SAJAK-SAJAK MOHAMAD ISKANDAR

 

ilustrasi: google


Di Puncak Nuris

        Riami


kusimpan nyala cahaya di sepanjang rerumputan dan pohon-pohon

di atas batu dan air bukit

ada sehampar harapan tereja di telaga netra


di tubuh yang terbata

satu persatu kata menjadi benih sembahyang di bumi Tuhan


di puncak Nuris

seiris bulan sabit

cahya Muharram


kidung-kidung asmara terlukis menjadi Kalam di langit malam

seorang perempuan lahir di tanah Singasari

menjaga marwah suci kehidupan para pecinta 


di puncak Nuris

sebuah puisi dan

hening mencumbu


tubuh dan ruh

gegap di malam Muharram

jarak terjaga


kujelajahi makna dari cahayamu

menjadi api semangat di renung jiwa

menjaga puisi dan persahabatan suci

semoga ke surga-


dan terjaga cinta


Pandean, 19 Agustus 2020


Di Bukit Cerme


katamu

cahaya kota memijar di bawah kaki seusai hari membawa sebiji lelah dan kerontang matahari. Pada senyummu, kota memoles dirinya dalam kacamata serta hologram malam. Selembut kabut, bayangan kekasih mengkanvaskan sederet huruf rindu. Duh!


katamu

Parangtritis serupa hamparan nirwana, tempat menanak mimpi berkali-kali sampai jenuh. Sampai terempas duka kecil para pemabuk, di laut itu sejumlah katakata mengikut angin dan cahaya bulan. Menafsirkan tubuhnya sebagai syair lantas tenggelam di palung malam. Cah ayu...


katamu 

bukit Cerme adalah segara di atas segara, tanah kelahiran paling surga dan jejak kehadiran seorang dara berwajah cahaya


luka menganga

benih kesunyian nyemplung di dalamnya


Pandean, Agustus 2020



TENTANG PENULIS

Lelaki penulis puisi kelahiran Demak, puisinya termuat di puluhan antologi bersama nasional dan internasional dalam berbagai genre. Puisinya juga termuat di beberapa media. Buku puisinya yang telah terbit yaitu Dua Mata Haiku bersama Riami (2020) dan buku puisi tunggal Lelaki Utara (2020)






9 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama