ANALISIS NOVEL AKU BERIMAN MAKA AKU BERTANYA



Identitas Novel

Judul Buku: Aku Beriman Maka Aku Bertanya
Pengarang: Jefferey Lang
Tebal Buku: 334
Penerbit: Serambi
Cetakan: Serambi

Sinopsis Novel Aku Beriman Maka Aku Bertanya
Novel Aku Beriman Maka Aku Bertanya ini mengulas banyak pertanyaan yang dianggap tabu dilontarkan di masjid atau forum-forum keagamaan konservatif. Ia merangkul suara-suara muslim yang terasing dari masjid, demi mengembalikan kebugaran komunitas muslim dalam memikat dan membuat terlibat para keturunan dan anggota barunya. Ternyata, banyak penanya di Novel ini yang mengakhiri pertanyaan mereka dengan kekhawatiran dianggap ateis atau subversif kepada Tuhan. Ini artinya, mereka bertanya karena masih beriman, butuh alasan meyakinkan, dan mengaktifkan akal dalam mendekati keyakinan mereka pada Tuhan.

Pembahasan
Seperti dikutip pada awal pembahasan, maka dalam bab ini penulis akan memaparkan nilai-nilai yang terkandung dalam novel “Aku Beriman Maka Aku Bertanya” karya “Jeffy Lang”
Sebagaimana yang kita bersama ketahui bahwa dalam sebuah karya sastra terkandung nilai seperti nilai kehidupan yang dijabarkan menjadi nilai pendidikan, sosial, ekonomi, agama dan budaya. Dalam tulisan ini, penulis akan membahas secara umum tentang nilai tersebut
a.      Nilai pendidikan agama
Berikut kutipan doanya kepada Tuhan,  yang dapat kita lihat dalam novel
“Aku Beriman maka Aku Bertanya” karya Jeffy Lang ini.
“Aku berdoa kepada Tuhan, sebagaimana berkali-kali kulakukan sebelumnya, semoga ayah lenyap dari kehidupan kami.” (ABMAB :27)
Seperti itulah doa-doa yang dilantungkannya. Mungkin orang lain menilai perbuatan aneh yang dilakukan Jeffry yang menginginkan ayahnya lenyap dari kehidupan mereka sudah di luar kewajaran, namun saya secara pribadi melihat ihwal itu sebagai manifestasi dari keinginananya Jeffry yang menginginkan keluarganya rukun.
“Aku ingat bagaimana ibuku dahulu secara rutin mengunjungi seorang tetangga depan rumah, yakni perempuan tua Italia yang pemarah, untuk memotong kuku-kuku jarinya dan membersihkan kakinya. Aku juga ingat alangkah lembut ia dalam memperlakukan para pasiennya di rumah sakit. ” (ABMAB :32)
Dalam kutipan di atas seorang ibu yang beranak lima yang bekerja sebagai perawat ini memperlihatkan ketokohan dirinya yang baik nan murah hati untuk membantu orang lain bahkan ketika beliau melayani pasiennya di rumah sakit dia selalu memperlakukannya dengan lemah lembut. sehingga tidak heran dia dikenal oleh orang banyak dan di sukai oleh semua orang.

b.      Nilai pendidikan ekonomi
Adapun yang dimaksud dengan ekonomi sebagai pengelolaan rumah tangga adalah suatu usaha dalam pembuatan keputusan dan pelaksanaannya yang berhubungan dengan  pengalokasian  sumber daya rumah tangga yang terbatas diantara berbagai anggotanya, dengan mempertimbangkan kemampuan, usaha dan keinginan masing-masing. Oleh karena itu, suatu rumah tangga selalu dihadapkan pada banyak keputusan dan pelaksanaannya.
“Meyert Albert (dalam Supardi, 2011: 111) “mendefinisikan ilmu ekonomi sebagai ilmu yang mempersoalkan kebutuhan manusia” sejalan dengan itu Meij mengemukakan bahwa “ilmu ekonomi adalah ilmu tentang usaha manusia kearah kemakmuran”.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu ekonomi pada dasarnya merupakan ilmu tentang bagaimana manusia memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas baik jumlah maupun jenisnya, dengan alat pemuas kebutuhan terbatas. Keadaan yang menunjukkan bahwa kehidupan manusai yang tidak terbatas sedangkan sumber daya alam yg merupakan alat pemuas kebutuhan (scarcity) inilah manusia memaksa mempelajari ilmu ekonomi. Berikut adalah uraian yang menyangkut peran agama dalam kehidupan ekonomi:
Ucapan penuh penyesalan, Aku telah menghabiskan banyak harta. (ABMAB :122)
Kutipan di atas menggambarkan sebuah perjuangan hidup yang sekedar diarahkan tujuan-tujuan hidup yang sifatnya sementara, sehingga yang ada didalam pikirannya adalah bagaimana caranya supaya bisa memperoleh harta yang banyak meskipun dengan pengluaran yang banyak, sementara didalam pandangan agama bahwa kekayaan/harta bukanlah segala-galanya, karena harta dan keyayaan hanyalah materi yang tidak abadi dan akan bisa menghilang kapan saja, kecuali harta dan kekayaan yang kita miliki banyak yang dibelanjakan dijalan allah seperti: bersedeka, mengluarkan zakat, naik haji, membantu orang yang susah, membangun mesjid dan lain sebagainya. itu baru bermanfaat. Dan sudah menjadi lumrah banyak orang yang mengeluh oleh karena kekurangan harta dan tidak adanya rasa bersyukur atas apa saja yang dia miliki dibandingkan dengan orang-orang yang ekonominya masih sangat rendah bahkan tidak mencukupi kehidupannya sehari-hari tetapi mereka tetap merasah bersyukur.
“Bekerja dengan sungguh-sungguh menuju tuhanmu” Tholkhah (2008: 11).
Kutipan diatas menggambarkan tentang kebutuhan manusia baik kebutuhan rohani maupun kebutuhan jasmani, sehingga kebutuhan tersebut semta-mata diperoleh dan dilakunak melalui ajaran agama baik dalam pencari nafkah maupun maupun kebutuhan yang lainya.
 “Gerda mengisolasi diri dari teman-temannya selama beberapa bulanterakhir selama penyakit kangker kembali menerjangnya. Ia berkata kepada ragia digagang telepon bahwa dirinya tak ingin orang lain melihatnya “seperti ini”garda dan suaminya mengajar di Universitas Kansas. Aku tahu sebelum meninggal ia menulis sebuah pesan. Pesan in menyebutkan bahwa keluarganya tidak akan membantunya, dan bahwa orang-orang yang ingin membantunya dapat memberikan sumbangan ke sebuah lembaga pemberi beasiswa yang didrikan suaminya sepeninggalnya” (ABMAB :117)
Kutipan di atas menjelaskan bahwa, setiap manusia pasti pernah mengalami sakit, kerugian, kesulitan dan kesengsaraan di dunia ini, bagaimanapun tingkat keberaagaman mereka. Apakah Al-Qur’an lupa dengan derita yang benar-benar menyengsarakan manusia?. Al-Qur’an malah menegaskan kebalikannya bahwa kita dapat memperoleh banyak keuntungan dari cara kita menyikapi kesusahan hidup dan bahwa sikap kita ini niscaya berhubungan dengan kehidupan kita di akhirat nanti.

c.       Nilai pendidikan sosial
Dalam bahasa Inggris dipakai istilah “Society” yang berasal dari kata latin “Socius” yang artinya “kawan” sehingga dapat didefinisikan bahwa sosial adalah individu yang membutuhkan kawan dengan kata lain, individu yang membutuhkan kawan dalam proses hubungan atau interaksi antara individu yang satu dengan individu yang lain sehingga membutuhkan suatu kelompok sosial atau suatu masyarakat (Darsono, 2005:60). 
“Sejalan dengan pendapat di atas Rusdiyanta (2009:25) menyebutkan bahwa proses sosial adalah cara-cara berhubungan  yang dilihat apabila orang perorangan dan kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut  atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola kehidupan yang telah ada”.

d.      Nilai pendidikan agama
“Rusdiyanta (2009:25) menyebutkan bahwa: Proses sosial adalah cara-cara berhubungan  yang dilihat apabila orang perorangan dan kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut  atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola kehidupan yang telah ada”.
“Dengan kata lain, proses sosial sebagai hubungan pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama, misalnya saling mempengaruhi antara sosial dengan politik, politik dengan ekonomi.” Bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial (proses sosial), oleh karena interaksi sosial merupakan  syarat utama terjadinya aktifitas-aktifitas sosial, Interaksi sosial  merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang perorangan, dengan kelompok manusia. Tanpa interaksi sosial tidak mungkin ada kehidupan masyarakat. Interaksi sosial terjadi antara sesorang  dengan orang lain, antara seseorang dengan kelompok sosial dan antara kelompok sosial dengan kelompok sosial lainnya”.
Sosial di sini yang dimaksudkan adalah segala sesuatu yang dipakai sebagai acuan dalam berinteraksi antar manusia dalam konteks masyarakat atau komuniti, sebagai acuan berarti sosial bersifat abstrak yang berisi simbol-simbol berkaitan dengan pemahaman terhadap lingkungan, dan berfungsi untuk mengatur tindakan-tindakan yang dimunculkan oleh individu-individu sebagai anggota suatu masyarakat. Sehingga dengan demikian, sosial haruslah mencakup lebih dari seorang individu yang terikat pada satu kesatuan interaksi, karena lebih dari seorang individu berarti terdapat hak dan kewajiban dari manusia diatur hak dan kewajibannya yang menunjukkan identitasnya dalam sebuah arena, dan sering disebut sebagai status, bagaimana individu melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan apa yang telah ada dalam perangkat pedoman yang ada yang dipakai sebagai acuan. Berikut merupakan kutipan yang menyangkut peran agama dalam kehidupan sosial: 
 “Pada tahun-tahun pertama kuliah tingkat sarjana muda, aku tertarik untuk bergaul dengan teman-teman ateis, kemudian dengan teman-teman yahudi. Selanjutnya pada awal kuliah tingkat sarjana, kebanyakan teman-temanku adalah mahasiswa Protestan, dan selama dua tahun terakhir masa kuliah aku berkawan akrab dengan mahasiswa Hindu dan Buddha dari mancanegara”.(ABMAB :35)
Melihat kutipan di atas bisa kita mengetahui, di waktu awal-awal kuliahnya Jeffry yang di tergolong sebagai tokoh utama dalam novel “Aku Beriman maka Aku Bertanya” karya Jeffry Lang ini, memiliki kepribadian yang sangat baik, sikap yang inklusif terutama dalam bergaul, sikapnya yang demikian bisa kita lihat dalam kutipan di atas bahwa ternyata dia tidak hanya bergaul dengan teman-teman yang sekeyakinan dengannya, namun dia juga sangat pandai berelasi dan atau bergaul dengan teman-teman yang berbeda agama dengannya.
“Aku sangat kehilangan ibuku. Selama ini, ialah satu-satunya orang yang dapat kusayangi. Ialah sahabatku yang paling karib, pelindungku, dan satu-satunya pahlawanku.” (ABMAB :31)
Kutipan di atas menerangkan bahwa Jeffry memiliki tipikal atau parangai yang mungkin jarang dimiliki oleh orang lain, yakni tipikal cinta dan penyayang yang berlebihan terhadap ibunya yang sangat berjasa dalam kehidupan mereka, saking sayang dan cintanya terhadap ibunya sampai-sampai dia berdoa kepada Tuhan agar ayahnya dilenyap dari kehidupan mereka, yang selama ini dia berharap agar ayahnya bisa menjadi lilin dalam kehidupan mereka, tapi justru yang terjadi malah sebaliknya. Berikut kutipan doanya kepada Tuhan,  yang dapat kita lihat dalam novel “Aku Beriman maka Aku Bertanya” karya Jeffy Lang ini.
“Aku berdoa kepada Tuhan, sebagaimana berkali-kali kulakukan sebelumnya, semoga ayah lenyap dari kehidupan kami.” (ABMAB :27)
Seperti itulah doa-doa yang dilantungkannya. Mungkin orang lain menilai perbuatan aneh yang dilakukan Jeffry yang menginginkan ayahnya lenyap dari kehidupan mereka sudah di luar kewajaran, namun saya secara pribadi melihat ihwal itu sebagai manifestasi dari keinginananya Jeffry yang menginginkan keluarganya rukun.
“Aku ingat bagaimana ibuku dahulu secara rutin mengunjungi seorang tetangga depan rumah, yakni perempuan tua Italia yang pemarah, untuk memotong kuku-kuku jarinya dan membersihkan kakinya. Aku juga ingat alangkah lembut ia dalam memperlakukan para pasiennya di rumah sakit. ” (ABMAB :32)
Dalam kutipan di atas seorang ibu yang beranak lima yang bekerja sebagai perawat ini memperlihatkan ketokohan dirinya yang baik nan murah hati untuk membantu orang lain bahkan ketika beliau melayani pasiennya di rumah sakit dia selalu memperlakukannya dengan lemah lembut. sehingga tidak heran dia dikenal oleh orang banyak dan di sukai oleh semua orang.
Kalau kita cermati kembali apa hasil uraian di atas, menuntut kita untuk berbuat baik pada sesama, saling menyayangi satu sama lain,  dan menampakan etika dalam bernteraksi.
A.    Deskripsi Data
Deskripsi data adalah gambaran umum tentang hal-hal yang ingin dianalisis dalam pembahasan ini, data yang dideskripsikan dalam penelitian ini yaitu Pendidikan sosial, ekonomi, pendidikan dan budaya dalam novel “Aku Beriman Maka Aku Bertanya” karya Jefferey Lang.

B.     Analisis Data
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa sosial adalah hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok melalui interaksi sosial. Adapun interaksi sosial yang dimaksud oleh peneliti adalah hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok untuk mencapai suatu tujuan hidup.
a.      Peran pendidikan agama Isalam dalam kehidupan sosial
·         Pendidikan nilai psikologi
Psikologi yang mentalistik  melahirkan aliran yang disebut psikologi kesadaran. Tujuan utama psikologi kesadaran adalah mencoba mengkaji proses-proses akal manusia dengan cara mengintropeksi atau mengkaji diri. Oleh karena itu, psikologi kesadaran lazim juga disebut  introspeksionisme. Psikologi ini merupakan suatu  proses akal dengan cara melihat ke dalam diri sendiri setelah suatu rangsangan itu terjadi.
   “Menurut Chaer Abdul (2003 : 2) mengatakan  bahwa:Secara etimologi kata psikologi berasal dari bahasa yunani kuno psyche dan logos. Kata psyche berarti “ jiwa, roh, atau sukma”, sedangkan kata logos berarti “ilmu”. Jadi, psikologi, secara harfiah berarti”ilmu jiwa”, atau ilmu yang objek kajiannya adalah jiwa. Namun secara tradisional Psikologi lazim diartikan sebagai satu bidang ilmu yang mencoba mempelajari perilaku manusia. Caranya adalah dengan mengkaji hakikat rangsangan, hakikat reaksi terhadap rangsangan itu, dan mengkaji hakikat proses-proses akal yang berlaku sebelum reaksi itu terjadi. Para ahli psikologi belakangan ini juga cenderung untuk mengangap psikologi Tujuan sebagai suatu ilmu yang mencoba mengkaji proses “akal manusia” dan segala manifestasinya yang mengatur perilaku manusia itu. pengkajian akal ini adalah untuk menjelaskan, memprediksikan, dan mengontrol perilaku manusia”.
Berikut adalah uraian yang menyangkut peran agama dalam kehidupan psikologi :
“Mengapa aku tak mau menerima apa yang terjadi padaku selama membaca Al-qur’an” ( ABMAB : 37 ).
Kutipan di atas menerangkan bahwa Jeffry mengalami kebingungan atau yang biasa disebut sebagai dilematis bahkan heran terhadap dirinya yang tidak mau menerima kenyataan yang pernah terjadi pada dirinya selama dia membaca Al-qur’an yakni rasa kangen dengan suara yang secara pribadi berbicara padanya, merindukan rasa terpesona, kegembiraan, perjuangan, kenikmatan, penderitaan, kesedihan, dan hasrat akibat percakapannya dengan Alqur’an padahal di lain sisi dirinya menginginkan kembali bepengalaman bersama Al-qur’an.
“Mengapa  aku tak mau bersedia mengakui bahwa aku merindukan kekariban dan cinta yang kadang-kadang kurasakan tetapi kutolak? Apa yang sebenarnya mendorongku untuk menolaknya? Mengapa aku tak mau mengakui bahwa diriku sangat mengharapkannya, merindukannya, mencarinya, yakni kalimat syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah” (ABMAB 124: 125)
Dari kutipan di atas mengilustrasikan tingkahlaku Jeffery yang cukup aneh bin ajaib wal mustahib yang dimana dirinya tidak bersedia mengakui kerinduan, kekariban, dan cinta yang kadang-kadang dia rasakan serta mengharapkan untuk menerima kalimat syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahkan dalam kebingungannya dia bertanya “Apa yang sebenarnya mendorongku untuk menolaknya?” Padahal dibalik behaviornya yang demikian dia sendiri memiliki keinginan yang besar untuk meyatu dengan hasil percakapannya dengan Al-qur’an maupun dengan orang-orang yang pernah berdialektika dengannya.
“Aku mendapat kabar gembira, yakni setelah membaca Al-qur’’an , aku dapat melihat bahwa banyak protesku terhadap adanya tuhan bisa dijawab dengan cara yang tak sesulit yang dulu kubayangkan. hal ini mendorong mempertanyakan premis-premis yang mendasari ateismeku.sementara itu, kabar buruknya adalah bahwa kini tinggal tiga puluh halaman Al-qur’’an lagi yang belum kubaca, dan aku tak kunjung  menemukan tujuan hidup sejati.”( ABMAB 124:125)
Kutipan di atas  mengambarkan seorang  “Jeff”  bingung dengan sebuah kepercayaannya, entah apa yang mendorongnya sehingga dia termotifasi mempertanyakan premis-premis yang mendasari ateismenya, dan setelah dia membaca Al-qur’an, baru dia menemuka tujuan hidup sejati, dan apa tujuan hidup itu sendiri.
Berdasarkan uraian di atas, mengajarkan kita untuk membuka rekonstruksi paradikma untuk berpikir luas dan mengarahkan akal pikiran kita ini ke hal-hal positif, supaya kita melihat dan merasakan kebenaran hidayah Tuhan itu seperti apa.

C.    Pembahasan
          Berdasarkan hasil analisis data tentang peran pendidikan agama (Islam) dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan psikologis dalam novel “Aku Beriman Maka Aku Bertanya” karya Jefferey Lang, dapat diuraikan  sesebagai berikut:
·         Pendidikan Agama Islam
Agama Islam yaitu agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. yang diperuntukan kepada seluruh umat manusia sebagai pegangan hidup dan pedoman dalam menjalankan hidup sehari-hari.
“Kata Islam  berasal dari kata salam yang terutama berarti damai” dan juga berarti menyerahkan diri”, maka keseluruhan pengertian yang di kandung nama ini adalah “kedamaian sempurna yang terwujud jika hidup seseorang di serahkan kepada Allah.” kata sifat yang berkenaan dengan ini adalah “muslim” Smith (2008: 254).
Berdasarkan ilmu bahasa secara etimologi, pendidikan agama Islam adalah  menyerahkan diri, tunduk, patuh, dan taat. Sedangkan muslim yaitu orang yang telah menyatakan dirinya taat, menyerahkan diri, patuh, dan tunduk kepada Allah SWT. Sedangkan menurut  istilah terminologi, Islam berarti suatu nama bagi agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Allah kepada manusia melalui seorang rasul. Ajaran-ajaran yang dibawa oleh Islam merupakan ajaran manusia mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia. Islam merupakan ajaran yang lengkap, menyeluruh dan sempurna yang mengatur tata cara kehidupan seorang muslim baik ketika beribadah maupun ketika berinteraksi dengan lingkungannya. Fitriarahmana.blogspot (diakses tanggal 1 desember 2012).
“Menurut Nasution dalam Berryhs, diakses (2 Desember 2012), mengatakan bahwa: “Islam menurut istilah (Islam sebagai agama) adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui Nabi Muhammad Saw sebagai Rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenal satu segi, tetapi mengenal berbagai segi dari kehidupan manusia”. 
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa Islam adalah agama yang damai yang diwahyukan oleh Allah kepada nabi Muhammad Saw untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia.  Agama Islam bukan saja mengandung satu ajaran tetapi ajarannya sangat kompleks.
·         Kehidupan sosial
Pendidikan agama islam dalam hehidupan sosial adalah segala sesuatu yang dipakai sebagai acuan dalam berinteraksi antar manusia dalam konteks masyarakat
·         Kehidupan ekonomi
Pendidikan agama islam dalam kehidupan ekonomi yaitu, membahas tentang kebutuhan manusia baik kebutuhan rohani maupun kebutuhan jasmani, sehingga kebutuhan tersebut semta-mata diperoleh dan dilakunak melalui ajaran agama baik dalam pencari nafkah  maupun kebutuhan yang lainya.
·         Kehidupan psikologi
Pendidikan agama islam dalam kehidupan psikologis yaitu, suatu ilmu yang mencoba mengkaji proses “akal manusia” dan segala manifestasinya yang mengatur perilaku manusia itu. pengkajian akal ini adalah untuk menjelaskan, memprediksikan, dan mengontrol perilaku manusia.
·         Implementasi pendidikan Agama Islam
Adapun implementesi pendidikan agama islam dalam kehidupan spiritual, sosial, ekonomi dan psikologis yaitu, seperti bersahadat, sholat, berjakat, dan lain sebagainya, lewat ini kita sadar bahwa kita tidak hanya bisa berteori saja, tapi tuntuntan implementasinya yang lebih penting, supaya instrumen evaluasi diri untuk memperbaiki akidah dan ahlak sebagai umat beragama,dan supaya bisa menghargai wahyu yang diturungkan oleh Allah swt pada seluruh umat manusia.

ys. memeth

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama