buletinkapass.com-Di
zaman yang serba digital saat ini, hampir semua orang bisa menjadi ‘tukang
foto’ baik disadari atau tidak. Seseorang yang suka memfoto apa yang ditemukan
sudah dapat dikategorikan sebagai ‘tukang foto’. Baik dengan menggunakan kamera
Hp hingga kamera sekelas DSLR Kamera
Dalam
fotopun, seseorang dapat menentukan sesuai keinginannya sendiri apa yang akan
menjadi objeknya, dimulai dari dirinya sendiri. Kegiatan sehari-hari,
lingkungan alam ataupun tempat-tempat wisata lainnya atapun ia menjadikan
seseorang sebagai ‘talennya’. Atau meletakkan sebuah benda pada situasi
tertentu untuk menciptakan suasana.
Ada
tiga hal utama yang dibahas dalam buku yang dibuat oleh om Dadan (saya
menyebutnya), tiga hal tersebut adalah 1. bagian dari kamera, 2. Tehnik
Pemotretan, dan 3. Komposisi.
Buku
yang diberi judul “buku pegangan praktis ini” memang tergolong sangat praktis
dan sangat mudah untuk dipelajari oleh orang yang baru saja mengenal tentang
foto. Dalam buku ini, om Dadan memulai memperkenalkan bagian perbagian pada
kamera dengan fungsi masing-masing. Namun demikian, dalam buku yang ditulis
tahun 1989 tersebut, om dadan menggunakan kamera klasik, bukan digital. Yaitu
kamera dengan film, sehingga pembahasan dalam buku tersebutpun secara terperinci
membahas kamera dengan film.
Bagi
om dadan, dan sebagian besar orang yang ingin belajar fotografi. Maka syarat
utama yang harus dimiliki adalah alat pendukung berupa kamera yang berfungsi
sebagai alat perekam atau dokumen dari objek atau apapun yang ingin difoto oleh
seseorang. Baik Hp hingga DSLR
Untuk
mendapatkan hasil yang dahsyat tentu didukung oleh alat yang dahsyat pula. Yang
penulis maksud adalah kualitas gambar diluar moment (waktu, peristiwa bisa
berupa alam, manusia, hewan atau tumbuhan. Detail tentang ini akan dibahas pada
artikel tentang foto yang bercerita).
Karena
yang penulis bahas adalah kamera digital, maka bab tentang film tidak akan
dibahas dalam tulisan ini. Hal paling mendasar yang harus diketahui adalah 1.
“tombol pelepas rana” (dadan: 15), saya menyebutnya tombol eksekusi. Tombol
yang berfungsi untuk mengambil gambar yang diinginkan. Atau sebut saja tombol
penangkap objek. 2. “jendela pengamat” (dadan: 18) sebut saja ‘jendela intip’
dimana seorang tukang foto memposisikan mata untuk mengamati objek yang ingin
ditangkap. 3. Lampu penempat kilat, selain untuk menempatkan kilat (flash)
tempat ini juga berguna untuk meletakkan mikropon sebagai alat tangkap suara
tambahan selain alat tangkap suara standar yang dimiliki kamera. 4. Jendela angka
foto, maksudnya adalah sebuah jendela yang menyajikan angka. Seberapa banyak
foto yang tersimpan pada memory penyimpan. 5. Soket lensa (tempat meletakkan,
mengganti lensa). 6. Titik penentu ketajaman gambar (terletak pada lensa,
biasanya dengan tanda titik kecil pada badan lensa) bahasa lain dari ini adalah
bukaan/diafragma
//pada
bagian ini, sengaja tidak dihabiskan. Karena sekali lagi. Bahwa kamera yang
digunakan adalah versi film alias kamera sebelum digital//
Bagian kedua
Perlengkapan kamera dan fungsi
-
Lensa WA (Wide Angle): untuk
gambar cakupan luas
-
Pandangan normal (fix)
-
Lensa sudut kecil/ jarak
jauh (tele)
-
Lensa zoom (pengaturan titik
objek tanpa harus mendekat atau menjauh) nama lain dari lensa ini adalah
sebagai fungsi makro.
-
Filter: sebagai penambah
nuansa pada obyek jika warna matari siang dan didominasi hijau, biru serta
langit cerah. Maka foto akan jadi monoton
-
Filter terdiri atas kuning,
kuning hijau lemah, orange, merah, biru dan hijau
-
Tudung lensa: sebagai alat
penahan cahaya yang diletakkan diujung lensa
Demikian
seterusnya pada tulisan-tulisan bagian demi bagian membahas satu persatu nama
alat dan fungsi.
Sungguh
disayangkan, buku ini tercetak dengan hitam putih, sehingga hasil gambar yang
dijelaskan dengan fokal (F) dan lensa beserta segala macam ring dan permainan
pada kamera tidak menjadi jelas. Yang artinya, ketika gambar dalam speed (s),
isso dan fokal sesuai materi yang disajikan membuat pandangan menjadi mentah
lantara buku yang tercetak menggunakan hitam dan putih. Ini tentu berbeda
ketika hitam dan putih adalah hasil dari bakaran kamera dengan hasil cetak.
Teknik Pemotretan
Istilah
lain dari seni fotografi selain menangkap objek adalah //melukis dengan cahaya
karena foto berarti cahaya dan grafi berarti menulis// (59). Untuk menjadikan
hasil foto menjadi indah, maka kenali karakter dari kamera yang anda gunakan.
//Melatih
sesering mungkin adalah satu-satunya jalan agar tidak ragu-ragu melakukan
pemotretan dengan cepat, tepat serta hasil yang baik// (61)
Tiga
syarat mutlak foto menyajikan hasil bagus:
-
Pengaturan ketajaman
-
Pengaturan cahaya
- Dan komposisi (batas gambar)
Tiap
lensa memiliki karakter berbeda, semakin pendek sebuah lensa menentukan
besarnya ruang tajam, tidak hanya permasalahan lensa. Akan tetapi masalah
diafragma. Bukaan diafragma kecil akan memperluas ruang tajam, dengan sasaran
jauh. Lain hal pada gambar seakan-akan bergerak, maka diperlukan rana atau kecepatan
1/60 atau 1/30 detik. Teknik gambar ini juga mengenal istilah tambahan panning
memotret dengan menggerakkan kamera mengikuti arah objek.
Dalam
hal kecepatan ini pada kamera digital, memiliki 3 tahapan yaitu kecepatan
standar, kecepatan rendah dan b (bulb)
Komposisi
//adalah
seni menempatkan gambar, benda-benda dan menyusun garis-garis dalam batas-batas
bidang gambar sedemikian rupa, sehingga dapat menyatakan dengan jelas apa yang
terkandung di dalamnya// (dadan: 89)
Tidak
ada bentuk komposisi mutlak, yang ada adalah jika diikuti maka akan member
hasil dan memuaskan sebab setiap foto harus memiliki focus of inter est.
rahasia terbesar sebuah komposisi adalah ‘sederhana’ dengan menjadi sebuah
titik focus tertentu tanpa adanya objek ‘pengganggu’ lainnya. Tentang objek ini
om dadan menkategorikannya sebagai objek utama dan objek tambahan. Dimana objek
utama hanya menunjukkan satu titik fokus perhatian, sedangkan objek tambahan
atau bandingan adalah dua objek dalam satu foto namun tanpa mengaburkan fokus foto
utama (97).

Posting Komentar