Ayat-ayat yang Membahas Bahaya Lisan

Manusia sebagaimana kita kenal adalah makhluk yang penuh dengan misteri, diciptakan oleh Allah ke dunia ini sebagai “khalifah” (pemimpin)

//ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan

darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji engkau dan mensucikan engkau?” Tuhan berfirman “sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”// Al-baqarah 2:30

Selanjutnya dalam surat lain, Allah berfirman tentang hal yang sama (penciptaan) manusia di muka bumi:

//kaum musa berkata “kami telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang”. Musa menjawab “mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi (Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu”// Al-Araf 7:129

//atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya)// An-naml 27:62

//dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain akan menambah kerugian mereka belaka// fatir 35:39

Pada empat ayat ini, Allah berkali-kali menceritakan bagaimana-Dia melahirkan manusia dengan menggunakan kata “menjadikan” sebagai kata lain dari “menciptakan, membuat” manusia agar mengenal potensi (fitrah) mereka sendiri sebagai seorang pemimpin (khalifah).

Merujuk kepada proses bagaimana manusia di muka bumi ini dipercayakan sebagai pemerintah, pemimpin dalam istilah lain sebagai imam (khalifah) bagi sebagian umat disebuah wilayah, daerah atau yang lebih besar adalah negera. Masyarakat umum mengenalnya sebagai presiden, tidak hanya masalah presiden sebenarnya yang dimaksud oleh ayat tersebut, akan tetapi juga yang dimaksud adalah, bupati/ camat, kepala desa atau yang lebih mengkrucut lagi/ bisa dipersempit adalah sebagai kepala keluarga.

Dalam beberapa teori, suami/ laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya. Pada tulisan ini, saya tidak akan mengatakan pemerintah atau imam tersebut adalah hanya kaum laki-laki karena sesungguhnya tanpa adanya sosok perempuan maka hancurlah dunia ini //para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf//. Al-Baqarah: 2:230. pada kutipan ayat ini, sangat terasa kental jika kedudukan seorang perempuan juga memiliki peran dan fungsi yang tidak bisa dianggap remeh. Mari kita simak ulang terjemahan berikut //“sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi// [al-baqarah: 30]. Tidak dijelaskan jika yang dimaksud disini adalah seorang laki-laki, itu artinya peluang seorang perempuan untuk menjadi pemimpin sangat besar.

Pemimpin apa? Mungkin pertanyaan ini akan mampir, tentu saja pemimpin bagi keluarganya ketika sang ayah (suami) sedang keluar untuk mencari nafkah sebagaimana dibahas pada al-baqarah (230) tersebut di atas, atau kewajiban-kewajiban lain. Hal tentang perempuan itu juga dapat kita saksikan di sekitar kita, bahwa tangis pertama seorang bayi adalah “IBU” bukan “AYAH” walaupun saat kehamilan istri, sang suami mesti melafazkan azan pada perut istrinya. Tetap saja, nama yang paling pertama diucapkan oleh bayi adalah “mama”


PENGERTIAN DAN FUNGSI

“Ana abduh man allamani harpan” (saya siap menjadi budak orang yang mengajarkan aku satu hurup saja) [Ali Bin Abi Thalib R.A]. setidaknya, demikian dua hal sebagai pengantar tentang “Kutukan Mulut” yang akan dibahas dalam tulisan ini.

MULUT:

di zaman penciptaan manusia sampai detik ini, tidak satu orangpun yang TIDAK mengetahui salah satu organ ini. Makanan pertama kali masuk ke dalam tubuh melalui mulut. Makanan ini mulai dicerna secara mekanis dan kimiawi. Di dalam mulut seperti terdapat beberapa alat yang berperan dalam proses pencernaan yaitu gigi, lidah, dan kelenjar ludah (glandula salivales).


setidaknya, demikian teori umum tentang mulut selain sebagai alat untuk berkomunikasi individu ke individu, individu terhadap kelompok.

LIDAH

dalam sistem pencernaan berfungsi untuk membantu mencampur dan menelan makanan, mempertahankan makanan agar berada di antara gigi-gigi atas dan bawah saat makanan dikunyah serta sebagai alat perasa makanan. Lidah dapat berfungsi sebagai alat perasa makanan karena mengandung banyak reseptor pengecap atau perasa. Lidah tersusun atas otot lurik dan permukaannya dilapisi dengan lapisan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir (mukosa).


Demikian teori mulut dan lidah yang secara umum diketahui oleh sebagian besar manusia di muka bumi ini, akan tetapi sungguh sangat sedikit orang yang mengetahui dibalik segala macam pendapat para ahli itu. Bahwa mulut dan lidah lebih berbahaya dibandingkan dengan apapun di dunia ini.

Berbicara masalah mulut dan lidah, di sini tidak akan membahas secara mendetail mengenai pengertian, fungsi dan nama organ lain. Semisal gigi, anak tekak, kelenjar ludah dan segala macam yang mendukung mulut secara kesatuan termasuk pita suara. Di sini, penulis akan menggunakan dua perwakilan dari sekian banyak organ pembantu yang disebut sebagai satu-kesatuan organ ucap yaitu mulut dan lidah.

Dalam istilah lain, proses berbicara //dan berkatalah orang-orang// [albaqarah: 167] ini menurut kamus besar bahasa indonesia offline bernama interaksi/ terjadinya interaksi/ hubungan/ ikatan dalam keluarga dan masyarakat disebabkan oleh terjadinya komunikasi antara satu orang dengan orang lain atau satu orang dengan kelompok.

Secara umum adalah saling melakukan aksi, berhubungan, mem-pengaruhi; antarhubungan. Interaksi terbagi atas dua hal 1) interaksi sosial; hubungan sosial yang dinamis antara orang perse-orangan dan orang perseorangan, antara perseorangan dan kelompok, dan antara kelompok dan kelompok; 2) interaksi verbal; hubungan antara orang yang satu dan yang lain dng menggunakan bahasa [KBBI.V 1.2]


Sebagian besar umat manusia dimuka bumi ini tersesat dan disesatkan oleh mulutnya, dan hanya sedikit orang yang mengetahui hal tersebut.

KELAS SOSIAL

Teori Demokrasi dan Kelas-kelas Sosial merupakan unsur-unsur dasar dalam kontruksi ilmu politik, dan penyelidikan terhadap perkembangan teori-teori ini akan membantu dalam menjelaskan sifat dan permasalahannya.

DEMOKRASI MENURUT TOCQUEVILLE
    Sebagai suatu bentuk pemerintahan
    Sangat erat hubungannya dengan pendapat mengenai kebebasan politik
    Menggambarkan suatu tipe masyarakat; “Pranata-pranata Demokratis

DEMOKRASI MENURUT MARX
Suatu fenomena historis yang jauh dari kemungkinan berkembang, dan agen pembangunan utama selanjutnya adalah gerakan kelas buruh.

KELAS SOSIAL MARX

Teori kelas-kelas sosial menurut Marx ada 2, yaitu :


    Kelas Borjuis
    Kelas Proletar (kelas buruh)

TOCQUEVILLE vs MARX

Mereka berdua mengakui adanya saling berhubungan antara kekuatan-kekuatan ekonomi dengan politik.

Tocqueville: Melalui penggabungan demokrasi dgn nilai-nilai masyarakat kelas menengah agraris dan industri

Marx: Perjuangan politik kelas buruh sbg suatu gerakan utk memperluas demokrasi

DEMOKRASI MENURUT WEBER

Demokrasi langsung hanya dapat diterapkan di dlm masyarakat yg kecil relatif sederhana sedangkan masyarakat yang telah menjadi besar, kompleks dan beragam– pemerintahan langsung oleh rakyat berada di luar jangkauan.


DASAR TEORI DEMOKRASI
Menurut Schumpeter, dasar teori demokrasi adalah Teori perusahaan kapitalis yang memandang partai-partai politik itu adalah sejalan dengan perusahaan yang terlibat dalam pergulatan persaingan, yang tujuan masing-masing partai perusahaan adalah untuk meningkatkan sahamnya di pasar.

GERAKAN DEMOKRASI

Harus dipandang sebagai gerakan kelas :


    Gerakan borjuis yg mencari kemerdekaan dari feodal (kekuasaan)
    Gerakan kelas buruh yg mencari kemerdekaan dr dominansi kaum borjuis,

KONTRADIKSI KAPITALISME

Ada 2 kontradiksi dlm kapitalisme:

Kontradiksi pertama (Kontradiksi fundamental kapitalisme yg sudah mapan)

Kontradiksi kedua: antara kelas buruh dgn borjuis

MASALAH YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN


    Impak politis gerakan kelas buruh dlm masyarakat2 kapitalis sebagaimana telah berkembang semenjak akhir abad 19
    Sistem-sistem politik yg telah lahir dari revolusi2 yg dilakukan di bwh bendera Marxisme sbg “Revolusi kaum proletar” di negara Cina, Rusia, dsb

TIPE AKSI POLITIK


Ada 4 tipe aksi politik :


    Aksi politik kaum elit utk mengadakan rasionalisasi produksi dan pemerintahan.
    Aksi politik berbagai gerakan, khususnya gerakan mahasiswa yg menyelipkan nilai lawan “partisipasi” - “komunitas”
    Aksi politik gerakan regional dan nasionalis yang juga memproklamirkan nilai komunitas yg dijumpai atas dasar identitas budaya.
    Aksi politik berbagai gerakan supra nasional

Sebelum semua teori ini keluar, Allah di dalam al-qur’an sudah sangat lama menyebutkan golongan-golongan dengan beberapa kali, bahkan berkali-kali menyebutnya misalkan saja dalam surat al-hujarat: 6 //hai, orang-orang yang beriman// kata “orang-orang” merujuk kepada lebih dari satu orang, bisa saja dalam jumlah dua atau ribuan bahkan milyaran orang. Selanjutnya pada surat yang sama [5] Allah menggunakan kata //mereka//. Dalam surat-surat yang lain, misalnya surat An-nas: 6 //dari (golongan) jin dan manusia//. Pada ayat ini Allah menggunakan kata “golongan” kemudian “jin dan manusia”. Yang berarti golongan dalam penciptaan tersebut tidak hanya pada manusia saja melainkan juga pada mahluk lain yang bernama jin

//hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu// [al-Hujarat 49: 13]Dalam ayat yang lebih lengkap Allah menjelaskan bagaimana-Dia menciptakan manusia dalam jumlah bukan perorang melainkan banyak orang, peroses terjadinya “supaya kamu saling kenal mengenal” itu adalah proses interaksi yang hanya terjadi dengan komunikasi antara satu orang dengan orang lain dalam teori lain disebut sebagai muasal terbentuknya sebuah budaya/ ketika manusia diciptakan maka terbentuklah kebiasaan-kebiasaan yang kemudian disepakti sebagai aturan atau norma yang akan berlangsung pada kelompok tersebut. Maka, dalam proses ini telah terbentuk sebuah kebudayaan atau masyarakat yang sudah siap mandiri menjadi masyarakat lebih madani.


Dalam teori sosiologi ini disebut masyarakat: “Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Sosiologi hendak mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya. Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum”.


Pada ayat lain //Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang shaleh?// [al-maidah: 84]

refolusi perancis/ saya lebih suka menyebutnya gejolak sosial. Ini hanyalah salah satu dari ribuan peristiwa yang pernah/ sedang dan akan terjadi

Kebanyakan, manusia secara individu dan kelompok atau golongan terpecah belah/ saling memusuhi/ saling membenci/ berperang/ saling bunuh dan lain-lain hanya karena sebuah masalah, dan masalah tersebut dimulai dari MULUT.


Pada tulisan ini, penulis akan mulai dari hal-hal sederhana yang berhubungan dengan mulut (ucapan)

//Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman// [al-baqarah 2:8] pada ayat ini Allah menggunakan “mengatakan” sebagai salah satu pengucapan kata atau kalimat.

Selanjutnya //Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta// [al-baqarah 2:10] pada ayat ini, sangat jelas bagaimana dampak dari mulut (ucapan yang tidak hati-hati)


//Jagalah dua anggota ini kerana dua anggota ini begitu mudah sekali melakukan dosa. Bahkan kata-kata yang terbit dari mulut ada kalanya lebih hebat bahkan lebih tajam dari mata pedang. Sesiapapun yang tidak menjaga mulut dan lidah, kalau pun mungkin hidupnya kaya, pangkatnya tinggi namun Allah SWT tetap meletakkan martabat mereka jatuh lebih rendah dari haiwan//.


Banyak ayat Al-Qur’an tentang mulut dengan menggunakan konteks yang berbeda-beda: Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas [al-Maidah 5: 78] dalam surat ini, sangat jelas bagaimana bahaya dari sebuah ucapan yang bisa saja berarti “ucapan” tersebut adalah “kutukan” bagi seorang.


Dalam ayat lain dijelaskan bagaimana “lisan” ini menjadi sangat bahaya //Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu adalah penghuni neraka// [al-maidah 5:10]. Pada ayat ini Allah menggunakan kata “mendustakan”. Sedangkan perihal lisan, mulut dan segala macam keburukan-keburukannya Allah berkali-kali menyebutnya sebagaimana Dia menyebut penciptaan manusia sebagai seorang khalifah (pemimpin)


Sering sekali seorang penulis puisi tidak menyadari ucapannya, mungkin karena sewaktu mereka menulis, tidak ada pemikiran lain. Maksudnya, apakah itu adalah orang pertama sebagai aku atau orang kedua sebagai seseorang. Tidak jarang seorang penulis mendapatkan pencerahan atau ide menulisnya dari pengalaman hidup orang lain. Tapi kata “aku” entah rujukan kamus mana yang akan berarti “kamu” itu adalah dia, seseorang, orang lain bukan penulis. Padahal, sangat langka seorang penulis mengungkapkan cerita tentang apapun tanpa melepas diri (ke-akuan-nya), itu artinya. Setiap kata yang diucapkan sebagai “aku” itu adalah maksudnya orang lain yang dihubungkan dengan dirinya sendiri. Jika memang demikian adanya, maka sungguh. Sering sekali seseorang “mengutuk” dirinya sendiri tanpa dia sadari atau orang mengutuk orang lain

//bodoh kau// //setan kau// dan kata-kata sejenis ini adalah sebagian kecil dari beberaka kata yang sering diucapkan oleh seseorang kepada seseorang. Secara psikologi kata ini akan mengikat alam bawah sadar seseorang dan menjadikan orang tersebut “bisa” lebih buruk karena telah merasa direndahkan.


//Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang//

//Karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya//.

Pada sejarahnya kaum nabi musa diceritakan sebagai kaum yang sanga “cerewet” banyak omong, dan karena sifat (suka bicara/ tidak bisa menjaga kata-kata) itu mereka dikutuk oleh Allah sang penguasa semesta.


Maksudnya: melihat Allah dengan mata kepala. Karena permintaan yang semacam Ini menunjukkan keingkaran dan ketakaburan mereka, sebab itu mereka disambar halilintar sebagai azab dari Tuhan. [al-baqarah; 2:55]

Pada kutipan terjemah ayat tersebut di atas, sangat jelas bagaimana kaum nabi Musa dikabarkan oleh Allah bukan sebagai sekedar sebuah cerita melainkan sebagai peringatan untuk generasi selanjutnya agar bisa lebih hati-hati dengan mulut (ucapannya).

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama