DILEMA COVID19 DI INDONESIA

 

(ilustrasi:google)


buletinkapass.com-Dalam sebuah media asing bernama Bloomberg yang memprediksi jika dibutuhkan 10 tahun Covid-19 hilang di Indonesia. Hal senada juga di tulis oleh detik dan iNews

Predikisi itu kiranya tidak berlebihan ketika dihadapkan dengan realitas kondisi di Indonesia saat ini, mungkin hingga beberapa tahun ke depan. 

Penanganan pandemi membutuh keseriusan, kebersamaan dan kekompakan, dan optimasi pemanfaatan sumber daya.

Kerja pemerintah Indonesia dalam menangani pandemi masih belum bisa dibilang serius. Kebijakan berubah-ubah bersifat "coba-coba" jauh dari kategori konseptual melibatkan kajian dan pikiran sistematik (ahli/akademis). Salah satunya, diketahui bahwa ternyata pemerintah Indonesia tidak memiliki data "real time" paparan pandemi sebagai landasan utama menentukan kebijakan penanganan, oleh karena lemahnya sistem data. 

Kiranya sulit untuk mengatakan bahwa penanganan pandemi di Indonesia penuh kebersamaan dan kekompakan. Banyak faktor yang menghambat kebersamaan dan kekompakan yang dimaksud. 

Secara teknis, keluasan wilayah Indonesia mempersulit konsolidasi dan koordinasi. Hambatan yang lebih besar lagi pada ranah intensi. Perang antar geng kapital berebut kendali politik dan ekonomi membelah elitis (hingga rakyat), pikiran dan energi nyaris terkuras habis untuk mengurus kepentingan politik dan ekonomi. 

Pemilu 2024 masih jauh, tapi elitis sudah sibuk bermanuver saling serang saling jegal. Dampaknya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah makin merosot tajam. Dari mana pasal terbangun kebersamaan dan kekompakan?

Sumber daya ekonomi, lemah. Sumber daya politik, lemah. Dengan sendirinya sumber daya manusia juga ringkih. Jer basuki mawa bea. Memang dilema, tapi harus menentukan skala prioritas. Sudah bukan rahasia lagi bahwa anggaran untuk penanganan pandemi jauh lebih kecil dibanding anggaran penyelematan ekonomi (pemodal besar). Dana yang relatif terbatas pun masih dikorupsi berjamaah. Bikin kebijakan apa pun tanpa ditopang profesionalitas dan logistik (dana) yang memadai niscaya ambyar.

Itulah lebih kurang garis besar realitas yang terjadi di Indonesia. Ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi agar kita semua siap menghadapi segala kemungkinan, ketika rakyat memang harus total memikirkan sendiri keselamatannya. 


||red

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama