiddin—sekolah agama tradisional dengan memakai sistem halaqah—murid-murid tanpa kelas duduk mengelilingi sang guru. Dari kawah candradimuka al-Mujahidin, jelajah dakwah sosial TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dimulai. Pilihan nama ‘al-Mujahidin’ jelas bukan sembarang pilih karena di dalamnya Maulanasyaikh, tanda kehormatan dari jama’ahnya, menitipkan semangat perjuangan-revolusi serta kesadaran untuk menyudahi praktik penjajahan Belanda. Saban hari, ia tak pernah lelah menyusuri kampung demi kampung untuk menyiramkan api perjuangan bagi anak negeri yang nyaris tenggelam dalam keputusasaan oleh karena begitu lamanya mereka berada dalam sekapan penjajahan. Membangun kesadaran kultural yang demikian tidak muda dilakukan oleh Sang Guru Muda tersebut karena sempat tersiar desas-desus yang boleh jadi angin dan asapnya ditiup oleh kaki tangan Belanda untuk menggerogoti jalan perjuangan yang sedang ia retas. Sejenak ia dikucilkan oleh umatnya, tapi tak melangkah mundur jelas bukan pilihannya. Kecintaannya terhadap jama’ahnya yang sempat ‘tersesat’ dan Indonesia telah mengalahkan kekecewaan, bahkan kemarahannya. “Mendidik-mengarahkan umat adalah fardhu ‘ayn. Saya berdosa sekiranya meninggalkan tugas ini,” elaknya sewaktu diadili oleh pemuka masyarakat kala itu. Badai pun berlalu. Desakan dari masyarakat untuk membangun lembaga pendidikan formal tak dapat ia bendung. Tanggal 22 Agustus 1937 sejarah itu mulai menutur riwayat: Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) namanya. Tak berhenti sampai di situ, pada tanggal 21 April 1943, lembaga pendidikan khusus perempuan ia dirikan: Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI). Pendirian lembaga pendidikan formal yang kala itu hanya dinikmati segelintir orang, jelas tindakan radikal bahkan kelewat berani, tapi bahwa membuka akses pendidikan bagi perempuan yang masih terkurung dalam kegelapan ilmu pengetahuan, jelas praktik yang sangat revolutif. Tapi Zainuddin tak punya pilihan selain melembagakan ijtihadnya demi melapangkan jalan transformasi kesadaran berbangsa serta alih nilai religiusitas-keberagamaan yang sekaligus menjadi ‘ruang inkubasi’ pengentalan cita rasa kebangsaan yang sewaktu-waktu akan diledakkan.
1 2