Puisi Tempat yang Baik Untuk Sembunyi



Membaca puisi-puisi dalam buku 'Tamu Hari Libur' ini seolah membawa saya pada suatu tempat yang layak untuk sembunyi. Entah sembunyi dari masa lalu, masa kini, atau pun masa nanti. Masa yang semua orang belum mengerti. Secara umum, puisi-puisi ini berisi hal remeh dan sangat dekat dengan penulis. Dengan setting tempat yakni desa di mana penulis tinggal. Begitu pun tokoh-tokoh yang muncul dalam beberapa puisi ini adalah tokoh-tokoh yang secara langsung berinteraksi dengan penulis. Baik di kehidupan nyata maupun imajinya. Juga tentang pergolakan batin si penulis sendiri, di mana realita dan harapan masih berlawanan. Tapi sisi baiknya, masalah tersebut tidak secara gamblang penulis paparkan. Penulis berhasil membungkusnya dengan kata-kata puitik dan memberi kesan seolah masalah yang disajikanadalah masalah sepele dan punya seribu solusi. Meski kadang puisi bertugas hanya melempar masalah tanpa sanggup memberi solusi yang pasti.

Lagi-lagi saya berulang mengamini apa yang dikatakan Subagyo Sastrowardoyo, bahwa ”Jika kau menulis puisi dan hanya melihat dirimu sendiri, yang lahir hanyalah puisi kesedihan”. Benar sekali, kesedihan beberapa kali saya temui dalam beberapa puisi di buku ini. Baik kesedihan yang berurusan dengan diri pribadi, dengan lingkungan, maupun dalam hal berinteraksi dengan pihak-pihak terdekat. Wahyu dalam beberapa puisi seolah ingin menyampaikan bahwa semua harapan, cita-cita dan keinginan itu semuanya belum sampai. Bahkan mungkin sampai dia mati. Keinginan dan lain sebagainya itu seolah tergantung di langit yang tinggi dan seribu tangga pun tak akan mampu menjangkaunya. 

Ada beberapa bagian yang bisa saya jabarkan dari keseluruhan puisi-puisi di buku ini. 


Pertama, Pagi dan Sejumlah Penyesalan

Ada banyak sekali saya jumpai kata 'pagi' di dalam buku ini. Saya tidak tahu, apakah si penulis adalah pecinta pagi. Meski umumnya, sebagian penulis menyukai senja. Tapi Wahyu lebih condong seolah mengatakan dirinya dekat dengan 'pagi'. Seperti yang kita ketahui pagi adalah sebuah awal hari. Waktu yang sangat baik untuk berencana, waktu yang sangat tepat untuk membuat janji. Beberapa kata 'pagi' dalam buku ini saya maknai sebagai suatu penyesalan. Di mana penulis ingin memulai segalanya dari pagi lagi. Ingin memulai segalanya dari awal. Atau secara kasar mungkin ingin kembali ke masa kecil. Di mana segala rencana belum ada, di mana segala kecewa belum terasa. 

Pagi yang disebutkan dalam beberapa puisi ini apakah pagi yang nyata atau sekadar pagi yang ada dalam imaji penulis. Atau jangan-jangan setiap pagi hanya dihabiskan dengan tidur. Yang secara otomatis pagi yang diciptakan hanya berada dalam mimpinya. Mimpi dalam artian adalah keinginan dari apa yang tak diperoleh di dunia nyata. 

Beberapa puisi yang mengandung kata 'pagi' di antaranya adalah : 

Pada puisi "Setiap Pagi". Puisi pertama dalam buku ini. Lariknya begini :

   “kau muak dengan segala perdebatan

    setiap pagi, matahari menarik selimutmu

    dan kau bangun dengan kecewa'

Ada pagi yang kemudian diikuti dengan kata kecewa. Sebuah kemalangan yang benar-benar pilu. Penulis seolah kecewa setelah masuk ke dunia nyata. Seakan di dunia nyata tak ada hal menyenangkan. Tak ada hal yang membuat tersenyum. Sebuah penyesalan yang dalam dapat saya tangkap. Jika misal, kau bujang, mungkin semalam bsia jadi kau baru diputuskan dan ingin selamanya bermimpi tanpa pernah mau tinggal di dunia nyata. Atau jika kau sudah berumah tangga, mungkin bisa jadi kau kecewa dengan beberapa keputusan, atau dengan jalan hidup yang kau tempuh kini. Sebab kesedihan terbesar dari manusia adalah disaat terbangun, kau langsung tak baik-baik saja. Bagaimana seorang manusia bisa melalui hari-harinya dengan baik-baik saja jika saat terbangun saja, perasaan kecewa yang datang berulang.

Pun dengan larik pada puisi yang berjudul 'Ketika Pagi Begitu Dingin'

    “ketika pagi begitu dingin 

     dan kita menjadi tak ingin bangun”

Kemudian puisi ini ditutup dengan larik : 

    “semuanya menjadi angin

     hanya menyintuh dan beterbangan

     sebagai keinginan yang ditunggu

     kemudian ditinggalkan.”

Mengisahkan kekecewaan dan penyesalan, bahkan sesal yang dalam. Penulis seolah ingin menekankan bahwa ada yang salah dalam setiap pilihannya. Tapi justru tak ada lagi yang bisa ia ulang dan perbaiki dari semua kesalahan itu.

Satu hal lagi yang tak biasa dalam buku ini adalah saya tak menemui satu pun diksi 'senja'. Sebuah diksi yang lekat dengan penyair. Diksi yang selalu dikaitkan dengan keindahan, kenangan manis penuh romantis. Tapi justru saya menemukan kata 'petang'. Penulis cenderung memakai kata petang. Sebuah simbol yang menurut saya bermakna gelap, atau terlambat, atau penyesalan yang juga dalam. 

Di salah satu puisi yang berjudul "Pada Suatu Petang" diakhiri dengan bait berikut :

aku hanya menunggu diriku sendiri

yang aku tahu tak akan pernah kembali, 

sementara di luar telah malam 

telah meminta aku pulang.

Di bait ini sangat jelas sekali bagaimana si penulis terlalu jauh meninggalkan dirinya. Maksudku, ia seolah menjalani hidup sebagai yang bukan dirinya dan hidup dalam kepalsuan, atau menjadi yang bukan diri kita adalah sebuah kesedihan dan pilihan yang benar-benar bukan sebuah pilihan. Di dua baris terakhir, dia malah menjelaskan tentang bagaimana dia harus kembali pada waktu dia sebenarnya belum ingin kembali. Di sini, saya menemukan kehidupan rumah tangga yang mungkin saja pengarang sudah lalui. Sebuah kehidupan yang ada tuntutan, ada keinginan lain yang membatasi keinginan diri. Seorang penulis tentu ingin hidup merdeka, tapi kenyataan sosial sering membuat kita harus lupa akan arti kemerdekaan yang sesungguhnya. 

Keadaan seperti di atas dapat pula kita temui dalam puisi yang berjudul "Waktu" pada larik yang berbunyi “lalu kau akan menjadi begitu sedih/sebab yang pergi bukanlah waktu yang tak akrab denganmu/ tetapi dirimu sendiri/ yang kau tahu tak akan pernah kembali.”

Saya akhirnya menyimpulkan begitu banyak penyesalan dalam puisi di buku ini : 

Contohnya :

1. Penyesalan dalam memilih, bahkan seperti tak ada lagi kesempatan untuk memilih mana yang sesuai keinginan. Ini digambarkan Pada puisi "Setelah Bangun" pada larik berikut 'wanita itu masih di sana, menungguku datang memetiknya. Namun tanganku tiba-tiba menjelma api. Membakar diriku sendiri. 

2. Penyesalan dalam sebuah rencana besar. Digambarkan pada puisi 'Bangun Tidur'. Pada larik 'beberapa saat kemudian, aku bangun dengan mata tertutup, berjalan ke luar kamar, dituntun seorang perempuan yang telah ku lamar' Saya menangkap seakan si penulis tak percaya dengan kenyataan yang ia hadapi. Terkungkung pada berbagai aturan rumah tangga yang belum siap ia lakoni. 

3. Penyesalan yang berlanjut atas pilihan yang salah diawal. Pada puisi "Keluarga Baru" pada larik “setiap hari, mereka selalu makan bersama/ dengan lauk seadanya/ dan persoalan sebanyak-banyaknya.”

Dari semua penyesalan tersebut akhirnya penulis memilih sembunyi. Tentu tak ada pilihan lain yaitu sembunyi pada puisi.


Kedua, Penggunaan Simbol Ruang dalam Memaparkan Kesedihan

1. Diksi “Kamar”

Kamar yang menurut KBBI adalah ruang yang bersekat (tertutup) dinding yang menjadi bagian rumah atau bangunan (biasanya disekat atau dibatasi empat dinding); bilik;.

Kamar yang secara umum adalah kita tau mempunyai pintu sebagai jalan keluar, tapi di puisi yang berjudul 'Sebuah Kamar' makna kamar di puisi ini saya jumpai seperti sebuah ruang yang sempit dan tak punya pintu, bahkan tanpa lubang udara. Pengap dan gelap. Tak ada celah cahaya masuk untuk sekedar memberi terang. Apalagi ditambah dengan larik ia matikan lampu. Bagaimana bisa seseorang yang ditunggu akan datang jika kita menunggu di tempat yang tak memiliki pintu. Semuanya akan sia-sia. Semua keinginan jelas tak akan terwujud. 

2. Diksi “Ruang Tamu”

Hampir sama, saya menemukan makna ruang tamu yang jauh berbeda. Secara umum ruang tamu adalah tempat paling asyik untuk bercanda, berkelakar dengan teman sekitar atau teman yang baru berkunjung. Tapi ruang tamu di puisi yang berjudul "Ruang Tamu" saya melihatnya seperti tempat yang paling tersembunyi. Tempat yang paling sulit dijangkau. Seolah si pemilik rumah bingung mencari jalan lewat mana untuk sampai ke ruang tamunya sendiri. Sehingga ia tak pernah sampai. Boleh jadi saya ibaratkan ruang tamu dalam puisi ini tak pernah ada. Juga tak memiliki pintu untuk masuk ke sana. 


Ketiga, Rasa Tak Percaya Pada Diri Sendiri

Rasa tak percaya diri bisa muncul setelah kita sering mengalami kegagalan atau sering merasa ragu. Dalam beberapa puisi, saya menemukan beberapa keraguan dari penulis. Contohnya :

Penggunaan kata “ingin”

1. Pada puisi “Tempat Paling Rawan Bagi Sunyi” 

Pada larik pertama. “aku ingin melihatmu” kenapa tak disebut atau diucapkan langsung dengan gamblang “aku melihatmu”. Dengan penulis menaruh kata aku ingin. Sudah bisa saya tebak bahwa ujungnya akan ada kenyataan yang berlainan dengan keinginan itu di baris selanjutnya. 

2. Pada puisi “Membuat Jalan Raya”

Pada bait kedua, berbunyi :  “aku jadi ingin membuat jalan raya”

Ini dibuat terbalik dari puisi di atas, di mana penulis memaparkan kenyataan yang ada baru kemudian memaparkan apa yang dia inginkan. Tetapi seperti puisi-puisi lainnya, keinginan dalam larik puisi ini hanya sebatas keinginan belaka. Tak ada tindakan nyata yang akan membuatnya nanti sama antara keinginan dan yang jadi kenyataannya. 

3. Pada puisi “Di Taman, Aku Ingin Menemuimu”

Di larik pertama, “di taman, aku ingin Menemuimu”

Masih sama juga, ada semacam keinginan yang belum tentu kenyataannya nanti akan sama. Kenapa penulis tak berani langsung berucap, di taman aku Menemuimu'. Ada semacam rencana yang selamanya akan jadi rencana di otak. Dan bait berikutnya adalah hal yang berlawanan dengan rencana di bait awal.


RIFAT KHAN. Lahir di Pancor, NTB, pada tanggal 24 April. Karya-karyanya tersiar di berbagai media lokal dan nasional. Bermukim di Balwo, Majidi dan bergiat di Komunitas Rabu Langit Lombok Timur.

1 Komentar

  1. Merkur Futur Safety Razor 34C Chrome Plated - Decasino
    Merkur Futur Safety Razor 34C Chrome Plated. Get deccasino an choegocasino excellent selection of Merkur kadangpintar Futur Safety Razors at a low price.

    BalasHapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama