Memanfaatkan Potensi Alam Dalam Membangun Kreatifitas

Dikatakan penghasilan masyarakat Desa Korleko Selatan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena di desa ini banyak tersedia sumber bahan pokok yang bisa di konsumsi, seperti beras dan jagung. Mereka banyak memanfaatkan hasil pertaniannya sendiri untuk kebutuhan sehari-hari hanya saja mereka membutuhkan lauk dan sayur yang harus dibeli dari pedagang bakulan yang jualan di pingir gang perumahan warga, karena di Desa Korleko Selatan tidak terdapat pasar tradisional hanya ada pasar mingguan. Dalam setiap panen mereka menyisihkan sebagian hasil panen padinya untuk kebutuhan sehari-hgari dan sebagian lainnya untuk dijual, misalnya pada setiap panen warga dapat  menghasilkan keuntungan hingga mencapai ± 1,5 ton padi dengan 1/2  kwintal bibit padi dalam 50 are. Sebagian kecil hasil padi disimpan dan sebagia besarnya dijual kepada “penendak. Setiap Kwintal gabah dijual dengan harga 300.000 – 350.000 (tiga ratus ribu rupiah bahkan sampai tiga ratus lima puluh ribu rupiah) per kwintal. Diagram berikut mengilustrasikan pekerjaan masyarakat sekitar Desa Korleko Selatan  khususnya dusun lembak daya.


KETERANGAN :
masyarakat (Sangat Penting)
petani (sedang)
buruh (Penting)
nuruh (Kurang Penting)      
pergi malaysia (Cukup Penting)
Fasilitator : Muhammad Ihsan dkk (Dosen dan Mahasiswa Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor tahun 2014
Dari diagram di atas, dapat diketahui bahwa Masyarakat Desa Korleko Selatan memiliki pekerjaan yang berbeda-beda dan keterampilan yang berbeda-beda pula, sebagai petani dengan hasil yang melimpah mereka tidak mampu mengolah hasil pertanian yang mereka dapatkan kebanyakan dijual dan yang biasa dimamfaatkan sendiri hanya yang habis untuk dikonsumsi saja. Terutama  kelapa. Didesa ini kelapa sangat berpotensi besar, bahkan didesa ini ada gudang tempat pengolahan kelapa yang akan di buat minyak sayur tapi itu bukan pabrik pembuatan minyak tapi hanya peroses dan peyurtiran  kelapa siap olah.  Kelapa yang sudah siap diolah dikirim keluar daerah seperti jawa , sementara itu serabut kelapanya di jual digunakan sebagai bahan pembakaran batu-bata sedangkan batoknya di buat arang dan sisanya tidak dipergunakan oleh karna itu disini kami Peneliti IAIH Pancor mencoba memberi pelatihan kepada masyarakat tentang pembuatan piring  dari lidi kelapa agar lidi  kelapa tersebut bisa dimamfaatkan,
Masyarakat sekitar banyak yang menjadi buruh penyurtir kelapa upah yang di peroleh sebesar Rp 50.000 per kuintal kelapa yang sudah kering,  sebagai tukang panges ( yang membuang kulitnya) Rp 60.000 per 1000 buah kelapa masyarakat yang bekerja sebagai buruh tani, buruh pembuatan batu-bata,  disini  Desa Korleko Selatan  banyak terdapat kren (tempak pembuatan batu-bata), kapur, genting, itu semua berlokasi di dusun Lembak Lauq, sementara di dusun Lembak Daya hanya ada tempat peyurtiran kelapa itupun tidak mampu menampung banyaknya pegawai, oleh karna itu masyarakat banyak yang mencari pekerjaan ke Lembak Lauq sebagai pembuat batu-bata ditempat orang lain. Walaupun di Desa Korleko Selatan ini banyak tempat bekerja tapi tetap tidak mampu menanggulangi tingginya jumlah pengangguran oleh karna itu pengangguran masih banyak di desa ini, masyarakat lelah dengan keadaan seperti ini yang kerjaannya hanya menganggur sementara dia dan keluarganya memiliki banyak kebutuhan oleh karna itu mereka mencari napkah keluar negeri (malaysia)
Bagan.2. Diagram Alur Petani Kelapa
Keterangan :

Arus Hegemoni Yang Sangat Kuat
Arus Hegemoni Yang  Kuat
Hubunga Timbak Balik Yang Saling Menguntungkan
Kurangnya pengetahuan tentang keterampilan juga menjadi penyebab mereka tidak mau membuat kereatifitas/ keterampilan. Hal tersebut akan berdampak pada pendapatan para petani dan berimbas pada tingkat perekonomian masyarakat Desa Korleko Selatan yang mayoritas berprofesi sebagai tukang kebun kelapa. Misalnya karena banyaknya biaya operasional yang harus mereka keluarkan untuk mengupah orang sebagai tukang metik kelapa dan tukang angkutnya. Ketergantungan para tukang kebun kelapa di Desa Korleko Selatan ini sangat berpengaruh terhadap pendapatan mereka yang kurang optimal.
Padahal jika mereka mampu membuat atau mengolah kelapa secara mandiri, mereka dapat mengurangi biaya operasional sehingga pendapatan yang dihasilkan lebih meningkat. Di samping itu, selain mereka dapat memanfaatkan kelapa buatan lokal untuk keperluan di daerahnya sendiri, mereka juga bisa menjual kembali hasil dari keterampilan tersebut ke daerah lain. Dengan begitu perekonomian masyarakat akan lebih baik dan dapat terus meningkat. Sehingga untuk ke depannya masyarakat Desa korleko selatan mampu menciptakan usaha mikro dan usaha pengerajin sengala macam yang bahannya bersumber dari kelapa agar dapat meningkatkan kesejahteraan hidup dan kekuatan ekonomi Desa Korleko Selatan  yang lebih baik.
Dari penjelasan di atas, dapat diambil simpulan bahwa permasalahan yang selama ini membelenggu warga Desa Korleko Selatan, ialah kurangnya keteranpilan masyarakat untuk mengolah sumber daya alam yang ada di Desa Korleko Selatan  dan kurangnya kreatifitas dalam memanfaatkan potensi masyarakat dan ini yang berdampak pada aspek ekonomi masyarakat.
Hal tersebut menjadikan permasalahan bagi masyarakat Dusun Lembak  Daya Desa Korleko Selatan yang tersusun dari berbagai unsur yang telah lama mengendap tanpa pernah digali. Endapan permasalahan tersebut terakumulasi sehingga memberikan akibat yang sangat kronis kepada kehidupan masyarakat Dusun Lembak Daya Desa Korleko Selatan yang pada akhirnya menimbulkan kemunduran di setiap bidang kebutuhan. Endapan permasalahan tersebut perlu adanya penggalian kembali dan dicairkan serta dicari titik pangkal permasalahannya.
Pada uraian ini akan dipaparkan beberapa aksi yang dilakukan oleh kami sebagai langkah awal untuk menggali dan mencairkan endapan- endapan permasalahan yang ada di Dusun lembak daya pada khususnya dan Desa Korleko Selatan pada umumnya. Diskusi dalam pemetaan masalah ini difasilitasi oleh tim pendamping dan kemudian dari diskusi bersama masyarakat tersebut dapat diketahui bahwa permasalahan yang utama yang sejak dulu menghantui masyarakat Dusun Lembak Daya adalah kurangnya keterampilan masyarakan untuk mengolah potensi alam dan potensi masyarakat dalam berkreatifitas, kurangnya kesadaran masyarakan akan tempat mandi di pinggir jalan yang bisa mengganggu pengguna jalan, yang sangat mempengaruhi alur kesejahteraan  masyarakat Lembak daya. Semua ini menjadi masalah inti yang disebabkan oleh kurangnya kemampuan masyararakat pada skill dalam pemberdayaan sumber daya alam dan kurangnya perhatian terhadap alam sekitar dan ditambah kurang kreatifitas masyarakat dalam meningkatkan hasil perekonomian mereka

Komoditi Utama Sumber Daya Alam Desa Korleko Selatan
Kegiatan Sehari Hari Masyarakat Alam Desa Korleko Selatan
Menurut pengakuan masyarakat bahwa kurangnya kemampuan pada keterampilan dalam memanfaatkan hasil alam menjadi salah satu masalah dari ketergantungan masyarakat yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dalam mengolah, yang dipengaruhi oleh kurang adanya pendidikan dari pemerintah kepada masyarakat Desa korleko selatan . Selain itu, kurangnya kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan hasil alam juga disebabkan oleh kurangnya pengalaman yang dimiliki masyarakat  Desa Korleko Selatan, dan hal tersebut terjadi karena masyarakat Desa Korleko Selatan cenderung lemah untuk melakukan uji coba dan mencari informasi dalam hal tersebut. Akhirnya mereka lebih memilih  hasil kereatifitas dari daerah lain yang biasa di dapatkan ditoko-toko sekitar agar bahwa membuat keterampilan sendiri memberikan hasil yang kurang memuaskan dan menguras tenaga, lebih cepat mereka  membeli. Ketergantungan masyarakat pada produk luar juga disebabkan oleh hal berikut :
Persepsi masyarakat bahwa kereatipitas luar  mempunyai kualitas yang lebih bagus, hal ini terjadi karena belum adanya pembuktian bahwa kereatifitas lokal lebih bagus dari pada kereatifitas luar.
Ketergantungan masyarakat pada hasil kereatifitas dari luar sangat berdampak pada aspek perekonomian masyarakat Dusun Lembak Daya   Desa Korleko Selatan adalah :
Dengan kerangka analisis pohon masalah, problem inti yang dialami masyarakat desa korleko selatan adalah kebutuhan bimbingan masyarakat Desa Korleko Selatan dalam memanfatkan potensi alam dan potensi masyarakat Berikut pohon masalahnya :
Sebelum kreatifitas masyarakat dusun lembak daya desa korleko selatan membangun kreatifitasnya yang perlu diperhatikan adalah apa saja potensi alam dan potensi masyarakat yang bisa dikembangkan untuk membangun kreatifitas tersebut. Didalam pelaksanaan membangun kreatifitas masyarakat ini yang menjadi tolak ukurnya adalah keinginan masyarakat itu sendiri.
Adapun pelaksanaan penelitian yang kami lakukan hanyalah sebagai fasilitator dalam proses perkembangan tersebut. Di dalam hal ini kami melakukan observasi dan dari hasil inilah muncul ide-ide dari masyarkat dan kami sebagai agen of change siap membantu masyarakat sesuai kebutuhannya dalam mengembangkan potensinya dan potensi alam yang bisa dimanfaatkan dan dikembangkan untuk membangun Desa Korleko Selatan.
Di dalam pelaksanaan observasi yang kami lakukan dimasyrakat Desa Korleko Selatan ada beberapa kebutuhan masyarakat yang bisa kami jadikan program adapun yang lainnya adalah partisipasi pendampingan kami di tengah-tengah masyarakat dengan tujuan untuk membangun hubungan kemasyarakatan dan menjalin kerjasama yang baik dengan pihak desa setempat.
Menjalin hubungan kemasyarakatan itu bisa kita lihat dari penjelasan sebelumnya yang berkaitan dengan kegiatan partisipasi. Adapun hasil dari kegiatan partisipasi tersebut bisa kami rasakan dengan berubahnya sikap dan tingkah laku kami yang sebelumnya hanya bergelut di dunia akademik dan sekarang sedang mengabdikan diri dimasyarakat.
Pohon masalah

P
ohon Harapan
 


pohon harapan 
 

Belenggu (Hegemoni) Menurut Antonio Gramsci
Sosiolog Antonio Gramsci mengajukan teori Hegemoni untuk menjelaskan fenomena usaha untuk mempertahankan kekuasaan oleh pihak penguasa dan kelas kapitalis. Gramsci mendefinisikan hegemoni sebagai kepemimpinan kultural yang dilaksanakan oleh kelas penguasa. Ia membedakan hegemoni dari penggunaan paksaan yang digunakan oleh kekuasaan legislatif atau eksekutif atau yang diwujudkan melalui intervensi kebijakan. Secara sederhana, konsep hegemoni Gramsci adalah suatu kondisi ketika kelas-kelas subordinat dipimpin oleh ‘blok historis’ yang berkuasa menjalankan otoritas sosial melalui kombinasi antara kekuatan dan juga konsensus. Dengan demikian dapat didefinisikan bahwa hegemoni merupakan penundukan melalui ide, nilai, pemikiran, dan sebagainya. Sehingga, apa yang Gramsci maksud dengan hegemoni menunjuk pada konsep penundukan pada pangkal state of mind seseorang atau warga negara. Atau dalam titik awal pandangannya menjelaskan bahwa suatu kelas dan anggotanya menjalankan kekuasaan terhadap kelas-kelas di bawahnya dengan cara kekerasan dan persuasi.
Konsep hegemoni sendiri ditemukan awalnya ketika Gramscic mencari sebuah pola dalam kelas sosial baru yang saat itu lebih banyak melihat fenomena pada sejarah gereja Roma (The Roman Church). Dia terlihat kagum melihat kekuatan ideologi Kristen gereja Roma yang berhasil menekan Gap yang berlebihan berkembang antara agama yang terpelajar (Religion Of The Learned) dan rakyat sederhana (Simple Folk). Gramsci mengatakan bahwa hubungan tersebut memang terjadi secara “Mekanikal”, namun dia menyadari bahwa gereja Roma telah sangat berhasil dalam perjuangan memperebutkan dan menguasai hati nurani para pengikutnya.
Dalam karya terpenting Antonio Gramsci, Prison Notebooks (1929-1933) menunjukkan bahwa Gramsci adalah seorang Marxis Italia. Tetapi ia menunjukkan penolakan pandangan yang naif dari Marxis- Ortodoks bahwa revolusi itu akan datang dengan sendirinya (Taken For Granted) seperti hujan turun dari langit. Pemikiran Gramsci lebih tepat dikategorikan sebagai corak analisis neo-Marxisme (Marxisme-Baru) yang menekankan pada analisis yang lebih bersifat praktis, yaitu bagaimana prespektif Marxisme dapat direalisasikan secara strategis tanpa meninggalkan basis teoritisnya. Bagi Gramsci, dominasi kekuasaan tidak selamanya berakar pada kepentingan ekonomi belaka, melainkan juga karena akar-akar kebudayaan dan politis.
Sebagaimana halnya Marx, Gramsci menganggap dunia gagasan, kebudayaan, superstruktur, bukan hanya refleksi atau ekspresi dari struktur kelas ekonomi atau infrastruktur yang bersifat material, melainkan sebagai salah satu kekuatan material itu sendiri. Sebagai kekuatan material itu, dunia gagasan atau ideologi berfungsi mengorganisasi massa manusia, menciptakan tanah lapang yang di atasnya manusia bergerak. Bagi Gramsci hubungan antara yang ideal dengan yang material tidak berlangsung searah, melainkan bersifat tergantung dan interaktif. Kekuatan material tidak akan dapat dipahami secara historis tanpa bentuk dan ideologi-ideologi akan menjadi khayalan individu belaka tanpa kekuatan material.
Gramsci beragumen bahwa pendekatan budaya adalah sangat penting untuk membuat sebuah kerangka teori revolusi sosial, dimana banyak dari pemikir ortodoks hanya terfokus pada hegemoni sosial yang terangkum dalam pemikiran basis dan bangunan atas dari Marxisme. Sumbangan terbesar Gramsci untuk Marxisme adalah mensistematisasi apa yang ditulis Marx secara tersirat menjadi suatu ilmu tentang aksi politik. Ini tampak misalnya sewaktu Gramsci mengajukan pandangan alternatif Marxis tentang negara, yaitu sebagai suatu kesatuan kompleks dari kegiatan teori dan praktik., dimana kelas yang berkuasa tidak hanya membenarkan dan memelihara dominasinya, tetapi juga mengatur untuk memenangkan konsensus aktif yang diatur. Pendapat ini mengungkapkan bahwa konsep hegemoni Gramsci merupakan paham sendiri dalam khasanah Marxisme.
Dengan demikian, selain konsep hegemoni Gramsci membantu untuk memahami dominasi dalam kapitalisme dan dapat juga membantu untuk mengorientasikan pemikiran tentang revolusi. Wacana yang dilempar oleh Gramsci tersebut adalah bagaimana sebenarnya kelas subordinat bisa melakukan revolusi sosial.
Gramsci menawarkan adanya blok solidaritas untuk melawan rezim. Mekanismenya adalah mengaalang seluas mungkin munculnya kekuatan intelektual yang dimiliki visi dan sikap dalam mendukung kebebasan. Gramsci membedakan dua corak intelektual. Yang pertama, dikenal dengan intelektual traditional, yaitu intelektual yang tunduk dan patuh terhadap kepentingan rezim kekuasaan fasis. Intelektual yang demikian sebenarnya secara faktual, adalah musuh masyarakat karena dengan posisi dan integrasinya mereka bekerja sama dengan rezim serta memanipulasi sistem sosial dan politik yang menindas. Yang kedua, dikenal dengan intelektual organik, yaitu para intelektual, yang turun dari singgasana menara gadingnya dan bergabung dengan masyarakat untuk menjalankan tugas profesinya serta membangkitkan kesadaran yang dimanipulasi oleh kekuatan yang hegemonik dengan memberi pendidikan kultural dan politik dalam bahasa keseharian. Mereka ini bertugas memperkuat posisi masyarakat sipil (Civil Society) untuk mengakumulasikan kekuatan blok solidaritas, yaitu masyarakat yang sadar akan kondisi sosial-politis dan melakukan perjuangan-perjuanagn untuk mengelegitimasikan razim kekuasaan.
Blok solidaritas ini diarahkan untuk mengimbangi daya hegemoni rezim dengan melakukan perang posis (The War Of Position) dengan tujuan merebut posisi-posisi vital yang dikuasai oleh razim. Organisasi infrastruktur masyarakat yang bersifat profesional, kemasyarakatan atau kepemudaan yang tadinya dikuasai oleh prorezim (berdiri Subdordinasi atau Onderbow kepentingan kekuasaan) harus secara perlahan-lahan diambil alih dan selanjutnya diarahkan sebagai organisasi masyarakat sipil yang tangguh. Jadi, fungsi kaum intelektual organik adalah membentuk budaya perlawanan masyarakat dengan membangkitkan kesadaran kritisnya agar sanggup merebut posisi-posisi vital tanpa harus terjebak pada perlawanan terbuka seperti revolusi. Selain tidak strategis, revolusi juga akan segera ditumpas rezim dengan jalan kekerasan. Dengan  demikian, dapat disimpulkan bahwa konsepsi Gramsci lebih menekankan pembentukan budaya perlawanan ketimbang menetukan isi kebudayaan itu sendiri.
Kelompok intelektual menurut Gramsci terdiri dari : kelompok intelektual organik dan kelompok intelektual tadisional. Kedua kelompok intelektual itu bersifat terpisah, tetapi secara historis dapat bertumpang tindih. Kelompok intelektual tradisional adalah kaum intelektual yang terbatas pada lingkungan kaum tani dan borjuis kota kecil “belum meluas dan bergerak oleh sistem kapitalis”. Kaum intelektual tradisional selalu menempatkan dirinya pada sebagai kelompok sosial yang dominan yang otonom dan independen, yaitu sebagai orang-orang kedudukannya dalam masyarakat mempunyai lingkaran inter-kelas  tertentu. Sementara itu, kaum intelektual organik adalah intelektual dan organisator politik dan pada saat yang sama juga bos-bos perusahaan, petani-petani kaya atau manajer perumahan, penguasa komersial dan industri, dan sebagainya. Kaum intelektual organik menyadari bahwa identitasnya dari yang diwakili dan yang mewakili, merupakan “barisan terdepan yang riil dari organik dari lapisan kelas papan atas yang di situ mereka masuk di dalamnya”. Dengan adanya kondensasi dan pemusatan itu, mereka mempunyai daya tarik kuat dalam semua kalangan intelektual.
Demikianlah, pada akhirnya filsafat Gramsci menolak materialisme vulgar ala Marxis kuno dan Saintisme. Menurut Gramsci, semangat Maxismehanya dapat hidup dengan mengelaborasi struktur budaya pasif, yang terbungkus dalam konsep hegemoni dan masyarakat sipil.
Uraian di atas menegaskan gagasan Gramsci tentang arti penting menumbuhkan massa rakyat untuk mengorganisasi diri. Artinya, sangat penting kiranya rakyat untuk memiliki kesadaran kritis dan perang budaya maupun ideologis. Pusat perhatian Gramsci adalah menciptakan kesadaran kritis dan menciptakan perang budaya dalam lingkup masyarakat dan kekuasaan negara. Gramsci yakin bahwa kesadaran akan muncul di kalangan massa rakyat untuk membuat sebuah kehendak kolektif yang akan mampu menandingi kekuasaan yang otoriter.
Demikianlah teori hegemoni Gramci telah memperkenalkan dimensi kepemimpinan moral dan intelektual yang dibangun secara historis. Gramsci meyakini keniscayaan akan datang dari massa rakyat dalam mewujudkan a new state, karena kesadaran kritis dan kolektif merupakan musuh laten kekuasaan. Meskipun demikian, perspektif menuju tatanan baru (sebagai sebuah bentuk dorongan dasar reformasi politik) tidak ditentukan oleh faktor determinan tunggal, namun majmuk. Kondisi mengikutsertakan kajian sejarah, ekonomi, antropologi dan  terutama praktis politik di mana kesadaran dan pemahaman manusia berperan atas struktur kekuasaan itu sendiri.

Dinamika Pendampingan “Meminimalisir Ketergantungan Menuju Kemandirian
Sebelum kreatifitas masyarakat Dusun Lembak Daya Desa Korleko Selatan membangun kreatifitasnya yang perlu diperhatikan adalah apa saja potensi alam dan potensi masyarakat yang bisa dikembangkan untuk membangun kreatifitas tersebut. Di dalam pelaksanaan membangun kreatifitas masyarakat ini yang menjadi tolak ukurnya adalah keinginan masyarakat itu sendiri.
Pelaksanaan penelitian yang kami lakukan hanyalah sebagai fasilitator dalam proses perkembangan tersebut. Didalam hal ini kami melakukan observasi dan dari hasil inilah muncul ide-ide dari masyarkat dan kami sebagai agen of change siap membantu masyarakat sesuai kebutuhannya dalam mengembangkan potensinya dan potensi alam yang bisa dimanfaatkan dan dikembangkan untuk membangun desa korleko selatan.
Di dalam pelaksanaan observasi yang kami lakukan dimasyrakat Desa Korleko Selatan ada beberapa kebutuhan masyarakat yang bisa kami jadikan program adapun yang lainnya adalah partisipasi pendampingan, kami di tengah-tengah masyarakat dengan tujuan untuk membangun hubungan kemasyarakatan dan menjalin kerjasama yang baik dengan pihak desa setempat.
Menjalin hubungan kemasyarakatan itu bisa kita lihat dari penjelasan sebelumnya yang berkaitan dengan kegiatan partisipasi. Adapun hasil dari kegiatan partisipasi tersebut bisa kami rasakan dengan berubahnya sikap dan tingkah laku kami yang sebelumnya hanya bergelut di dunia akademik dan sekarang sedang mengabdikan diri dimasyarakat.
Adapun beberapa program yang telah kami rencanakan dan sudah kami realisasikan bersama masyarakat diantaranya adalah :
Pelatihan Pembuatan piring dari lidi kelapa
Pelatihan Pembuatan pentol dengan bahan dasar rumput laut
Pelatihan Pembuatan piring dari bekas gelas minuman
Pelatihan Pembuatan bross dan mainan kunci dari kain flanel
Pelatihan Pembuatan tas dari tali koor
Pelatihan pengoperasian tajwid digital
Di antara potensi alam yang bisa dimanfaatkan adalah salah satunya lidi kelapa yang mayoritas masyarakat memiliki kebun kelapa di Desa Korleko Selatan ini sedangkan hasil observasi kami membuktikan bahwa potensi masyarakat dalam memanfaatkan lidi tersebut untuk menjadi piring sudah ada cuman orang yang mengajarkannya yang belum ada dan keinginan masyarakatpun sangan tinggi terutama ibu PKK desa korleko selatan. kami dari peneliti berinisiatif untuk mengadakan pelatihan tentang hal ini dan kamipun menjalin kerjasama dengan pihak dusun dan kades serta pelatihnya secara langsung untuk bisa memenuhi kebutuhan masyarakat itu.
Selain lidi pelatihan pembuatan pentol dari bahan dasar rumput lautpun adalah salah satu potensi alam yang bisa dimanfaatkan karena desa korleko selatan ini dekat dengan pantai dan rumput lautnya pun bisa dimanfaatkan untuk diolah. Kemudian kami melihat ternyata di desa ini banyak sampah bekas minuman ale-ale dan yang lainnya berserakan tidak dimanfaatkan maka setelah kami menawarkan pelatihan untuk hal ini maka banyak masyarakat yang mau mengikutinya yaitu pembuatan piring dari bekas minuman tersebut.
Di samping hal tersebut kami juga melihat banyaknya remaja yang tidak memiliki kreatifitas dalam memanfaatkan daya seni yang ada pada dirinya. Maka kamipun menawarkan untuk pelatihan pembuatan bros dan mainan kunci dari kain flanel dan kegiatan inipun bisa menambah penghasilan ekonomi dari orang tua mereka sehari-hari. Penjualan bros dan mainan kunci ini bisa dilakukan dan harganya bisa mencapai Rp.2.500 perbuah untuk brosnya dan untuk mainan kunci bisa mencapai Rp3.000 –Rp 5.000 perbuah.
Adapun tentang pelatihan pengoperasian tajwid digital ini kami lakukan dengan tujuan supaya proses pembelajaran TPQ didesa ini bisa menghasilkan pembelajaran yang efektif dan efisien. Dan pelatihan inipun didukung oleh pihak kadus, kades, pembina TPQ dan tokoh agama setempat.
Dinamika Proses Aksi “Dari Ketergantungan Menuju Kemandirian”
Salah satu upaya untuk membangkitkan pemikiran yang kritis pada masyarakat Desa Korleko Selatan adalah dengan menuntun masyarakat untuk bersama-sama menyadari segala potensi yang ada di sekitar mereka serta menjadikannya suatu modal berharga dalam kehidupan. Sehingga, apabila masyarakat telah mengetahui akar masalah yang ada maka akan lebih mudah ditelusuri, dan diatasi. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran masyarakat untuk melakukan sesuatu guna melakukan perubahan. Masyarakat diarahkan untuk dapat mengungkapkan serta mengutarakan berbagai macam problematika yang ada, kemudian menuntaskannya secara bersama-sama. Dan akhirnya, berbagai macam kegiatan yang dapat menambah wawasan dan khazanah keilmuan bagi masyarakat merupakan peninggalan yang bisa sedikit diambil manfaatnya untuk masyarakat Desa Korleko Selatan pada umumnya.
Hari yang dinantipun telah tiba, hari dimana segala rencana yang telah di rencanakan bersama masyarakat jauh-jauh hari sudah di ambang pintu. Dari beberapa program yang dilakukan, perencanaan pemanfaatan potensi alam dan potensi masyarakat Desa Korleko Selatan secara mandiri merupakan program utama.
Salah satu upaya untuk mengubah pemikiran para masyarakat adalah dengan melakukan musyawarah bersama-sama antara Kades, kadus, ibu PKK, dan masyarakat Desa Korleko Selatan. Masyarakat diajak berfikir untuk dapat menyadari segala potensi yang ada di sekitar mereka, terutama pada sektor pemanfaatan potensi alam dan potensi masyarakat yang harus ditingkatkan, serta menjadikannya sebagai modal berharga untuk masa depan.
Salah satu upaya untuk membangkitkan pemikiran yang kritis pada masyarakat Desa korleko selatan adalah dengan menuntun masyarakat untuk bersama-sama menyadari segala potensi yang ada di sekitar mereka serta menjadikannya suatu modal berharga dalam kehidupan. Sehingga, apabila masyarakat telah mengetahui akar masalah yang ada, maka akan lebih mudah ditelusuri dan diatasi. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran masyarakat untuk melakukan sesuatu guna melakukan  perubahan.
Pelatihan Pembuatan Piring Dari Lidi Kelapa
Kegiatan pelatihan pembuatan piring dari lidi kelapa adalah salah satu kegiatan dalam memanfaatkan potensi alam Desa Korleko Selatan yang didominasi oleh perkebunan kelapa. Adapun salah satu cara untuk memanfaatkan potensi alam dalam bentuk lidi ini adalah dengan menjadikannya menjadi piring yang bisa digunakan sebagai alat untuk menaruh makanan dalam acara resepsi, acara zikiran, prasmanan keluarga dan masih banyak pula yang lainnya.
Dalam pelatihan pembuatan piring dari lidi ini kami sebagai pasilitator mencarikan pelatih dari luar tim peneliti guna untuk memenuhi hajat dari masyarakat Desa Korleko Selatan. Sedang action yang kami lakukan sebelumnya dimulai dari hubungan kerjasama yang baik antara pihak pemerintah Desa Korleko Selatan dan kekadusan sedesa Korleko Selatan sehingga kegiatan pelatihan ini bisa diikuti oleh semua lapisan masyarakat baik dari kalangan laki-laki dan wanita.
Sebagai salah satu bukti riil dari apa yang telah kami analisis dari hasil observasi selama 2 minggu salah satunya adalah merealisasikan kegiatan pelatihan ini yang tempat lokasi perealiasasiannya berada di kantor Desa Korleko Selatan atas saran dari pihak desa dan juga dukungan dari masyarakat serta kerjasama yang baik antara tim peneliti IAI Hamzanwadi Pancor dengan pihak yang terkait. Perealisasian pelatihan ini diikuti oleh 3 dusun yaitu Dusun Lembak Daya, Dusun Lembak Lauq, dan masyarakat Dusun Dasan Baru yang didampingi oleh 3 tutor yang melatih masyarakat sehingga bisa memahami dan menguasai langkah-langkah pembuatannya.
Gambar :Suasana pelatihan pembuatan piring dari lidi yang diikuti oleh
Tim peneliti dan masyarakat desa korleko selatan
Gambar :hasil pembuatan piring dari lidi
Analisis :
Hasil pelatihan pembuatan piring dari lidi ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Korleko Selatan untuk menambah hasil pendapatan ekonomi mereka dan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bentuk memberdayakan potensi alam dan potensi masyarakat dalam bidang kreatifitas seni. Bahan dan alat Pelatihan Pembuatan piring dari lidi kelapa adalah sbb:
Bahan:
112-140 biji lidi kelapa yang muda
Tali rapia
Alat-alat:
Gunting bunga,
silet/ pisau

Pelatihan Pembuatan Pentol Dengan Bahan Dasar Rumput Laut
Kegiatan pelatihan pembuatan pentol dengan bahan dasar rumput laut adalah tindak lanjut dari kegiatan action program kegiatan kami dalam memanfaatkan potensi alam desa Korleko Selatan. Adapun salah satu cara untuk memanfaatkan potensi alam dalam bentuk pembuatan pentol dari bahan dasar rumput laut ini adalah dengan bekerjasama dengan ibu-ibu PKK desa Korleko Selatan.
Dalam pelaksanaan kegiatan action program kami ini banyak di ikuti oleh ibu-ibu PKK sedesa Korleko Selatan yang langsung dibina proses pembuatannya oleh tim peneliti yang sudah mengikuti pelatihan tata boga ditingkat kabupaten dan potensi inilah yang dikembangkan oleh tim dalam membina pelatihan tersebut sehingga potensi ini bisa disalurkan ditengah-tengah masyarakat untuk memanfaatkan potensi alam dan potensi masyarakat desa Korleko Selatan. adapun proses pembuatannya berlangsung di kantor desa Korleko Selatan yang diikuti oleh tim peneliti dan ibu-ibu PKK desa Korleko Selatan.
Gambar ; Proses Pembuatan Pentol Dari Bahan Dasar Rumput Laut.
Gambar ; hasil pembuatan Pentol Dari Bahan Dasar Rumput Laut
Analisis :
Hasil pelatihan Pembuatan pentol dengan bahan dasar rumput ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Korleko Selatan untuk menambah hasil pendapatan ekonomi mereka dan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bentuk memberdayakan potensi alam dan potensi masyarakat dalam bidang kreatifitas seni selain dari pada itu kami melihat bahwa kebahagiaan keluarga itu bisa dilihat dari bagaimana istri menyiapkan makanan untuk keluarganya oleh sebab itu kami mengadakan Pelatihan Pembuatan pentol dengan bahan dasar rumput laut adalah sbb:
Bahan :
Daging sapi 1 kg
Rumput laut siap olah ¼  kg
Tepung tapioka 100-200 g
Putih telur 3 butir
Bawang (goreng ) 3 siung
Jahe 1 cm
Merica 1 sendok
Vetsin / merice secukupnya
Garam 1,25 g dan Bawang putih secukupnya.

Pelatihan Pembuatan Piring Dari Bekas Gelas Minuman
Kegiatan pelatihan pembuatan piring dari bekas gelas minuman adalah tindak lanjut dari kegiatan action program kegiatan kami dalam memanfaatkan sampah yang tidak digunakan menjadi sampah yang berguna dan bisa menambah kreatifitas masyarakat dan memberdayakan potensi masyarakat desa korleko selatan.
Adapun salah satu cara untuk memanfaatkan sampah dalam bentuk pembuatan piring ini adalah bekerja sama dengan bapak kades Korleko Selatan dengan ibu-ibu PKK desa Korleko Selatan. Dalam pelaksanaan kegiatan action program kami ini banyak diikuti oleh ibu-ibu PKK sedesa korleko selatan yang langsung dibina proses pembuatannya oleh tim peneliti. Kegiatan ini kami realisasikan dengan tujuan agar sampah yang bisa dimanfaatkan tidak dibuang sembarangan dan bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam berkarya untuk memajukan desanya dari segi kreatifitas.
Gambar ; Kegiatan pelatihan pembuatan piring dari bekas gelas minuman
Gambar ; hasil pelatihan pembuatan piring dari bekas gelas minuman

Analisis :
Hasil pelatihan pembuatan piring dari bekas gelas minuman ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat desa korleko selatan untuk meningkatkan kreatifitas seni dengan memanfaatkan sampah.  selama ini kita melihat sampah itu  hanya menjadi sesuatu yang tidak bermanfaat bagi mereka. Ternyata dibalik semua itu bisa digunakan sebagai kreatifitas tangan serta sebagai moment penting  bagi masyarakat supaya dibina dalam memanfaatkan potensinya dalam bidang kreatifitas seni. Adapun pelatihan pembuatan piring dari bekas gelas minuman ini terdiri dari Bahan dan alat pembuatan yang sederhana yaitu:
Gelang bekas pelastik minuman
Tali sipat
Cuter 

Pelatihan Pembuatan Bros Dan Mainan Kunci Dari Kain Flanel
Kegiatan Pelatihan Pembuatan Bros Dan Mainan Kunci Dari Kain Flanel adalah tindak lanjut dari kegiatan action program kegiatan kami dalam meningkatkan kreatifitas masyarakat dan memberdayakan potensi yang ada sehingga bisa menghasilkan kemampuan dalam berkarya masyarakat desa korleko selatan.
Kegiatan pelatihan ini banyak diminati oleh masyarakat desa Korleko Selatan karena yang dilihat adalah aspek ketergantungan mereka sebagai konsumen dalam mencari bros untuk melengkapi perlengkapan tatarias wanita. Kegiatan ini kami lakukan 6 kali pelatihan dan pelatihannya kami lakukan perdusun karena mengingat banyaknya peserta yang meminati kegiatan ini. Adapun yang menjadi peserta kegiatan ini adalah adek-adek TPQ dan juga remaja dan remaji yang ada disetiap dusun serta ibu-ibu PKK yang ada disetiap dusun setempat. Adapaun jalinan kerjasama yang kami lakukan adalah menjalin hubungan dengan bapak kadus tempat pelatihan ini dilakukan yaitu didusun Lembak Daya dan didusun Dasan Baru.
Pembinaan pelatihan pembuatan bros dan mainan kunci ini langsung di bina oleh tim yang memiliki bakat dalam menjahit dan mencari model bros dan mainan kunci yang akan didapat, atas dasar kemampuan ini jadi kami tidak perlu mencari tutor dari luar karena potensi itu sendiri sudah dimiliki oleh anggota tim yang akan disalurkan kemasyarakat Desa Korleko Selatan.
Gambar ; Kegiatan pelatihan pembuatan bros dan mainan kunci dari kain flanel
Gambar :  Hasil pelatihan pembuatan bros dan mainan kunci dari kain flanel
Analisis :
Pelatihan pembuatan bross dan mainan kunci dari kain flanel ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat desa korleko selatan untuk menambah hasil perekonomian mereka karena harga jual mainan kunci dan bross bisa mencapai Rp3.000-Rp5.000 dan dapat meningkatkan kreatifitas seni masyarakat Desa Korleko Selatan. Dengan diadakannya kegiatan pelatihan banyak masyarakat yang berminat setelah melihat hasilnya. Proses pelatihan ini banyak diminati mulai dari kalangan adik-adik TPQ sampai kepada ibu PKK didusun tempat kami mengadakan pelatihannya. Pelatihan pembuatan bross dan mainan kunci dibuat dari bahan dan alat sbb:
Bahan :
Kain planel
Benang dan jarum jahit
Lem bakar/ lem tembak
Lilin
Kapas dakron
Gantungan kunci
Penitti beros
Alat-alat:
Gunting
Jarum
Pensil
Mancis/korek api 
Pelatihan Pembuatan Tas Dari Tali Koor
Kegiatan pelatihan pembuatan tas dari tali koor adalah tindak lanjut dari kegiatan action program kami dalam memanfaatkan potensi masyarakat desa Korleko Selatan. Adapun salah satu cara untuk memanfaatkan potensi masyarakat dalam bentuk pembuatan tas dari tali koor ini adalah bekerjasama dengan bapak kades sebagai pemodal pertama dan merupakan kebutuhan dari ibu-ibu PKK desa korleko selatan sebagai bentuk upaya pihak desa untuk meningkatkan keaktifan ibu-ibu PKK desa Korleko Selatan.
Dalam pelaksanaan kegiatan action program kami ini banyak diikuti oleh ibu-ibu PKK Sedesa Korleko ( dusun Lembak Daya, Lembak Lauq, dan Dusun Dasan Baru) yang langsung dibina proses pembuatannya oleh tim peneliti yang sudah mengikuti pelatihan  ditingkat kabupaten dan potensi inilah yang dikembangkan oleh tim peneliti dalam membina pelatihan tersebut sehingga potensi ini bisa disalurkan ditengah-tengah masyarakat untuk memanfaatkan potensi masyarakat  desa Korleko Selatan. adapun proses pembuatannya berlangsung di kantor desa Korleko Selatan yang diikuti oleh tim, ibu-ibu PKK desa Korleko Selatan.
Gambar : Kegiatan Pelatihan Pembuatan tas Dari Tali Koor
Analisis :
Kegiatan Pelatihan Pembuatan tas dari tali koor ini diikuti oleh ibu PKK desa Korleko Selatan karena kami berkeinginan dalam hal ini untuk membantu ibu-ibu PKK dalam merealisasikan kegiatan PKKnya. Kami melaksanakan kegiatan ini bekerjasama dengan bapak kades Korleko Selatan dan ketua PKK desa Korleko Selatan. adapun bahan dan alat  pembuatannya sbb:
Bahan ;
Tali koor
Resleting
Kain daleman
benang
Alat-alat:
Gunting
Jarum 
Pembinaan tajwid digital
Kegiatan pembelajaran tajwid digital dilakukan di TPQ Al-ikhlas dusun Lembak Daya desa Korleko Selatan yang diikuti oleh para pembina dan tenaga pengajar TPQ dan guru ngaji sedesa Korleko Selatan. dalam kegiatan pembinaan tajwid digital diikuti oleh guru-guru TPQ yang ada di desa Korleko Selatan. Tujuan pembinaan tajwid digital ini memilik harapan supaya mempermudah para guru dalam mengajarkan bagaimana cara membaca Al-Qur’an yang baik dan benar disamping itu kami juga berharap supaya pembelajaran tajwid disetiap TPQ didesa Korleko Selatan ini bisa kondusif dan menghasilkan pembelajaran yang efektif, menyenangkan dan efesien.


Gambar : Kegiatan Penerapan tajwid digital
Analisis :
Harapan kami dari pelatihan tajwid digital kepada pembina TPQ yang ada di Korleko Selatan supaya bisa memudahkan dan meningkatkan minat belajar tajwid santri dan santriwati TPQ yang ada serta proses pembelajarannya bisa berkesinambungan setelah kami tinggalkan dari lokasi.
Refleksi
Korleko selatan adalah sebuah desa yang cukup luas wilayahnya dan terbagi menjadi 3 Dusun (Lembak Daya, Lembak Lauq dan Dasan Baru). Masyarakat Korleko Selatan adalah masyarakat yang masih menjunjung tinggi aspek keagamaan, gotong rotong, kekeluargaan, dan keramah-tamahan. Dari sinilah warga Korleko Selatan membangun desanya menjadi desa yang aman dan tentram.
Masyarakat Desa Korleko Selatan merupakan masyarakat yang sangat patuh pada pemimpinnya. Di mata masyarakat,  kepala desa merupakan panutan yang bisa dibuat contoh. Setiap hari masyarakat Desa Korleko Selatan bekerja keras membanting tulang walapun dengan kondisi desa yang kurang memadai. Seperti akses pembangunan kantor Desa Korleko Selatan, masjid korleko selatan, dan kegiatan gotong royong lainnya. Walaupun demikian, bagi mereka kegiatan tersebut bukanlah hal yang menjadi hambatan untuk melakukan aktivitas mereka sehari-hari, karena masyarakat Desa Korleko Selatan sudah terbiasa dengan kegiatan tersebut, dan juga masyarakat Desa Korleko Selatan memiliki semangat yang tinggi dalam menekuni pekerjaan mereka.
Masyarakat di desa ini mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, penjaga kebun, pedagang bakulan dan pergi merantau kemalasyia sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Dari hasil bertani, penjaga kebun, pedagang bakulan dan pergi merantau kemalasyia sebagai TKI mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bahkan lebih. Khusus untuk yang pergi menjadi TKI keluar negeri hasilnya bisa digunakan untuk masa depan anak-anak dan keluarganya.
Adapun potensi alam yang dimiliki oleh desa ini didukung oleh pemerintah Desa Korleko Selatan yang sebagian besar adalah area persawahan dan perkebunan yang menjadikan pertanian dan perkebunan sebagai salah satu aset utama perekonomian yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat Desa korleko selatan. Dari hasil pertanian dan perkebunan masyarakat Desa korleko selatan ini bisa memenuhi kebutuhan sandang dan pangan mereka. Oleh karena itu, mereka menghabiskan separuh waktu dan seluruh tenaga bahkan biaya yang tidak sedikit untuk menekuni profesi mereka sebagai petani dan penjaga kebun, pedagang dan buruh.
Di dalam kegiatan program kami selaku tim peneliti IAI Hamzanwadi Pancor yang sudah kami realisasikan didesa ini tujuannya adalah memanfaatkan potensi alam dan potensi masyarakat dengan menyentuh aspek pelatihan kreatifitas. Dari semua action kegiatan program ini,  kami harapkan mampu memberdayakan potensi alam dan potensi masyarakat dalam memberdayakan desa Korleko Selatan kearah yang lebih baik dan maju. Dari sebagian besar kegiatan pelatihan yang kami lakukan seperti pelatihan pembuatan piring dari lidi kelapa, Pelatihan Pembuatan pentol dengan bahan dasar rumput laut, Pelatihan Pembuatan piring dari bekas gelas minuman, Pelatihan Pembuatan bross dan mainan kunci dari kain flanel, Pelatihan Pembuatan tas dari tali koor, kami memiliki pandangan kedepan masyarakat Desa Korleko Selatan akan menjadi masyarakat yang kreatif dan mampu berdaya saing serta tidak kalah dengan desa-desa yang lain dalam hal-hal yang berkaitan dengan kreatifitas masyarakat.
Sedangkan semua kegiatan yang berkaitan dengan partisipasi baik yang berkaitan dengan aspek sosial tentunya akan menjadikan kondisi fisik desa Korleko Selatan akan lebih indah dan kelihatan maju, ditambah lagi dengan kegiatan religi yang berkesinambungan dan terus kondusif akan menjadikan kerukunan masyarakat dan jiwa kekeluargaan menjadi semakin erat dan elit, semua kegiatan religi yang telah kami lakukan didesa ini kami harapkan bisa terus dilanjutkan dan tidak berhenti setelah kami tinggalkan dari lokasi.
Dari kompleksitas kegiatan yang kami lakukan baik yang berorientasi pada bentuk partisipasi dibidang sosial dan religi serta semua program yang sifatnya membangun kreatifitas masyarakat desa Korleko Selatan dalam membangun dan memanfaatkan potensi alam dan potensi masyarakat desa Korleko Selatan kami memiliki pandangan kedepan desa Korleko Selatan menjadi desa yang aman, tentram dan berdaya saing jika kegiatan-kegiatan ini terus dikembangkan dan ditingkatkan.
Namun, dengan keterbatasan waktu dalam penelitian, maka kerja kami dalam mendampingi masyarakat untuk memanfaatkan potensi alam dan potensi masyarakat dirasa kurang. Oleh sebab itu, proses pendampingan pendidikan ini bisa dilanjutkan oleh warga Desa Korleko Selatan dengan jiwa kemandiriannya, serta masih membutuhkan kelanjutan penanganan di tahun yang akan dating serta Ini adalah bukan akhir dari perjalanan dalam proses perubahan, namun merupakan sebuah awal dari proses penguraian dari semua kebutuhan masyarakat menuju kemandirian dalam berkarya dan berkreatifitas.
 Dalam menjalani proses ini membutuhkan kelanjutan di tahun-tahun yang akan datang untuk lebih ditingkatkan dengan memberdayakan masyarakat Desa Korleko Selatan dalam membangun kegiatan yang berkaitan dengan aspek religi, sosial dan peningkatan kreatifitas masyarakat sehingga pemanfaatan potensi alam dan potensi masyarakat desa Korleko Selatan bisa diolah sebaik mungkin dan mendapatkan hasil yang efektif dan efisien.

Penutup
Dari penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa permasalahan yang dialami oleh masyarakat  Dusun Lembak Daya Desa Korleko Selatan, ialah masih kurangnya pemanfaatan potensi alam dan potensi masyarakat. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya ialah tidak adanya yang membimbing masyarakat dalam memanfaatkan potensi alam dan yang membina potensi yang mereka dimiliki.
Potensi alam masyarakat desa Korleko Selatan jika dimanfaatkan sepenuhnya tentunya akan mampu memenuhi semua kebutuhan masyarkat terutama dibidang perekonomian sehari hari dan masa depannya. Adapun pemanfaatan potensi masyarakat dibidang kreatifitas yang telah kami bina selama ini melauli pelatihan-pelatihan tentunya akan menjadikan suasana kegiatan yang bernuansa kreatifitas akan lebih kondusif dan membebaskan masyarakat dari kepakuman mereka dari segi kretaifitas seni serta dari kreatifitas ini pula tentunya akan menjadikan masyarakat bisa mencari dan menambah penghasilan perekonomian mereka jika terus dikembangkan dan berkesinambungan. Dari pelatihan-pelatihan yang kami adakan ini dalam memanfaatkan potensi alam dan potensi masyarakat yang ada. Jika hal ini terus terjadi, maka akan menimbulkan kemandirian masyarakat.
Kami Sebagai fasilitator, upaya-upaya yang kami lakukan ialah, kami mencoba untuk menyadarkan mereka dengan mengadakan pelatihan pelatiahan kegiatan yang berorientasi pada pemanfaatan potensi alam dan potensi masyarakat dan pihak terkait, dan membangun motivasi bahwa mereka mampu menciptakan kreatifitas sendiri tanpa harus bergantung pada daerah lain. Upaya tersebut kami lakukan selain bertujuan untuk membangun kemandirian masyarakat desa Korleko Selatan, juga bertujuan untuk mewujudkan perekonomian warga Desa Korleko Selatan agar lebih baik lagi.

 Muhsan, M.Pd


DAFTAR PUSTAKA
Barker. Cultural Studies Teori dan Praktik. Yoyakarta : Kreasi Wacana, 2004.
Faruk, Pengantar Sosiologi Sastra : dari Strukturalisme Genetik sampai Post- Modernisme. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005.
Kolakowski, Main Currents of Marxism Its Origin, Growth, and Dissolution, London : Oxford Univercity Press, 1978.
Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. Teori Sosiologi Modern. Jakarta : Kencana Preneda Media Group, 2010.
Santoso, Listiyono dan Sunarto, dkk. Epistemologi Kiri. Yogyakarta : Ar-Ruzz, 2003.
Simon, Roger. Gagasan-Gagasan Politik Gramsci. Yogyakarta : Pustaka Pelajar dan Insist, 1999.
Suseno, Frank Magnis. Dalam Bayangan Lenin. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2003.
Sutrisno, Mudji dan Hendar Putranto. Teori-teori Kebudayaan, Yogyakarta Kanisius, 2005.
Syam, Nur. Model Analisis Teori Sosial. Surabaya : PMN, 2009


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama