Sebagai Mahasiswi yang sedang getol dan gila-gilanya mencintai puisi, aku pontang-panting mencari kontak Joko Pinurbo. Aku terkekeh-kekeh, kadang gemetaran, tak jarang tenggelam dalam kesedihan tiap membaca kumpulan sajak-sajak penyair beruban itu. Selain itu, aku juga ingin menyampaikan kalau almarhum bapakku mirip dengan beliau. Bapak meninggal sebab insiden burung. Burung bapak kabur dari sangkar, bapak berlari mengejarnya, burungnya hinggap di dahan, bapak terus lari kecil sambil mendongak, kakinya terpeleset, tubuhnya ambruk, darahnya meninggi dan jantungnya berhenti berdenyut. Kini burung itu masih hidup, sebagai momentum terindah mengingat Bapak.
Joko Pinurbo orang langka, sajak-sajaknya sederhana dan begitu ringan. Ia juga tampan, meski sudah agak dewasa (tak mau bilang tua). Lewat beberapa teman, akhirnya kontak penyair yang akrab dipanggil Jokpin itu ketemu. Aku simpan baik-baik di kontak hape, kontaknya berurutan dengan Joko Linglung, teman akrabku. Joko Linglung adalah seorang pemain teater, aktor terkenal di kampung. Dua hari lalu, Ia sempat bilang, jika bertemu Joko Pinurbo, sampaikan salamku. "Beritahu dia, nama kami sama, namun nasib kami beda. Dia kurus, aku gemuk. Dia terkenal, aku hanya dibayar 50 ribu sekali manggung. Suruh beliau mendo'akan aku, sebab do'a seorang penyair biasanya cepat didengar Tuhan" Aku tak terlalu paham dengan ucapannya. Aku menunjukkan wajah kebingungan.
"Penyair itu orang yang peka, Eliana. Dan Tuhan gemar dan menyayangi orang yang peka. Jadi do'a para penyair lebih mudah dikabulkan" Joko Linglung menambahkan. Aku geleng-geleng. "Kau bisa tau jiwa seorang penyair dari puisi-puisinya" Joko Linglung terus bicara. "Kalau Afrizal Malna bagaimana jiwanya?" Aku bertanya. "Seperti mesin tik merah" Joko Linglung terbahak-bahak selepas mengucap itu. Pasien lain meliriknya sebab bikin gaduh, maklum Joko Linglung opname di kelas 3 dan pake Jamkesmas, kamar ini ada sekitar 8 pasien.
Setelah merasa tenang, aku menghubungi Jokpin. Nomernya tersambung, suara khasnya terdengar. Saat kuutarakan niat untuk sekedar bertemu, ngobrol ringan soal dunia tulis-menulis dan hendak meminta bubuhan tanda tangannya pada buku yang berjudul 'Dibawah Kibaran Sarung" yang dititip Joko Linglung. Jokpin berucap kalau Ia terharu. Meski aku yakin, saat mengucap 'terharu' tadi, Jokpin sedang mengunyah kentang goreng atau ubi rebus sambil membiarkan kebahagiaan menggulung di hatinya.
Aku bahagia saat Jokpin bilang Ia setuju dan kapan saja aku bisa bertamu ke rumahnya. Joko Linglung terharu, dan Ia bilang "Kau adalah calon penyair Eliana, selain manis, kau juga ada bakat" Joko Linglung memelukku. Begitu erat, dan tampaknya Ia menikmati pelukan itu. Aku segera melepas pelukanku dan sedikit menjauh.
Aku sudah dandan cantik, dengan stelan kemeja flanel kotak-kotak hitam putih. Dengan bawahan jeans yang sobek di lutut. Segala perlengkapan sudah kusiapkan dalam tas, termasuk buku titipan Joko Linglung. Sebelum kau bingung, dan mungkin saja bertanya kenapa namanya Joko Linglung, sebenarnya ada sejarahnya. Nama sebenarnya adalah Joko. Dulu pernah Ia pentas teater di jalan, naskah memaksanya untuk koprol berkali-kali. Setelah koprol, Joko tiba-tiba linglung dan lupa segala naskah yang sudah dihapal. Semua yang menonton tertawa, Joko hanya diam saja tanpa bicara atau improvisasi apapun. Sejak itu Ia dipanggil Joko Linglung, cita-citanya sederhana; Ia ingin seperti Agus Noor, penulis sekaligus aktor yang selalu keren dan menggairahkan itu. Kenapa Ia menyukai Agus Noor? Juga ada alasannya. Dulu Ia menaruh hati pada Rukiyem. Rukiyem sepertinya tak ada rasa sama Joko Linglung. Sebab di dinding kamar Rukiyem, terpajang begitu banyak gambar Agus Noor yang Ia print sendiri, dan Joko sejak itu ingin seperti kang Agus Noor. Menjelang siang, sekitar pukul sebelas lewat sebelas, aku sudah sampai di kediaman Jokpin. Meski jam dinding di ruang tamu Jokpin menunjukkan pukul lima lewat dua puluh. Sepertinya batere jam itu sudah lama tewas. Jokpin tersenyum ramah menyambutku. Ia menyilakan duduk dan menyuruhku menganggap rumahnya seperti rumahku sendiri. Jokpin terlihat sederhana, dan hanya mengenakan sarung yang merk-nya tak boleh disebut di sini. Ketika kutanya perihal sosoknya yang sederhana dan apa-adanya, Jokpin hanya tertawa dan bilang, "Lebih baik jadi orang biasa dengan karya-karya yang gila, dari pada menjadi orang gila dengan karya-karya yang biasa" Hatiku bergetar mendengarnya. Aku catat ucapannya dalam buku kecil yang kubawa. Buku kecil yang sudah setengah halamannya kugunakan untuk mencoret-coret puisi setiap kali menemukan ide. "Adik kok kayak konsultasi skripsi?" Jokpin menggoda. Dan mungkin Ia merasa dua atau tiga tahun saja di atasku, makanya dia memanggil adik. Umurku 25 dan Jokpin 56. Dan kurasa sebutan adik itu membangkitkan gairahku. Kemudian Jokpin menawarkanku minum segelas teh hangat, teh hangat yang Ia racik dari puisi, begitu kata Jokpin. Kami asyik bicara dan aku menyodorkan beberapa lembar puisiku. Jokpin, tertawa. "Bagaimana mungkin kita bisa menulis sesuatu yang jauh. Banyak hal-hal terdekat yang bisa kita tulis. Sapardi contohnya, menulis segala macam tentang hujan. Segala tetek bengek hujan. Sapardi juga orang yang peka, bahkan melihat selembar daun jatuh saja, Ia bisa menulisnya sampai berlembar-lembar. Bagaimana daun itu jatuh, melayang kemudian terhempas. Dulu, aku juga bingung musti menulis apa. Hujan sudah milik Sapardi. Senja sudah jadi milik Seno. Kemudian aku baru menyadari banyak hal dekat dan nyeleneh di kehidupanku, seperti celana, sarung, asu, bahkan burung. Dan hal itulah yang membuatku bisa bertahan sampai hari ini" Jokpin bicara serius, sesekali mengerdipkan wajahnya. Aku hanyut mendengarnya. Lantas aku dipersilahkan melihat-lihat sudut-sudut rumahnya. Memang benar, banyak celana digantung tak beraturan, di dinding, balik pintu, sampai berjejer di sofa. Ada juga sarung berserakan di atas ranjang. Tapi aku bingung, dari mana Jokpin dekat dengan burung, tak satu pun di rumahnya ada burung atau sekedar sangkar. Setelah kutanya perihal burung, Jokpin tertawa dan melirik ke arah sarungnya. Kami terbahak, begitu akrab. Aku tak tau, apakah burung Jokpin suka keluyuran malam-malam atau mungkin hanya meringkuk menahan dingin di dalam sana. Entah. Yang pasti saat hendak pulang, aku sodorkan buku titipan Joko Linglung untuk ditanda tangani, aku sampaikan salamnya, juga kuceritakan kisah tentang bapak yang mirip dengannya. Jokpin geleng-geleng, lalu berucap, "Malang betul nasib Bapakmu, punya wajah seperti ini" Ia menunjuk mukanya sendiri. Jam sudah pukul 12 pas, tiba-tiba Jokpin mengernyitkan hidung, entah menahan apa. Pesan terakhirnya, "Teruslah menulis, cari hal terdekat, aku tunggu karyamu terpampang di media-media. Aku hendak memeluknya untuk pamit, Jokpin mengelak dan berucap, "Setiap orang punya jalannya sendiri, ada tiga Joko dengan nasib berbeda, Joko Widodo, Djoko Damono, dan Joko Pinurbo" Aku terpingkal-pingkal mendengarnya.
Aku sudah dandan cantik, dengan stelan kemeja flanel kotak-kotak hitam putih. Dengan bawahan jeans yang sobek di lutut. Segala perlengkapan sudah kusiapkan dalam tas, termasuk buku titipan Joko Linglung. Sebelum kau bingung, dan mungkin saja bertanya kenapa namanya Joko Linglung, sebenarnya ada sejarahnya. Nama sebenarnya adalah Joko. Dulu pernah Ia pentas teater di jalan, naskah memaksanya untuk koprol berkali-kali. Setelah koprol, Joko tiba-tiba linglung dan lupa segala naskah yang sudah dihapal. Semua yang menonton tertawa, Joko hanya diam saja tanpa bicara atau improvisasi apapun. Sejak itu Ia dipanggil Joko Linglung, cita-citanya sederhana; Ia ingin seperti Agus Noor, penulis sekaligus aktor yang selalu keren dan menggairahkan itu. Kenapa Ia menyukai Agus Noor? Juga ada alasannya. Dulu Ia menaruh hati pada Rukiyem. Rukiyem sepertinya tak ada rasa sama Joko Linglung. Sebab di dinding kamar Rukiyem, terpajang begitu banyak gambar Agus Noor yang Ia print sendiri, dan Joko sejak itu ingin seperti kang Agus Noor. Menjelang siang, sekitar pukul sebelas lewat sebelas, aku sudah sampai di kediaman Jokpin. Meski jam dinding di ruang tamu Jokpin menunjukkan pukul lima lewat dua puluh. Sepertinya batere jam itu sudah lama tewas. Jokpin tersenyum ramah menyambutku. Ia menyilakan duduk dan menyuruhku menganggap rumahnya seperti rumahku sendiri. Jokpin terlihat sederhana, dan hanya mengenakan sarung yang merk-nya tak boleh disebut di sini. Ketika kutanya perihal sosoknya yang sederhana dan apa-adanya, Jokpin hanya tertawa dan bilang, "Lebih baik jadi orang biasa dengan karya-karya yang gila, dari pada menjadi orang gila dengan karya-karya yang biasa" Hatiku bergetar mendengarnya. Aku catat ucapannya dalam buku kecil yang kubawa. Buku kecil yang sudah setengah halamannya kugunakan untuk mencoret-coret puisi setiap kali menemukan ide. "Adik kok kayak konsultasi skripsi?" Jokpin menggoda. Dan mungkin Ia merasa dua atau tiga tahun saja di atasku, makanya dia memanggil adik. Umurku 25 dan Jokpin 56. Dan kurasa sebutan adik itu membangkitkan gairahku. Kemudian Jokpin menawarkanku minum segelas teh hangat, teh hangat yang Ia racik dari puisi, begitu kata Jokpin. Kami asyik bicara dan aku menyodorkan beberapa lembar puisiku. Jokpin, tertawa. "Bagaimana mungkin kita bisa menulis sesuatu yang jauh. Banyak hal-hal terdekat yang bisa kita tulis. Sapardi contohnya, menulis segala macam tentang hujan. Segala tetek bengek hujan. Sapardi juga orang yang peka, bahkan melihat selembar daun jatuh saja, Ia bisa menulisnya sampai berlembar-lembar. Bagaimana daun itu jatuh, melayang kemudian terhempas. Dulu, aku juga bingung musti menulis apa. Hujan sudah milik Sapardi. Senja sudah jadi milik Seno. Kemudian aku baru menyadari banyak hal dekat dan nyeleneh di kehidupanku, seperti celana, sarung, asu, bahkan burung. Dan hal itulah yang membuatku bisa bertahan sampai hari ini" Jokpin bicara serius, sesekali mengerdipkan wajahnya. Aku hanyut mendengarnya. Lantas aku dipersilahkan melihat-lihat sudut-sudut rumahnya. Memang benar, banyak celana digantung tak beraturan, di dinding, balik pintu, sampai berjejer di sofa. Ada juga sarung berserakan di atas ranjang. Tapi aku bingung, dari mana Jokpin dekat dengan burung, tak satu pun di rumahnya ada burung atau sekedar sangkar. Setelah kutanya perihal burung, Jokpin tertawa dan melirik ke arah sarungnya. Kami terbahak, begitu akrab. Aku tak tau, apakah burung Jokpin suka keluyuran malam-malam atau mungkin hanya meringkuk menahan dingin di dalam sana. Entah. Yang pasti saat hendak pulang, aku sodorkan buku titipan Joko Linglung untuk ditanda tangani, aku sampaikan salamnya, juga kuceritakan kisah tentang bapak yang mirip dengannya. Jokpin geleng-geleng, lalu berucap, "Malang betul nasib Bapakmu, punya wajah seperti ini" Ia menunjuk mukanya sendiri. Jam sudah pukul 12 pas, tiba-tiba Jokpin mengernyitkan hidung, entah menahan apa. Pesan terakhirnya, "Teruslah menulis, cari hal terdekat, aku tunggu karyamu terpampang di media-media. Aku hendak memeluknya untuk pamit, Jokpin mengelak dan berucap, "Setiap orang punya jalannya sendiri, ada tiga Joko dengan nasib berbeda, Joko Widodo, Djoko Damono, dan Joko Pinurbo" Aku terpingkal-pingkal mendengarnya.

ilustrasinya...
BalasHapusmau diganti yang keren nemunya cuma begituan. tks sarannya
HapusPosting Komentar