Dikatakan penghasilan masyarakat Desa Korleko Selatan cukup untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari karena di desa ini banyak tersedia sumber bahan
pokok yang bisa di konsumsi, seperti beras dan jagung. Mereka banyak
memanfaatkan hasil pertaniannya sendiri untuk kebutuhan sehari-hari hanya saja
mereka membutuhkan lauk dan sayur yang harus dibeli dari pedagang bakulan yang
jualan di pingir gang perumahan warga, karena di Desa Korleko Selatan tidak
terdapat pasar tradisional hanya ada pasar mingguan. Dalam setiap panen mereka
menyisihkan sebagian hasil panen padinya untuk kebutuhan sehari-hgari dan
sebagian lainnya untuk dijual, misalnya pada setiap panen warga dapat menghasilkan keuntungan hingga mencapai ± 1,5
ton padi dengan 1/2 kwintal bibit padi
dalam 50 are. Sebagian kecil hasil padi
disimpan dan sebagia besarnya dijual kepada “penendak”. Setiap Kwintal gabah dijual dengan harga 300.000 – 350.000 (tiga
ratus ribu rupiah bahkan sampai tiga ratus lima puluh ribu rupiah) per kwintal.
Diagram berikut mengilustrasikan pekerjaan masyarakat sekitar Desa Korleko Selatan khususnya dusun lembak daya.
KETERANGAN :
masyarakat (Sangat Penting)
petani (sedang)
buruh (Penting)
nuruh (Kurang Penting)
pergi malaysia (Cukup Penting)
Fasilitator :
Muhammad Ihsan dkk (Dosen dan Mahasiswa Institut Agama Islam Hamzanwadi
(IAIH) Pancor tahun 2014
Dari diagram di atas, dapat diketahui bahwa
Masyarakat Desa Korleko Selatan memiliki pekerjaan yang berbeda-beda dan
keterampilan yang berbeda-beda pula, sebagai petani dengan hasil yang melimpah
mereka tidak mampu mengolah hasil pertanian yang mereka dapatkan kebanyakan
dijual dan yang biasa dimamfaatkan sendiri hanya yang habis untuk dikonsumsi saja.
Terutama kelapa. Didesa ini kelapa
sangat berpotensi besar, bahkan didesa ini ada gudang tempat pengolahan kelapa
yang akan di buat minyak sayur tapi itu bukan pabrik pembuatan minyak tapi
hanya peroses dan peyurtiran kelapa siap
olah. Kelapa yang sudah siap diolah
dikirim keluar daerah seperti jawa , sementara itu serabut kelapanya di jual
digunakan sebagai bahan pembakaran batu-bata sedangkan batoknya di buat arang
dan sisanya tidak dipergunakan oleh karna itu disini kami Peneliti IAIH Pancor
mencoba memberi pelatihan kepada masyarakat tentang pembuatan piring dari lidi kelapa agar lidi kelapa tersebut bisa dimamfaatkan,
Masyarakat sekitar banyak yang menjadi buruh
penyurtir kelapa upah yang di peroleh sebesar Rp 50.000 per kuintal kelapa yang
sudah kering, sebagai tukang panges (
yang membuang kulitnya) Rp 60.000 per 1000 buah kelapa masyarakat yang bekerja
sebagai buruh tani, buruh pembuatan batu-bata,
disini Desa Korleko Selatan banyak terdapat kren (tempak pembuatan
batu-bata), kapur, genting, itu semua berlokasi di dusun Lembak Lauq, sementara
di dusun Lembak Daya hanya ada tempat peyurtiran kelapa itupun tidak mampu
menampung banyaknya pegawai, oleh karna itu masyarakat banyak yang mencari
pekerjaan ke Lembak Lauq sebagai pembuat batu-bata ditempat orang lain.
Walaupun di Desa Korleko Selatan ini banyak tempat bekerja tapi tetap tidak
mampu menanggulangi tingginya jumlah pengangguran oleh karna itu pengangguran
masih banyak di desa ini, masyarakat lelah dengan keadaan seperti ini yang
kerjaannya hanya menganggur sementara dia dan keluarganya memiliki banyak
kebutuhan oleh karna itu mereka mencari napkah keluar negeri (malaysia)
Bagan.2. Diagram Alur Petani Kelapa
Keterangan :
Arus Hegemoni Yang Sangat Kuat
Arus
Hegemoni Yang Kuat
Hubunga Timbak Balik Yang Saling Menguntungkan
Kurangnya pengetahuan tentang keterampilan juga menjadi penyebab
mereka tidak mau membuat kereatifitas/
keterampilan. Hal tersebut akan berdampak pada pendapatan para petani dan
berimbas pada tingkat perekonomian masyarakat Desa Korleko Selatan yang mayoritas
berprofesi sebagai tukang kebun kelapa. Misalnya karena banyaknya
biaya operasional yang harus mereka keluarkan untuk mengupah orang sebagai
tukang metik kelapa dan tukang angkutnya. Ketergantungan para tukang kebun kelapa di Desa Korleko Selatan ini sangat berpengaruh terhadap
pendapatan mereka yang kurang optimal.
Padahal jika mereka mampu membuat atau mengolah kelapa secara
mandiri, mereka dapat mengurangi biaya operasional sehingga pendapatan yang
dihasilkan lebih meningkat. Di samping itu, selain mereka dapat memanfaatkan kelapa
buatan lokal untuk keperluan di daerahnya sendiri, mereka juga bisa menjual
kembali hasil dari keterampilan tersebut ke daerah lain. Dengan begitu
perekonomian masyarakat akan lebih baik dan dapat terus meningkat. Sehingga
untuk ke depannya masyarakat Desa korleko selatan mampu menciptakan usaha mikro
dan usaha pengerajin sengala macam yang bahannya
bersumber dari kelapa agar dapat meningkatkan kesejahteraan hidup dan kekuatan
ekonomi Desa Korleko Selatan yang lebih baik.
Dari penjelasan di atas, dapat diambil simpulan
bahwa permasalahan yang selama ini membelenggu warga Desa Korleko Selatan, ialah
kurangnya keteranpilan masyarakat untuk mengolah sumber daya alam yang ada di Desa
Korleko Selatan dan kurangnya kreatifitas dalam memanfaatkan potensi masyarakat dan ini yang
berdampak pada aspek ekonomi masyarakat.
Hal tersebut menjadikan permasalahan bagi
masyarakat Dusun Lembak Daya Desa Korleko
Selatan yang tersusun dari berbagai unsur yang telah lama mengendap tanpa
pernah digali. Endapan permasalahan tersebut terakumulasi sehingga memberikan
akibat yang sangat kronis kepada kehidupan masyarakat Dusun Lembak Daya Desa Korleko
Selatan yang pada akhirnya menimbulkan kemunduran di setiap bidang kebutuhan.
Endapan permasalahan tersebut perlu adanya penggalian kembali dan dicairkan serta
dicari titik pangkal permasalahannya.
Pada uraian ini akan dipaparkan beberapa aksi
yang dilakukan oleh kami sebagai langkah awal untuk menggali dan mencairkan
endapan- endapan permasalahan yang ada di Dusun lembak daya pada khususnya dan
Desa Korleko Selatan pada umumnya. Diskusi dalam pemetaan masalah ini
difasilitasi oleh tim pendamping dan kemudian dari diskusi bersama masyarakat
tersebut dapat diketahui bahwa permasalahan yang utama yang sejak dulu
menghantui masyarakat Dusun Lembak Daya adalah kurangnya keterampilan
masyarakan untuk mengolah potensi alam dan potensi masyarakat dalam
berkreatifitas, kurangnya kesadaran masyarakan akan tempat mandi di pinggir
jalan yang bisa mengganggu pengguna jalan, yang sangat mempengaruhi alur
kesejahteraan masyarakat Lembak daya. Semua
ini menjadi masalah inti yang disebabkan oleh kurangnya kemampuan masyararakat
pada skill dalam pemberdayaan sumber daya alam dan kurangnya perhatian terhadap
alam sekitar dan ditambah kurang kreatifitas masyarakat dalam meningkatkan
hasil perekonomian mereka
Komoditi Utama Sumber Daya Alam Desa Korleko Selatan
Kegiatan Sehari Hari Masyarakat Alam Desa Korleko Selatan
Menurut pengakuan masyarakat bahwa kurangnya
kemampuan pada keterampilan dalam memanfaatkan hasil alam menjadi salah satu
masalah dari ketergantungan masyarakat yang disebabkan oleh kurangnya
pengetahuan dalam mengolah, yang dipengaruhi oleh kurang adanya pendidikan dari
pemerintah kepada masyarakat Desa korleko selatan . Selain itu, kurangnya
kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan hasil alam juga disebabkan oleh
kurangnya pengalaman yang dimiliki masyarakat Desa Korleko Selatan, dan hal tersebut terjadi
karena masyarakat Desa Korleko Selatan cenderung lemah untuk melakukan uji coba
dan mencari informasi dalam hal tersebut. Akhirnya mereka lebih memilih hasil kereatifitas dari daerah lain yang biasa
di dapatkan ditoko-toko sekitar agar bahwa membuat keterampilan sendiri
memberikan hasil yang kurang memuaskan dan menguras tenaga, lebih cepat
mereka membeli. Ketergantungan
masyarakat pada produk luar juga disebabkan oleh hal berikut :
Persepsi masyarakat bahwa kereatipitas luar mempunyai kualitas yang lebih bagus, hal ini
terjadi karena belum adanya pembuktian bahwa kereatifitas lokal lebih bagus
dari pada kereatifitas luar.
Ketergantungan masyarakat pada hasil kereatifitas dari luar sangat
berdampak pada aspek perekonomian masyarakat Dusun Lembak Daya Desa Korleko Selatan adalah :
Dengan kerangka analisis pohon masalah, problem inti yang dialami masyarakat desa korleko selatan adalah kebutuhan bimbingan masyarakat Desa Korleko Selatan dalam memanfatkan
potensi alam dan potensi masyarakat Berikut pohon masalahnya :
Sebelum kreatifitas masyarakat dusun lembak
daya desa korleko selatan membangun kreatifitasnya yang perlu diperhatikan
adalah apa saja potensi alam dan potensi masyarakat yang bisa dikembangkan
untuk membangun kreatifitas tersebut. Didalam pelaksanaan membangun kreatifitas
masyarakat ini yang menjadi tolak ukurnya adalah keinginan masyarakat itu
sendiri.
Adapun pelaksanaan penelitian yang kami lakukan hanyalah sebagai fasilitator dalam proses perkembangan
tersebut. Di dalam hal ini kami melakukan observasi dan dari hasil inilah
muncul ide-ide dari masyarkat dan kami sebagai agen of change siap
membantu masyarakat sesuai kebutuhannya dalam mengembangkan potensinya dan
potensi alam yang bisa dimanfaatkan dan dikembangkan untuk membangun Desa
Korleko Selatan.
Di dalam pelaksanaan observasi yang kami
lakukan dimasyrakat Desa Korleko Selatan ada beberapa kebutuhan masyarakat yang
bisa kami jadikan program adapun yang lainnya adalah partisipasi pendampingan
kami di tengah-tengah masyarakat dengan tujuan untuk membangun hubungan
kemasyarakatan dan menjalin kerjasama yang baik dengan pihak desa setempat.
Menjalin hubungan kemasyarakatan itu bisa kita
lihat dari penjelasan sebelumnya yang berkaitan dengan kegiatan partisipasi.
Adapun hasil dari kegiatan partisipasi tersebut bisa kami rasakan dengan
berubahnya sikap dan tingkah laku kami yang sebelumnya hanya bergelut di dunia
akademik dan sekarang sedang mengabdikan diri dimasyarakat.
Pohon masalah
Pohon Harapan
pohon harapan
Belenggu (Hegemoni) Menurut Antonio Gramsci
Sosiolog Antonio Gramsci mengajukan teori Hegemoni untuk
menjelaskan fenomena usaha untuk mempertahankan kekuasaan oleh pihak penguasa
dan kelas kapitalis. Gramsci
mendefinisikan hegemoni sebagai kepemimpinan kultural yang dilaksanakan oleh
kelas penguasa. Ia membedakan hegemoni dari penggunaan paksaan yang digunakan
oleh kekuasaan legislatif atau eksekutif atau yang diwujudkan melalui
intervensi kebijakan. Secara sederhana, konsep hegemoni Gramsci adalah suatu
kondisi ketika kelas-kelas subordinat dipimpin oleh ‘blok historis’ yang
berkuasa menjalankan otoritas sosial melalui kombinasi antara kekuatan dan juga
konsensus. Dengan demikian dapat didefinisikan bahwa hegemoni merupakan
penundukan melalui ide, nilai, pemikiran, dan sebagainya. Sehingga, apa yang
Gramsci maksud dengan hegemoni menunjuk pada konsep penundukan pada pangkal state
of mind seseorang atau warga negara. Atau dalam titik awal pandangannya
menjelaskan bahwa suatu kelas dan anggotanya menjalankan kekuasaan terhadap
kelas-kelas di bawahnya dengan cara kekerasan dan persuasi.
Konsep hegemoni sendiri ditemukan awalnya ketika Gramscic mencari
sebuah pola dalam kelas sosial baru yang saat itu lebih banyak melihat fenomena
pada sejarah gereja Roma (The Roman Church). Dia terlihat kagum melihat
kekuatan ideologi Kristen gereja Roma yang berhasil menekan Gap yang berlebihan
berkembang antara agama yang terpelajar (Religion Of The Learned) dan
rakyat sederhana (Simple Folk). Gramsci mengatakan bahwa hubungan
tersebut memang terjadi secara “Mekanikal”, namun dia menyadari bahwa
gereja Roma telah sangat berhasil dalam perjuangan memperebutkan dan menguasai
hati nurani para pengikutnya.
Dalam karya terpenting Antonio Gramsci, Prison Notebooks
(1929-1933) menunjukkan bahwa Gramsci adalah seorang Marxis Italia. Tetapi
ia menunjukkan penolakan pandangan yang naif dari Marxis- Ortodoks bahwa
revolusi itu akan datang dengan sendirinya (Taken For Granted) seperti
hujan turun dari langit. Pemikiran Gramsci lebih tepat dikategorikan sebagai
corak analisis neo-Marxisme (Marxisme-Baru) yang menekankan pada
analisis yang lebih bersifat praktis, yaitu bagaimana prespektif
Marxisme dapat direalisasikan secara strategis tanpa meninggalkan basis
teoritisnya. Bagi Gramsci, dominasi kekuasaan tidak selamanya berakar
pada kepentingan ekonomi belaka, melainkan juga karena akar-akar
kebudayaan dan politis.
Sebagaimana halnya Marx, Gramsci menganggap dunia gagasan,
kebudayaan, superstruktur, bukan hanya refleksi atau ekspresi dari struktur
kelas ekonomi atau infrastruktur yang bersifat material, melainkan sebagai
salah satu kekuatan material itu sendiri. Sebagai kekuatan material itu, dunia
gagasan atau ideologi berfungsi mengorganisasi massa manusia, menciptakan tanah
lapang yang di atasnya manusia bergerak. Bagi Gramsci hubungan antara yang
ideal dengan yang material tidak berlangsung searah, melainkan bersifat
tergantung dan interaktif. Kekuatan material tidak akan dapat dipahami secara
historis tanpa bentuk dan ideologi-ideologi akan menjadi khayalan individu
belaka tanpa kekuatan material.
Gramsci beragumen bahwa pendekatan budaya adalah sangat penting
untuk membuat sebuah kerangka teori revolusi sosial, dimana banyak dari pemikir
ortodoks hanya terfokus pada hegemoni sosial yang terangkum dalam pemikiran
basis dan bangunan atas dari Marxisme. Sumbangan terbesar Gramsci untuk
Marxisme adalah mensistematisasi apa yang ditulis Marx secara tersirat menjadi
suatu ilmu tentang aksi politik. Ini tampak misalnya sewaktu Gramsci mengajukan
pandangan alternatif Marxis tentang negara, yaitu sebagai suatu kesatuan
kompleks dari kegiatan teori dan praktik., dimana kelas yang berkuasa tidak
hanya membenarkan dan memelihara dominasinya, tetapi juga mengatur untuk
memenangkan konsensus aktif yang diatur. Pendapat ini mengungkapkan bahwa konsep
hegemoni Gramsci merupakan paham sendiri dalam khasanah Marxisme.
Dengan demikian, selain konsep hegemoni Gramsci membantu untuk
memahami dominasi dalam kapitalisme dan dapat juga membantu untuk
mengorientasikan pemikiran tentang revolusi. Wacana yang dilempar oleh Gramsci
tersebut adalah bagaimana sebenarnya kelas subordinat bisa melakukan revolusi
sosial.
Gramsci menawarkan adanya blok solidaritas untuk melawan rezim.
Mekanismenya adalah mengaalang seluas mungkin munculnya kekuatan intelektual
yang dimiliki visi dan sikap dalam mendukung kebebasan. Gramsci membedakan dua
corak intelektual. Yang pertama, dikenal dengan intelektual traditional, yaitu
intelektual yang tunduk dan patuh terhadap kepentingan rezim kekuasaan fasis.
Intelektual yang demikian sebenarnya secara faktual, adalah musuh masyarakat
karena dengan posisi dan integrasinya mereka bekerja sama dengan rezim serta
memanipulasi sistem sosial dan politik yang menindas. Yang kedua, dikenal
dengan intelektual organik, yaitu para intelektual, yang turun dari singgasana
menara gadingnya dan bergabung dengan masyarakat untuk menjalankan tugas
profesinya serta membangkitkan kesadaran yang dimanipulasi oleh kekuatan yang
hegemonik dengan memberi pendidikan kultural dan politik dalam bahasa
keseharian. Mereka ini bertugas memperkuat posisi masyarakat sipil (Civil
Society) untuk mengakumulasikan kekuatan blok solidaritas, yaitu masyarakat
yang sadar akan kondisi sosial-politis dan melakukan perjuangan-perjuanagn untuk
mengelegitimasikan razim kekuasaan.
Blok solidaritas ini diarahkan untuk mengimbangi daya hegemoni
rezim dengan melakukan perang posis (The War Of Position) dengan tujuan
merebut posisi-posisi vital yang dikuasai oleh razim. Organisasi infrastruktur
masyarakat yang bersifat profesional, kemasyarakatan atau kepemudaan yang
tadinya dikuasai oleh prorezim (berdiri Subdordinasi atau Onderbow kepentingan
kekuasaan) harus secara perlahan-lahan diambil alih dan selanjutnya diarahkan
sebagai organisasi masyarakat sipil yang tangguh. Jadi, fungsi kaum intelektual
organik adalah membentuk budaya perlawanan
masyarakat dengan membangkitkan kesadaran kritisnya agar sanggup merebut
posisi-posisi vital tanpa harus terjebak pada perlawanan terbuka seperti revolusi.
Selain tidak strategis, revolusi juga akan segera ditumpas rezim dengan jalan
kekerasan. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa konsepsi Gramsci lebih menekankan pembentukan budaya
perlawanan ketimbang menetukan isi kebudayaan itu sendiri.
Kelompok intelektual menurut Gramsci terdiri dari : kelompok
intelektual organik dan kelompok intelektual tadisional. Kedua kelompok
intelektual itu bersifat terpisah, tetapi secara historis dapat bertumpang
tindih. Kelompok intelektual tradisional adalah kaum intelektual yang terbatas
pada lingkungan kaum tani dan borjuis kota kecil “belum meluas dan bergerak
oleh sistem kapitalis”. Kaum intelektual tradisional selalu menempatkan dirinya
pada sebagai kelompok sosial yang dominan yang otonom dan independen, yaitu sebagai
orang-orang kedudukannya dalam masyarakat mempunyai lingkaran inter-kelas tertentu. Sementara itu, kaum intelektual
organik adalah intelektual dan organisator politik dan pada saat yang sama juga
bos-bos perusahaan, petani-petani kaya atau manajer perumahan, penguasa
komersial dan industri, dan sebagainya. Kaum intelektual organik menyadari
bahwa identitasnya dari yang diwakili dan yang mewakili,
merupakan “barisan terdepan yang riil dari organik dari lapisan kelas papan
atas yang di situ mereka masuk di dalamnya”. Dengan adanya kondensasi dan
pemusatan itu, mereka mempunyai daya tarik kuat dalam semua kalangan
intelektual.
Demikianlah, pada akhirnya filsafat Gramsci menolak materialisme
vulgar ala Marxis kuno
dan Saintisme. Menurut Gramsci, semangat Maxismehanya dapat hidup dengan
mengelaborasi struktur budaya pasif, yang terbungkus dalam konsep hegemoni dan
masyarakat sipil.
Uraian di atas menegaskan gagasan Gramsci tentang arti penting
menumbuhkan massa rakyat untuk mengorganisasi diri. Artinya, sangat penting
kiranya rakyat untuk memiliki kesadaran kritis dan perang budaya maupun
ideologis. Pusat perhatian Gramsci adalah menciptakan kesadaran kritis dan
menciptakan perang budaya dalam lingkup masyarakat dan kekuasaan negara.
Gramsci yakin bahwa kesadaran akan muncul di kalangan massa rakyat untuk
membuat sebuah kehendak kolektif yang akan mampu menandingi kekuasaan yang
otoriter.
Demikianlah teori hegemoni Gramci telah memperkenalkan dimensi
kepemimpinan moral dan intelektual yang dibangun secara historis. Gramsci
meyakini keniscayaan akan datang dari massa rakyat dalam mewujudkan a new
state, karena kesadaran kritis dan kolektif merupakan musuh laten
kekuasaan. Meskipun demikian, perspektif menuju tatanan baru (sebagai sebuah
bentuk dorongan dasar reformasi politik) tidak ditentukan oleh faktor
determinan tunggal, namun majmuk. Kondisi mengikutsertakan kajian sejarah,
ekonomi, antropologi dan terutama
praktis politik di mana kesadaran dan pemahaman manusia berperan atas struktur
kekuasaan itu sendiri.
Dinamika Pendampingan “Meminimalisir Ketergantungan Menuju Kemandirian”
Sebelum kreatifitas masyarakat Dusun Lembak Daya
Desa Korleko Selatan membangun kreatifitasnya yang perlu
diperhatikan adalah apa saja potensi alam dan potensi masyarakat yang bisa
dikembangkan untuk membangun kreatifitas tersebut. Di dalam pelaksanaan membangun kreatifitas masyarakat ini yang menjadi tolak
ukurnya adalah keinginan masyarakat itu sendiri.
Pelaksanaan penelitian yang kami lakukan hanyalah sebagai fasilitator dalam proses perkembangan
tersebut. Didalam hal ini kami melakukan observasi dan dari hasil inilah muncul
ide-ide dari masyarkat dan kami sebagai agen of change siap membantu
masyarakat sesuai kebutuhannya dalam mengembangkan potensinya dan potensi alam
yang bisa dimanfaatkan dan dikembangkan untuk membangun desa korleko selatan.
Di dalam pelaksanaan observasi yang kami lakukan dimasyrakat Desa Korleko Selatan ada beberapa
kebutuhan masyarakat yang bisa kami jadikan program adapun yang lainnya adalah
partisipasi pendampingan, kami di tengah-tengah masyarakat dengan tujuan untuk
membangun hubungan kemasyarakatan dan menjalin kerjasama yang baik dengan pihak
desa setempat.
Menjalin hubungan kemasyarakatan itu bisa kita lihat dari penjelasan sebelumnya yang berkaitan dengan kegiatan partisipasi. Adapun hasil dari kegiatan partisipasi tersebut bisa kami rasakan
dengan berubahnya sikap dan tingkah laku kami yang sebelumnya hanya bergelut di
dunia akademik dan sekarang sedang mengabdikan diri dimasyarakat.
Adapun beberapa program yang telah kami
rencanakan dan sudah kami realisasikan bersama masyarakat diantaranya adalah :
Pelatihan Pembuatan piring dari lidi kelapa
Pelatihan Pembuatan pentol dengan bahan dasar rumput laut
Pelatihan Pembuatan piring dari bekas gelas minuman
Pelatihan Pembuatan bross dan mainan kunci dari kain flanel
Pelatihan Pembuatan tas dari tali koor
Pelatihan pengoperasian tajwid digital
Di antara potensi alam yang bisa dimanfaatkan
adalah salah satunya lidi kelapa yang mayoritas masyarakat memiliki kebun
kelapa di Desa Korleko Selatan ini sedangkan hasil observasi kami membuktikan
bahwa potensi masyarakat dalam memanfaatkan lidi tersebut untuk menjadi piring
sudah ada cuman orang yang mengajarkannya yang belum ada dan keinginan
masyarakatpun sangan tinggi terutama ibu PKK desa korleko selatan. kami dari peneliti
berinisiatif untuk mengadakan pelatihan tentang hal ini dan kamipun menjalin
kerjasama dengan pihak dusun dan kades serta pelatihnya secara langsung untuk
bisa memenuhi kebutuhan masyarakat itu.
Selain lidi pelatihan pembuatan pentol dari
bahan dasar rumput lautpun adalah salah satu potensi alam yang bisa
dimanfaatkan karena desa korleko selatan ini dekat dengan pantai dan rumput lautnya pun bisa dimanfaatkan untuk diolah. Kemudian kami
melihat ternyata di desa ini banyak sampah bekas minuman ale-ale dan yang
lainnya berserakan tidak dimanfaatkan maka setelah kami menawarkan pelatihan untuk
hal ini maka banyak masyarakat yang mau mengikutinya yaitu pembuatan piring
dari bekas minuman tersebut.
Di samping hal tersebut kami juga melihat banyaknya remaja yang tidak memiliki
kreatifitas dalam memanfaatkan daya seni yang ada pada dirinya. Maka kamipun
menawarkan untuk pelatihan pembuatan bros dan mainan kunci dari kain flanel dan
kegiatan inipun bisa menambah penghasilan ekonomi dari orang tua mereka
sehari-hari. Penjualan bros dan mainan kunci ini bisa dilakukan dan harganya
bisa mencapai Rp.2.500 perbuah untuk brosnya dan untuk mainan kunci bisa
mencapai Rp3.000 –Rp 5.000 perbuah.
Adapun tentang pelatihan pengoperasian tajwid digital ini kami lakukan
dengan tujuan supaya proses pembelajaran TPQ didesa ini bisa menghasilkan
pembelajaran yang efektif dan efisien. Dan pelatihan inipun didukung oleh pihak
kadus, kades, pembina TPQ dan tokoh agama setempat.
Dinamika Proses
Aksi “Dari Ketergantungan Menuju Kemandirian”
Salah satu upaya untuk membangkitkan pemikiran yang kritis pada
masyarakat Desa Korleko Selatan adalah dengan menuntun masyarakat untuk bersama-sama menyadari segala potensi
yang ada di sekitar mereka serta menjadikannya suatu modal berharga dalam
kehidupan. Sehingga, apabila masyarakat telah mengetahui akar masalah yang ada
maka akan lebih mudah ditelusuri, dan diatasi. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran
masyarakat untuk melakukan sesuatu guna melakukan perubahan. Masyarakat
diarahkan untuk dapat mengungkapkan serta mengutarakan berbagai macam
problematika yang ada, kemudian menuntaskannya secara bersama-sama. Dan
akhirnya, berbagai macam kegiatan yang dapat menambah wawasan dan khazanah keilmuan bagi masyarakat merupakan peninggalan
yang bisa sedikit diambil manfaatnya untuk masyarakat Desa Korleko Selatan pada
umumnya.
Hari yang dinantipun telah tiba, hari dimana
segala rencana yang telah di rencanakan bersama masyarakat jauh-jauh hari sudah
di ambang pintu. Dari beberapa program yang
dilakukan, perencanaan pemanfaatan potensi alam dan potensi masyarakat Desa
Korleko Selatan secara mandiri merupakan program utama.
Salah satu upaya untuk mengubah pemikiran
para masyarakat adalah dengan melakukan musyawarah bersama-sama antara Kades, kadus,
ibu PKK, dan masyarakat Desa Korleko Selatan. Masyarakat diajak berfikir untuk
dapat menyadari segala potensi yang ada di sekitar mereka, terutama pada sektor pemanfaatan potensi alam dan potensi masyarakat yang harus ditingkatkan, serta menjadikannya sebagai modal berharga untuk masa depan.
Salah satu upaya untuk membangkitkan
pemikiran yang kritis pada masyarakat Desa korleko selatan adalah dengan
menuntun masyarakat untuk bersama-sama menyadari segala potensi yang ada di
sekitar mereka serta menjadikannya suatu modal berharga dalam kehidupan. Sehingga, apabila
masyarakat telah mengetahui akar masalah yang ada, maka akan lebih
mudah ditelusuri dan diatasi. Oleh karena itu, perlu
adanya kesadaran masyarakat untuk melakukan sesuatu guna
melakukan perubahan.
Pelatihan Pembuatan Piring Dari Lidi Kelapa
Kegiatan pelatihan pembuatan piring dari lidi kelapa
adalah salah satu kegiatan dalam memanfaatkan potensi alam Desa Korleko Selatan
yang didominasi oleh perkebunan kelapa. Adapun salah satu cara untuk
memanfaatkan potensi alam dalam bentuk lidi ini adalah dengan menjadikannya
menjadi piring yang bisa digunakan sebagai alat untuk menaruh makanan dalam
acara resepsi, acara zikiran, prasmanan keluarga dan masih banyak pula yang
lainnya.
Dalam pelatihan pembuatan piring dari lidi
ini kami sebagai pasilitator mencarikan pelatih dari luar tim peneliti guna
untuk memenuhi hajat dari masyarakat Desa Korleko Selatan. Sedang action yang
kami lakukan sebelumnya dimulai dari hubungan kerjasama yang baik antara pihak
pemerintah Desa Korleko Selatan dan kekadusan sedesa Korleko Selatan sehingga
kegiatan pelatihan ini bisa diikuti oleh semua lapisan masyarakat baik dari
kalangan laki-laki dan wanita.
Sebagai salah satu bukti riil dari apa yang
telah kami analisis dari hasil observasi selama 2 minggu salah satunya adalah
merealisasikan kegiatan pelatihan ini yang tempat lokasi perealiasasiannya
berada di kantor Desa Korleko Selatan atas saran dari pihak desa dan juga
dukungan dari masyarakat serta kerjasama yang baik antara tim peneliti IAI
Hamzanwadi Pancor dengan pihak yang terkait. Perealisasian pelatihan ini
diikuti oleh 3 dusun yaitu Dusun Lembak Daya, Dusun Lembak Lauq, dan masyarakat
Dusun Dasan Baru yang didampingi oleh 3 tutor yang melatih masyarakat sehingga
bisa memahami dan menguasai langkah-langkah pembuatannya.
Tim peneliti dan masyarakat desa korleko selatan
Gambar :hasil
pembuatan piring dari lidi
Analisis :
Hasil pelatihan pembuatan piring dari lidi
ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Korleko Selatan untuk menambah hasil
pendapatan ekonomi mereka dan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bentuk
memberdayakan potensi alam dan potensi masyarakat dalam bidang kreatifitas
seni. Bahan dan alat Pelatihan Pembuatan piring dari lidi kelapa adalah sbb:
Bahan:
112-140 biji lidi kelapa yang muda
Tali rapia
Alat-alat:
Gunting bunga,
silet/ pisau
Pelatihan Pembuatan Pentol Dengan Bahan Dasar Rumput Laut
Kegiatan pelatihan pembuatan pentol dengan
bahan dasar rumput laut adalah tindak lanjut dari kegiatan action program
kegiatan kami dalam memanfaatkan potensi alam desa Korleko Selatan. Adapun
salah satu cara untuk memanfaatkan potensi alam dalam bentuk pembuatan pentol
dari bahan dasar rumput laut ini adalah dengan bekerjasama dengan ibu-ibu PKK
desa Korleko Selatan.
Dalam pelaksanaan kegiatan action program
kami ini banyak di ikuti oleh ibu-ibu PKK sedesa Korleko Selatan yang langsung
dibina proses pembuatannya oleh tim peneliti yang sudah mengikuti pelatihan
tata boga ditingkat kabupaten dan potensi inilah yang dikembangkan oleh tim
dalam membina pelatihan tersebut sehingga potensi ini bisa disalurkan
ditengah-tengah masyarakat untuk memanfaatkan potensi alam dan potensi
masyarakat desa Korleko Selatan. adapun proses pembuatannya berlangsung di
kantor desa Korleko Selatan yang diikuti oleh tim peneliti dan ibu-ibu PKK desa
Korleko Selatan.
Gambar ; hasil pembuatan Pentol Dari Bahan Dasar Rumput Laut
Analisis :
Hasil pelatihan Pembuatan
pentol dengan bahan dasar rumput ini bisa
dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Korleko Selatan untuk menambah hasil
pendapatan ekonomi mereka dan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bentuk
memberdayakan potensi alam dan potensi masyarakat dalam bidang kreatifitas seni
selain dari pada itu kami melihat bahwa kebahagiaan keluarga itu bisa dilihat
dari bagaimana istri menyiapkan makanan untuk keluarganya oleh sebab itu kami
mengadakan Pelatihan Pembuatan pentol dengan bahan dasar rumput laut adalah
sbb:
Bahan :
Daging sapi 1 kg
Rumput laut siap olah ¼ kg
Tepung tapioka 100-200 g
Putih telur 3 butir
Bawang (goreng ) 3 siung
Jahe 1 cm
Merica 1 sendok
Vetsin / merice secukupnya
Garam 1,25 g dan Bawang putih secukupnya.
Pelatihan Pembuatan Piring Dari Bekas Gelas Minuman
Kegiatan pelatihan pembuatan piring dari
bekas gelas minuman adalah tindak lanjut dari kegiatan action program kegiatan
kami dalam memanfaatkan sampah yang tidak digunakan menjadi sampah yang berguna
dan bisa menambah kreatifitas masyarakat dan memberdayakan potensi masyarakat
desa korleko selatan.
Adapun salah satu cara untuk memanfaatkan
sampah dalam bentuk pembuatan piring ini adalah bekerja sama dengan bapak kades
Korleko Selatan dengan ibu-ibu PKK desa Korleko Selatan. Dalam pelaksanaan
kegiatan action program kami ini banyak diikuti oleh ibu-ibu PKK sedesa korleko
selatan yang langsung dibina proses pembuatannya oleh tim peneliti. Kegiatan ini kami realisasikan dengan tujuan agar sampah yang bisa
dimanfaatkan tidak dibuang sembarangan dan bisa menumbuhkan kesadaran
masyarakat dalam berkarya untuk memajukan desanya dari segi kreatifitas.
Gambar ; hasil
pelatihan pembuatan piring dari bekas gelas minuman
Analisis :
Hasil pelatihan pembuatan piring dari bekas
gelas minuman ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat desa korleko selatan untuk meningkatkan
kreatifitas seni dengan memanfaatkan sampah. selama ini kita melihat sampah itu hanya menjadi sesuatu yang tidak bermanfaat
bagi mereka. Ternyata dibalik semua itu bisa digunakan
sebagai kreatifitas tangan serta sebagai moment penting bagi masyarakat supaya dibina dalam
memanfaatkan potensinya dalam bidang kreatifitas seni. Adapun pelatihan
pembuatan piring dari bekas gelas minuman ini terdiri dari Bahan dan alat
pembuatan yang sederhana yaitu:
Gelang bekas pelastik minuman
Tali sipat
Cuter
Pelatihan Pembuatan Bros Dan Mainan Kunci Dari Kain Flanel
Kegiatan Pelatihan Pembuatan Bros Dan Mainan
Kunci Dari Kain Flanel adalah tindak lanjut dari kegiatan action program
kegiatan kami dalam meningkatkan kreatifitas masyarakat dan memberdayakan
potensi yang ada sehingga bisa menghasilkan kemampuan dalam berkarya masyarakat
desa korleko selatan.
Kegiatan pelatihan ini banyak diminati oleh
masyarakat desa Korleko Selatan karena yang dilihat adalah aspek ketergantungan
mereka sebagai konsumen dalam mencari bros untuk melengkapi perlengkapan
tatarias wanita. Kegiatan ini kami lakukan 6 kali pelatihan dan pelatihannya
kami lakukan perdusun karena mengingat banyaknya peserta yang meminati kegiatan
ini. Adapun yang menjadi peserta kegiatan ini adalah adek-adek TPQ dan juga
remaja dan remaji yang ada disetiap dusun serta ibu-ibu PKK yang ada disetiap
dusun setempat. Adapaun jalinan kerjasama yang kami lakukan adalah menjalin
hubungan dengan bapak kadus tempat pelatihan ini dilakukan yaitu didusun Lembak
Daya dan didusun Dasan Baru.
Pembinaan pelatihan pembuatan bros dan mainan
kunci ini langsung di bina oleh tim yang memiliki bakat dalam menjahit dan
mencari model bros dan mainan kunci yang akan didapat, atas dasar kemampuan ini
jadi kami tidak perlu mencari tutor dari luar karena potensi itu sendiri sudah
dimiliki oleh anggota tim yang akan disalurkan kemasyarakat Desa Korleko
Selatan.
Gambar ;
Kegiatan pelatihan pembuatan bros dan mainan kunci dari kain flanel
Gambar : Hasil pelatihan pembuatan bros dan mainan
kunci dari kain flanel
Analisis :
Pelatihan pembuatan bross dan mainan kunci
dari kain flanel ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat desa korleko selatan
untuk menambah hasil perekonomian mereka karena harga jual mainan kunci dan
bross bisa mencapai Rp3.000-Rp5.000 dan dapat meningkatkan kreatifitas seni masyarakat
Desa Korleko Selatan. Dengan diadakannya kegiatan pelatihan banyak masyarakat
yang berminat setelah melihat hasilnya. Proses pelatihan ini banyak diminati
mulai dari kalangan adik-adik TPQ sampai kepada ibu PKK didusun tempat kami
mengadakan pelatihannya. Pelatihan pembuatan bross dan mainan kunci dibuat dari
bahan dan alat sbb:
Bahan :
Kain planel
Benang dan jarum jahit
Lem bakar/ lem tembak
Lilin
Kapas dakron
Gantungan kunci
Penitti beros
Alat-alat:
Gunting
Jarum
Pensil
Mancis/korek api
Pelatihan Pembuatan Tas Dari Tali Koor
Kegiatan pelatihan pembuatan tas dari tali
koor adalah tindak lanjut dari kegiatan action program kami dalam memanfaatkan
potensi masyarakat desa Korleko Selatan. Adapun salah satu cara untuk
memanfaatkan potensi masyarakat dalam bentuk pembuatan tas dari tali koor ini
adalah bekerjasama dengan bapak kades sebagai pemodal pertama dan merupakan
kebutuhan dari ibu-ibu PKK desa korleko selatan sebagai bentuk upaya pihak desa
untuk meningkatkan keaktifan ibu-ibu PKK desa Korleko Selatan.
Dalam pelaksanaan kegiatan action program
kami ini banyak diikuti oleh ibu-ibu PKK Sedesa Korleko ( dusun Lembak Daya,
Lembak Lauq, dan Dusun Dasan Baru) yang langsung dibina proses pembuatannya
oleh tim peneliti yang sudah mengikuti pelatihan ditingkat kabupaten dan potensi inilah yang
dikembangkan oleh tim peneliti dalam membina pelatihan tersebut sehingga
potensi ini bisa disalurkan ditengah-tengah masyarakat untuk memanfaatkan
potensi masyarakat desa Korleko Selatan.
adapun proses pembuatannya berlangsung di kantor desa Korleko Selatan yang
diikuti oleh tim, ibu-ibu PKK desa Korleko Selatan.
Gambar : Kegiatan Pelatihan Pembuatan tas Dari Tali Koor
Analisis :
Kegiatan Pelatihan Pembuatan tas dari tali
koor ini diikuti oleh ibu PKK desa Korleko Selatan karena kami berkeinginan
dalam hal ini untuk membantu ibu-ibu PKK dalam merealisasikan kegiatan PKKnya. Kami
melaksanakan kegiatan ini bekerjasama dengan bapak kades Korleko Selatan dan
ketua PKK desa Korleko Selatan. adapun bahan dan alat pembuatannya sbb:
Bahan ;
Tali koor
Resleting
Kain daleman
benang
Alat-alat:
Gunting
Jarum
Pembinaan tajwid digital
Kegiatan pembelajaran tajwid digital
dilakukan di TPQ Al-ikhlas dusun Lembak Daya desa Korleko Selatan yang diikuti
oleh para pembina dan tenaga pengajar TPQ dan guru ngaji sedesa Korleko Selatan.
dalam kegiatan pembinaan tajwid digital diikuti oleh guru-guru TPQ yang ada di
desa Korleko Selatan. Tujuan pembinaan tajwid digital ini memilik harapan
supaya mempermudah para guru dalam mengajarkan bagaimana cara membaca Al-Qur’an
yang baik dan benar disamping itu kami juga berharap supaya pembelajaran tajwid
disetiap TPQ didesa Korleko Selatan ini bisa kondusif dan menghasilkan
pembelajaran yang efektif, menyenangkan dan efesien.
Gambar : Kegiatan Penerapan tajwid digital
Analisis :
Harapan kami dari pelatihan tajwid digital
kepada pembina TPQ yang ada di Korleko Selatan supaya bisa memudahkan dan
meningkatkan minat belajar tajwid santri dan santriwati TPQ yang ada serta
proses pembelajarannya bisa berkesinambungan setelah kami tinggalkan dari
lokasi.
Refleksi
Korleko selatan adalah sebuah desa yang cukup luas wilayahnya
dan terbagi menjadi 3 Dusun (Lembak Daya, Lembak Lauq dan Dasan Baru).
Masyarakat Korleko Selatan adalah masyarakat yang masih menjunjung tinggi aspek
keagamaan, gotong rotong, kekeluargaan, dan keramah-tamahan. Dari sinilah warga Korleko Selatan membangun desanya menjadi desa yang aman dan tentram.
Masyarakat Desa Korleko
Selatan merupakan
masyarakat yang sangat patuh pada pemimpinnya. Di
mata masyarakat, kepala desa merupakan
panutan yang bisa dibuat contoh. Setiap hari
masyarakat Desa Korleko Selatan bekerja keras membanting tulang walapun
dengan kondisi desa yang kurang memadai. Seperti akses pembangunan kantor Desa Korleko Selatan, masjid korleko selatan, dan kegiatan gotong royong lainnya. Walaupun demikian, bagi mereka kegiatan tersebut bukanlah hal yang menjadi hambatan untuk melakukan
aktivitas mereka sehari-hari, karena masyarakat Desa Korleko Selatan sudah terbiasa dengan kegiatan tersebut, dan juga masyarakat Desa Korleko Selatan memiliki semangat yang
tinggi dalam menekuni pekerjaan mereka.
Masyarakat di desa ini mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, penjaga kebun, pedagang bakulan dan pergi merantau kemalasyia sebagai TKI
(Tenaga Kerja Indonesia). Dari hasil bertani, penjaga kebun, pedagang bakulan dan pergi
merantau kemalasyia sebagai TKI mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari bahkan lebih. Khusus untuk yang pergi menjadi TKI keluar negeri
hasilnya bisa digunakan untuk masa depan anak-anak dan keluarganya.
Adapun potensi
alam yang dimiliki oleh desa ini didukung oleh pemerintah Desa Korleko Selatan
yang sebagian besar adalah area persawahan dan perkebunan yang menjadikan
pertanian dan perkebunan sebagai salah satu aset utama perekonomian yang dapat
meningkatkan taraf hidup masyarakat Desa korleko selatan. Dari hasil pertanian
dan perkebunan masyarakat Desa korleko selatan ini bisa memenuhi kebutuhan
sandang dan pangan mereka. Oleh karena itu, mereka menghabiskan separuh waktu
dan seluruh tenaga bahkan biaya yang tidak sedikit untuk menekuni profesi
mereka sebagai petani dan penjaga kebun, pedagang dan buruh.
Di dalam kegiatan program kami selaku tim peneliti IAI
Hamzanwadi Pancor yang sudah kami realisasikan didesa ini tujuannya adalah
memanfaatkan potensi alam dan potensi masyarakat dengan menyentuh aspek
pelatihan kreatifitas. Dari semua action kegiatan program ini, kami harapkan mampu memberdayakan potensi alam
dan potensi masyarakat dalam memberdayakan desa Korleko Selatan kearah yang
lebih baik dan maju. Dari sebagian besar kegiatan pelatihan yang kami lakukan
seperti pelatihan pembuatan piring dari lidi kelapa, Pelatihan Pembuatan pentol
dengan bahan dasar rumput laut, Pelatihan Pembuatan piring dari bekas gelas
minuman, Pelatihan Pembuatan bross dan mainan kunci dari kain flanel, Pelatihan
Pembuatan tas dari tali koor, kami memiliki pandangan kedepan masyarakat Desa
Korleko Selatan akan menjadi masyarakat yang kreatif dan mampu berdaya saing
serta tidak kalah dengan desa-desa yang lain dalam hal-hal yang berkaitan
dengan kreatifitas masyarakat.
Sedangkan semua kegiatan yang berkaitan dengan
partisipasi baik yang berkaitan dengan aspek sosial tentunya akan menjadikan
kondisi fisik desa Korleko Selatan akan lebih indah dan kelihatan maju,
ditambah lagi dengan kegiatan religi yang berkesinambungan dan terus kondusif
akan menjadikan kerukunan masyarakat dan jiwa kekeluargaan menjadi semakin erat
dan elit, semua kegiatan religi yang telah kami lakukan didesa ini kami
harapkan bisa terus dilanjutkan dan tidak berhenti setelah kami tinggalkan dari
lokasi.
Dari kompleksitas kegiatan yang kami lakukan baik yang
berorientasi pada bentuk partisipasi dibidang sosial dan religi serta semua
program yang sifatnya membangun kreatifitas masyarakat desa Korleko Selatan dalam membangun dan memanfaatkan potensi
alam dan potensi masyarakat desa Korleko Selatan kami memiliki pandangan
kedepan desa Korleko Selatan menjadi desa yang aman, tentram dan berdaya saing
jika kegiatan-kegiatan ini terus dikembangkan dan ditingkatkan.
Namun, dengan keterbatasan waktu dalam penelitian,
maka kerja kami dalam mendampingi masyarakat untuk memanfaatkan potensi alam dan potensi masyarakat dirasa kurang.
Oleh sebab itu, proses
pendampingan pendidikan ini bisa dilanjutkan oleh warga Desa Korleko Selatan dengan jiwa kemandiriannya, serta masih
membutuhkan kelanjutan penanganan di tahun yang akan dating serta Ini adalah bukan akhir dari perjalanan dalam proses perubahan, namun
merupakan sebuah awal dari proses penguraian dari semua kebutuhan masyarakat menuju kemandirian dalam berkarya dan berkreatifitas.
Dalam
menjalani proses ini membutuhkan kelanjutan di tahun-tahun yang akan datang untuk lebih ditingkatkan dengan memberdayakan
masyarakat Desa Korleko Selatan dalam membangun kegiatan yang berkaitan dengan
aspek religi, sosial dan peningkatan kreatifitas masyarakat sehingga
pemanfaatan potensi alam dan potensi masyarakat desa Korleko Selatan bisa
diolah sebaik mungkin dan mendapatkan hasil yang efektif dan efisien.
Penutup
Dari penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan
bahwa permasalahan yang dialami oleh masyarakat Dusun Lembak Daya Desa Korleko Selatan, ialah
masih kurangnya pemanfaatan potensi alam dan potensi masyarakat. Hal tersebut
disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya ialah tidak adanya yang
membimbing masyarakat dalam memanfaatkan potensi alam dan yang membina potensi
yang mereka dimiliki.
Potensi alam masyarakat desa Korleko Selatan jika dimanfaatkan sepenuhnya
tentunya akan mampu memenuhi semua kebutuhan masyarkat terutama dibidang
perekonomian sehari hari dan masa depannya. Adapun pemanfaatan potensi
masyarakat dibidang kreatifitas yang telah kami bina selama ini melauli
pelatihan-pelatihan tentunya akan menjadikan suasana kegiatan yang bernuansa
kreatifitas akan lebih kondusif dan membebaskan masyarakat dari kepakuman
mereka dari segi kretaifitas seni serta dari kreatifitas ini pula tentunya akan
menjadikan masyarakat bisa mencari dan menambah penghasilan perekonomian mereka
jika terus dikembangkan dan berkesinambungan. Dari pelatihan-pelatihan yang kami adakan ini dalam memanfaatkan
potensi alam dan potensi masyarakat yang ada. Jika hal ini terus terjadi, maka
akan menimbulkan kemandirian masyarakat.
Kami Sebagai fasilitator, upaya-upaya yang kami lakukan ialah, kami mencoba
untuk menyadarkan mereka dengan mengadakan pelatihan pelatiahan kegiatan yang
berorientasi pada pemanfaatan potensi alam dan potensi masyarakat dan pihak
terkait, dan membangun motivasi bahwa mereka mampu menciptakan kreatifitas
sendiri tanpa harus bergantung pada daerah lain. Upaya tersebut kami lakukan
selain bertujuan untuk membangun kemandirian masyarakat desa Korleko Selatan, juga
bertujuan untuk mewujudkan perekonomian warga Desa Korleko Selatan agar lebih
baik lagi.
Muhsan, M.Pd
DAFTAR PUSTAKA
Barker. Cultural
Studies Teori dan Praktik. Yoyakarta : Kreasi Wacana, 2004.
Faruk, Pengantar Sosiologi
Sastra : dari Strukturalisme Genetik sampai Post- Modernisme. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005.
Kolakowski, Main
Currents of Marxism Its Origin, Growth, and Dissolution, London : Oxford
Univercity Press, 1978.
Ritzer, George dan Douglas J.
Goodman. Teori Sosiologi Modern. Jakarta : Kencana Preneda Media Group, 2010.
Santoso,
Listiyono dan Sunarto, dkk. Epistemologi Kiri. Yogyakarta : Ar-Ruzz, 2003.
Simon, Roger. Gagasan-Gagasan
Politik Gramsci. Yogyakarta : Pustaka Pelajar dan Insist, 1999.
Suseno, Frank Magnis. Dalam
Bayangan Lenin. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2003.
Sutrisno, Mudji dan Hendar
Putranto. Teori-teori Kebudayaan, Yogyakarta Kanisius, 2005.
Syam, Nur. Model
Analisis Teori Sosial. Surabaya : PMN, 2009
















Posting Komentar