Tugu, Thames, Platonis eyok el-abrorii



Kau tahu Selong? Kota yang memiliki taman di tengahnya itu? Dulu. Dulu sekali. Aku pernah bertemu seseorang di sana. Bangku-bangku kayu yang berhadap-hadapan di sana seperti saling memandang dan tak akan dapat menyapa. “Kau tahu apa yang aku suka dari taman ini?” Demikian ia pernah bertanya.

“Aku tak tahu,”

“Tugu itu.”

“Kenapa?”

“Tugu itu adalah tempat pertemuan kita.”

“Hanya itu?”

“Memang tidak ada lagi.”

Ia memegang tanganku lalu menyandarkan pipinya di pundakku. Jika sudah begitu, -aku masih sangat hafal- ia tak akan melepaskan aku untuk terus berjalan mengelilingi taman.

“Rumasi, aku takut.”

“Apa yang kau takutkan?”

“Kita.”

Aku pasti diam. Sebab aku mengerti akan ke mana arah bicaranya. Aku selalu berbahagia menerima ajakannya untuk bertemu di taman itu. Atau lebih tepatnya, aku selalu berbahagia mengubah waktu agar malu-malu untuk berlalu dengan cerita-cerita yang ia habiskan denganku, seolah aku bukan orang lain, seolah aku bukan orang asing.


BACA: Jambret dapat penghargaan


“Kita selamanya akan begini, kan?”

“Iya, akan selalu,”

Aku pasti tersenyum, berkata, “Kalau begitu kau tidak perlu takutkan apapun.”

Sampai di sini, aku harus berhenti melanjutkan cerita. Wajahmu sudah mulai mendung. Kau membuang wajah ke London-eye yang bercahaya. Kapal dengan dek terbuka yang kita tumpangi bergerak lamban sekali, seperti tak hendak mengusaikan Thames yang romantis. “Kenapa kau diam?” Kau tetap menatap Ferris Wheel. “Tidak apa-apa aku melanjutkan ceritanya?” Kau tetap diam. “Angeline, aku ingin kau benar-benar mengenalku.” Kau menatapku, “Lanjutkan, tidak apa-apa.”

Lalu kulanjutkan ceritaku...

Ia akan menyeretku untuk duduk di hadapan beberapa swagger yang sedang bermain skate board. Lagi-lagi, belum bisa aku lupakan caranya menatapku. Matanya yang sayu itu seperti hendak ikut bicara.

“Pacarmu lambat laun akan tahu soal kita. Dan aku takut.” Terus terangnya.

“Kalau begitu aku juga takut. Pacarmu lambat laun akan tahu soal kita.”

“Kita selamanya akan begini, kan?”

“Iya, akan selalu,”

Ia meniru caraku tersenyum, mengatakan, “Kalau begitu kau tak perlu takutkan apapun,”

Sampai seusai wisuda, satu tahun lalu, aku datang ke sini. Negrimu, Angeline. Dan aku bertemu denganmu. Terus terang aku menyukaimu, tak seperti terhadapnya. Aku merasakan sesuatu yang berbeda, seperti ketika pertama kali bertemu dengan perempuan di taman itu, atau bahkan dengan pacarku. Pada kelas pertama, pulpenmu bergelinding tepat ke bawah bangku yang aku duduki. Aku memungutnya, begitulah pertama kali kau dan aku berkenalan.

Sekarang, aku tak tahu apa-apa lagi tentang teman ceritaku itu. Sebab sebelum aku meninggalkan Selong, ia mengatakan akan dilamar oleh pacarnya yang selalu jadi bahan pembicaraannya di taman. Sementara pacarku, lagi-lagi aku harus memintanya bersabar untuk menunggu. “Sepertinya sekarang aku tidak akan kuat lagi,” demikian lepas pacarku di bandara.

Angeline, aku belum paham kenapa kau terus menatap bianglala terbesar dan tertinggi di Eropa itu. Mengapa tak kau nikmati saja udara London yang segar dari sungai ini sambil -barangkali- menggenggam tanganku.

“Apa lagi yang mau kau ceritakan dari taman itu, Rumasi?” Kau bertanya.

Ah, Angeline. Taman itu adalah tempat yang menyenangkan sekaligus menyedihkan buatku. Di taman itu aku tahu bahwa ia sangat mencintai pacarnya (itu aku tahu ketika ia memelukku sambil mengatakan bahwa ia sangat merindukan pacarnya). Tapi aku juga berbahagia sebab itu berarti hubunganku dengan pacarku tak akan terganggu, sebab ia hanyalah teman cerita.

“Angeline, banyak sekali yang ingin aku ceritakan. Tapi aku tidak tahu harus menceritakannya seperti apa.”

“Dan bagaimana dengan pacarmu?”

Aku diam. Tiba-tiba kota dan lampu-lampu seperti hendak tenggelam. Kenapa kau harus bertanya tentang pacarku. Pacarku telah seperti mata London, menatap kita dari atas Thames (yang hanya menatap tanpa perasaan, tak aku tahu apakah ia akan marah atau cemburu, sebab aku masih ingat apa yang diucapkannya di bandara).

“Kenapa kau diam?”

“Barangkali cinta memang harus seperti ini, Angeline.”

“Maksudmu?”

“Teman ceritaku di taman itu menikah dengan pacarnya. Aku akan sulit terlepas dari bayangan pacarku. Dan kau akan sulit menyukaiku.”

“Aku tetap tidak mengerti.”

“Angeline,” aku menggenggam tanganmu, “Aku benar-benar ingin kau mengenaliku.” Kau tak membalas genggaman tanganku, namun juga tak berusaha melepaskannya. Kau juga tak tersenyum. “Kau masih baru di sini. Kau juga belum mengenalku.” Hanya itu yang kau katakan. Ah, mata birumu itu, Angeline. Aku jadi gagal peduli dengan apa yang kau katakan. Bahkan aku tak akan menanyakan, apakah kau baru saja menolak keinginanku untuk mendekatkan diri kepadamu.

“Apakah kau masih mencintainya?”

-Sekarang aku mencintaimu-

Sungguh, jawaban seperti itu yang ingin aku ucapkan. Tapi taman Selong yang pemalu juga sungai Thames yang lugu agaknya sama saja. Seperti cinta yang harus seperti ini.

 

Selong, 2019

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama