buletinkapass.com-Kembali pada konsep leluhur dengan nilai kesakralan sebuah upacara adat, bukan pada nilai estetika yang direkayasa sebagai hasil sebuah replika semu yang mulai kehilangan wibawa.
Ketika upacara-upacara adat dan tradisi mulai di simulasi untuk menjadi tontonan gratis para turis, dihilangkan kesakralannya hanya karena project pariwisata.
Pariwisata tanpa menghilangkan budaya adalah pekerjaan rumahnya anak SD yang sampai besok pagi belum terjawab
Rumah rumah adat mulai dibuat dan diseragamkan, ledung gedung mulai menjunjung, lahan pertanian mulai ditumbuhi tiang, tampungan pengairan menjadi kolam-kolam, Lalu kemudian aku lupa kalau ternyata aku hanyalah pribumi yang konyol.
Lalu hanya bisa bernyanyi "rirerejuk kukelaq gedeng antap, Sai leq sedikit yaq ku tunjuk."
Turis turis asing menggerayangi negeri kita menyerang kita dengan investasi investasi yang menjanjikan namun menusuk setiap sendi sendi pulau ini dari pinggir pantai seperti filosofi lagu yang selalu dinyanyikan orang tua kita dulu.
Setelah itu banyak masyarakat yang merasa asing di daerah sendiri,tidak memiliki ruang, bahkan masuk ke tanah kelahiran sendiri pun harus membayar...lalu mereka akan mulai berpindah ke tengah sebagai akibat keterasingan dan keterbatasan ruang, mereka akan meninggalkan profesi warisan nenek moyang sebagai pelaut atau penambak ..mereka akan menjadi petani, namun sekali lagi aku lupa ternyata lagu kita masih ada sambungannya....
"rirerejuk kukelaq gedeng antap, Sai leq sedi yaq ku tunjuk."
Saq tengah yaq ku angkat , dalam bahasa Indonesia artinya yg tengah akan di angkat. Hal ini berarti bahwa bukan hanya masyarakat di pinggir (sedi) yang di ekploitasi, namun masyarakat yang di tengah yang menjadi petani pun di ekploitasi, hasil hasil bumi di ekspor keluar, namun di daerah sendiri masih kekurangan beras. lagi kacau
||diktator


Posting Komentar