Suatu
hari aku menerima sebuah pohon dari seseorang yang aku temui disebuah taman,
orang itu berharap aku akan merawat pohon tersebut dengan baik diapun berlalu
tanpa pesan. Aku membawa pohon itu kembali kerumahku, pohon itu sangat indah
dan menyenangkan untuk dipandang berlama-lama. Akhirnya aku memutuskan untuk
merawat pohon yang aku temukan tersebut dengan sepenuh hati, setiap pagi dan
sore hari aku menyiraminya, memberikan kehangatan fajar, mendengarkan setiap
tetesan embun yang jatuh dari daun yang cukup rapuh.
Hari
demi hari berganti bulan, bulanpun telah berganti tahun. Tiga tahun sudah
berlalu begitupun cintaku yang selalu bertambah seiring dengan pertumbuhan
pohon tersebut, pohon yang aku besarkan dengan susah payah dan penuh
ketelitian, sampai bahkan kumbang dan serangga sekecil apapun selalu kucoba
hindarkan dari pohon yang sudahku jaga dan kurawat selama ini, sekarang pohon
itu telah berbunga dan berbuah, aku merasa semua jerih payahku berbuah hasil
namun, suatu hari sang pemilik pohon tersebut datang dan meminta kembali
pohonnya.
“Apa
yang harus aku lakukan,?” pertanyaan ini terbersit dibenakku, hatikku yang
rapuh hancur seketika, banyak kenangan yang muncul dipikirku, dalam hati aku
terus menghitung semua yang aku lakukan hingga pohon itu bisa seperti sekarang.
Aku telah menjaganya, merawatnya tanpa tahu berapa lama waktu yang aku buang,
pikirku “semua itu sia-sia”. Hati rapuhku begitu gusar sampai, aku tak sadar
tetesan air mengalir jatuh dipipiku dalam diam.
“Aku
jatuh cinta pada pohon ini” kataku pada sang pemilik, “ tidak bisakah aku
merawatnya” lanjutkan dengan air mata yang tak hentinya mengalir. “kau telah
menjaganya untukku selagi, aku sebuk mencari pemilik pohon ini namun, itu tetap bukan pohon yang
bisa kau miliki, tolong anggap saja aku telah menitipkan pohon ini kepada orang
yang terbaik dan aku percayai. Terimakasih “sang pemilik mencoba menyadarkanku
dari dilema pohon titipan.
Aku menyadari
sesuatu, suatu hal yang sekian lama ditutupi oleh keserakahan hatiku. Aku sadar
sejak awal pohon itu bukanlah milikku, aku menerimanya dan mulai terpesona
dengan keindahan pohon itu, tanpa aku sadari hati kecilku yang rapuh telah
jatuh cinta dan mulai merawat pohon tersebut tanpa paksaan dari siapapun. “ini
adalah cintakku, semua yang telah aku lakukan untuk pohon tersebut adalah
bentuk cintakku. Tidak seharusnya ada sebuah penyesalan untuk cinta yang aku
telah berikan”.
Aku
berikan kembali pohon indah ini untukmu wahai pemilik. Harap cintaku takkan
terputuskan dengan ketidak mampuankku untuk memilikinya, semoga allah Swt
meridhoi keikhlasankku ini.
Qudsiyah
Handayani
Posting Komentar