This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

RUKMINAH

(ilustrasi)

buletinkapass.com-Rukminah, perempuan berusia 21 tahun itu, senyum-senyum sendiri di depan cermin. Sembari menyisir rambutnya. Perlahan, Ia memperhatikan wajahnya sendiri. Mulai dari alisnya yang rapi, matanya yang teduh, hidungnya yang agak mancung, hingga bibirnya yang selalu dibilang seksi oleh Madun, lelaki yang setahun belakangan ini menjadi kekasihnya. Selepas itu, Rukminah beranjak ke tempat tidur. Memandang dua buah foto Madun yang dipajang pada sebuah meja kecil di tepian ranjang. Ia membelai foto itu dengan mesra sebelum meletakkannya di atas dada sambil berbaring.

Rukminah sungguh tak sabar menunggu kedatangannya ibunya dari pasar. Ada kabar gembira sepertinya yang ingin Ia sampaikan pada sang Ibu. Rukminah beranjak duduk, meletakkan kembali foto kekasihnya setelah mengecup tiga kali foto itu. Kemudian berjalan ke teras depan menunggu sang Ibu.

Dari kejauhan, sang Ibu terlihat dengan wajah sedikit lelah membawa beberapa tas yang penuh dengan belanjaan. Rukminah tergesa menghampiri ibunya, mengambil beberapa tas untuk dibawanya.

"Aduh, anak Ibu yang cantik, Ibu masih kuat sayang"

"Gak apa Bu, ibu capek, biar Minah bantu"

Mereka pun berjalan sampai ke teras rumah. Melepas tas dan duduk sejenak.

"Kabar gembira apa yang hendak kau sampaikan Minah. Ibu penasaran membaca sms mu tadi pagi"

Rukminah hanya tersenyum. Dengan perlahan Ia mendekatkan bibirnya ke telinga sang Ibu. Beberapa kalimat Ia bisikkan, terlihat dari bibirnya yang komat-kamit. Wajah sumringah dan bahagia terpancar dari wajah sang Ibu mendengar apa yang disampaikan Rukminah. Letih di wajahnya menjelma tiada.

"Ini suatu kebanggaan Minah, anak Ibu. Kabar ini harus kita sampaikan pada Datoq Husen, kakekmu, pada H. Athar, paklekmu, dan semua warga dusun ini" Ucap sang Ibu dengan nada tegas dan semangat yang berkobar.

Rukminah tersenyum dan memeluk Ibunya. Mereka sungguh bahagia di siang yang agak panas itu. Lalu setelah keluarga besar berkumpul di suatu malam yang direncanakan. Kesepakatan untuk mengadakan acara syukuran pun terjadi.

"Minah, kau harus mengambil cuti 3 hari di rumah sakit tempatmu bekerja, agar kau bisa menyiapkan acara besar ini" Perintah Datoq Husen.

"Nggih Kek" Jawab Rukminah.

"Begitupun Madun, suruh Ia cuti 3 hari dari kantor. Ini adalah acara luar biasa dan akan jadi suatu kebanggan bagi keluarga besar kita" Lanjut sang kakek dengan wajah sumringah.

"Sudah Kek, tiang sudah membicarakan semuanya dengan Kang Madun, dan kelurga besarnya pun sudah setuju" Jawab Rukminah.

Si Kakek tersenyum bahagia mendengar apa yang di ucapkan Rukminah. Begitu pun dengan keluarga yang lain. Wajah mereka seperti sedang dalam kebahagiaan yang teramat besar. Semua berdecak kagum dan bangga dengan Rukminah.

"Kau lihat kakak misanmu, si Rukminah, kau harus mencontoh dia" Ucap Lukman, paman Rukminah, kepada Asiah, anak perempuannya yang baru berusia 17 tahun.

Beberapa jamuan pun mulai dikeluarkan oleh Ibunda Rukminah sebagai pelengkap atas kebahagiaan malam itu. Mulai dari pisang hijau, jajanan abek, kue basah dan bergelas-gelas teh hangat. Semua keluarga saling berkelakar, tertawa sembari menikmati jamuan itu.

***

Beberapa persiapan segera dilakukan, acara tinggal dua hari lagi. Semua konsep sudah ada pengurusnya masing-masing. Ada yang bertugas membeli segala perlengkapan ke pasar. Ada yang mulai memasang terop. Ada yang tugas mengantar undangan ke kerabat atau keluarga yang jauh. Rukminah sendiri diperlakukan seperti putri, Ia tak boleh mengerjakan apapun. Hanya dibolehkan duduk dan tersenyum pada siapapun kerabat yang datang untuk membantu.

"Bu. Bagaimana dengan warga kampung, apa perlu pake undangan?" Tanya Sakur, kakak lelaki Rukminah pada Ibunya.

"Gak perlu nak, besok hari Sabtu sore ibu minta Sumardan, merbot musholla untuk mengumumkannya, agar semua warga datang di pesta berbahagia ini" Tegas ibu Rukminah.

Sakur pun pamit untuk mengurus hal lain. Kemudian Abdul, misan Rukminah mendekat.

"Bu, meja prasmanan posisinya di mana?

"Di ujung timur nak, agar tamu yang datang lebih leluasa menikmati jamuan"

Abdul pun langsung pamit. Ibunda Rukminah memperhatikan kiri kanan, melihat apa saja yang sudah dan belum dipersiapkan. Tampaknya 80 persen sudah persiapan dilakukan, tinggal memasak untuk jamuan prasmanan saja.

***

Seperti janjinya, pada suatu sore di hari sabtu, Ibunda Rukminah menemui Sumardan, memberikan selembar surat untuk diumumkan di Musholla, tentu dengan sebuah amplop sebagai ucapan terima kasih pada Sumardan. Seperti biasa, Sumardan dengan gesit mengumumkan hal itu. Apalagi kalo amplopnya sedikit tebal.

Selang beberapa saat, speaker musholla menggema menyampaikan kabar gembira ke seluruh kampung. Ibunda Rukminah sembari berjalan pulang, senyum-senyum sendiri mendengar suara Sumardan yang agak berat. Ibu-ibu lain yang kebetulan berpapasan, memberi ucapan selamat. Wajah Ibunda Rukminah semakin terlihat bahagia.

Meski, Ibu Sahnah, tetangganya, terlihat sedang mengomeli anak perempuannya yang bernama Ida, seorang gadis yang sudah berumur 23 tahun. "Kamu harus contoh si Minah, kamu harus buat ibu bangga, keluarlah sesekali, jangan di rumah saja. Kerjaan cuma nonton TV. Kapan kamu bisa buat ibu bangga seperti Rukminah!!"

Ibunda Rukminah tersenyum kecil mendengar itu sambil berjalan menuju rumah.

***

Hari minggu yang dinanti telah tiba. para tamu undangan pun sudah mulai berdatangan. Ada yang membawa sekeranjang buah, sekeranjang beras, gula dan jajanan. Tamu yang laki-laki membawa amplop, kadang juga bingkisan kado. Suasana semakin ramai, mulai dari anak-anak, remaja, dan orang tua. Beberapa mobil terlihat berjejer, tampaknya para tamu undangan yang datang dari jauh.

Rukminah didampingi Ibunya keluar. Demikian juga Madun, ia berdiri di sebelah kanan Rukminah, mengenakan setelan jas hitam dengan dasi kupu-kupu. Rukminah mengenakan kebaya merah dan beberapa kalung emas menghiasi lehernya. Ibunda Rukminah pun memakai aneka perhiasan, mulai dari kalung, gelang dan anting yang kerlap-kerlip. Perhiasan yang bertahun-tahun disimpan rapi dan hanya dikeluarkan sesekali kalau ada hajatan.

Semua tamu undangan terkesima dan berdecak kagum menyaksikan itu. Tibalah saatnya Ibunda Rukminah berbicara dengan loudspeaker yang suaranya sampai ke seluruh penjuru kampung.

"Para tamu undangan yang berbahagia. Kami sampaikan terima kasih tak terhingga kepada kalian semua yang sudah berkenan hadir di sini. Di hari yang berkah ini, kami akan menyampaikan kabar gembira".

Semua tamu bersorak sembari tepuk tangan. Ibunda Rukminah tersenyum dan kembali melanjutkan ucapannya. "Terima kasih untuk tepuk tangannya. Kabar gembira yang ingin kami sampaikan adalah bahwa anak perempuan kami satu-satunya, yakni Rukminah sudah tidak perawan lagi. Tepatnya, Ia tengah mengandung 3 minggu. Tentu ini hasil cintanya dengan kekasihnya, Madun" Ibunda Rukminah menyampaikannya dengan semangat yang berkobar dan kebahagiaan yang terpancar teramat jelas di wajahnya.

Tamu undangan lagi-lagi tepuk tangan. Rukminah dan Madun senyum bahagia sembari tangan Madun menggenggam erat tangan Rukminah. Tatapan mereka beradu, sekian detik, seperti jatuh cinta lagi.

"Tentu hal ini menjadi kebanggaan besar bagi kami sekeluarga. Kami tidak sia-sia mendidik Rukminah semenjak kecil, menyekolahkannya, menjadikan Ia perawat. Kini, tibalah saatnya Rukminah memberi kebanggaan besar bagi keluarga, khususnya, bagi saya, ibu kandungnya. Tak lupa, rasa syukur tak terhingga kepada Tuhan yang Esa, sebab di luar sana, masih banyak ibu yang tidak beruntung seperti saya. Sekian"

Tepuk tangan tak henti terdengar, raut bahagia dari para tamu undangan. Meski, ada saja yang menyimpan rasa iri di wajahnya. Seperti Ibu Mahmudah, di tengah riuh tepuk tangan, ia langsung menelpon Putri, anak gadisnya.

"Kamu di mana? Ibu tidak mau tau, nanti malam kalo kamu sudah pulang. Kamu harus sudah tidak perawan. Suruh si Abdi, kekasihmu yang dokter itu menyetubuhimu. Delapan tahun pacaran tak ada hasil. Apa saja yang kalian lakukan? Sesekali buat ibu bangga!".

Tanpa mendengar jawaban dari anaknya, ibu Mahmudah menutup telpon dengan wajah geram. Begitu pun ibu Sahnah, ia langsung bergegas pulang, meski acara belum usai. Langkahnya tergesa menuju rumahnya, langsung masuk ke kamar Ida, anak perempuannya yang sedang asyik menonton TV. Ia seperti serigala menjambak rambut anaknya sekuat tenaga.

"Kamu ini, nonton TV terus, sekarang kamu keluar, temui Sukaib, pacarmu itu, paksa dia menyetubuhimu, jangan pulang kalo kamu masih perawan!" Ibu Sahnah sama sekali tak peduli dengan anaknya yang meringis kesakitan sebab dijambak rambutnya.

Sementara, di tempat acara, suasana mulai hening, sebab acara sebentar lagi usai. Semua tamu undangan dipersilahkan melepas topeng masing-masing. Topeng yang sudah dipersiapkan saat mereka masuk ke gerbang rumah.

Bukankah hal-hal tabu sering dijadikan sebuah kebanggan? (*)

Abah


ilustrasi.google


buletinkapass.com-Abah adalah seorang ulama terpandang di kota ini. Abah juga penyabar dan selalu menasehatiku dengan segala cerita kebaikan. Di masa kecil, tiap azan subuh hendak berkumandang, Abah akan mengetuk pintu kamarku dengan pelan. Jika aku tak langsung bangun, Abah akan lebih keras lagi menggedornya. Sampai pada aku terbangun dan membuka pintu. Waktunya sholat Subuh, Abah berucap. Aku berjalan sempoyongan ke kamar mandi, dalam kondisi ngantuk. Abah berangkat menjadi imam di mesjid yang tak jauh letaknya dari rumah. Seringkali aku bohong pada Abah, aku hanya mengambil air wudhu, lalu berjalan ke kamar, mengonci pintu dan langsung tidur. Abah tak pernah tau.
Pernah suatu kali saat Ibu baru sebulan meninggal, Abah membawaku jalan-jalan ke sebuah surau kecil di ujung Jalan Mandalika. Di sana, Abah mengenalkan beberapa bocah seumuranku. "Ini namanya Malida, dia bocah yatim piatu sejak umurnya dua bulan" Abah bicara. "Ini namanya Ismail, tangannya buntung sebelah bekas kecelakaan" Abah bicara pelan. Waktu itu aku sedang ngambek, ingin dibelikan mainan yang harganya lumayan mahal. "Kita musti bersyukur Han, banyak orang lain yang lebih kekurangan. Jangan melihat selalu ke atas, sesekali menunduk. Agar jiwa kita tenang" Abah tersenyum, bergantian menatap kami. Malida senyum juga. Aku masih saja terdiam kepikiran mainan tadi. Abah kemudian mengajakku pulang. Sebelumnya, kami mampir ke makam Ibu. Abah menangis di pinggir makam Ibu. Bibirnya tak henti mengaji dan berdo'a.
Malamnya Abah terlihat duduk di bangku kayu pinggir ranjangnya. Sesekali Ia memandang potret Ibu. Matanya terlihat basah. Besoknya, pagi-pagi Abah berangkat ke kampung seberang untuk ceramah. Aku diberinya uang jajan saat berangkat sekolah, lebih banyak dari biasanya. "Abah mungkin pulangnya sore. Ini uang jajan untuk sekolah dan ini pakai belanja waktu pulang. Abah sudah titip makan di Ibu Muslimah. Nanti dia yang akan bawain kamu makan" Abah menyalami tanganku dan memelukku sangat erat. Begitu hangat. Ibu Muslimah adalah tetangga kami, Ia baik dan baru dua bulan jadi muallaf. Ia juga setiap maghrib akan datang belajar mengaji pada Abah.
***
Hari tetap berjalan sebagaimana mestinya. Jadwal Abah ceramah ke berbagai mesjid semakin banyak. Apalagi setelah Maskur, pemuda kampung sebelah, mengupload video Abah yang sedang ceramah. Banyak pujian di kolom komentarnya. Ada yang bilang suara Abah menyejukkan, ada yang bilang Abah pandai menyelipkan humor di setiap pengajiannya hingga jamaah tak bosan, ada juga yang bilang Abah kharismatik. Dan sejak video itu ramai dibicarakan, Abah akhirnya diundang ceramah keluar daerah. Abah sangat sibuk, dan hidup kami boleh dikata lebih dari cukup. Bahkan pernah sekali Abah tampil live di TV. Itu menjadi perbincangan warga berhari-hari. Aku lebih sering sendiri di rumah, meski sesekali Abah memintaku untuk ikut serta.
Sampai pada aku masuk sekolah menengah atas, Abah sama sekali tak pernah memintaku apalagi memaksaku untuk sekolah di madrasah. Aku selalu sekolah di sekolah negeri. Dan sebuah kejadian membuat Abah pilu. Waktu itu, aku baru saja pulang sekolah, aku duduk di korsi tamu. Abah sedang mengaji di atas sajadah. Tiba-tiba Ibu Salmah, dari kampung sebelah datang. Ia menggedor pintu dengan amat keras. Aku kaget, Abah dengan cepat bangun dan membukakan pintu. Wajah Ibu Salmah sudah memerah. Ada apa gerangan, Abah bertanya dengan suara lembut. Sebelumnya, Ia mengucap salam namun diabaikan oleh Ibu Salmah. Dengan nada emosi Ibu Salmah bicara, menjelaskan sesuatu pada Abah. Setelah hampir lima menit, Abah menoleh menatapku.
"Han, kesini dan cium tangan Ibu Salmah. Minta maaflah pada Beliau" Abah bicara pelan.
Aku masih diam saja, aku tak ingin meminta maaf pada Ibu Salmah. Namun mata ayah melotot, dan terus memintaku. Akhirnya aku bangun, berjalan pelan, kemudian mencium tangannya dan meminta maaf. Ibu Salmah kemudian pulang, masih ada raut kesal di wajahnya.
Abah kemudian memintaku duduk dan Ia bertanya, "Han, apa benar kamu sudah bicara kasar pada Eliana, anaknya Ibu Salmah?"
Eliana adalah teman sekelasku. Ia perempuan yang cantik, namun mulutnya terlalu berbisa. Setiap hari kerjaannya ngomongin orang, termasuk aku. Sudah tiga hari aku mendengar mulutnya terus nyerocos, dan tadi pagi adalah puncaknya. Ia bilang, abah ceramah hanya karena uang, bukan mencari ridho Allah semata. Spontan aku bilang 'monyet' padanya, dan Ia langsung menangis. "Kenapa kamu diam Han? Jawab Abah.." Abah bicara lebih keras.
"Ya, abah." Jawabku singkat. Abah menggeleng tiga kali.
"Han, denger Abah baik-baik. Bukankah abah sering bilang, kalau kita harus sabar, harus selalu menanam kebaikan. Abah tak pernah memaksamu untuk harus seperti abah, untuk harus menjadi ulama. Dimana pun kamu mau sekolah, abah tak pernah larang. Tapi satu yang abah minta, apapun yang orang bilang, hargai dan bersabarlah. Jangan cepat emosi" Abah mengelus rambutku. Aku hanya menunduk. Beberapa kali abah menghela napas yang begitu panjang. Tapi tasbih di tangannya tetap saja berjalan.
"Rasulullah pernah dilempar tai, pernah difitnah, bahkan dicurangi berkali-kali. Tapi Ia tetap sabar dan tak membalas semua itu dengan kejahatan pula. Bukankah api bisa padam oleh air, dan kejahatan jika dibalas dengan kejahatan, sungguh tak akan ada ujungnya, hanya merugi pada kedua belah pihak. Dan sungguh Allah membenci orang-orang yang selalu bermusuhan dan memutus silaturrahim" Abah terus bicara. Aku masih saja menunduk.
Suasana kemudian hening. Abah juga diam beberapa lama. Abah kemudian berdiri, lalu berkata, "Kamu makan sana Han, lauk sudah abah siapkan di piring. Kamu mungkin lapar. Kemudian habis makan, kamu mandi dan sholat" Abah meninggalkanku yang masih tertunduk. Rasa penyelasan di dadaku seperti mengepung. Abah terlihat malu pada Ibu Salmah. Apalagi saat Ibu Salmah tadi marah-marah dengan suara keras. Ibu Muslimah dan beberapa tetangga lain terlihat keluar pintu rumah melihat peristiwa itu.
***
Waktu berjalan begitu ringan, namun batuk abah terkadang terdengar berat. Pernah pula abah jatuh sakit oleh demam. Namun abah selalu sekuat mungkin untuk memenuhi setiap undangan pengajian. Semua kebutuhanku terus saja dipenuhi. Bahkan sampai aku masuk ke perguruan tinggi. Aku bilang pada abah, aku ingin mengambil jurusan teknik. Abah tersenyum, lalu mengangguk. Ia selalu tak pernah menghalang-halangi keinginanku. Ia sepenuh hati mendukung dan mendo'akanku. Resmilah aku sekarang menjadi seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi ternama.
Dan saat menjadi mahasiswa itulah, aku mulai sadar, betapa angin begitu lihai menerbangkan biji buah hingga jatuhnya begitu jauh dari pohonnya. Aku mengenal Acing dan Husein, mereka adalah teman kampus dari luar daerah. Acing anak seorang pejabat, dan Husein anak seorang pengusaha. Acing tak pernah sembahyang, dan Husein sangat rajin ibadah. Namun mereka memiliki kegemaran yang sama. Kegemaran yang juga membuatku sering melakukan hal rahasia saat abah tak ada di rumah. Semua berawal dari kedekatanku dengan mereka.
Dan tadi pagi, abah pamit untuk berangkat ke luar daerah sebab ada undangan ceramah. Abah memelukku begitu erat, Ia bilang "Han, jadilah orang baik. Abah percaya padamu" air matanya begitu hangat menempel di pipiku. Dan selang empat jam dari itu, rumahku digerebek. Aku, Acing dan Husein diborgol. Kami sedang pesta sabu. Tiga petugas berpakaian preman itu menyeret tubuh kami. Mereka sudah mengendus kelakuan kami sejak sebulan lalu. Para tetangga keluar rumah menyaksikan peristiwa itu. Dan sungguh, aku tak pernah bisa membayangkan bagaimana remuknya hati Abah jika kabar ini sampai di telinganya. (*)

Majidi, 2017.

Zikrol MDQH, Ribuan Santri Ikuti Jalan Sehat

buletinkapass.com-Dalam rangka ta'mir adzikrol hauliyah MDQH NW Pancor ke 53, ribuan satri dan mahasiswa mahasiswi baru MDQH mengikuti jalan sehat yang digelar di jalan pahlawan TGKHM. Zainuddin Abd Majid mengelilingi kota Pancor. 05/18.

Kegiatan yang bekerjasama dengan Bank NTB dan Indomie tersebut diikuti oleh calon wakil gubernur Dr. Siti Rohmi Djalilah dan Kapolsek Selong Junaidi.

"setelah mengikuti jalan sehat, para mahasiswa baru MDQH mengikuti cukuran masal sebagai prasyarat untuk menjadi mahasiswa baru yang dipimpin oleh TGH Yusuf Makmun"

||ysm