This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Puisi Tempat yang Baik Untuk Sembunyi



Membaca puisi-puisi dalam buku 'Tamu Hari Libur' ini seolah membawa saya pada suatu tempat yang layak untuk sembunyi. Entah sembunyi dari masa lalu, masa kini, atau pun masa nanti. Masa yang semua orang belum mengerti. Secara umum, puisi-puisi ini berisi hal remeh dan sangat dekat dengan penulis. Dengan setting tempat yakni desa di mana penulis tinggal. Begitu pun tokoh-tokoh yang muncul dalam beberapa puisi ini adalah tokoh-tokoh yang secara langsung berinteraksi dengan penulis. Baik di kehidupan nyata maupun imajinya. Juga tentang pergolakan batin si penulis sendiri, di mana realita dan harapan masih berlawanan. Tapi sisi baiknya, masalah tersebut tidak secara gamblang penulis paparkan. Penulis berhasil membungkusnya dengan kata-kata puitik dan memberi kesan seolah masalah yang disajikanadalah masalah sepele dan punya seribu solusi. Meski kadang puisi bertugas hanya melempar masalah tanpa sanggup memberi solusi yang pasti.

Lagi-lagi saya berulang mengamini apa yang dikatakan Subagyo Sastrowardoyo, bahwa ”Jika kau menulis puisi dan hanya melihat dirimu sendiri, yang lahir hanyalah puisi kesedihan”. Benar sekali, kesedihan beberapa kali saya temui dalam beberapa puisi di buku ini. Baik kesedihan yang berurusan dengan diri pribadi, dengan lingkungan, maupun dalam hal berinteraksi dengan pihak-pihak terdekat. Wahyu dalam beberapa puisi seolah ingin menyampaikan bahwa semua harapan, cita-cita dan keinginan itu semuanya belum sampai. Bahkan mungkin sampai dia mati. Keinginan dan lain sebagainya itu seolah tergantung di langit yang tinggi dan seribu tangga pun tak akan mampu menjangkaunya. 

Ada beberapa bagian yang bisa saya jabarkan dari keseluruhan puisi-puisi di buku ini. 


Pertama, Pagi dan Sejumlah Penyesalan

Ada banyak sekali saya jumpai kata 'pagi' di dalam buku ini. Saya tidak tahu, apakah si penulis adalah pecinta pagi. Meski umumnya, sebagian penulis menyukai senja. Tapi Wahyu lebih condong seolah mengatakan dirinya dekat dengan 'pagi'. Seperti yang kita ketahui pagi adalah sebuah awal hari. Waktu yang sangat baik untuk berencana, waktu yang sangat tepat untuk membuat janji. Beberapa kata 'pagi' dalam buku ini saya maknai sebagai suatu penyesalan. Di mana penulis ingin memulai segalanya dari pagi lagi. Ingin memulai segalanya dari awal. Atau secara kasar mungkin ingin kembali ke masa kecil. Di mana segala rencana belum ada, di mana segala kecewa belum terasa. 

Pagi yang disebutkan dalam beberapa puisi ini apakah pagi yang nyata atau sekadar pagi yang ada dalam imaji penulis. Atau jangan-jangan setiap pagi hanya dihabiskan dengan tidur. Yang secara otomatis pagi yang diciptakan hanya berada dalam mimpinya. Mimpi dalam artian adalah keinginan dari apa yang tak diperoleh di dunia nyata. 

Beberapa puisi yang mengandung kata 'pagi' di antaranya adalah : 

Pada puisi "Setiap Pagi". Puisi pertama dalam buku ini. Lariknya begini :

   “kau muak dengan segala perdebatan

    setiap pagi, matahari menarik selimutmu

    dan kau bangun dengan kecewa'

Ada pagi yang kemudian diikuti dengan kata kecewa. Sebuah kemalangan yang benar-benar pilu. Penulis seolah kecewa setelah masuk ke dunia nyata. Seakan di dunia nyata tak ada hal menyenangkan. Tak ada hal yang membuat tersenyum. Sebuah penyesalan yang dalam dapat saya tangkap. Jika misal, kau bujang, mungkin semalam bsia jadi kau baru diputuskan dan ingin selamanya bermimpi tanpa pernah mau tinggal di dunia nyata. Atau jika kau sudah berumah tangga, mungkin bisa jadi kau kecewa dengan beberapa keputusan, atau dengan jalan hidup yang kau tempuh kini. Sebab kesedihan terbesar dari manusia adalah disaat terbangun, kau langsung tak baik-baik saja. Bagaimana seorang manusia bisa melalui hari-harinya dengan baik-baik saja jika saat terbangun saja, perasaan kecewa yang datang berulang.

Pun dengan larik pada puisi yang berjudul 'Ketika Pagi Begitu Dingin'

    “ketika pagi begitu dingin 

     dan kita menjadi tak ingin bangun”

Kemudian puisi ini ditutup dengan larik : 

    “semuanya menjadi angin

     hanya menyintuh dan beterbangan

     sebagai keinginan yang ditunggu

     kemudian ditinggalkan.”

Mengisahkan kekecewaan dan penyesalan, bahkan sesal yang dalam. Penulis seolah ingin menekankan bahwa ada yang salah dalam setiap pilihannya. Tapi justru tak ada lagi yang bisa ia ulang dan perbaiki dari semua kesalahan itu.

Satu hal lagi yang tak biasa dalam buku ini adalah saya tak menemui satu pun diksi 'senja'. Sebuah diksi yang lekat dengan penyair. Diksi yang selalu dikaitkan dengan keindahan, kenangan manis penuh romantis. Tapi justru saya menemukan kata 'petang'. Penulis cenderung memakai kata petang. Sebuah simbol yang menurut saya bermakna gelap, atau terlambat, atau penyesalan yang juga dalam. 

Di salah satu puisi yang berjudul "Pada Suatu Petang" diakhiri dengan bait berikut :

aku hanya menunggu diriku sendiri

yang aku tahu tak akan pernah kembali, 

sementara di luar telah malam 

telah meminta aku pulang.

Di bait ini sangat jelas sekali bagaimana si penulis terlalu jauh meninggalkan dirinya. Maksudku, ia seolah menjalani hidup sebagai yang bukan dirinya dan hidup dalam kepalsuan, atau menjadi yang bukan diri kita adalah sebuah kesedihan dan pilihan yang benar-benar bukan sebuah pilihan. Di dua baris terakhir, dia malah menjelaskan tentang bagaimana dia harus kembali pada waktu dia sebenarnya belum ingin kembali. Di sini, saya menemukan kehidupan rumah tangga yang mungkin saja pengarang sudah lalui. Sebuah kehidupan yang ada tuntutan, ada keinginan lain yang membatasi keinginan diri. Seorang penulis tentu ingin hidup merdeka, tapi kenyataan sosial sering membuat kita harus lupa akan arti kemerdekaan yang sesungguhnya. 

Keadaan seperti di atas dapat pula kita temui dalam puisi yang berjudul "Waktu" pada larik yang berbunyi “lalu kau akan menjadi begitu sedih/sebab yang pergi bukanlah waktu yang tak akrab denganmu/ tetapi dirimu sendiri/ yang kau tahu tak akan pernah kembali.”

Saya akhirnya menyimpulkan begitu banyak penyesalan dalam puisi di buku ini : 

Contohnya :

1. Penyesalan dalam memilih, bahkan seperti tak ada lagi kesempatan untuk memilih mana yang sesuai keinginan. Ini digambarkan Pada puisi "Setelah Bangun" pada larik berikut 'wanita itu masih di sana, menungguku datang memetiknya. Namun tanganku tiba-tiba menjelma api. Membakar diriku sendiri. 

2. Penyesalan dalam sebuah rencana besar. Digambarkan pada puisi 'Bangun Tidur'. Pada larik 'beberapa saat kemudian, aku bangun dengan mata tertutup, berjalan ke luar kamar, dituntun seorang perempuan yang telah ku lamar' Saya menangkap seakan si penulis tak percaya dengan kenyataan yang ia hadapi. Terkungkung pada berbagai aturan rumah tangga yang belum siap ia lakoni. 

3. Penyesalan yang berlanjut atas pilihan yang salah diawal. Pada puisi "Keluarga Baru" pada larik “setiap hari, mereka selalu makan bersama/ dengan lauk seadanya/ dan persoalan sebanyak-banyaknya.”

Dari semua penyesalan tersebut akhirnya penulis memilih sembunyi. Tentu tak ada pilihan lain yaitu sembunyi pada puisi.


Kedua, Penggunaan Simbol Ruang dalam Memaparkan Kesedihan

1. Diksi “Kamar”

Kamar yang menurut KBBI adalah ruang yang bersekat (tertutup) dinding yang menjadi bagian rumah atau bangunan (biasanya disekat atau dibatasi empat dinding); bilik;.

Kamar yang secara umum adalah kita tau mempunyai pintu sebagai jalan keluar, tapi di puisi yang berjudul 'Sebuah Kamar' makna kamar di puisi ini saya jumpai seperti sebuah ruang yang sempit dan tak punya pintu, bahkan tanpa lubang udara. Pengap dan gelap. Tak ada celah cahaya masuk untuk sekedar memberi terang. Apalagi ditambah dengan larik ia matikan lampu. Bagaimana bisa seseorang yang ditunggu akan datang jika kita menunggu di tempat yang tak memiliki pintu. Semuanya akan sia-sia. Semua keinginan jelas tak akan terwujud. 

2. Diksi “Ruang Tamu”

Hampir sama, saya menemukan makna ruang tamu yang jauh berbeda. Secara umum ruang tamu adalah tempat paling asyik untuk bercanda, berkelakar dengan teman sekitar atau teman yang baru berkunjung. Tapi ruang tamu di puisi yang berjudul "Ruang Tamu" saya melihatnya seperti tempat yang paling tersembunyi. Tempat yang paling sulit dijangkau. Seolah si pemilik rumah bingung mencari jalan lewat mana untuk sampai ke ruang tamunya sendiri. Sehingga ia tak pernah sampai. Boleh jadi saya ibaratkan ruang tamu dalam puisi ini tak pernah ada. Juga tak memiliki pintu untuk masuk ke sana. 


Ketiga, Rasa Tak Percaya Pada Diri Sendiri

Rasa tak percaya diri bisa muncul setelah kita sering mengalami kegagalan atau sering merasa ragu. Dalam beberapa puisi, saya menemukan beberapa keraguan dari penulis. Contohnya :

Penggunaan kata “ingin”

1. Pada puisi “Tempat Paling Rawan Bagi Sunyi” 

Pada larik pertama. “aku ingin melihatmu” kenapa tak disebut atau diucapkan langsung dengan gamblang “aku melihatmu”. Dengan penulis menaruh kata aku ingin. Sudah bisa saya tebak bahwa ujungnya akan ada kenyataan yang berlainan dengan keinginan itu di baris selanjutnya. 

2. Pada puisi “Membuat Jalan Raya”

Pada bait kedua, berbunyi :  “aku jadi ingin membuat jalan raya”

Ini dibuat terbalik dari puisi di atas, di mana penulis memaparkan kenyataan yang ada baru kemudian memaparkan apa yang dia inginkan. Tetapi seperti puisi-puisi lainnya, keinginan dalam larik puisi ini hanya sebatas keinginan belaka. Tak ada tindakan nyata yang akan membuatnya nanti sama antara keinginan dan yang jadi kenyataannya. 

3. Pada puisi “Di Taman, Aku Ingin Menemuimu”

Di larik pertama, “di taman, aku ingin Menemuimu”

Masih sama juga, ada semacam keinginan yang belum tentu kenyataannya nanti akan sama. Kenapa penulis tak berani langsung berucap, di taman aku Menemuimu'. Ada semacam rencana yang selamanya akan jadi rencana di otak. Dan bait berikutnya adalah hal yang berlawanan dengan rencana di bait awal.


RIFAT KHAN. Lahir di Pancor, NTB, pada tanggal 24 April. Karya-karyanya tersiar di berbagai media lokal dan nasional. Bermukim di Balwo, Majidi dan bergiat di Komunitas Rabu Langit Lombok Timur.

CERPEN KIKI SULISTYO

 


Pada Sebuah Kapal


     Bunyi besi berkeriut di bawah kakinya ketika menaiki tangga kapal. Tangga itu penuh karat, sebagian sisa catnya masih kelihatan; hijau tua di atas biru muda. Tangan kirinya menggenggam pegangan tangga sementara kakinya terus bergerak dengan langkah yang terdengar makin berat. Angin menimpa wajah saat dia menapak ruang penumpang. Matanya dipicingkan sesaat sebelum kemudian kembali melangkah. Ruangan masih sepi, cuma ada beberapa orang duduk di deretan kursi plastik sewarna jeruk dan seorang perempuan muda berdiri di besi pembatas tepi sambil menatap jauh ke seberang. 

     Dia memilih sebuah kursi tepat di belakang si perempuan muda, melepas ransel dari punggung dan meletakkannya di samping kiri. 

     Diperhatikannya punggung perempuan itu; ramping dan lentur. Rambutnya terikat sedemikian rupa oleh jepitan dari tembaga. Kerah bajunya rendah sehingga tampaklah pangkal lehernya. Tepat di tengah-tengah tengkuknya ada tato bergambar lumba-lumba. Selembar jaket merah melilit pinggangnya sehingga bagian pinggul tertutup, seperti disengaja untuk memberi ingat bagi para penatap bahwa sia-sialah usaha mereka membayangkan bentuk pinggul itu. 

     Penumpang-penumpang lain mulai naik, bersamaan dengan kesibukan para pemandu mengatur letak kendaraan di bagian bawah. Truk-truk besar menimbulkan bunyi berderak-derak.     

     Perempuan itu menoleh dan melihat seseorang di belakangnya sedang memperhatikan. Mata mereka bertemu. Lelaki itu tersenyum dengan ragu-ragu. Ketika perempuan itu balas tersenyum, makin lebarlah senyum si lelaki seakan senyuman itu terbuat dari karet. Perempuan itu melangkah dan duduk di dekatnya. Tidak terlalu dekat, ada dua kursi yang memisahkan mereka.

     “Berapa lama akan sampai di pelabuhan?” Perempuan itu bertanya. 

     “Jika perjalanan lancar, kira-kira sembilan puluh menit.”

     “Lama juga. Padahal selat ini kecil saja.”

     “Sepertinya kapal harus berputar dulu. Baru pertama?”

     “Sebenarnya tidak. Saya pernah menyeberang waktu kecil, tapi saya sudah lupa.”

     “Lahir di sini?”

     Seorang anak perempuan menangis di gendongan ibunya. Airmata mengotori paras yang sedikit pucat itu. Sementara ibunya kelihatan kesal, parasnya yang kusam menekuk. Seorang pria berjalan di depannya, membawa banyak tas dan menggandeng dua bocah lain di kiri dan kanannya. Ruangan makin ramai, petugas hilir-mudik, pedagang-pedagang mulai menawarkan barang-barangnya. Keluarga itu duduk di dua kursi kosong antara si lelaki dan si perempuan. Anak perempuan masih menangis ketika ibunya duduk di dekat si lelaki, sementara suaminya duduk di dekat si perempuan. Dua anak yang lain berdiri saja, sebelum salah satu dinaikkan ke pangkuan ayahnya. Anak itu memasukkan jari ke mulut, dia kelihatan takut. Melihat saudaranya dipangku, anak yang satunya lagi mulai ikut menangis. Dengan raut terpaksa si ayah juga mengangkat anak itu dan meletakkannya di pangkuan sebelah kiri. 

     “Iya, saya lahir di sini,” jawab si perempuan sambil mencondongkan badan ke depan agar dapat melihat si lelaki. Sambil mengangguk-angguk si lelaki bertanya kembali, “Sekarang mau mengunjungi keluarga?” Dia mencodongkan badannya ke belakang karena perempuan di sampingnya membungkuk ke depan untuk menurunkan anaknya. Perempuan muda yang ditanya kembali mencondongkan badannya ke depan, tapi karena melihat si lelaki mencondongkan badan ke belakang, ia tarik punggungnya ke belakang. Sebaliknya, karena melihat si perempuan mencondongkan badannya ke depan, si lelaki pun mendorong punggungnya ke depan. 

     Pria yang memangku dua anak tampak kerepotan. Meski angin terus berembus, lehernya berkilat oleh keringat. Dia menggoyang-goyang kedua paha mencoba menenangkan kedua anaknya. Tubuh kedua anak itu naik turun seakan-akan mereka sedang naik kuda. Peluit kapal lain bergaung dari kejauhan. Ada sedikit kerepotan di bagian bawah kapal ketika sopir sebuah truk besar susah payah menepatkan posisi kendaraannya. Pedagang-pedagang berseliweran seperti lalat, para pengamen mulai memainkan gitar sementara rekannya berkeliling dengan kantung kain kecil yang ditadahkan ke orang-orang.

     Si lelaki mengangkat ranselnya dari bangku sebelah kiri, lalu kembali mencondongkan badan ke depan. Baru saja dia hendak menawarkan kursi kosong itu pada si perempuan muda, seorang laki-laki yang mengenakan gamis, bertopi putih dan berjanggut panjang sudah lebih dulu duduk di kursi itu. Si lelaki menatap penumpang baru itu, tapi si penumpang seperti tidak memperhatikan, mulutnya komat-kamit. Si lelaki menunduk, menggosok-gosokkan sepatunya ke lantai kapal.

     Si perempuan muda kembali mencondongkan badan ke depan sambil berucap, “Ayo kita pindah ke sana.” Persis saat itu, anak yang tadi menangis di gendongan ibunya kembali menangis. Melihat saudaranya menangis salah seorang anak yang sedang dipangku ayahnya ikut menangis, dan melihat kedua saudaranya menangis anak satu lagi yang juga berada di pangkuan ayahnya ikut menangis. Satu truk besar kembali masuk, bunyi peluit kapal berdengung dan seorang pedagang menawarkan makanan dan minuman dengan suara nyaring. Si lelaki tidak mendengar tawaran si perempuan, maka dia pun berseru, “Apa?”

     Si perempuan muda menggeleng-geleng. Si lelaki mengulang pertanyaannya, tapi tak ada jawaban. Dia ingin berdiri dan menghampiri si perempuan, tapi demi dilihatnya beberapa penumpang yang masih berdiri melirik-lirik kursinya dia membatalkan niat itu. Si perempuan kembali mencondongkan badan, kali ini ke belakang, lalu berucap, “Maaf, bukan maksud saya..” Saat itu anak-anak mengerem tangisannya, peluit kapal tidak terdengar dan para pedagang tidak ada yang berseru-seru. Suara perempuan itu jadi satu-satunya suara yang terdengar keras. Pria yang memangku dua anak menoleh padanya dan berkata, “Tidak apa-apa.” Lantas dia bertanya pada anak di pangkuan sebelah kanan, “Sama tante ini ya.” Dan belum sempat si anak menjawab, pria itu sudah menyodorkannya pada si perempuan muda. Tak berkata apa-apa, meski dengan wajah heran, perempuan muda itu meraih si anak dan memangkunya. Si anak memasukkan jari-jarinya ke mulut. Sementara dua saudaranya yang melihat ia dipangku orang asing, mendadak mengubah air muka. Mereka kelihatan senang dan mulai tenang.

     “Mau mengunjungi keluarga?” tanya si pria sambil membaringkan anaknya di kedua pahanya yang kini sudah menjadi lebih lapang.

     “Bukan. Ada pekerjaan.”

     “Oh, kerja di bidang apa?”

     “Saya ada riset kecil-kecilan soal tenaga kerja migran.”

     “Oh, saya juga kerja di bidang itu.”

     “Iya kah? Meneliti juga?”

     “Oh, bukan. Saya penyalur tenaga kerja ke luar negeri.”

     “Wah, kebetulan. Sudah banyak yang dikirim?”

     Si lelaki mendengar percakapan itu dengan jelas. Dia hendak menoleh, tapi perempuan di sebelahnya mengayun-ayunkan anaknya ke depan dan ke belakang seperti mainan. Anak itu tertawa-tawa senang. Ia mulai mendongakkan lehernya, pasrah pada tangan ibunya, dan bila tubuhnya terayun ke depan ia menutup mata sebab sinar matahari menyilaukannya. Si lelaki menyandarkan punggung. Kursi itu sangat keras, punggungnya terasa sakit. Sesekali dia menengok, di antara ayunan tubuh si anak, dia melihat si penyalur tenaga kerja dan si perempuan muda bercakap-cakap. Baru kali ini dia bisa memperhatikan paras si perempuan. Pipinya kemerah-merahan dengan kulit cokelat muda, matanya bening dan lembut. Baru kali ini juga dia perhatikan betapa bersih suara perempuan itu. Ketika perempuan itu melepas jepit rambutnya dan anak di pangkuannya tampak riang memainkan rambut itu, si lelaki mulai dihinggapi penyesalan. Semestinya tadi dia langsung mengajak si perempuan ke bagian lain kapal sehingga mereka bisa menghabiskan waktu berdua saja. Dia kemudian ingat ada sembilan puluh menit waktu yang tersedia untuk mewujudkan cita-cita itu. Dari sela-sela penyesalan muncul harapan, seperti tunas pohon liar di dinding tua. 

     Diambilnya air mineral dari kantung di bagian samping ransel. Setelah membasahi tenggorokan dan melegakan dadanya, air itu mulai menjernihkan pikirannya. Lelaki itu bertanya-tanya pada dirinya sendiri, “Tapi untuk apa aku bercakap-cakap dengannya? Bukankah aku tidak mengenalnya dan kalau pun nanti aku mengenalnya dan kami berhubungan bukan tidak mungkin dia membawa serta masalah baru.”

     Kapal sudah hampir penuh dan nampaknya siap berangkat. Jembatan penghubung pelan-pelan dinaikkan. Para pedagang dan pengamen keluar dari kapal, menjejak daratan dan menunggu kapal lain bersandar. “Memang. Bisa saja dia membawa masalah baru. Tapi kemungkinannya sama besar dengan hal sebaliknya, bahwa perempuan itu akan membawa kehidupan baru. Sekian tahun dalam bui akan sulit buatku untuk bergaul lagi. Ia tidak mengenalku, jadi aku bisa mengarang masa lalu. Ia tidak akan tahu. Bersamanya aku akan menjauh dari kehidupanku yang lama. Betul, memang betul bahwa itu belum pasti terwujud. Tapi aku punya firasat kuat. Hidup dalam bui telah mengasah ketajaman firasatku. Aku yakin itu.” 

     Ketika kapal mulai bergerak, lelaki itu menatap jauh ke seberang. Sinar matahari membuat laut tampak seperti lempengan keperakan. Lelaki itu menengok saat si perempuan menurunkan anak di pangkuannya. Anak itu tertawa-tawa, perempuan itu menunduk. Lelaki itu melihat tato lumba-lumba di tengkuk si perempuan. Binatang laut itu seakan memberi tanda bahwa pintu terbuka untuknya. Ini saatnya. Perempuan itu punya peluang untuk terbebas dari si anak. Lelaki itu merasa perlu bangkit, menghampiri si perempuan dan mengajaknya ke sudut lain, entah di bagian kapal sebelah mana. Pasti ada. 

     Lelaki itu kembali menggosok-gosokkan sepatu ke lantai kapal. Baru saja dia hendak melaksanakan niat, laki-laki yang mengenakan gamis, bertopi putih, dan berjanggut panjang di sebelah kirinya tiba-tiba menepuk pahanya.***

Lombok, 16 November 2020   





Biodata

Kiki Sulistyo, lahir di Kota Ampenan, Lombok. Meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan puisinya yang terbaru berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020).