Memaknai Sholat Subuh

buletinkapass.com-Sebuah cerita dari Dr. Zainul Majdi ketika solat safari Shalat Subuh Berjamaah di sejumah wilayah Nusantara, Januari – Februari 2018

Dalam setiap kesempatan safari silaturrahim di berbagai daerah beberapa, saya (Dr. Zainul Majdi)  selalu mengagendakan shalat subuh berjamaah. Ada sejumlah alasan mengapa shalat subuh berjamaah begitu bermakna bagi saya. Di antara lima shalat fardhu lainnya, shalat subuh memiliki hitungan rakaat paling sedikit, tapi menjalankannya kadang terasa luar biasa susah. Padahal shalat subuh berjamaah justru memiliki beberapa keutamaan yang lebih, dibandingkan shalat lainnya.

Saya mau berbagi sebuah hikayat, yang mungkin sudah diketahui banyak orang juga. Alkisah ada seorang pemuda  yang rajin shalat berjamaah di masjid. Pemuda yang selalu bangun pagi sebelum adzan subuh mengalun merdu membangunkan umat. Pemuda ini selalu membiasakan diri berpakaian bersih, mengambil wudhu dan kemudian berjalan menuju masjid. Suatu waktu, di tengah jalan menuju masjid, pemuda tersebut terjatuh karena jalanan licin dan membuat pakaiannya kotor. Ia bangkit, pulang kembali ke rumah, lantas berganti baju bersih lainnya, berwudhu lagi dan berjalan mantap menuju masjid.

Dalam perjalanan kembali ke masjid, meski sudah berhati-hati jalan di kegelapan, dia jatuh lagi untuk yang kedua kalinya di tempat yg sama. Tanpa mengeluh, dia pun bangkit dan kembali pulang ke rumah. Melakukan hal yang sama, berganti baju bersih lagi, berwudhu dan kembali berjalan menuju masjid. Berjalan dengan sangat hati-hati sekali, tak mau terulang jatuh untuk ketiga kalinya.

Kali ini di dekat tempatnya terjatuh tadi, dia bertemu seorang lelaki yang membawa lampu. Setelah saling berbalas sapa, laki-laki itu berkata bahwa dia melihat si pemuda jatuh dua kali di perjalanan menuju masjid, jadi dia membawakan lampu untuk menerangi jalan pemuda itu. Pemuda itu mengucapkan banyak terima kasih dan mereka berdua berjalan ke masjid.

Ketika sampai di masjid, si pemuda mengajak lelaki yang membawa lampu masuk masjid dan shalat subuh berjamaah. Lelaki itu menolak. Pemuda itu mengajak lagi hingga berkali-kali dan jawabannya tetap sama. Pemuda itu bertanya, mengapa bersikeras menolak padahal sudah sampai masjid.

Lelaki itu menjawab “Karena aku adalah syaitan”. Jawaban yang sangat mengejutkan pemuda itu. Syaitan itu kemudian menjelaskan, “Saya selalu melihat kamu berjalan ke masjid tiap menjelang subuh, dan sayalah yang membuat kamu terjatuh tadi. Ketika kamu pulang ke rumah untuk membersihkan badan dan berniat kembali ke masjid, Allah memaafkan semua dosa-dosamu. Saya membuatmu jatuh yang  kedua kali, untuk membuatmu berubah pikiran batal shalat subuh berjamaah di masjid. Namun nyatanya kamu tetap teguh pendirian untuk ke masjid. Karena itu, Allah memaafkan dosa-dosa seluruh anggota keluargamu. Oleh karenanya saya jadi kuatir jika membuat kamu jatuh untuk kali ketiga, jangan-jangan Allah akan memaafkan dosa seluruh penduduk kampungmu. Untuk mencegah terjadinya hal itu, saya memutuskan mengawal kamu sampai di masjid dengan selamat”. Subhanallah. Maha suci Allah dengan segala keagungan-Nya.

Inti kiasan kisah ini, adalah bahwa Allah telah berjanji memberikan pengampunan kepada hambanya yang teguh berniat untuk shalat subuh berjamaah di masjid, bahkan meski dihadang tantangan berkali-kali. Bahkan Allah memaafkan dosa bukan hanya untuk si pemuda sendiri, tetapi pengampunan hingga untuk seluruh anggota keluarganya.

Itu baru niat. Bagaimana jika benar-benar menjalankan shalat subuh berjamaah? Wallahu a'lam bishawab. Semoga bisa memotivasi kita semua untuk selalu rajin berduyun-duyun memenuhi masjid setiap subuh. Bahkan tidak hanya subuh, kalau bisa juga setiap shalat fardhu lainnya.

“Rasulullah SAW mengatakan: Barang siapa yang melakukan shalat Isya berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat setengah malam. Barang siapa yang melakukan shalat subuh berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat sepanjang malam itu”

||Dr. Zainul Majdi

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama