DARI ANONIM KEMBALI KE ANONIM


Konon, keperiadaan kita dalam sejarah bermula dari peninggalan tradisi tulis yang terdapat pada berbagai kebudayaan di masa lampau. Warisan berupa benda-benda fisik seperti prasasti maupun naskah karya sastra menjadi dua buah penanda kehadiran manusia di dalam rentang kronologi dunia. Ekspresi verbal para nenek moyang kita ini termaktub sebagai piagam, maklumat, surat keputusan, undang-undang, legenda, atau bahkan dongeng. Keberadaan tulisan di dalam sejarah telah melintasi batasan yang kabur perihal pemilik sah kebudayaan dunia yang sebelumnya hanya direka-reka berdasarkan peninggalan arkeologis nontulis seperti gambar-gambar di gua, peralatan berburu dan meramu, atau sarkofagus dan menhir di era megalitik. Meskipun demikian, kehadiran tulisan pada berbagai peradaban dunia tidak serta merta menghilangkan sepenuhnya keraguan akan identitas pemiliknya mengingat tulisan pada masa itu cenderung dianggap sebagai milik bersama, jika tidak merupakan kreasi monumental penguasa yang sedang memerintah. Terutama sekali pada karya sastra, anggapan bahwa teks di dalamnya merupakan pengetahuan bersama atau sebagai konvensi di masyarakat mendorong sang pengarang untuk menghadirkan diri sebagai sosok anonim pada karya yang dihasilkannya. Di Nusantara, sifat penulisan anonim ini berlanjut hingga era akhir ketika hikayat dan jenis sastra Melayu Lama lainnya masih menjadi milik bersama suatu masyarakat. Para pengarang yang lazimnya hidup di kalangan istana, menghadirkan diri mereka sebagai representasi kerajaan pada karya yang ditulis. Sehingga, bukan suatu keanehan jika teks pada era ini dianggap bersifat istanasentris karena kandungannya yang lebih banyak berkutat perihal kehidupan istana, termasuk dongeng, legenda, mite dan sejenisnya yang berada dalam kerangka mendudukkan istana sebagai kutub sakral kehidupan bermasyarakat. Meskipun demikian, bisa jadi anonimitas pada era ini tidak melulu disebabkan karena teks yang ditulis oleh pengarang merupakan konvensi di dalam masyarakat. Mari membayangkan bahwa pengarang pada masa itu mencoba untuk menulis dengan perspektif yang berbeda dengan
1 2

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama