Kisah Sumur 7 Ajaib


buletinkapass.com-Sekitar seminggu yang lalu tepatnya 26 oktober 2019, saya mendapat kabar kalau di Desa Pancor tepatnya Bermi. Saya mendapatkan kabar kalau di tempat itu, ada sumur yang tidak pernah kering.

Awalnya saya merasa kurang tertarik dengan cerita ini, hingga suatu hari saya mendapatkan kabar jika tempat tersebut sering dikunjungi oleh banyak warga, mulai dari warga setempat hingga warga luar daerah.

Gedeng Desa (Rumah Desa), begitu nama tempat ini disebut oleh warga setempat.

Sebenarnya, saya agak penasaran dengan sumur ini. akan tetapi yang lebih membuat penasaran adalah tempat tersebut merupakan titik awal cikal bakal Nahdlatul Wathan (NW).

Sekitar satu meter dari lokasi sumur tersebut terdapat sebuah mushola yang disebut musholla al mujahidin

Ratnasih, menceritakan bahwa namanya di ganti dengan H. Nurhadi oleh TGKHM. Zainuddin Abdul Majid (maulanasyikh).

Hampir 15 menit saya menyaksikan H. Nurhadi (H. Rat) membantu menyelesaikan pekerjaan istrinya menggoreng tempe sembari ia menceritakan banyak hal, dimulai dari kisah tongkat maulanasyikh, cerita para jendral yang sering ke pancor.

"telu keli ku ngendeng izin lek maulanasyikh jeri guru. leguk kenok oku sik maulanasyikh "nderek kence umi mek" (tiga kali saya meminta izin untuk menjadi guru, tetapi maulanasyikh tidak mengizinkan saya. beliau berkata, tidak ada yang mendampingi ummi mu)

************************************

Biasanya sumur ini ramai saat hari jum'at pagi dan sore. Sudah banyak yang datang untuk datang ke sumur ini, sumur ini disebut dengan nama sumur 7 ajaib. ada tamubyang berasal dari Mataram, dari Gereneng tapi yang paling sering tamu dari perian, bahkan adapula tamu dari Malaysia. Di Indonesia. hanya 7 sumur seperti ini, dan inilah salah satu diantara yang tujuh itu". Saya disini baru 9 tahun, ucap H. Rat.

||red

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama