Cerpen Eyok El Abrori "Payung Rara"
Pagi di Monjet selalu datang lebih dulu lewat suara. Ayam berkokok di belakang rumah, alu bertemu lesung di halaman tetangga, dan azan subuh yang melayang seperti kain tipis di udara. Cahaya menyusul belakangan, merayap pelan dari balik jendela bambu. Bagi orang lain, itu pertanda hari dimulai. Bagiku, itu peringatan.
Aku sudah terjaga sebelum ayam pertama berkokok.
Lampu minyak masih menyala kecil dan gemetar. Aku duduk di lantai, membungkus
wajah dengan kain panjang yang baunya selalu campuran minyak kelapa dan obat
salep. Di sudut kamar, topi lebar tergantung pada paku; topi itu selalu ada,
seperti janji yang tak pernah ditepati matahari. Ketika cahaya pertama
menyentuh celah dinding, aku menunduk. Kulit lenganku terasa mengencang, seolah
tahu apa yang akan terjadi jika aku terlambat. Aku menarik sarung tangan, satu
per satu jari, pelan, hati-hati. Tak ada cermin di kamar ini. Aku tak
membutuhkannya.
Di Monjet, orang-orang menyebutku anak malam.
Ada juga yang berbisik kerejinan. Seorang nenek pernah meludah ke
tanah ketika aku lewat. Mulutnya menggumamkan nama makhluk yang katanya hidup
di hutan bambu. Tak seorang pun menyebut kata yang pernah diucapkan dokter di RSUD
Selong bertahun-tahun lalu. Kata panjang yang sulit dihafal, yang artinya
sederhana, kulitku tak mengenal matahari. Aku mengenalnya dengan nama yang
lebih singkat: xeroderma. Ibuku tak pernah memanggilnya apa pun. Ia hanya
menutup jendela lebih rapat.
Pagi itu, aku menunggu sampai matahari
benar-benar naik, sampai bayangan pohon kelapa memendek dan orang-orang pergi
ke sawah. Barulah aku keluar. Halaman sepi, tanah masih lembap. Aku melangkah
cepat ke sumur, menimba air dengan tangan berlapis sarung tangan. Setiap gerak
seperti menghitung waktu. Di bibir sumur, aku melihat bekas luka di pergelangan
tanganku. Kulit yang lebih gelap, kasar, seperti pernah dibakar. Aku
menutupinya cepat-cepat. Dari kejauhan, suara anak-anak terdengar, tertawa,
memanggil nama satu sama lain. Nama mereka meluncur bebas di udara pagi. Namaku
jarang dipanggil keras-keras.
Aku kembali ke rumah sebelum matahari terlalu
tinggi. Di ambang pintu, aku berhenti. Di sana, di paku dekat jendela,
tergantung sebuah payung hitam. Bukan milikku. Payung itu datang dua minggu
lalu, dibawa seseorang yang datang saat sore hampir habis. Namanya Rara. Ia
berdiri di depan rumah, rambutnya diikat sederhana, bayangannya memanjang di
tanah. Aku ingat bagaimana ia tak langsung bicara, hanya memegang payung itu
seperti memegang alasan. Aku berdiri di balik pintu, separuh tubuhku
bersembunyi dari cahaya yang masih menyisakan panas.
“Aku hanya mau meminjamkan ini,” katanya waktu
itu dengan suara datar, seperti takut salah nada.
Payung itu milik ayahnya. Aku pernah menemukan
payung itu ketika pulang lewat jalan belakang. Jalan yang sudah seperti hanya
milikku, jalan yang tak tersentuh matahari. Aku tak tahu kenapa aku membawanya
pulang, seperti aku tak tahu siapa yang meninggalkan paying itu di sana.
Rara tak bertanya kenapa aku tidak keluar
sepenuhnya. Ia juga tak menatapku terlalu lama. Ia meletakkan payung di paku,
tepat di tempat topi lebar biasanya tergantung. Tangannya sempat menyentuh kayu
dinding, sebentar, seperti memastikan sesuatu nyata.
“Kata orang-orang,” ia melanjutkan, “kamu tidak
boleh melihat matahari.” Aku mengangguk. Kain di wajahku membuat anggukan itu
terlihat seperti gerakan asing. “Mereka bilang,” katanya lagi, lebih pelan,
“itu karena kamu …” Ia tak menyelesaikan kalimatnya. Aku bersyukur. Sejak hari
itu, payung itu tetap tergantung. Tak ada yang mengambilnya. Aku menyentuh
gagang payung itu. Kayunya halus, dingin. Aku membiarkannya tergantung.
Cahaya siang disaring tirai tebal, hanya
garis-garis tipis yang jatuh ke lantai. Aku duduk dekat jendela, mendengar
suara desa bergerak: langkah kaki, roda sepeda, teriakan dari kejauhan. Monjet
hidup di siang hari, dan aku menjadi pendengarnya. Kadang-kadang, bisikan ikut
masuk bersama angin.
“Katanya ibunya dulu salah melakukan ritual.”
“Bukan. Itu kutukan. Keluarganya pernah menolak
adat.”
“Ada yang bilang dia bukan manusia seutuhnya.”
Aku tak tahu siapa yang mengatakan apa.
Suara-suara itu menyatu, menjadi satu bentuk yang sama, sesuatu yang tak
bernama, tapi selalu menunjuk ke arahku.
Sore datang seperti napas lega. Matahari turun,
bayangan memanjang lagi. Aku berdiri di ambang pintu, ragu. Payung masih di
sana. Aku mengambilnya. Langit berwarna oranye pucat ketika aku melangkah
keluar. Jalan tanah lembap, bekas kaki orang-orang yang pulang dari sawah. Aku
membuka payung Rara, membiarkan bayangannya menutup tubuhku. Orang-orang yang
lewat melirik, cepat-cepat. Tak ada yang menyapa. Rara berdiri di ujung jalan,
dekat pohon nangka. Ia memegang keranjang kecil, isinya daun singkong. Ia
melihatku, matanya menyempit sedikit, menyesuaikan dengan cahaya senja.
“Kamu pakai payung itu,” katanya. Aku mengangguk.
“Kamu mau ke mana?” tanyanya. Aku menunjuk arah kebun kosong di belakang
rumahku. Tempat itu jarang dilewati orang. Tanahnya kering, pohonnya jarang.
Matahari cepat hilang di sana. Rara berjalan bersamaku tanpa diminta. Kami tak
saling menatap lama. Payung itu cukup besar untuk menutup kami berdua, tapi aku
menjaga jarak. Bayangan kami jatuh berdampingan di tanah.
“Ayah bilang,” Rara memulai, “kamu sebaiknya tidak
sering keluar. Katanya, nanti desa kena sial.” Aku berhenti berjalan. Tanah di
bawah kakiku keras. Aku menunduk, melihat sandal Rara yang berdebu.
“Kata dukun,” ia menambahkan cepat-cepat, “bukan
aku yang bilang.” Aku tak menjawab. Aku melangkah lagi, lebih cepat. Rara
mengejar, langkahnya menyesuaikan.
“Waktu kecil,” katanya, “aku pernah disuruh
jangan main dekat rumahmu. Katanya, nanti aku ikut …” Ia berhenti. Kami sampai
di kebun kosong. Matahari hampir sepenuhnya hilang, hanya sisa cahaya di ujung
langit. Di sana, aku duduk di tanah yang agak rata. Rara duduk berseberangan.
Payung masih terbuka, berdiri di antara kami seperti batas.
“Aku tidak percaya itu,” katanya akhirnya. Aku
mengangkat kepala. Kain di wajahku membuat pandanganku terbatas, tapi aku bisa
melihat matanya. Ia tak menghindar.
“Waktu kamu kecil,” lanjutnya, “kamu pernah jatuh
di depan rumahku. Kamu berdarah. Aku lihat. Darahmu sama saja.” Aku merasakan
sesuatu mengencang di dada. Aku membuka mulut, menutupnya lagi. Kata-kata
terasa seperti barang rapuh.
“Aku Cuma …” Aku berhenti. Angin malam mulai dingin.
“Aku cuma tidak bisa kena matahari.” Rara mengangguk, seolah itu penjelasan
yang cukup. Ia tak meminta nama penyakit itu. Ia tak menyebut mitos.
“Kamu pernah ke luar Monjet?” tanyanya. Aku
menggeleng. “Aku juga jarang,” katanya. “Tapi aku tahu, tidak semua hal harus
punya cerita aneh.” Kami duduk diam. Suara jangkrik mulai muncul, satu per
satu. Payung di antara kami tak bergerak.
Ketika Rara berdiri untuk pulang, ia tak
mengambil payung itu. Ia hanya berkata, “Kalau kamu mau, besok sore kita ke sini
lagi.” Aku mengangguk. Malam itu, aku sulit tidur. Lampu minyak menyala lebih
lama dari biasanya. Aku membuka kain di wajah, membiarkan udara menyentuh
kulitku. Di lengan, bekas luka-luka lama terlihat jelas meskipun cahaya redup.
Aku menyentuhnya, satu per satu, seperti menghitung tahun. Di luar, desa sunyi.
Tak ada matahari. Aku merasa hampir seperti orang lain.
***
Esoknya, menjelang sore, aku mendengar keributan
kecil di jalan. Suara orang dewasa, nada mereka tinggi. Aku mengintip lewat
celah tirai. Beberapa orang berdiri di dekat rumahku. Aku mengenali suara
kepala dusun. Ada juga suara dukun, serak dan berat. Kata-kata mereka
terpotong-potong oleh jarak, tapi satu kalimat sampai jelas: “Ini harus
dihentikan.” Ibuku berdiri di ambang pintu, punggungnya lurus. Aku tak
mendengar suaranya, tapi aku tahu caranya diam. Diam yang keras.
Aku menarik kain menutupi wajah, mengenakan
sarung tangan. Payung masih tergantung. Aku meraihnya. Ketika aku keluar,
mereka menoleh serempak. Kepala dusun mengernyit. Dukun itu mengangkat alisnya,
mulutnya membentuk senyum tipis.
“Kamu mau ke mana?” tanya kepala dusun. Aku tak
menjawab. Aku membuka payung. “Itu bukan waktumu,” kata dukun. “Matahari belum
benar-benar pergi.” Aku melangkah. Bayangan payung jatuh di tanah, memotong
cahaya. Ada gumaman di belakangku. Seseorang meludah. Aku berjalan menuju kebun
kosong. Langkahku cepat. Di bawah pohon nangka, Rara sudah menunggu. Wajahnya
tegang.
“Mereka bilang,” katanya cepat, “kamu …” Aku
mengangkat tangan, menghentikannya. Aku duduk. Ia duduk di hadapanku. Aku meletakkan
paying di samping, tetap terbuka.
“Kamu takut?” tanyanya. Aku memikirkan jawabannya
lama. “Aku terbiasa,” kataku akhirnya. Rara menunduk. Tangannya meremas
keranjang kosong. “Kalau aku ikut kamu,” katanya pelan, “mereka mungkin …” Ia
tak menyelesaikan kalimatnya. Aku melihat ke arah jalan, bayangan orang-orang
masih terlihat jauh.
“Jangan,” kataku. Ia mengangkat kepala. Matanya
bertanya. Aku tak menjelaskan. Beberapa hal tak butuh penjelasan panjang.
Matahari akhirnya benar-benar hilang. Langit
gelap. Suara desa kembali normal. Orang-orang pergi. Kami duduk lebih lama dari
biasanya. Rara bercerita bahwa tak lama lagi ia akan tinggal di Mataram,
bekerja di toko kain. Aku mendengarkan. Aku tak menceritakan apa pun tentang
masa depan. Ketika ia pamit, ia mengambil payung itu.
“Aku kembalikan besok,” katanya. Aku mengangguk. Malam turun. Aku berjalan
pulang tanpa payung, tanpa topi, tanpa kain di wajah. Bulan cukup terang.
Kulitku dingin, aman.
Aku berdiri di depan jendela. Tirai terbuka
sedikit. Cahaya bulan masuk, lembut. Aku menunggu. Pagi akan datang lagi.
Matahari akan kembali. Desa akan mengingat mitos-mitosnya. Paku dekat jendela kini
kosong, tempat paying Rara biasa tergantung. Aku tak tahu apakah besok payung
itu akan kembali. Aku tak tahu apakah Rara akan datang.
Eyok El-Abrorii, penulis cerpen dan esai Lombok Timur. Tulisannya tersebar di berbagai media cetak dan elektronik. Hipertimesia (Akarpohon, 2025) adalah judul bukunya. Esainya termuat dalam Merawat Ingatan Leluhur (Perpusnas Press, 2023) dan [Se-]Putar Musik (Beatriff, 2024). Bekerja sebagai pengajar linguistik di Universitas Hamzanwadi.
Posting Komentar untuk "Cerpen Eyok El Abrori "Payung Rara""