Teater Ruang Pulik dan Sebuah Pertunjukan


buletinkapass.com-Hujan sangat deras sekitar dua jam mengguyur Mojoagung siangnya, membuat tanah begitu basah dan terasa dingin. Tapi tidak mengurangi animo masyarakat dusun Kebonsari, desa Karangwinongan untuk menjadi bagian dari satu peristiwa kesenian yang bertajuk Festival Teater Ruang Publik 2017.

Penonton berdesak-desakan dengan gayeng di pelataran rumah bapak Gatot. Mereka kelihatan bahagia karena disapa oleh makhluk yang namanya teater. Mereka rela melupakan sejenak sinetron kesayangan dan TV-nya, atau memang malam itu tak ada tayangan bagus? Yang jelas wajah-wajah itu bergembira. Termasuk penyaji sendiri. Mereka menemukan hal-hal baru yang tidak mereka jumpai sebelumnya pada pementasan-pementasan mereka.
Tiba-tiba, seorang anak berlarian diantara pemain, hal tersebut membuat panik sutradara dan orang tua anak itu sendiri. Menurut saya, itulah menariknya, panggung merakyat. Bukankah ada waktunya pementasan teater tidak selalu dianggap pementasan yang serius dan sakral?

Upaya pemain menakhlukkan riuh penonton, anak menangis, pemuda-pemudi cekikikan di bawah kembang peniti, telolet bakul pentol, lantunan diba' dari corong masjid. Walau pada akhirnya tiada yang harus ditakhlukkan, semua menyatu menjelma irama.

Malam putaran ketiga sekaligus terakhir, saya menunggu kejutan-kejutan baru. Bertempat di pelataran rumah bapak Isa, desa Betek Mojoagung, tiga penyaji siap mementaskan hasil terbaik mereka, pentas teater pelataran. Lik Rakhmat Giryadi menyebutnya begitu, dugaan saya karena dari tiga putaran Festival Teater Ruang Publik Mojoagung 2017, semuanya main di pelataran rumah.


  • ||bambang irawan


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama