Abah


ilustrasi.google


buletinkapass.com-Abah adalah seorang ulama terpandang di kota ini. Abah juga penyabar dan selalu menasehatiku dengan segala cerita kebaikan. Di masa kecil, tiap azan subuh hendak berkumandang, Abah akan mengetuk pintu kamarku dengan pelan. Jika aku tak langsung bangun, Abah akan lebih keras lagi menggedornya. Sampai pada aku terbangun dan membuka pintu. Waktunya sholat Subuh, Abah berucap. Aku berjalan sempoyongan ke kamar mandi, dalam kondisi ngantuk. Abah berangkat menjadi imam di mesjid yang tak jauh letaknya dari rumah. Seringkali aku bohong pada Abah, aku hanya mengambil air wudhu, lalu berjalan ke kamar, mengonci pintu dan langsung tidur. Abah tak pernah tau.
Pernah suatu kali saat Ibu baru sebulan meninggal, Abah membawaku jalan-jalan ke sebuah surau kecil di ujung Jalan Mandalika. Di sana, Abah mengenalkan beberapa bocah seumuranku. "Ini namanya Malida, dia bocah yatim piatu sejak umurnya dua bulan" Abah bicara. "Ini namanya Ismail, tangannya buntung sebelah bekas kecelakaan" Abah bicara pelan. Waktu itu aku sedang ngambek, ingin dibelikan mainan yang harganya lumayan mahal. "Kita musti bersyukur Han, banyak orang lain yang lebih kekurangan. Jangan melihat selalu ke atas, sesekali menunduk. Agar jiwa kita tenang" Abah tersenyum, bergantian menatap kami. Malida senyum juga. Aku masih saja terdiam kepikiran mainan tadi. Abah kemudian mengajakku pulang. Sebelumnya, kami mampir ke makam Ibu. Abah menangis di pinggir makam Ibu. Bibirnya tak henti mengaji dan berdo'a.
Malamnya Abah terlihat duduk di bangku kayu pinggir ranjangnya. Sesekali Ia memandang potret Ibu. Matanya terlihat basah. Besoknya, pagi-pagi Abah berangkat ke kampung seberang untuk ceramah. Aku diberinya uang jajan saat berangkat sekolah, lebih banyak dari biasanya. "Abah mungkin pulangnya sore. Ini uang jajan untuk sekolah dan ini pakai belanja waktu pulang. Abah sudah titip makan di Ibu Muslimah. Nanti dia yang akan bawain kamu makan" Abah menyalami tanganku dan memelukku sangat erat. Begitu hangat. Ibu Muslimah adalah tetangga kami, Ia baik dan baru dua bulan jadi muallaf. Ia juga setiap maghrib akan datang belajar mengaji pada Abah.
***
Hari tetap berjalan sebagaimana mestinya. Jadwal Abah ceramah ke berbagai mesjid semakin banyak. Apalagi setelah Maskur, pemuda kampung sebelah, mengupload video Abah yang sedang ceramah. Banyak pujian di kolom komentarnya. Ada yang bilang suara Abah menyejukkan, ada yang bilang Abah pandai menyelipkan humor di setiap pengajiannya hingga jamaah tak bosan, ada juga yang bilang Abah kharismatik. Dan sejak video itu ramai dibicarakan, Abah akhirnya diundang ceramah keluar daerah. Abah sangat sibuk, dan hidup kami boleh dikata lebih dari cukup. Bahkan pernah sekali Abah tampil live di TV. Itu menjadi perbincangan warga berhari-hari. Aku lebih sering sendiri di rumah, meski sesekali Abah memintaku untuk ikut serta.
Sampai pada aku masuk sekolah menengah atas, Abah sama sekali tak pernah memintaku apalagi memaksaku untuk sekolah di madrasah. Aku selalu sekolah di sekolah negeri. Dan sebuah kejadian membuat Abah pilu. Waktu itu, aku baru saja pulang sekolah, aku duduk di korsi tamu. Abah sedang mengaji di atas sajadah. Tiba-tiba Ibu Salmah, dari kampung sebelah datang. Ia menggedor pintu dengan amat keras. Aku kaget, Abah dengan cepat bangun dan membukakan pintu. Wajah Ibu Salmah sudah memerah. Ada apa gerangan, Abah bertanya dengan suara lembut. Sebelumnya, Ia mengucap salam namun diabaikan oleh Ibu Salmah. Dengan nada emosi Ibu Salmah bicara, menjelaskan sesuatu pada Abah. Setelah hampir lima menit, Abah menoleh menatapku.
"Han, kesini dan cium tangan Ibu Salmah. Minta maaflah pada Beliau" Abah bicara pelan.
Aku masih diam saja, aku tak ingin meminta maaf pada Ibu Salmah. Namun mata ayah melotot, dan terus memintaku. Akhirnya aku bangun, berjalan pelan, kemudian mencium tangannya dan meminta maaf. Ibu Salmah kemudian pulang, masih ada raut kesal di wajahnya.
Abah kemudian memintaku duduk dan Ia bertanya, "Han, apa benar kamu sudah bicara kasar pada Eliana, anaknya Ibu Salmah?"
Eliana adalah teman sekelasku. Ia perempuan yang cantik, namun mulutnya terlalu berbisa. Setiap hari kerjaannya ngomongin orang, termasuk aku. Sudah tiga hari aku mendengar mulutnya terus nyerocos, dan tadi pagi adalah puncaknya. Ia bilang, abah ceramah hanya karena uang, bukan mencari ridho Allah semata. Spontan aku bilang 'monyet' padanya, dan Ia langsung menangis. "Kenapa kamu diam Han? Jawab Abah.." Abah bicara lebih keras.
"Ya, abah." Jawabku singkat. Abah menggeleng tiga kali.
"Han, denger Abah baik-baik. Bukankah abah sering bilang, kalau kita harus sabar, harus selalu menanam kebaikan. Abah tak pernah memaksamu untuk harus seperti abah, untuk harus menjadi ulama. Dimana pun kamu mau sekolah, abah tak pernah larang. Tapi satu yang abah minta, apapun yang orang bilang, hargai dan bersabarlah. Jangan cepat emosi" Abah mengelus rambutku. Aku hanya menunduk. Beberapa kali abah menghela napas yang begitu panjang. Tapi tasbih di tangannya tetap saja berjalan.
"Rasulullah pernah dilempar tai, pernah difitnah, bahkan dicurangi berkali-kali. Tapi Ia tetap sabar dan tak membalas semua itu dengan kejahatan pula. Bukankah api bisa padam oleh air, dan kejahatan jika dibalas dengan kejahatan, sungguh tak akan ada ujungnya, hanya merugi pada kedua belah pihak. Dan sungguh Allah membenci orang-orang yang selalu bermusuhan dan memutus silaturrahim" Abah terus bicara. Aku masih saja menunduk.
Suasana kemudian hening. Abah juga diam beberapa lama. Abah kemudian berdiri, lalu berkata, "Kamu makan sana Han, lauk sudah abah siapkan di piring. Kamu mungkin lapar. Kemudian habis makan, kamu mandi dan sholat" Abah meninggalkanku yang masih tertunduk. Rasa penyelasan di dadaku seperti mengepung. Abah terlihat malu pada Ibu Salmah. Apalagi saat Ibu Salmah tadi marah-marah dengan suara keras. Ibu Muslimah dan beberapa tetangga lain terlihat keluar pintu rumah melihat peristiwa itu.
***
Waktu berjalan begitu ringan, namun batuk abah terkadang terdengar berat. Pernah pula abah jatuh sakit oleh demam. Namun abah selalu sekuat mungkin untuk memenuhi setiap undangan pengajian. Semua kebutuhanku terus saja dipenuhi. Bahkan sampai aku masuk ke perguruan tinggi. Aku bilang pada abah, aku ingin mengambil jurusan teknik. Abah tersenyum, lalu mengangguk. Ia selalu tak pernah menghalang-halangi keinginanku. Ia sepenuh hati mendukung dan mendo'akanku. Resmilah aku sekarang menjadi seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi ternama.
Dan saat menjadi mahasiswa itulah, aku mulai sadar, betapa angin begitu lihai menerbangkan biji buah hingga jatuhnya begitu jauh dari pohonnya. Aku mengenal Acing dan Husein, mereka adalah teman kampus dari luar daerah. Acing anak seorang pejabat, dan Husein anak seorang pengusaha. Acing tak pernah sembahyang, dan Husein sangat rajin ibadah. Namun mereka memiliki kegemaran yang sama. Kegemaran yang juga membuatku sering melakukan hal rahasia saat abah tak ada di rumah. Semua berawal dari kedekatanku dengan mereka.
Dan tadi pagi, abah pamit untuk berangkat ke luar daerah sebab ada undangan ceramah. Abah memelukku begitu erat, Ia bilang "Han, jadilah orang baik. Abah percaya padamu" air matanya begitu hangat menempel di pipiku. Dan selang empat jam dari itu, rumahku digerebek. Aku, Acing dan Husein diborgol. Kami sedang pesta sabu. Tiga petugas berpakaian preman itu menyeret tubuh kami. Mereka sudah mengendus kelakuan kami sejak sebulan lalu. Para tetangga keluar rumah menyaksikan peristiwa itu. Dan sungguh, aku tak pernah bisa membayangkan bagaimana remuknya hati Abah jika kabar ini sampai di telinganya. (*)

Majidi, 2017.

Biodata Penulis

Rifat Khan. Bermukim di NTB dan bergiat di Komunitas Rabu Langit. Banyak menulis cerita dan sebagai seorang bendahara di komunitas. Buku kumpulan cerpennya akan segera terbit. 

Lebih baru Lebih lama