Kiat Mendidik Anak Sesuai Bakatnya

 

(freepik)

Didiklah anak anda sesuai bakatnya, jangan paksa mereka menjadi orang lain, jadikan diri mereka cetakan terbaik sesuai keinginan Tuhan terhadap mereka. Ingat, Tuhan memberikan  masing-masing anak  kelebihan yang berbeda-beda. Inilah sesungguhnya  pesan yang sangat bijak dan relevan dalam pola asuh anak. Setiap anak memiliki keunikan, potensi, dan bakat masing-masing. Sebagai orang tua atau pendidik, tugas kita adalah mengenali dan mendukung bakat alami mereka, bukan memaksakan harapan atau impian yang mungkin tidak sesuai dengan karakter mereka.

 

Jika kita memaksakan anak menjadi sesuatu yang bukan dirinya, mereka mungkin merasa tertekan, kehilangan jati diri, dan tidak dapat berkembang secara optimal. Sebaliknya, ketika kita mendukung bakat dan minat mereka, anak-anak akan tumbuh dengan rasa percaya diri, kebahagiaan, dan kemampuan untuk meraih kesuksesan sesuai jalan mereka sendiri.

 

Poin utama dalam mendidik anak adalah: pertama, perhatikan apa yang mereka sukai dan lakukan dengan antusias. Kedua, berikan dukungan berupa sarana, waktu, atau kesempatan belajar. Ketiga, hindari Perbandingan. Jangan membandingkan mereka dengan orang lain, karena setiap anak itu unik. Keempat,  biarkan mereka membuat pilihan dan belajar dari pengalaman.

 

Mendidik anak sesuai bakatnya berarti kita membantu mereka menemukan versi terbaik dari diri mereka sendiri.

 

Berikut adalah elaborasi dari konsep “mendidik anak sesuai bakatnya masing-masing” beserta pendapat pakar dan sumbernya:

 

Howard Gardner (1983) dalam teorinya tentang Multiple Intelligences, menekankan bahwa setiap individu memiliki berbagai jenis kecerdasan, seperti kecerdasan linguistik, logis-matematis, musikal, kinestetik, interpersonal, dan lainnya. Ia menyarankan bahwa pendidikan harus disesuaikan dengan kecerdasan dominan setiap anak, sehingga mereka dapat berkembang secara optimal.

 

Ken Robinson (2006) alam bukunya "Out of Our Minds: Learning to be Creative", menekankan pentingnya menghargai kreativitas dan bakat unik anak. Ia mengkritik sistem pendidikan yang cenderung mencetak anak dalam kerangka yang seragam, tanpa memperhatikan potensi individu.

 

Maria Montessori (1946) percaya bahwa setiap anak memiliki potensi unik dan peran pendidik adalah menyediakan lingkungan yang memungkinkan mereka mengeksplorasi dan mengembangkan bakatnya secara mandiri. Pendekatan ini dikenal sebagai metode Montessori.

 

Carol S. Dweck (2006) dalam bukunya "Mindset: The New Psychology of Success", menjelaskan bahwa membangun pola pikir berkembang (growth mindset) pada anak membantu mereka mengenali potensi diri dan terus belajar sesuai dengan kemampuan dan bakat mereka.

 

Menerapkan pandangan ini membantu anak merasa dihargai, mengembangkan kepercayaan diri, dan mencapai potensi terbaiknya.

 

 

Daftar Pustaka

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.

Gardner, H. (1983). Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. New York: Basic Books.

Robinson, K. (2006). Out of Our Minds: Learning to be Creative. Capstone.

Montessori, M. (1946). The Absorbent Mind. Holt, Rinehart and Winston.

============================================================

Dr. H. Fauzan, M. Pd

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama