Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

ALKEMIS PERANG: BAGAIMANA INDUSTRI SENJATA GLOBAL MEMELIHARA KONFLIK TIMUR TENGAH TETAP MENYALA


Ada sebuah ritual magis kuno yang selalu gagal dilakukan oleh para penyihir dan ilmuwan di Abad Pertengahan: Alkimia. Mereka menghabiskan umur dan kewarasan di depan tungku peleburan, mencoba mengubah timah murahan menjadi kepingan emas murni. Mereka semua mati sebagai pecundang. Namun, lompatlah ke abad ke-21, dan kau akan menemukan bahwa alkimia itu nyata. Para alkemis modern ini tidak lagi memakai jubah lusuh atau bersembunyi di gua. Mereka memakai setelan jas Brioni seharga puluhan ribu dolar, berkantor di gedung-gedung kaca Wall Street, dan duduk di dewan direksi kontraktor pertahanan raksasa di Virginia.

Mereka telah menyempurnakan ilmu sihir paling gelap dalam peradaban manusia: mereka tahu persis bagaimana cara mengubah genangan darah di Timur Tengah menjadi lonjakan dividen dan emas murni di rekening bank mereka.

Mari kita berhenti sejenak mengunyah narasi cengeng tentang perdamaian dunia, resolusi PBB, atau diplomasi kemanusiaan. Jika kau ingin membedah anatomi konflik di Gaza, Lebanon, Yaman, atau ketegangan eskalatif dengan Iran hingga tahun 2026 ini, kau tidak boleh memulainya dengan membaca kitab suci atau buku sejarah agama. Kau harus memulainya dengan membaca laporan laba rugi kuartalan (quarterly earnings report) dari raksasa industri militer seperti Lockheed Martin, RTX (Raytheon), General Dynamics, Boeing, dan Northrop Grumman.

Di situlah letak kejujuran paling telanjang tentang mengapa mesin pembantai ini tidak pernah dimatikan.

Perang Sebagai Barang Konsumsi Cepat Habis

Bagi warga sipil yang terjebak di bawah reruntuhan beton di Rafah atau pinggiran selatan Beirut, perang adalah kiamat. Ia adalah akhir dari garis keturunan, hilangnya masa depan, dan trauma yang akan diwariskan lintas generasi. Tapi bagi para eksekutif di kompleks industri militer (military-industrial complex), perang bukanlah tragedi. Perang adalah "peluang pasar yang sedang bertumbuh".

Coba pahami model bisnis mereka. Industri senjata adalah satu-satunya industri di dunia yang produk utamanya dirancang untuk dihancurkan dalam sekali pakai. Ketika sebuah jet tempur F-35 Israel menjatuhkan bom pintar Joint Direct Attack Munition (JDAM) seberat 2.000 pon ke sebuah blok apartemen, bom itu meledak dan lenyap. Bagi militer, itu adalah amunisi yang terpakai. Bagi pabrik pembuatnya, itu adalah barang konsumsi yang harus segera di-restock.

Sistem pertahanan Iron Dome adalah contoh paling brilian dari kapitalisme militer. Setiap kali satu roket murah rakitan Hamas atau Hizbullah seharga beberapa ratus dolar ditembakkan, sistem Iron Dome harus meluncurkan rudal interseptor Tamir yang harganya bisa mencapai puluhan ribu dolar per unit. Ribuan roket dicegat, yang berarti ribuan interseptor baru harus segera dipesan ulang, diproduksi, dan dibayar menggunakan uang pajak warga negara Amerika Serikat lewat paket "bantuan militer darurat".

Ini adalah siklus rantai pasok (supply chain) yang sangat sempurna. Ketika gudang amunisi sekutu mulai kosong karena dipakai untuk membantai warga sipil, mesin pabrik di Texas dan Arkansas harus menyala 24 jam sehari. Ribuan lapangan kerja tercipta di Amerika, politisi lokal mendapat tepuk tangan karena menurunkan angka pengangguran, dan para pemegang saham berpesta. Menghentikan perang lewat gencatan senjata, dalam kacamata ekonomi ini, adalah sebuah bencana finansial. Gencatan senjata berarti mesin pabrik mati. Gencatan senjata adalah kerugian kuartalan.

Timur Tengah: Etalase Hidup dan Laboratorium Darah

Lalu, bagaimana cara kau meyakinkan negara-negara lain di Eropa, Asia, dan Amerika Latin untuk membeli senjatamu? Kau tidak bisa menjual sistem senjata bernilai miliaran dolar hanya dengan mengandalkan presentasi PowerPoint atau simulasi komputer. Kau butuh bukti nyata. Kau butuh cap sakti bertuliskan: "Combat-Proven" (Teruji di Medan Tempur).

Timur Tengah hari ini bukanlah sekadar medan konflik geopolitik; ia adalah etalase showroom hidup dan laboratorium pengujian senjata paling brutal di muka bumi.

Sepanjang 2024 hingga 2026, kita menyaksikan pengerahan teknologi pembunuh massal yang belum pernah ada presedennya. Angkatan Udara Israel dan intelijen Barat tidak hanya menggunakan senjata konvensional. Mereka menggunakan Gaza dan Lebanon sebagai fasilitas pengujian lapangan untuk sistem penargetan berbasis Kecerdasan Buatan (AI) seperti program Lavender dan The Gospel. Mesin-mesin algoritma ini menelan data mentah—pesan WhatsApp, pergerakan GPS, pola belanja—lalu secara otomatis memuntahkan ribuan daftar nama target pembunuhan dalam hitungan menit, lengkap dengan kalkulasi seberapa banyak warga sipil yang "boleh" ikut terbunuh (acceptable collateral damage).

Ketika militer Israel membuktikan bahwa sistem AI ini sukses memandu drone pembunuh dan jet tempur siluman untuk melakukan genosida dengan tingkat presisi algoritmik, para kontraktor pertahanan Barat mencatatnya sebagai portofolio. Kelak, setelah debu mesiu mereda, teknologi pengawasan dan mesin pembunuh otonom ini akan diekspor dengan harga selangit ke rezim-rezim otoriter di seluruh dunia yang ingin mereplika kemampuan menindas rakyatnya sendiri. Darah orang-orang Palestina dan Lebanon hanyalah ongkos riset dan pengembangan (R&D) yang harus dibayar demi menyempurnakan produk dagangan mereka.

Akrobat Lobi dan Boneka di Capitol Hill

Tentu saja, siklus bisnis berdarah ini butuh pelindung politik. Di sinilah letak busuknya sistem demokrasi yang selama ini diagungkan oleh Washington. Mengapa Amerika Serikat rela mengisolasi dirinya di PBB, rela terlihat seperti monster bermuka dua yang memveto setiap resolusi gencatan senjata, meskipun seluruh dunia dan warganya sendiri berteriak menuntut dihentikannya genosida? Jawabannya ada di koridor Capitol Hill, dalam bentuk lobi legal yang menjijikkan.

Perusahaan-perusahaan senjata ini menyiram jutaan dolar ke kantong komite kampanye para senator dan anggota kongres lewat Super PACs. Mereka mempraktikkan "pintu putar" (revolving door): seorang jenderal Pentagon yang hari ini memutuskan kontrak pembelian senjata bernilai triliunan rupiah, besok lusa setelah pensiun akan langsung duduk di kursi dewan komisaris Raytheon atau Boeing dengan gaji fantastis.

Ketika para politisi di Washington berdiri di mimbar dan berpidato tentang "kewajiban moral untuk membela hak Israel mempertahankan diri", mereka sebenarnya sedang membacakan naskah iklan yang ditulis oleh para pelobi industri senjata. Keputusan untuk terus mengirim kargo berisi artileri 155mm dan rudal Hellfire ke Timur Tengah bukanlah keputusan luar negeri yang didasarkan pada strategi keamanan nasional. Itu adalah kewajiban fidusia (fiduciary duty) dari para politisi yang telah dibeli lunas, untuk memastikan grafik saham para donaturnya tetap menanjak.

Mesin Uang Bernama "Kecemasan Regional"

Kejeniusan para alkemis perang ini tidak berhenti sampai di situ. Mereka menciptakan sebuah model bisnis sirkuler yang tidak ada matinya yang disebut Qualitative Military Edge (QME) atau Keunggulan Militer Kualitatif.

Doktrin ini mewajibkan Amerika Serikat untuk selalu memastikan bahwa militer Israel memiliki teknologi senjata yang jauh lebih superior dibandingkan gabungan seluruh negara Arab di sekitarnya. Tapi di sisi lain, industri senjata AS juga butuh pasar yang lebih besar. Maka, apa yang mereka lakukan?

Mereka menciptakan ekonomi ketakutan. Mereka membesar-besarkan ancaman "Hantu Syiah" dan nuklir Iran di telinga para pangeran Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Ketika negara-negara Teluk ini panik dan ketakutan melihat rudal balistik Houthi atau manuver Garda Revolusi Iran, mereka akan berlari ke Washington untuk memborong sistem pertahanan udara THAAD, Patriot, dan jet tempur F-15 terbaru bernilai puluhan miliar dolar.

Begitu negara-negara Arab ini selesai memborong senjata canggih, para pelobi pro-Israel di Washington akan langsung membunyikan alarm: "Gawat! Keseimbangan militer terganggu! Israel terancam karena Arab Saudi punya senjata baru!" Lalu apa solusinya? Kongres AS akan kembali mengesahkan bantuan hibah militer tambahan miliaran dolar untuk Israel, agar Israel bisa membeli skuadron jet siluman F-35 generasi terbaru atau bom penetrasi bungker yang lebih mematikan. Israel senang karena dapat senjata gratis, negara Teluk merasa aman dari Iran, dan industri senjata Amerika mengeruk keuntungan ganda dari kedua belah pihak. Ini adalah mesin gerak abadi (perpetual motion machine) dari kapitalisme yang disiram dengan kecemasan geopolitik.

Kedamaian Adalah Kebangkrutan

Pada akhirnya, kita harus berani menatap realitas ini tanpa berkedip. Berhentilah bertanya mengapa dunia internasional begitu mandul. Berhentilah heran mengapa pembantaian anak-anak yang disiarkan live di media sosial tidak cukup untuk menghentikan mesin perang ini.

Sistem peradaban kita hari ini telah dibajak oleh para saudagar kematian. Bagi mereka, Timur Tengah yang damai, di mana bangsa-bangsa Arab, Persia, dan Yahudi bisa hidup berdampingan, adalah skenario kiamat bagi bisnis mereka. Damai berarti pabrik baja yang memproduksi selongsong peluru harus ditutup. Damai berarti ratusan ribu insinyur pembuat drone akan di-PHK. Damai berarti jatuhnya harga saham.

Para alkemis modern ini telah membuktikan bahwa mereka lebih berkuasa daripada Tuhan yang disembah di rumah-rumah ibadah di Yerusalem, Makkah, atau Teheran. Mereka telah mengubah perang menjadi komoditas paling stabil di bursa saham. Dan selama darah di Timur Tengah masih bisa dikonversi menjadi keuntungan kuartalan, jangan pernah bermimpi bahwa langit di atas kawasan itu akan bersih dari asap mesiu.

Karena di dunia yang dikendalikan oleh para pedagan senjata, perdamaian bukanlah sebuah cita-cita. Perdamaian adalah kebangkrutan.

 

IRWAN BAJANG

Lahir dan besar di Aik-Anyar Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Menyelesaikan kuliah di jurusan Ilmu Hubungan Nasional UPN Veteran Yogyakarta dengan tugas akhir terkait Perang dan Damai Antara Israel-Palestina. Selain menaruh minat pada kajian Timur Tengah, ia juga menulis puisi, cerpen dan novel dengan pendekatan tema-tema sosial politik. Pernah menerbitkan Kumpulan Puisi Sketsa Senja (2006), Novel Rumah Merah (2008), Album Puisi Musik dan Ilustrasi Kepulangan Kelima (2013), Malam Tanpa Ujung (2014), Hantu, Presiden dan Buku Puisi Kesedihan (2017), Cerita Luka Untuk Dia (2022). Saat ini tinggal di Jogjakarta sebagai penulis dan editor penuh waktu. 


Posting Komentar untuk "ALKEMIS PERANG: BAGAIMANA INDUSTRI SENJATA GLOBAL MEMELIHARA KONFLIK TIMUR TENGAH TETAP MENYALA"