Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

NAFSU EKONOMI ARAB SAUDI DAN PENGKHIANATAN TERHADAP PALESTINA

 


Mari kita mulai dengan sebuah kontras visual yang paling menjijikkan di abad ini. Di satu sisi peta, kau melihat Jalur Gaza dan Tepi Barat yang telah diubah menjadi ladang pembantaian terbuka. Di sana, anak-anak dengan anggota tubuh terpotong dibiarkan kehabisan darah di lantai rumah sakit yang kehabisan obat bius. Di sana, para ayah menggali reruntuhan beton dengan tangan kosong, mencari sisa-sisa tulang keluarganya yang dihanguskan oleh bom fosfor dan rudal presisi seberat dua ribu pon. Bau anyir darah, mesiu, dan daging yang terbakar menguap ke udara setiap detiknya. Lalu, geser matamu beberapa ratus kilometer ke arah selatan, melintasi gurun pasir. Di sana, di ibu kota Riyadh, aroma yang mengudara adalah wangi parfum oud yang harganya setara dengan biaya hidup satu keluarga pengungsi selama setahun. Para pangeran, menteri, dan CEO multinasional duduk di kursi kulit empuk, menyesap kopi Arabika kualitas wahid, sambil menandatangani kontrak investasi bernilai ratusan triliun rupiah. Mereka sedang sibuk membangun kota masa depan, mencetak cetak biru resor ski di tengah gurun, dan merancang liga olahraga paling mewah di muka bumi. Jika kau masih bertanya-tanya mengapa genosida di Palestina bisa berlangsung begitu lama tanpa ada satu pun negara tetangganya yang secara fisik menghentikan mesin pembunuh Tel Aviv, jawabannya tidak ada di dalam kitab suci. Jawabannya ada di bursa saham, di buku kas negara, dan di atas meja mahoni tempat transaksi geopolitik paling keji disepakati.


Visi 2030 dan Harga Tiket Menuju Kalangan Elit

Kita harus menelanjangi ilusi persaudaraan Arab yang selama ini diajarkan di buku-buku sekolah. Retorika tentang "satu tubuh, satu rasa sakit" yang sering diteriakkan di mimbar-mimbar ibadah nyatanya berhenti tepat di garis perbatasan negara. Di dunia nyata yang dikendalikan oleh realisme politik yang dingin, para penguasa Teluk telah membuat kalkulasi matematika yang sangat sederhana: nilai nyawa orang-orang Palestina jauh lebih murah dibandingkan dengan angka pertumbuhan ekonomi mereka. Gagasan ini berpusat pada ambisi raksasa bernama Visi 2030. Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) tahu persis bahwa era minyak akan segera berakhir. Jika Arab Saudi tidak melakukan diversifikasi ekonomi secara radikal, kerajaannya akan bangkrut dalam beberapa dekade ke depan. Ia butuh triliunan dolar Investasi Asing Langsung (Foreign Direct Investment). Ia butuh teknologi Kecerdasan Buatan dari Lembah Silikon. Ia butuh sistem keamanan siber kelas wahid. Dan ia butuh validasi dari Barat bahwa negaranya bukan lagi kerajaan gurun yang konservatif, melainkan utopia kapitalisme modern yang ramah bagi para miliarder dunia. Tapi ada harga tiket masuk yang harus dibayar untuk masuk ke dalam klub elit kapitalis global ini. Dan tiket itu bernama: Normalisasi dengan Israel. Barat dan Tel Aviv tahu persis kelemahan ini. Mereka menyodorkan kesepakatan yang sangat pragmatis. Jika Riyadh bersedia menutup mata terhadap perluasan pemukiman ilegal di Tepi Barat dan pembantaian harian di Gaza, maka pintu investasi Barat akan dibuka lebar-lebar. Israel, dengan ekosistem perusahaan rintisan teknologinya yang sangat maju, siap menyuplai sistem pengawasan (surveillance), teknologi agrikultur, hingga keamanan siber yang sangat dibutuhkan Saudi untuk membangun proyek fiksi ilmiahnya seperti NEOM dan The Line. Maka dimulailah proses pelacuran diplomatik tersebut.

Kedaulatan sejarah dan darah saudara serumpun ditukar dengan modal ventura dan teknologi desalinasi air laut.


Abraham Accords: Akrobat Jual Beli Kedaulatan

Kita sering dicekoki narasi bahwa Abraham Accords (Perjanjian Ibrahim) dan gelombang normalisasi negara-negara Arab adalah terobosan bersejarah demi "perdamaian" Timur Tengah. Ini adalah kebohongan linguistik yang sangat luar biasa. Menamakan kesepakatan dagang dan aliansi militer dengan nama nabi yang suci adalah bentuk penghinaan terbesar terhadap akal sehat manusia. Mari kita bongkar apa isi sebenarnya dari perjanjian-perjanjian tersebut. Normalisasi bukanlah tentang mendamaikan dua bangsa yang sedang bertikai. Normalisasi adalah tentang meresmikan aliansi militer dan ekonomi antara rezim-rezim otokratis Arab dengan negara pemukim kolonial, yang disponsori penuh oleh Washington. Bagi Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan pada akhirnya Arab Saudi yang terus menari di ambang batas normalisasi resmi, ini adalah transaksi yang sangat menguntungkan. Dengan berdamai dengan Israel, mereka mendapatkan akses langsung ke lobi Yahudi yang sangat kuat di Washington. Mereka tiba-tiba bisa membeli jet tempur F-35, drone penyerang, dan sistem pertahanan udara canggih yang sebelumnya dilarang oleh Kongres Amerika. Lalu, bagaimana dengan Palestina? Palestina hanya dijadikan gimmick dalam siaran pers. Saat para pemimpin Arab ini berjabat tangan dengan perdana menteri Israel di depan kamera, mereka bergumam pelan bahwa normalisasi ini "akan membantu menekan Israel dari dalam" atau "membuka jalan bagi solusi dua negara". Omong kosong. Sejak normalisasi ditandatangani, pencaplokan tanah di Tepi Barat justru melonjak tajam, dan gempuran ke Gaza mencapai tingkat kebiadaban yang belum pernah terjadi sebelumnya. Israel mendapat apa yang mereka mau: integrasi ekonomi ke Timur Tengah tanpa harus mengembalikan satu jengkal tanah pun. Sementara para pemimpin Arab mendapat apa yang mereka mau: senjata, uang, dan jaminan keamanan. Pihak yang kalah secara absolut hanyalah jutaan pengungsi di tenda-tenda yang kebanjiran, yang menyadari bahwa mereka telah dijual dengan harga diskon oleh saudara mereka sendiri.


Sirkus Pengecam Profesional dan Ketakutan pada Iran

Tentu saja, para elit di Riyadh dan ibu kota Teluk lainnya tidak sebodoh itu untuk terang-terangan menari di atas kuburan Gaza. Mereka harus menjaga wajah di depan jutaan rakyatnya sendiri dan umat Muslim dunia yang masih mendidih darahnya melihat genosida tersebut. Di sinilah lahir profesi baru dalam dunia geopolitik: "Pengecam Profesional". Setiap kali Israel meratakan rumah sakit atau membom kamp pengungsian, kementerian luar negeri negara-negara Arab ini akan berlomba-lomba mengeluarkan rilis pers. Mereka mengutuk. Mereka mengecam sekeras-kerasnya. Mereka mengadakan KTT darurat Liga Arab atau Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Mereka membacakan pidato berapi-api yang menuntut dihentikannya kekerasan. Tapi apa yang terjadi setelah mikrofon dimatikan dan para wartawan pulang? Tidak ada. Nol besar. Tidak ada boikot minyak seperti yang dilakukan Raja Faisal di tahun 1970-an. Tidak ada pemutusan hubungan diplomatik. Tidak ada pengusiran duta besar Israel. Tidak ada penutupan wilayah udara untuk pesawat tempur atau pesawat kargo yang menyuplai senjata ke Tel Aviv. Sirkus kecaman itu dirancang hanya sebagai katup pelepas tekanan (safety valve) agar rakyat mereka tidak turun ke jalan dan melakukan revolusi. Dan mari kita bicara tentang motif paling telanjang di balik semua pengkhianatan ini: rasa takut yang patologis terhadap Iran. Bagi monarki Teluk, Israel bukanlah musuh eksistensial. Musuh yang membuat mereka tidak bisa tidur nyenyak di malam hari adalah Teheran dan poros perlawanannya. Arab Saudi tahu bahwa tentara bayaran mereka dan senjata triliunan dolar yang mereka beli dari Amerika tidak bisa memenangkan perang gerilya melawan milisi Houthi di perbatasan selatan mereka, apalagi menghadapi kekuatan asimetris Garda Revolusi Iran. Karena itu, mereka butuh "anjing penjaga" yang lebih beringas di kawasan tersebut. Mereka butuh payung nuklir Amerika dan agresivitas militer Israel untuk membendung pengaruh Iran. Paradoksnya sungguh membuat mual: Negara yang menobatkan dirinya sebagai Pelayan Dua Kota Suci (Makkah dan Madinah) secara de facto berlindung di balik punggung rezim yang sedang menodai Kota Suci Ketiga (Yerusalem) dengan darah jemaah yang sedang sujud.


Mencuci Darah dari Lantai Marmer

Sejarah sedang ditulis ulang hari ini, dan tinta yang digunakan bukanlah tinta emas, melainkan anyir darah anak-anak yang tubuhnya dikoyak pecahan peluru. Ketika kelak generasi masa depan membedah mengapa genosida abad ke-21 ini bisa terjadi dengan sangat leluasa, mereka tidak hanya akan menunjuk pada kekejaman tentara Israel atau veto busuk Amerika Serikat di Dewan Keamanan PBB. Mereka akan menunjuk pada para pemimpin yang memakai jubah kebesaran, yang berdiri diam menyaksikan tetangganya disembelih, karena pikiran mereka sedang sibuk menghitung proyeksi margin keuntungan untuk kuartal berikutnya. Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya mungkin akan berhasil membangun kota-kota kaca di tengah gurun. Mereka mungkin akan menjadi tuan rumah Piala Dunia, mendatangkan para artis pop terbesar, dan memamerkan proyek energi terbarukan mereka ke seluruh dunia. Ekonomi mereka akan meroket, dan gedung-gedung pencakar langit mereka akan menyentuh awan. Namun, dalam hukum alam peradaban, ada utang moral yang tidak akan pernah bisa dilunasi oleh seberapa pun besarnya devisa negara. Di setiap pondasi gedung megah yang mereka bangun besok, ada jeritan anak-anak Gaza yang sengaja mereka tulikan hari ini. Darah memang gampang dicuci dari atas lantai marmer istana yang mengkilap. Tapi sejarah—dengan mata pisaunya yang tak kenal ampun—akan mengukir pengkhianatan ini begitu dalam, hingga tak ada satu pun kekayaan di muka bumi yang bisa menghapusnya.



IRWAN BAJANG

Lahir dan besar di Aik-Anyar Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Menyelesaikan kuliah di jurusan Ilmu Hubungan Nasional UPN Veteran Yogyakarta dengan tugas akhir terkait Perang dan Damai Antara Israel-Palestina. Selain menaruh minat pada kajian Timur Tengah, ia juga menulis puisi, cerpen dan novel dengan pendekatan tema-tema sosial politik. Pernah menerbitkan Kumpulan Puisi Sketsa Senja (2006), Novel Rumah Merah (2008), Album Puisi Musik dan Ilustrasi Kepulangan Kelima (2013), Malam Tanpa Ujung (2014), Hantu, Presiden dan Buku Puisi Kesedihan (2017), Cerita Luka Untuk Dia (2022). Saat ini tinggal di Jogjakarta sebagai penulis dan editor penuh waktu. 

 


Posting Komentar untuk "NAFSU EKONOMI ARAB SAUDI DAN PENGKHIANATAN TERHADAP PALESTINA"