Mengenal Anonime



Yang terburuk adalah ketika penyampai maupun penanggap berita keduanya hadir dengan menggunakan akun-akun palsu. Kondisi anonim penuh ini memiliki daya bentur yang lebih berat karena pihak penggunanya tidak menanggung implikasi moral maupun sosial seberat pemakaian akun asli. Para pihak pengguna akun-akun palsu tidak memiliki kekhawatiran untuk “diserang” seperti yang terjadi pada pengguna akun asli. Pertama karena jati aslinya terlindung di balik akun tersebut, yang kemudian pada tahap berikutnya memberikan keamanan dan kenyamanan bagi penggunanya untuk menyampaikan gagasan sekehendak hati. Pada saat kondisi seperti ini berlangsung, anonimitas menjadi tameng propaganda yang mumpuni. Di suatu momen tertentu, anonimitas ini menjadi faktor yang menghadirkan stabilitas bagi lingkungan sekitarnya dengan wacana-wacana yang berupaya mendorong pada konsensus di dalam masyarakat. Sebaliknya, dalam momen yang bersamaan anonimitas dapat pula menjadi alat untuk memecah belah, atau seperti yang sedang dipopulerkan oleh rezim sekarang sebagai ancaman terhadap kebhinnekaan di Indonesia. Menariknya, anonimitas di internet khususnya di media sosial tidak hanya berbentuk ketiadaan nama semata. Anonimitas yang kedua yakni pseudo-anonym merujuk pada perkembangan aplikasi teknologi yang memungkinkan pengguna internet atau media sosial untuk menggunakan gambar/foto sebagai penanda identitas. Dalam konteks ini, ketiadaan foto atau penggunaan foto yang tidak memiliki korelasi sama sekali dengan identitas asli pengguna internet merupakan sebuah anonimitas tersendiri. Bisa saja nama yang tercantum adalah nama asli, tetapi menjadi sulit untuk diakui kebenarannya karena dibutuhkan pembanding yang akurat seperti foto dan video. Bisa juga foto yang dipajang sebagai foto profil adalah foto asli, namun masalahnya tidak semua orang dapat mengkonfirmasi bahwa foto profil yang ditampilkan tersebut sesuai dengan nama pemilik akun. Reproduksi dalam kasus nama-nama alay misalnya, merupakan satu bentuk lain anonimitas semu yang mengaburkan jati diri asli pengguna internet bersangkutan. Dalam studinya tentang proses pembentukan dan implikasi bahasa alay terhadap perkembangan Bahasa Indonesia, Kelana (2011) mengemukakan bahwa fungsi penggunaan bahasa alay adalah sebagai fungsi gaul, fungsi identitas (diri dan kelompok), sebagai filter password, dan sebagai penambah kesan lucu dan unik. Pada kasus ini, seorang pengguna internet memakai nama unik dan lucu pada akun yang dimilikinya. Alih-alih mempermudah, nama alay yang disematkan pada profil akun itu malah kerap menyulitkan bagi sebagian orang yang dikategorikan atau merasa diri berada di luar komunitas pengguna nama alay tersebut. Bentuk anonimitas semu lainnya di samping ketiga contoh di atas yakni penggunaan bahasa yang berbeda di dalam komentar dengan bahasa yang digunakan pada suatu postingan. Bahasa daerah dan bahasa asing dapat menjadi tersangka dalam hal ini. Penyebabnya ialah bahwa suatu postingan biasanya diplot untuk mendapatkan tanggapan/komentar dalam bahasa yang dapat dipahami baik oleh pihak yang memposting maupun pihak yang berkomentar terhadap isi postingan. Ketika komentar yang muncul menggunakan bahasa daerah atau bahasa asing yang tidak dipahami oleh para komunikan, komentar tersebut berdiri sebagai ekspresi yang absurd. Anonimitasnya terjadi karena muatan ekspresi di dalam komentar tersebut sama sekali tidak dipahami oleh komunikan lainnya, entah itu gembira, setuju, sedih, menghardik, atau lainnya. Lebih-lebih lagi jika pemberi komentar tidak menambahkan penanda ekspresi semisal emoticon dan sejenisnya, jadilah komentar itu terasing dari konteks pembicaraan antara isi postingan dengan tanggapan terhadapnya.
1 2

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama