Pada Sebuah Kapal
Bunyi besi berkeriut di bawah kakinya ketika menaiki tangga kapal. Tangga itu penuh karat, sebagian sisa catnya masih kelihatan; hijau tua di atas biru muda. Tangan kirinya menggenggam pegangan tangga sementara kakinya terus bergerak dengan langkah yang terdengar makin berat. Angin menimpa wajah saat dia menapak ruang penumpang. Matanya dipicingkan sesaat sebelum kemudian kembali melangkah. Ruangan masih sepi, cuma ada beberapa orang duduk di deretan kursi plastik sewarna jeruk dan seorang perempuan muda berdiri di besi pembatas tepi sambil menatap jauh ke seberang.
Dia memilih sebuah kursi tepat di belakang si perempuan muda, melepas ransel dari punggung dan meletakkannya di samping kiri.
Diperhatikannya punggung perempuan itu; ramping dan lentur. Rambutnya terikat sedemikian rupa oleh jepitan dari tembaga. Kerah bajunya rendah sehingga tampaklah pangkal lehernya. Tepat di tengah-tengah tengkuknya ada tato bergambar lumba-lumba. Selembar jaket merah melilit pinggangnya sehingga bagian pinggul tertutup, seperti disengaja untuk memberi ingat bagi para penatap bahwa sia-sialah usaha mereka membayangkan bentuk pinggul itu.
Penumpang-penumpang lain mulai naik, bersamaan dengan kesibukan para pemandu mengatur letak kendaraan di bagian bawah. Truk-truk besar menimbulkan bunyi berderak-derak.
Perempuan itu menoleh dan melihat seseorang di belakangnya sedang memperhatikan. Mata mereka bertemu. Lelaki itu tersenyum dengan ragu-ragu. Ketika perempuan itu balas tersenyum, makin lebarlah senyum si lelaki seakan senyuman itu terbuat dari karet. Perempuan itu melangkah dan duduk di dekatnya. Tidak terlalu dekat, ada dua kursi yang memisahkan mereka.
“Berapa lama akan sampai di pelabuhan?” Perempuan itu bertanya.
“Jika perjalanan lancar, kira-kira sembilan puluh menit.”
“Lama juga. Padahal selat ini kecil saja.”
“Sepertinya kapal harus berputar dulu. Baru pertama?”
“Sebenarnya tidak. Saya pernah menyeberang waktu kecil, tapi saya sudah lupa.”
“Lahir di sini?”
Seorang anak perempuan menangis di gendongan ibunya. Airmata mengotori paras yang sedikit pucat itu. Sementara ibunya kelihatan kesal, parasnya yang kusam menekuk. Seorang pria berjalan di depannya, membawa banyak tas dan menggandeng dua bocah lain di kiri dan kanannya. Ruangan makin ramai, petugas hilir-mudik, pedagang-pedagang mulai menawarkan barang-barangnya. Keluarga itu duduk di dua kursi kosong antara si lelaki dan si perempuan. Anak perempuan masih menangis ketika ibunya duduk di dekat si lelaki, sementara suaminya duduk di dekat si perempuan. Dua anak yang lain berdiri saja, sebelum salah satu dinaikkan ke pangkuan ayahnya. Anak itu memasukkan jari ke mulut, dia kelihatan takut. Melihat saudaranya dipangku, anak yang satunya lagi mulai ikut menangis. Dengan raut terpaksa si ayah juga mengangkat anak itu dan meletakkannya di pangkuan sebelah kiri.
“Iya, saya lahir di sini,” jawab si perempuan sambil mencondongkan badan ke depan agar dapat melihat si lelaki. Sambil mengangguk-angguk si lelaki bertanya kembali, “Sekarang mau mengunjungi keluarga?” Dia mencodongkan badannya ke belakang karena perempuan di sampingnya membungkuk ke depan untuk menurunkan anaknya. Perempuan muda yang ditanya kembali mencondongkan badannya ke depan, tapi karena melihat si lelaki mencondongkan badan ke belakang, ia tarik punggungnya ke belakang. Sebaliknya, karena melihat si perempuan mencondongkan badannya ke depan, si lelaki pun mendorong punggungnya ke depan.
Pria yang memangku dua anak tampak kerepotan. Meski angin terus berembus, lehernya berkilat oleh keringat. Dia menggoyang-goyang kedua paha mencoba menenangkan kedua anaknya. Tubuh kedua anak itu naik turun seakan-akan mereka sedang naik kuda. Peluit kapal lain bergaung dari kejauhan. Ada sedikit kerepotan di bagian bawah kapal ketika sopir sebuah truk besar susah payah menepatkan posisi kendaraannya. Pedagang-pedagang berseliweran seperti lalat, para pengamen mulai memainkan gitar sementara rekannya berkeliling dengan kantung kain kecil yang ditadahkan ke orang-orang.
Si lelaki mengangkat ranselnya dari bangku sebelah kiri, lalu kembali mencondongkan badan ke depan. Baru saja dia hendak menawarkan kursi kosong itu pada si perempuan muda, seorang laki-laki yang mengenakan gamis, bertopi putih dan berjanggut panjang sudah lebih dulu duduk di kursi itu. Si lelaki menatap penumpang baru itu, tapi si penumpang seperti tidak memperhatikan, mulutnya komat-kamit. Si lelaki menunduk, menggosok-gosokkan sepatunya ke lantai kapal.
Si perempuan muda kembali mencondongkan badan ke depan sambil berucap, “Ayo kita pindah ke sana.” Persis saat itu, anak yang tadi menangis di gendongan ibunya kembali menangis. Melihat saudaranya menangis salah seorang anak yang sedang dipangku ayahnya ikut menangis, dan melihat kedua saudaranya menangis anak satu lagi yang juga berada di pangkuan ayahnya ikut menangis. Satu truk besar kembali masuk, bunyi peluit kapal berdengung dan seorang pedagang menawarkan makanan dan minuman dengan suara nyaring. Si lelaki tidak mendengar tawaran si perempuan, maka dia pun berseru, “Apa?”
Si perempuan muda menggeleng-geleng. Si lelaki mengulang pertanyaannya, tapi tak ada jawaban. Dia ingin berdiri dan menghampiri si perempuan, tapi demi dilihatnya beberapa penumpang yang masih berdiri melirik-lirik kursinya dia membatalkan niat itu. Si perempuan kembali mencondongkan badan, kali ini ke belakang, lalu berucap, “Maaf, bukan maksud saya..” Saat itu anak-anak mengerem tangisannya, peluit kapal tidak terdengar dan para pedagang tidak ada yang berseru-seru. Suara perempuan itu jadi satu-satunya suara yang terdengar keras. Pria yang memangku dua anak menoleh padanya dan berkata, “Tidak apa-apa.” Lantas dia bertanya pada anak di pangkuan sebelah kanan, “Sama tante ini ya.” Dan belum sempat si anak menjawab, pria itu sudah menyodorkannya pada si perempuan muda. Tak berkata apa-apa, meski dengan wajah heran, perempuan muda itu meraih si anak dan memangkunya. Si anak memasukkan jari-jarinya ke mulut. Sementara dua saudaranya yang melihat ia dipangku orang asing, mendadak mengubah air muka. Mereka kelihatan senang dan mulai tenang.
“Mau mengunjungi keluarga?” tanya si pria sambil membaringkan anaknya di kedua pahanya yang kini sudah menjadi lebih lapang.
“Bukan. Ada pekerjaan.”
“Oh, kerja di bidang apa?”
“Saya ada riset kecil-kecilan soal tenaga kerja migran.”
“Oh, saya juga kerja di bidang itu.”
“Iya kah? Meneliti juga?”
“Oh, bukan. Saya penyalur tenaga kerja ke luar negeri.”
“Wah, kebetulan. Sudah banyak yang dikirim?”
Si lelaki mendengar percakapan itu dengan jelas. Dia hendak menoleh, tapi perempuan di sebelahnya mengayun-ayunkan anaknya ke depan dan ke belakang seperti mainan. Anak itu tertawa-tawa senang. Ia mulai mendongakkan lehernya, pasrah pada tangan ibunya, dan bila tubuhnya terayun ke depan ia menutup mata sebab sinar matahari menyilaukannya. Si lelaki menyandarkan punggung. Kursi itu sangat keras, punggungnya terasa sakit. Sesekali dia menengok, di antara ayunan tubuh si anak, dia melihat si penyalur tenaga kerja dan si perempuan muda bercakap-cakap. Baru kali ini dia bisa memperhatikan paras si perempuan. Pipinya kemerah-merahan dengan kulit cokelat muda, matanya bening dan lembut. Baru kali ini juga dia perhatikan betapa bersih suara perempuan itu. Ketika perempuan itu melepas jepit rambutnya dan anak di pangkuannya tampak riang memainkan rambut itu, si lelaki mulai dihinggapi penyesalan. Semestinya tadi dia langsung mengajak si perempuan ke bagian lain kapal sehingga mereka bisa menghabiskan waktu berdua saja. Dia kemudian ingat ada sembilan puluh menit waktu yang tersedia untuk mewujudkan cita-cita itu. Dari sela-sela penyesalan muncul harapan, seperti tunas pohon liar di dinding tua.
Diambilnya air mineral dari kantung di bagian samping ransel. Setelah membasahi tenggorokan dan melegakan dadanya, air itu mulai menjernihkan pikirannya. Lelaki itu bertanya-tanya pada dirinya sendiri, “Tapi untuk apa aku bercakap-cakap dengannya? Bukankah aku tidak mengenalnya dan kalau pun nanti aku mengenalnya dan kami berhubungan bukan tidak mungkin dia membawa serta masalah baru.”
Kapal sudah hampir penuh dan nampaknya siap berangkat. Jembatan penghubung pelan-pelan dinaikkan. Para pedagang dan pengamen keluar dari kapal, menjejak daratan dan menunggu kapal lain bersandar. “Memang. Bisa saja dia membawa masalah baru. Tapi kemungkinannya sama besar dengan hal sebaliknya, bahwa perempuan itu akan membawa kehidupan baru. Sekian tahun dalam bui akan sulit buatku untuk bergaul lagi. Ia tidak mengenalku, jadi aku bisa mengarang masa lalu. Ia tidak akan tahu. Bersamanya aku akan menjauh dari kehidupanku yang lama. Betul, memang betul bahwa itu belum pasti terwujud. Tapi aku punya firasat kuat. Hidup dalam bui telah mengasah ketajaman firasatku. Aku yakin itu.”
Ketika kapal mulai bergerak, lelaki itu menatap jauh ke seberang. Sinar matahari membuat laut tampak seperti lempengan keperakan. Lelaki itu menengok saat si perempuan menurunkan anak di pangkuannya. Anak itu tertawa-tawa, perempuan itu menunduk. Lelaki itu melihat tato lumba-lumba di tengkuk si perempuan. Binatang laut itu seakan memberi tanda bahwa pintu terbuka untuknya. Ini saatnya. Perempuan itu punya peluang untuk terbebas dari si anak. Lelaki itu merasa perlu bangkit, menghampiri si perempuan dan mengajaknya ke sudut lain, entah di bagian kapal sebelah mana. Pasti ada.
Lelaki itu kembali menggosok-gosokkan sepatu ke lantai kapal. Baru saja dia hendak melaksanakan niat, laki-laki yang mengenakan gamis, bertopi putih, dan berjanggut panjang di sebelah kirinya tiba-tiba menepuk pahanya.***
Lombok, 16 November 2020
Biodata
Kiki Sulistyo, lahir di Kota Ampenan, Lombok. Meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan puisinya yang terbaru berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020).

Posting Komentar