Puisi-puisi Muhammad Asqalani eNeSTe

ilistrasi


|Reliquiae Rotten Apple|

Ular di surga menyemburkan bisa, kita di semak bersisik apa?

Eidechse: nereka berbisik.

Fars: itu detak jantungmu setelah asik.

Eidechse: kita telah menumbangkan kubah masjid, mengubur biara, dan memporak-porandakan dada hingga debu rata.

Fars: sukma kita telah lama tidak kerasukan agama, Tuhan seperti patung kesepian, kedingingan di seberang bara.

Eidechse: kenapa kau menjadikan Tuhan barang teka-teki, barangkali serupa benda yang paling kaubenci?

Fars: Tuhan bukan kata benda, bukan seperti burung hinggap di lingkup kepala.

Eidechse: kita sama-sama zina. Sama-sama hina.

Fars: kita sama-sama penikmat surga.

Eidecshe: surga belum diciptakan.

Fars: apa yang baru saja kita rasakan? Begitu hangat, begitu nikmat, serasa sempurna menyesap sesat.

Eidechse: kita masih memiliki Tuhan, kau dan aku masih mengingat Tuhan, bisakah kita berhenti menjadi siluman.

Fars: berikan aku ciuman, sekali lagi aku mengerti Tuhan itu nakal.

Tubuh kita hijau, kepala kita ular melingkar, telah sempurna kita menyembur di belukar.

Fars mendapati dirinya, tak menyatu dengan tubuh Eidechse, jarak yang sempurna membentang seperti neraka. Rindu semerah bara.

Germany - Turkey 2017

|Cinta Membicarakan Jarak|

Fars: tiba-tiba saja aku mencintaimu, dari tampan ke sendu matamu.

Eidechse: mungkin kau hanya melihat debu, matamu ketiban tipu.

Fars: omong kosong! Aku memujamu. Tanpa ampun mencintaimu 

Eidechse: mencintaiku adalah cara terbaik mengawini inti kepala, kenyataan di antara kita adalah ladang gersang tanpa gulma.

Fars: aku mencintaimu tanpa pura-pura dan sesungguhnya.

Eidechse: kau kebanyakan minum puisi hingga mabuk kata begini, kau dan aku tak usah bicara cinta serupa mekar bunga. Kumohon.

Fars mendapati bisu memenuhi mulutnya, matanya mencari udara, agar dapat segera terbang sebutir airmata yang dibencinya.

Eidechse: jika kau mencintaku, pergilah ke kesunyian dalam dirimu, kunjungi kebenaran setinggi dadamu. Akan kautemukan aku dalam bentuk selain biru rindu, mungkin kuning labu tanpa cumbu.

Fars: aku lebih baik berguru kepada waktu, menghitung jam hingga geram, agar dapat kupecahkan keputusasaanku.

Eidechse: cinta hanya birahimu yang tak berumah, peluklah aku suatu waktu, saat kau temukan cara terbaik memilikiku, selain sesat jalan dan kaki pilu.

Overseas Germany - Turkey 2017


|Mengaku Idris|

1. 
Katamu kau ingin menulis puisi mampus, seperti putusnya tali gambus, seperti kulit jemari yang aus, dan dahaga yang tak kunjung rampus.
2.
Kaupuja lelaki cerdas itu, seperti cadas batu, dan jemari ibu menjalari kalbu, sebuah alarm berdoa pilu; ingat muasal kebodohan, ingat Tuhan selalu cemerlang.
3.
Idris
Idris...

Sekali lagi Idris dan kitab suci yang membentang, berkali-kali lipat lebih panjang dari gulungan sejarah tualang, darah-darah orang tumbang, dan denyar adzan yang memerahkan petang.
4. 
Demi Tuhan paling tampan, tak sedang aku mencari tandingan sambil mencairkan tudingan, ciri-ciri Idris telah kutemukan, seiris-demi seiris di genangan airmataku yang bimbang.
5.
Sedalam-dalam pena dihunjamkan ke dasar belulang.

2017


Muhammad Asqalani, penyair berasal dari riau. pendiri komunitas pena terbang













Post a Comment

Lebih baru Lebih lama