buletinkapass.com-waktu itu, saya mendapatkan cerita dari seorang
teman bernama Subari tentang sebuah Pondok Pesantren (ponpes) bernama Al-Hafiz
yang terletak di Gubuk (kampung) kelikit (lalat) Desa Kerongkong
yang telah banyak mencetak para hapiz.
Tentang Ponpes ini sebenarnya beberapa kali sudah saya tahu dua kali
dari youtube dan satu kali diacara sebuah stasiun TV swasta, dan yang paling
membuat penasaran saya adalah dengan salah satu peserta didiknya yang berhasil
masuk kelas dunia dalam lomba hafiz. Tentu ini adalah bukan sebuah prestasi
yang bisa dianggap remeh.
Berdasar atas rasa penasaran itu pula, saya kemudian mengunjungi
ponpes al-hafiz yang terletak di gubuk kelikit tersebut tepat pada tanggal 25 oktober
2019 setelah sebelumnya membuat janji untuk bertemu dengan kepala yayasan
ponpes tersebut.
Saya, Azmi dan Subaripun berangkat menuju gubuk dengan
mengendarai sepeda motor. Butuh waktu kurang lebih sekitar 25-30 menit untuk
mencapai lokasi tersebut dari kantor redaksi buletinkapass.com dengan mengambil
jalan pintas Lendang Bedurik.
Akses jalan menuju ponpes ini bisa dibilang belum terlalu bagus,
karena di beberapa titik jalan Desa Kerongkong terdapat lubang dan beberapa
titik jalan dengan kondisi aspal mengelupas, sungguh sebuah kondisi yang sangat
memprihatinkan.
Sekitar 10 menit, saya dan azmi duduk di sebuah berugak. Sementara
itu, subari menuju ruang bagian entah mana “pindah ke sana yuk” kata Subari
sambil menunjuk berugak lain di dekat gerbang masuk Ponpes. Kamipun, bergegas
menuju tempat yang ditunjuk. Setelah lima menit kami menunggu, datang seorang
laki-laki berbadan kurus dengan menggunakan baju putih dan celana agak gelap
menghapiri kami. Setelah mengucapkan salam lelaki itu kemudian berkata “bagaimana”,
sayapun menjelaskan maksud kedatangan kami dan dari sinilah muasal sebenarnya
cerita tentang pahit getirnya ponpes al-hafiz
“pondok ini, berdiri membawa kronologi. Dia di dalam ceritanya,
umurnya sebenarnya dua tahun yang lewat umurnya sudah 23 tahun itu dalam
ceritanya”
“kemudian kalau dalam fakta, hingga yang sekarang umurnya 6 (enam)
tahun, nah di dalam proses menjalani sehingga dia berdiri seperti ini lama saya
harus mengembara. Mengembara mencari orang yang siap untuk membantu pondok,
karena ya mohon maaf. Ada yang harus saya lanjutkan untuk perjuangan pondok ini
namanya Datok Tuan Guru Abdus Somad, beliau dimasa-masa maulanasyikh. Sebelum maulanasyikh
datang beliau sudah mengembara ke Lombok Tengah tepatnya ada di Montong Gamang kemudian
di Kuangpati, Lendang Are. Nah, wilayah-wilayah pegunungan itu. Kemudian di
wilayah-wilayah Lombok Timur di Bebidas, sudah saya bertemu dengan murid beliau
di sana juga. Nah beliau yang menceritakannya, kemudian cerita tersebut terus
berkembang dan berkembang. Ibu saya al marhumah berpesan ‘kamu harus
melanjutkan perjuangan datokmu’ itu dari tahun 1992. Dari tahun itu, sudah di
doktrin ‘kamu harus melanjutkan perjuangan datokmu’, ‘iya’, kita masih kecil
masih belum tahu tentang bagaimana berjuang. Saya bilang ‘iya doang’ iya, dan
iya. Sampai di detik-detik beliau mau meninggal dunia pun seperti itu, tahun
2002.”
||red

Posting Komentar